MADRASAH IBN RUSYD

MADRASAH MEMBACA, MENGAMALKAN, DAN MENULIS

JAVA BASIC : Konsep-konsep Dasar Object Oreinted Programming

Pemrogramman berorientasi objek berbeda dengan pemrogramman prosedural. Bila pada pemrogramman prosedural urutan fungsi (prosedur) berperan sebagai kunci utama, pada pemrogramman berorientasi objek ia hanya sebagai fungsi pelengkap (apa seh maksudnya…:P). Pemrogramman prosedural menekankan pada step-step untuk menyelesaikan suatu masalah (menitik beratkan pada proses) sedangkan pemrogramman berorientasi objek menekankan pada ‘apa/siapa MEMILIKI APA dan BISA APA’ (menitikberatkan pada pelaku dan perubahan-perubahan yang terjadi pada pelaku tersebut).

Object Oriented Programming (selanjutnya disebut OOP) memilik konsep-konsep sebagai berikut : objek, kelas, enkapsulasi, pewarisan, polimorfisme, interface dan abstrak. Dari ketujuh konsep tersebut, objek dan kelas merupakan konsep utama/sentral sedangkan konsep yang lainnya adalah penjelasan kedua konsep ini.


Objek

Objek adalah representasi nyata dari segala sesuatu di sekitar kita. Sesuatu yang selalu digolongkan sebagai ‘benda’. Benda terbagi menjadi dua, pertama adalah benda yang merujuk pada benda-benda konkret semisal rumah, tanah, pohon, kendaraan dan lain-lain (dapat diraba dan disentuh….hihi kayak apa aja :p) dan benda-benda yang merujuk pada sesuatu yang abstrak (misalnya lamunan, pikiran, ide dll juga dikategorikan sebagai ‘benda’).

‘Apa/siapa MEMILIKI APA dan BISA APA’ adalah gambaran utuh dari suatu objek. Dari kalimat tersebut kita bisa mendefinisikan bahwa objek yang utuh harus memiliki sekumpulan atribut dan perilaku yang melekat kepadanya. Objek ayam misalnya memiliki atribut-atribut  bulu, jenis kelamin, umur, berat badan, dan nama ayam (sebenarnya masih bisa lebih banyak lagi tergantung cara kita memandang ayam). Sedangkan perilaku objek ayam misalnya makan, berkokok, berhubungan seks, bertelur, bertarung  dll.

Dalam dunia programming atribut-atribut suatu objek disebut variabel sedangkan prilaku dari suatu objek disebut method. Atribut-atribut (atau variabel-variabel) dari suatu objek digambarkan dengan kata benda, kata sifat atau keterangan. Sedangkan perilaku (method) objek digambarkan dengan kata kerja.

Perilaku ayam sangat berpengaruh pada atribut-atribut yang dimiliki oleh ayam. Perilaku makan ayam misalnya sangat berpengaruh pada berat badannya. Perilaku ayam bertarung misalnya sangat berpengaruh pada keadaan dan jumlah bulu ayam (saat bertarung banyak bulu yg lepas, dan bulu-bulunya mengembang).

Keadaan atribut-artribut objek pada kondisi/perilaku tertentu dalam konsep object oriented programming disebut sebagai State objek. Selain memiliki state, objek juga bisa berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesamanya atau dengan objek-objek yang berbeda. Perilaku ayam bertarung dan berhubungan seks membutuhkan interaksi dengan sesama objek ayam, sedangkan perilaku makan bisa saja berinteraksi dengan objek manusia. Interaksi-interaksi antara objek-objek ini harus melalui mekanisme pengiriman pesan yang disepakati (dimengerti) oleh object-object yang berinteraksi.

Object mahasiswa misalnya dipandang dari sudut akademis memiliki atribut-atribut nama, nomor pokok mahasiswa, status pembayaran semester dan alamat. Sedangkan perilaku yang melekat pada mahasiswa adalah mengikuti perkuliahan dan mengikuti ujian. Ketika sedang belajar (mengikuti perkuliahan) mahasiswa selain berinteraksi dengan sesamanya juga bisa berinteraksi dengan objek dosen. Interaksi objek mahasiswa dengan objek dosen bisa terjadi bila kedua belah pihak menyepakati pesan jadwal mata kuliah (nama mata kuliah, waktu perkuliahan dan tempat perkuliahan).

Kelas

Kelas merupakan blue print dari kumpulan objek-objek yang sejenis. Kelas mendefinisikan semua atribut dan perilaku-perilaku dari objek tersebut.

Perbedaan antara objek dan kelas adalah objek itu nyata (telah menjadi real) sedangkan kelas hanya model saja. Ketika kita berbicara tentang sepeda gunung misalnya, ia masih menjadi sebuah model (konsep) yang masih abstrak. Tetapi ketika Sepeda gunung bermerek FEDERAL ada di depan kita (bisa kita sentuh dan  bahkan bisa kita pakai) itulah yang disebut objek dari sepeda gunung.

Mahasiswa yang bernama Andi, mahasiswa yang bernama Budi, mahasiswa yang bernama Tati adalah objek-objek dari suatu komunitas mahasiswa. Di pandang sebagai mahasiswa mereka memiliki atribut-atribut yang sama (nama, npm, alamat, tingkat, status pembayaran dll) dan juga memiliki perilaku yang sama yaitu mengikut perkuliahan, mengerjakan tugas-tugas, mengikuti ujian, daftar ulang dls. Untuk objek mahasiswa yang banyak itu kita hanya membutuhkan satu kelas Mahasiswa yang mendefinisikan semua karakteristik (atritbut-atribut) dan perilaku-perilaku dari seorang mahasiswa.

Mahasiswa yang bernama Andi disebut instance dari kelas Mahasiswa, mahasiswa yang bernama Budi juga disebut instance dari kelas Mahasiswa, begitupun mahasiswa yang bernama Tati disebut instance dari kelas Mahasiswa, dan bukan mereka saja tetapi setiap objek mahasiswa adalah instance dari kelas Mahasiswa. Proses pembentukan objek dari sebuah kelas menjadi objek disebut instantiasi.

Karena kelas hanya merupakan sebuah model, tidak ada ruang memori yang digunakan untuk menyimpan data-data yang ada yang ada pada sebuah kelas. Memori hanya akan dipakai ketika kita melakukan instantiasi (membuat objek) dari sebuah kelas.

Enkapsulasi

Enkapsulasi berkaitan dengan mekanisme komunikasi (interaksi) antara objek-objek. Objek A ketika akan berinteraksi dengan objek B hanya perlu tahu objek B bisa apa dan apa aja yang diperlukan untuk melakukakannya tanpa perlu mengetahui detil bagaimana si B melakukannya. Sebagai contoh objek orang  berinteraksi dengan objek motor, si objek orang tau bahwa motor bisa dinyalakan dan yang diperlukan untuk menyalakannya adalah memutor kunci ke "ON" dan menekan tombol "Starter" dan motorpun menyala. Sebenarnya dalam menghidupkan motor tersebut terdapat serangkaian proses yang terjadi di dalam objek motor (yang cukup kompleks). Enkapsulasi membungkus detil implementasi (start pada objek motor) ini sehingga menjadi sangat sederhana di mata objek orang (hanya perlu memutar kunci motor ke posisi "ON" dan menekan tombol start).

Enkapsulasi juga berkaitan dengan pembatasan hak akses. Pada kenyataannya ada suatu atribut-atribut dan perilaku-perilaku tertentu dari suatu objek yang hanya bisa diakses oleh sesama objek (yang sejenis) atau bahkan hanya dirinya sendiri. Atribut-atribut dan perilaku-perilaku objek ini tidak bisa dilihat oleh objek lain. Misalkan pada contoh di atas, ketika objek orang menyalakan objek sepeda motor, sebenarnya ada perilaku internal objek motor (katakanlah putar turbin mesin - di sini ada atribut ‘turbin’ dan perilaku ‘putar’) yang tidak bisa dilihat oleh objek orang. Jadi suatu objek memiliki bagian internal yang hanya bisa diakses oleh dirinya sendiri dan bagian eksternal yang digunakan untuk berkomunikasi dengan objek lain. Penyembuyian atribut dan perilaku internal ini sering juga disebut penyembunyian informasi (information hiding).

Berdasarkan penjelasan di atas, tujuan enkapsulasi sebenarnya adalah untuk dua hal berikut :

  • Penyembuyian atribut dan perilaku internal (information hiding).
  • Menyembuyikan detil implementasi suatu perilaku yang digunakan untuk berkomunikasi dengan objek lain (berkaitan dengan modularitas suatu objek).

Modularitas menyatakan kemandirian suatu objek. Perubahan pada atribut dan perilaku internal suatu objek tidak akan menjadikan problem pada objek-objek lain yang menggunakannya (berinteraksi dengannya).

Pewarisan

Ketika kita akan membuat suatu kelas dari objek-objek kita secara langsung atau tidak langsung membuat pengamatan dan pengelompokan. Pengamatan digunakan untuk mengetahui atribut-atribut dan perilaku suatu objek. Kelas didefinisikan sebagai pengelompokan dari objek-objek yang memiliki atribut dan perilaku yang secara umum sama. Dalam membuat pengelompokan ini sebenarnya ada hirarki. Hirarki paling atas adalah hirarki yang paling umum. Sedangkan hirarki yang paling bawah adalah hirarki yang paling khusus.

Sebagai contoh, ketika kita mengamati sekumpulan objek orang. Kita bisa membuat suatu kelas yang bernama ‘orang’ dengan atribut-atribut yang dimilik adalah nama, tanggal lahir, dan jenis kelamin dengan perilaku-perilaku makan, minum dan mencari teman. Maka semua objek orang bisa termasuk dalam kelas ‘orang’. Dari semua objek orang ini ternyata ada pada orang-orang tertentu yang memiliki atribut-atribut dan perilaku-perilaku yang tidak didefinisikan pada kelas orang. Misalnya ada orang yang hampir setiap hari pergi ke universitas untuk belajar. Selain memiliki semua atribut objek orang, objek orang yang ini juga memiliki atribut nomor pokok  dan perilaku pergi ke universtias (untuk belajar dan mengikuti ujian). Akhirnya kita membuat spesialisasi dari objek orang untuk semua orang yang memiliki karakteristik seperti ini (memiliki nomor pokok dan perilaku pergi ke universitas untuk belajar dan mengikuti ujian). Spesialisasi ini menghasilkan kelas baru yang bernama ‘mahasiswa’ yang MEWARISI seluruh atribut-atribut dan perilaku-perilaku kelas ‘orang’ dan ia juga memiliki atribut-atribut dan perilaku-perilaku yang tidak terdapat pada kelas ‘orang’ (dalam hal ini npm, dan mengikuti kegiatan perkuliahan). Konsep kelas ‘mahasiswa’ yang mewarisi seluruh atribut dan perilaku kelas orang inilah yang disebut dengan konsep PEWARISAN (inheritance).

Dari kelas ‘orang’ menuju kelas ‘mahasiswa’ disebut spesialisasi, sedangkan dari kelas ‘mahasiswa’ menuju kelas ‘orang’ disebut generalisasi.

Polimorfisme

Polimorfisme secara leksikal bahasa berarti ‘banyak bentuk’. Dalam konsep OOP, polimorfisme adalah pendefinisian suatu perilaku-perilaku objek yang memiliki nama yang sama tetapi mengolah masukan yang berbeda. Masukan yang berbeda menyebabkan detil implementasi perilakunya juga berbeda.

Sebagai contoh, objek orang memiliki perilaku ‘makan’. Masukan atau input perilaku ‘makan’ untuk setiap orang berbeda-beda tergantung kebiasaan (dan tentunya juga wilayah). Orang indonesia biasa makan nasi, sedangkan orang eropa biasa makan roti. Polimorfisme mengijinkan pendefinisian perilaku ‘makan’ ini secara berulang (dengan nama yang sama) asalkan input yang diberikan tipenya berbeda-beda.

Interface

Interface dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai antarmuka. Interface hanya mendefinisikan method suatu kelas - perilaku suatu objek (tanpa detil implemntasinya). Jika kelas merupkan blue-print dari sebuah objek, interface adalah blue-print dari sebuah kelas.

Karena hanya mendefiniskan perilaku tanpa detil implementasi, implementasi dari suatu perilaku objek yang satu dengan objek yang lain bisa berbeda-beda (ini juga bisa dikaitan dengan polimorfisme).

Objek sepeda motor misalnya memiliki perilaku ‘oper/tambah gigi’. Implementasi tambah gigi antara motor bebek dan motor laki-laki (contoh Scorpionya Yamaha) berbeda. Kalau motor bebek selalu ke depan, sementara motor laki-laki ada yang ke belakang. Berbeda lagi dengan Yamaha Mio, ia malah otomatis implementasi tambah giginya. Walaupun implementasi dari oper gigi berbeda-beda tetapi tetep perilakunya sama (yaitu oper/pindah gigi) - ini yang di definisikan dalam interface.

Kita tidak bisa langsung membuat objek dari sebuah interface. Agar kita bisa membuat sebuah objek dari interface kita harus memanggil kelas yang mengimplentasikannya.

Abstrak Kelas

Waduh untuk kasus yang ini agak bingung juga menjelaskannya. Ok deh, sebenarnya fungsi abstrak kelas ini agak-agak mirip dengan interface. Ia digunakan untuk merancang sebuah kelas (menggambarkan isi kelas secara keseluruhan - tahukan ‘abstrak sebuak buku’?). Kita juga tidak bisa membuat objek secara langsung baik dari interface maupun dari abstrak kelas.

Bedanya kalau interface hanya berisi definisi method-method (tanpa implementasinya) sedangkan pada abstrak kelas method-method tersebut bisa saja sudah ada yang diimplementasikan, atai bisa juga hampir semua semua method itu sudah diimplementasikan. Syarat abstrak kelas dalam OOP adalah kelas tersebut minimal mempunyai satu method yang bertipe abstrak (belum diimplementasikan).

Kalau pada interface kita hanya mendefiniskan method-method, pada abstrak kelas  selain method kita juga bisa mendefinisikan semua atribut-atribut dari kelas tersebut.

Kita bisa membuat objek dari sebuah interface dengan cara memanggil kelas yang mengimplementasikannya, Sedangkan objek dari sebuah abstrak kelas bisa kita buat dengan cara memanggil kelas yang mewarisinya.

Interface berkaitan dengan polimorfisme sedangkan abstrak kelas berkaitan dengan inheritance (pewarisan).

– Alhamdulillah bagian ini akhirnya selesai juga –

JAVA BASIC : Eclipse IDE

Setelah sukses memasang java dalam komputer Anda, dengan editor yang sangat sederhana semacam notepad, Anda sebenarnya sudah dapat melakukan programming java. Selain notepad, tersedia juga teks editor-editor lain baik yang free (dalam artian gratis) maupun yang komersil (Anda harus membeli lisensinya). Teks editor  yang pernah penulis pakai diantaranya adalah notepad, edit plus, ultra edit, vi, crimson dan Gel. Notepad sudah tersertakan dalam sistem operasi keluarga windows (semua versi). Edit Plus dan Ultra Edit tidak gratis tapi anda bisa menggunakan versi trialnya. Kelebihan Edit Plus dan Ultra Edit dibandingkan dengan notepad adalah pewarnaan sintak java. Dengan sedikit konfigurasi di Edit Plus anda bisa menjalankan seluruh perintah di dalam folder bin instalasi java Anda (javac, java, appletviewer dll). vi dan crimson juga sangat baik dalam teknik pewarnaan sintak java. Gel walaupun berbasiskan teks memiliki kelebihan dibandingkan dengan teks editor lainnya. Gel memiliki mekanisme auto complete untuk setiap kata yang kita ketikan. Tapi kurangnya GEL lebih berat jika dibandingkan dengan teks editor lainnya. Jika anda ingin mencoba-coba teks-teks editor yang penulis sebutkan, Anda tinggal meminta bantuan dokter google untuk melakukannya. Masukanlah kata kunci nama teks editor yang Anda inginkan ditambah kata download, misalnya "crimson download", "Gel download" dan lain-lain.

Sebagai perkenalan dengan program java, cobalah buat program berikut dengan menggunakan notepad :

/**
* Test.java
* @author Arif
*
*/

public class Test {
   
    public static void main(String[] args){
       
        System.out.println("INI PROGRAM JAVA
PERTAMA SAYA");
       
    }
   
}

Simpanlah kode tersebut dengan nama Test.java (nama file harus sama dengan nama kelas) di direktori kerja Anda. Kemudian dari direktori kerja Anda, dengan menggunakan command promp (perintah berbasiskan teks atau konsole) cobalah eksekusi perintah berikut : javac Test.java. Perintah tersebut akan meng-compile kode java tersebut menjadi bytecode java. Hasil dari kompilasi tersebut adalah file Test.class. Untuk menjalankan program tersebut, ketikkanlah perintah java Test,  hasilnya adalah  teks "INI PROGRAM JAVA PERTAMA SAYA" muncul di command promp Anda.

Skala programming java sangat luas, mulai dari embeded system, mobile device, desktop applicaton, web application hingga skala  enterprise.  Melakukan programming java hanya dengan menggunakan teks editor tidak banyak membantu. Untuk mengerjakan project nyata diperlukan lingkungan pengembangan java yang terintegrasi (biasanya dikenal dengan Java Integrated Development Environment). Ada banyak sekali Java IDE,  yang penulis  ketahuinya  misalnya  NetBeans  IDE,  JDeveloper (J-Dev) , IntelJ IDE, JBuilder IDE, dan Eclipse IDE. Penulis pertama kali berkenalan dengan NetBeans IDE, tapi sekarang aktif menggunakan Eclipse IDE.

Dari semua IDE tersebut manakah yang paling baik? Dari artikel yang pernah penulis baca, masing-masing IDE memiliki kelebihan dan kekurangan. Tidak ada klaim yang objektif bahwa IDE yang satu lebih unggul dari IDE yang lain. Yang ada hanyalah klaim subjektif berdasarkan pengalaman masing-masing. Biasanya kesan yang dalam di dapat dari pengalaman penggunaan IDE yang pertama, ya..seperti cinta pertamalah :P

Dari pengalaman penulis sendiri dan interaksi penulis dengan temen-teman pengembang, menurut penulis Eclipse IDE adalah yang terbaik (sekali lagi ini klaim subjektif lho). Dibandingkan dengan NetBeans IDE, IntelJ IDE, dan JBuilder IDE, Eclipse IDE lebih ringan. Pada komputer penulis di rumah yang sudah dibilang tua (prosesor hanya 733 MH dan memori hanya 128 M) Eclipse IDE masih bisa berjalan dengan normal. Sementara ketika menggunakan NetBeans IDE,  fasilitas-fasiltas NetBeans yang hebat itu banyak yang tidak berfungsi (karena hang). Sedangkan IntelJ IDE, JBuilder IDE dan J-Dev IDE lebih berat lagi (penulis tidak pernah mencoba karena komputer tidak kuat).

Kelebihan Eclipse juga terletak pada dukungan komunitasnya. Tersedia lebih dari 2000 plugin (baik yang free maupun yang komersil) yang bisa kita peroleh sesuai kebutuhan. Hampir semua teknologi yang menggunakan java sebagai platformnya menyediakan plugin untuk eclipse.

Dan yang tidak kalah pentingnya, Eclipse IDE bisa diperoleh dengan free alias gratis sementara untuk IDE yang lain (selain NetBeans) Anda harus membeli lisensinya.


INSTALASI ECLIPSE IDE

Memasang Eclipse dikomputer Anda sangat mudah. Anda hanya perlu mendownload program eclipse dari situs utama eclipse. Ketika akan mendownload Anda diminta memilih mirror tempat download program. Di Indonesia mirror Eclipse adalah Universitas Indonesia (penulis menganjurkan untuk menggunakan mirror ini — hasilnya lebih cepat, karena lokal :P). Hasil download adalah file yang sudah dikompresi (biasanya dalam format .zip untuk windows dan tar.gz untuk linux). Ekstraklah file tersebut dengan program kompresi yang Anda miliki (Winzip, Winrar atau 7-zip dll). Hasilnya adalah satu folder dengan nama eclipse. Program eclipse sudah terinstall di komputer Anda. Untuk menjalankan program, Anda bisa menjalankan langsung dengan membuka folder eclipse tersebut dan mengeksekusi file elipse.exe dengan mengklik file tersebut dua kali. Anda juga bisa membuat shorcut yang mengarah eclipse.exe biar tidak cape-cape harus masuk direktori eclipse.

Eclipse ketika pertama kali dijalankan akan mencari Java Runtime Environment (JRE) yang terpasang (terinstall) di komputer Anda. Jika eclipse tidak menemukan JRE, eclipse tidak bisa dijalankan dan ada pesan bahwa di komputer Anda belum terpasang JRE. Jika Anda sudah menginstall JDK seperti pada tulisan ini otomatis JRE sudah terinstall di komputer Anda.

Sedikit Tutorial Eclipse

Setiap kali kita menjalankan Eclipse IDE (Selanjutnya di sebut Eclipse), kita diminta  menentukan lokasi workspace (tempat semua file yang akan kita buat dan gunakan) seperti gambar berikut :

Start

          

Pilihlah lokasi workspace yang kita inginkan. Misalkan pada gambar di atas kita ingin mengganti lokasi workspace menjadi D:\belajar, kemudian kita tekan tombol OK, jika folder belajar ada pada drive D eclipse langsung membuat konfigurasi pada folder tersebut. Jika folder belajar belum ada, eclipse secara otomatis membuat folder tersebut dan semua konfigurasi untuk kerja kita langsung diletakan di dalamnya. Berikut tampilan pertama kali eclipse

Eclipse

   

Ikon paling atas (gambar globe) adalah overview (sekilas pandang) fasilitas-fasiltas dan fitur-fitur yang dimiliki eclipse. Ikon bintang segi empat adalah penjelasan fitur-fitur baru yang tidak terdapat pada fitur sebelumnya (eclipse yang versinya lebih rendah). Ikon kubus-piramid-bola adalah contoh-contoh. Ikon pena dan tulisan adalah sumber-sumber tutorial eclipse yang bisa kita gunakan. Yang terakhir ikon paling kanan adalah shortcut untuk menuju workspace kita. Klik ikon shortcut untuk menuju workspace. Hasilnya adalah gambar berikut :

Workspace

   

Package Explorer masih kosong, artinya pada workspace kita belum ada satu projectpun yang kita buat.

Untuk memulai bekerja dengan eclipse, buatlah suatu project dengan cara klik menu File - New - Project, kemudian akan muncul project wizard seperti gambar berikut :

Project
Pilihlah Java Project kemudian tekan tombol Next. Anda diminta untuk memberi nama project yang akan dibuat. Isilah nama project sesuai yang diinginkan dan menggambarkan realitas nyata kita. Misalnya untuk tutorial ini kita berinama project dengan tutorialJava. Pada option Prject Layout pilihlah yang bagian bawah — Create Separate source and output folders (biar lebih bersih :P) kemudian tekan tombol Next. Pada tahap akhir kita diminta menentukan letak output (hasil kompilasi) project. Ada dua opsi untuk menentukan output ini, pertama biarkan eclipse secara otomatis meletakan hasil kompilasi (secara default eclipse akan membuat folder classes di dalam direktori bin), atau kita tentukan sendiri dengan menekan tombol Browse…kemudian kita buat folder output sendiri (misalnya folder hasilKompilasi). Penulis memilih yang default eclipse dengan mencentang pilihan Allow output folders for source folders, kemudian klik tombol Finish. Mari kita mulai ngoding :)

Untuk pertama kita akan membuat program contoh di atas (Test.java).  Klik kanan src pada package Explorer Eclipse. Pilih New - Class. Kita diminta untuk memberi nama Package (utk sementara biarkan default dengan tidak mengisi option ini), isilah Name dengan Test, kemudian tekan tombol Finish. Hasilnya adalah gambar berikut :

Workeditor

    

Untuk memperbesar editor (biar bisa satu layar penuh), Tekan dua kali  file Test.java (pada  editor bukan pada  Package  Explorer). Begitu juga untuk kembali ke ukuran asal kita juga melakukan hal yang sama (menekan dua kali file Test.java pada editor).

Berikutnya saya akan memberikan tiga jurus jitu eclipse. Pertama adalah autocomplete editor, kedua koreksi sintak, dan yang ketiga adalah pendefinisian untuk sintak-sintak yang sering digunakan dengan keyword yang lebih pendek. Dua hal yang pertama paling sering digunakan, sementara yang terakhir jarang digunakan — karena mekanisme autocomplete grammer eclipse sangat cepat.

Ok, untuk jurus pertama, di dalam body class ketiklah : main kemudian tekanlah Ctrl+Space autocomplete eclipse akan memberikan semua kemungkinan keyword sintak yang bisa kita pilih. Pilih option main method, maka kerangka method main dilengkapi oleh eclipse. Begitu juga ketika kita bekerja dengan ribuan kelas java kita hanya perlu mengetikkan kata depannya ditambah menekan Ctrl+Space, dan setelah kita pilih apa yang kita inginkan, eclipse akan melengkapi secara otomatis (melakukan import dan lain sebagainya). Ctrl+Space digunakan untuk mengakses semua properti dari suatu kelas atau objek (static variabel, instance variabel, static method, instance method — istilah ini akan dijelaskan kemudian). Anda telah mendapatkan jurus pertama.

Jurus kedua, autocorrect grammer. Tambahkan kata impl kemudian gunakan jurus pertama setelah deklarasi class (setelah kata "Test") kemudian tambahkan kata ActionL setelah kata implements, gunakan jurus pertama lagi. Hasilnya kata "Test" berwarna merah dan eclipse mengindikasikan ada error yang terjadi (ini saatnya menggunakan jurus kedua). Arahkan kursor pada kata yang bergaris merah kemudian tekanlah Ctrl+1(satu), eclipse akan memberikan pilihan-pilihan untuk membenarkan kode tersebut. Pilihlah selalu pilihan paling atas yang ditawarkan oleh eclipse. Kode errorpun akan hilang. Setiap kali ada indikasi error gunakanlah jurus kedua (Ctrl+1) untuk memperbaikinya. Memperbaiki error juga bisa dilakukan dengan menekan tanda error (tanda merah x), eclipse akan memberikan pilihan-pilihan utk memperbaikinya.

Masuk pada jurus ketiga mengakses sintak yang sering digunakan dengan membuat keyword baru yang lebih pendek. Pilih menu Window - Preferences - Java - Editor - Templetes. Misalnya kita akan menggantikan System.out.println() dengan sop, cari sysout pada Name kemudian klik Edit, gantilah sysout menjadi sop, kemudian tekan tombol OK, akan muncul dialog konfirmasi, Tekan tombol Yes. Kemudian tekan OK. Keyword baru sudah siap digunakan. Untuk mengetesnya kembali ke file Test.java, pada body method main (diapit oleh tanda { }) ketikkanlah sop kemudian gunakan jurus pertama. Sim salabim…keren bukan? Masukanlah kata seperti pada contoh program yang ditulis dengan notepad. Kemudian tekan Ctrl+s untuk menyimpan file tersebut. Di sini kelebihan eclipse juga bekerja. Ketika kita menyimpan file java file tersebut otomatis sudah dikompilasi. Dengan eclipse kita tidak perlu lagi melakukan kompilasi file-file java yang kita buat. Hanya cukup dengan menyimpannya. Dan prosesnya seperti menyimpan file biasa (sangat cepat).

Ok, selanjutnya kita menjalankan program java yang kita buat. Karena program yang kita buat berbasiskan teks (console), munculkan console eclipse dengan memilih menu Window - Show View - Console. Dari Package Explore, klik kanan file Test.java pilih Run As - Java Application. Kita akan melihat teks yang bertulisakan "INI PROGRAM JAVA PERTAMA SAYA" di console eclipse kita. Sebenarnya ada tiga cara mengeksekusi kode kita, yang pertama seperti telah saya sebutkan, yang kedua adalah dengan menglik kanan kode yang sedang aktif kemudian memilih yang sama spt pada pilihan pertama (Run As - Java Application), sedangkan yang ketiga menekan tombol hijau disamping ikon bugs (kutu).

Alhamdulillah bagian ini akhirnya selesai juga :) - semoga bermanfaat -

untuk kekasih

jalan-jalan yang kulalui kemarin
telah lenyap dalam kabut hitam
tanpa dirimu
segala tawa adalah kehampaan

di depan cermin
kulihat rupa di depanku
senyum itu aneh
begitupun tawa itu 

kata-kata yg sering kau ulang
yang berdaya magis itupun telah hilang
kekosongan dan kebingungan saja
yang masih tersisa
ditambah sedikit tanya retorika

maka kekasih
sungguh aku tak sanggup berpisah
aku sungguh butuh dekat denganmu
butuh berbincang denganmu
maafkan segala lancangku
maafkan segala angkuhku
dan dalam hening yang tercipta
ku ingin kau kembali membelaiku
dalam lautan cinta yang penuh rahasia

kekasih
sekali lagi
maafkan aku…
maafkan segala dustaku
dusta dalam pengakuan lidah
atas nama cinta…

JAVA BASIC : INSTALASI

Sebelum membahas konsep-konsep dasar java, berikut ini langkah-langkah instalasi java dan Eclipse Integrated Development Environment (Eclipse IDE).

Untuk melakukan instalasi java Anda perlu mendownload software java dari Sun Microsystem, perusahaan yang melahirkan dan mengembangkan java dan komunitasnya. Untuk melihat detil produk-produk java dari Sun bisa klik link ini.  Ada beberapa versi java , versi standar ( Java 2 Standard Edition - J2SE) dan versi enterprise (J2EE). Versi enterprise tidak bisa berjalan tanpa adanya versi standar. Untuk tutorial ini kita hanya membutuhkan versi standar. Downloadnya j2se sesuai dengan sistem operasi Anda. Versi j2se sendiri sangat bervariasi, setahu penulis versi terakhir yang sudah dimunculkan oleh sun adalah j2se versi 6. Dari versi-versi tersebut ada sedikit revolusi syntak pemrogramman dimulai versi 5. Jadi secara  sederhana dapat penulis katakan j2se versi 1.0 sampai versi 1.4.2 memiliki syntak yang sama. Perkembangan versi 1.0 sampai versi 1.4.2 hanyalah pada tambahan kelas-kelas yang disertakan di dalam paket java oleh sun yang sangat membantu programmer, tidak ada perubahan syntak sama sekali. Sedangkan pada versi 5 , selain tambahan kelas-kelas juga mengalami sedikit revolusi pada syntak-syntaknya. Salah satu tambahan itu adalah annotation (akan dibahas lebih lanjut).

Untuk Sistem operasi Microsoft Windows (2000, XP, 2003 dan Vista) dianjurkan untuk mendownload file binari (.exe) agar memudahkan proses intalasi. Setelah melakukan download, Anda bisa melakukan proses pemasangan (instalasi) java di komputer Anda hanya dengan mengeksekusi file .exe yang Anda download. Anda akan dituntun untuk melakukan proses intalasi sampai selesai.

Setelah selesai melakukan instalasi, ada sedikit konfigurasi yang diperlukan agar program java masuk ke dalam sistem (bisa dieksekusi dari manapun). Berikut konfigurasi java di komputer berbasiskan windows sebagai sistem opearasinya. Klik kanan icon my computer Anda, kemudian pilihlah menu Properties. Pilih tab menu Advanced, klik tombol Environment variables…, kemudian pada System Variables (ada pada bagian sebeleh bawah) klik tombol New, akan muncul isian variabel yang akan diisikan. isilah Variable Name dengan JAVA_HOME, sedangkan Variable Value adalah letak instalasi program java Anda. Berikut ini gambar settingan dikomputer penulis.                                           
Home2Setelah Anda mengisi Variable Value sesuai letak instalasi java dalam komputer Anda. Klik tombol OK. Kemudian langkah berikutnya adalah memasukan path java ke dalam path system. untuk melakukan ini editlah Path pada System Variables dengan mengklik Path kemudian tekan tombol Edit. Kemudian masukanlah baris ;%JAVA_HOME%\bin; pada variable value dari Path sistem Anda. Instalasi selesai. Untuk mengetesnya cobalah Anda masuk command prompt (mengeksekusi perintah berdasarkan console - text base) dan ketikkan perintah : Javac ,Jika muncul sederetan teks petunjuk untuk melengkapi perintah tersebut, konfigurasi java anda di system operasi windows Anda sukses.

Berhubung keterbatasan waktu, pada tulisan berikutnya akan dijelaskan cara instalasi program eclipse IDE dan mengapa memilih eclipse IDE bukan IDE yang lain…   

JAVA BASIC : Sekilas Tentang Java

Anda mungkin sering mendengar "java" dalam kehidupan sehari-hari Anda. Mungkin ada yang mengaitkankannya dengan suatu suku, pulau atau bahasa komunikasi manusia yang hidup di Republik ini. Mungkin juga bagi para pecinta kopi, kata java membawa mereka pada suatu cita rasa kopi yang sangat khas. Tapi bagi orang yang mengikuti perkembangan teknologi komputer sepertinya "java" dikepala mereka merujuk pada suatu teknologi atau tepatnya bahasa pemrogramman yang sangat baik, bagus, dan handal.

Pemaknaan java (dalam dunia orang ilmu komputer) sebagai suatu bahasa pemrogramman sebenarnya tidak salah-salah amat. Hanya saja kurang lengkap. Java lebih dari sekedar suatu bahasa pemrogramman. Java juga dapat merujuk pada suatu mesin virtual yang diciptakan oleh Sun dan Java juga bisa merujuk pada suatu platform dalam pengembangan dunia software. Jadi secara sederhana sebenarnya java merujuk kepada tiga hal, yaitu :

  • Sebagai suatu bahasa pemrogramman. Java memiliki sintak (mungkin dalam terminologi manusia adalah kosa kata, grammer dan kalimat) yang sangat mirip dengan bahasa C. Paradigma yang digunakan dalam melakukan pemrogramman java adalah object oriented programming (OOP). Di sini java hadir untuk mengatasi kendala-kendala bahasa pemrogramman berorientasi objek pendahulunya (C++). Java mengurangi kompleksitas programming C++, juga menghalangi hambatan operasional antar sistem operasi. Dalam hal ini  java memiliki jargon yang cukup dikenal, write once run everywhere. Karena kemudahan dan kebagusan konsep yang dimilikinya, java sebagai bahasa pemrogramman sangat cepat berkembang luas. Bahkan memiliki komunitas yang sangat besar bahkan mungkin terbesar jika dibandingkan dengan komunitas bahasa pemrogramman lainnya. Teknologi-teknologi pendukung untuk pengembangan dengan menggunakan java sebagai plaformnya pun bermunculan.
  • Sebagai suatu mesin virtual, Java Virtual Machine (JVM) adalah suatu mesin yang menginterpretasikan bytecode-bytecode (bahasa java yg telak dikompilasi dan menghasilkan suatu file berekstensi dot class (.class) java ke dalam bahasa mesin (biner). JVM ini dikembangkan oleh Sun Microsystem. Sebenernya ia bisa dikembangkan di level hardware tapi demi kemudahan, akhirnya JVM dikembangkan di level software (di atas sistem operasi). Sebenarnya paradigma pemrogramman dengan menginterpretasi kode (dalam java adalah bytecode) itu menurut para ahli tidak bagus dari sisi performance  (Kecepatan). Tapi JVM mencoba mengatasi masalah ini dengan menerapkan teknik just-in-time (JIT) compilation, yaitu java byte code dikonversi langsung menjadi bahasa mesin untuk kode-kode program yang dijalankan secara berulang-ulang.
  • Java Platform, ini juga tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan java sebagai bahasa pemrogramman dan java virtual machine. Semua program yang ditulis dalam bahasa java memanfaatkan kelas-kelas yang telah disediakan (embeded) dalam java platform, yang terkumpul dalam paket-paket tertentu (java.lang, java.io, java.net, java.uti,  dll). Rasanya sangat sulit mengembangkan suatu aplikasi java tanpa bantuan java platform ini.

Sebenarnya ada dua paradigma yang digunakan dalam pembuatan suatu bahasa pemrogramman.

Pertama dengan cara menginterpretasi kode-kode program, setiap kali suatu kode akan diekseksui oleh mesin, kode-kode tersebut diterjemahkan dulu ke bahasa yang dapat dimengerti oleh mesin (bahasa biner). Dalam hal ini percis seperti posisi seorang penerjemah yang menjembatani dua orang yang saling berkomunikasi dengan menggunakan dua bahasa yang berbeda. Posisi si penerjemah sangat sibuk, mendengarkan si pembicara kemudian menyampaikannya dengan bahasa yang dapat dimengerti oleh lawan bicaranya. Si interpreter menerjemahkan kode-kode program ke suatu bahasa yang bisa dimengerti oleh mesin. Contoh bahasa pemrogramman dengan teknik interpreter adalah Phyton, PHP dan mungkin PERL.

Kedua dengan meng-compile kode-kode program tersebut langsung menjadi bahasa yang dapat dimengerti oleh mesin. Mungkin analoginya ini seperti orang yang menerjemahkan suatu surat dari bahasa yang satu kepada bahasa yang lain. Ketika surat tersebut sudah diterjemahkan, si penerima langsung mengerti isi keseluruhan surat tersebut tanpa memerlukan perantara lagi. Contoh bahasa pemrogramman dengan teknik kompilasi adalah C dan C++.

Melihat gambaran yang diberikan, biasanya suatu bahasa pemrogramman dengan menggunakan teknik kompilasi jauh lebih cepat dibandingkan bahasa pemrogramman yang menggunakan teknik interpreter (penerjemah). Tapi pemrogramman dengan teknik kompilasi biasanya memilik kelemahan yaitu OS Dependent (ketergantungan pada Operating System - Sistem Operasi), artinya hasil kompilasi program pada system operasi tertentu tidak bisa dijalankan pada sistem operasi yang berbeda. Misal anda membuat aplikasi dengan menggunakan bahasa C (C menggunakan teknik kompilasi) pada Windows XP maka program tersebut tidak bisa dijalankan pada sistem operasi linux. Sementara pada program dengan teknik interpretasi, ketergantungan OS ini dapat diatasi. Anda menulis skrip python, baik menjalankannya pada linux ataupun windows hasilnya akan sama saja.

Terus teknik apa yang digunakan oleh java? Java menggunakan kedua teknik tersebut. Pertama kode-kode bahasa java di-compile menjadi byte code, kemudian oleh JVM, byte code - byte code ini diterjemahkan ke dalam bahasa mesin.

Buku yang menemani saat nulis tulisan ini adalah JAVA IN A NUTSHELL A Desktop Quick Reference karangan David Planagan, Penerbit O’Reilly tahun 2002

JAVA : PENGANTAR

Blog ini mungkin sungguh aneh. Pemiliknya seorang yang pernah belajar di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia tapi semua tulisan di blog ini (saat ini jumlahnya ada 62 judul, 63 dengan ini) tidak ada yang mengindikasikan bahwa pemiliknya pernah belajar ilmu komputer. Ini sebetulnya karena saya merasa lebih terbiasa menulis masalah-masalah sosial ketimbang masalah-masalah teknis. Tapi mulai malam ini saya akan mencoba menuangkan sedikit yang saya ketahui tentang Java dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya.

Topik-topik yang ingin saya bicarakan dalam kategori Java ini adalah sebagai berikut :

  • Dasar-dasar Pemrogramman Java, meliputi konsep Object Oriented Programming (Encapsulation, Polymorphisme, Inheritence, Class, Object, Interface, Abstract Class, Static variable dan static method dll)
  • Java Web Programming dengan menggunakan salah satu Ajax Framework berbasiskan java. Saya akan memfokuskan diri pada ZK
  • Hibernate sebagai salah satu teknologi terbaik Java untuk database.
  • Spring, tidak akan dicover secara keseluruhan. Mungkin akan difokuskan pada teknologi ORM dan Transactional Management.
  • JasperReport dengan menggunakan teknolog jasperAssistant, akan dijelaskan bagaimana membuat report dari database dalam format file .pdf, .xls atau .xml
  • Sebagai pelengkap, pengembangan software biasanya dikerjakan secara team. Teknologi yang sering digunakan untuk kolaborasi ini menggunakan CVS atau Subversion. Saya lebih suka memilih Subversion (SVN) dan akan menjelaskan bagaimana melakukan settingan SVN agar bisa digunakan.

Dalam setiap bahasan saya akan menggunakan eclipse sebagai IDE, jadi mungkin akan dijelaskan juga sedikit tutorial tentang eclipse.

Berikut daftar materi yang akan dibahas dalam kategori java dalam blog ini :

Bagian I : JAVA BASIC
1. Sekilas Tentang Java
2. Instalasi
3. Pengenalan Eclipse IDE dan Pengenalan Sintak Dasar Java
4. Konsep-konsep Dasar Object Oriented Programming
    4.1. Objek
    4.2. Kelas
    4.3. Enkapsulasi
    4.4. Pewarisan
    4.5. Polimorfisme
    4.6. Interface
    4.7. Abstraksi
5. Dasar-Dasar Java
    5.1. Variabel, Tipe Data, dan Operator
    5.2. if condition  dan looping
    5.3. Modifier
6. Implementasi OOP dalam Java
7. Penanganan Kesalahan Dalam Java

Bagian II : All About ZK
Bagian III : All About Hibernate
Bagian IV : All About Spring
Bagian V : Java Reporting With Jasper and JasperAssistant
Bagian VI : All In One (Java, ZK, Hibernate, Spring, Jasper) — Studi Kasus
Bagian VII : Subversion, a tool for collaboration and team work

Semoga tulisan-tulisan ini memberikan manfaat.

Bantenku

Postingan ini iseng belaka. Pas melihat blog kok kayaknya selama bulan november saya tidak pernah posting tulisan. Ya udah daripada kosong akhirnya nulis postingan ini.

Saya ingin menanggapi prosesi pemilihan gubernur di Banten. Hari Jum’at, tiga hari setelah lebaran (saya lebaran hari selasa), Saya dan temen-temen Forkoma UI kumpul bareng di rumah Tigor. "Memenuhi undangan (kebaikan) itu wajib bagi setiap muslim" dengan keyakinan itu saya berangkat ke rumah Tigor. Hehehe…kang Uqon masih tetep rajin. Masih datang memantau. Fajar, Usep dan Fadli juga datang Ding. 2001 lumayanlah ada 3 orang dan semuanya sudah lulus. 2002 saya hanya melihat Usep sendiri. 2003 sapa ya yang datang? Oh iya saya hanya melihat Dimas (dan mungkin Anita adiknya Usep — kalo ga salah dia angkatan 2003 jg). Sisanya 2004, 2005 dan 2006, banyak wajah-wajah baru euy…Kok ngalor ngidul begini ya..katanya mo ngomongin prosesi pilkada Banten.

Iya..iya..waktu ngumpul-ngumpul itu saya pernah bicara (tepatnya memprediksi) hasil pemilihan yang akan dilaksanakan. Saya berbicara kepada adik saya, Usep.

"Atut akan menang selama Tryana dan Zul maju, kalau ingin Atut kalah, salah satu dari mereka harus mengundurkan diri", kurang lebih seperti itulah kata-kata saya kepada saudara Usep.

Saya ingin prediksi saya itu salah. Tapi dari milis yang saya ikuti, saya kecewa. Prediksi itu benar-benar terjadi. Atut sepertinya akan tetap berkuasa.

Terus apa yang akan saya tanggapi? Ah sok jadi pengamat banget si gw. Padahal ikut memilih saja tidak. Oh maaf, sebetulnya saya sungguh ingin berpartisipasi tapi rentangan tempat yang tidak mengijinkan membuat saya hanya bisa memantau dari jauh. Yups saya masih di Solo.

Begini ya, yang saya ingin tanggapi itu kondisi di milis yang masih rame mengulas pilkada di Banten. Saya merasakan nuansa kecewa luar biasa dari temen-temen PKS. Sepertinya temen-temen dari PKS merasa dicurangi. Ada posting curang#1, postingan curang#2 dan lain-lainnya. Seru, panas, dan nyebelin juga pas baca postingan-postingan itu.

PKS berangkat menuju pertunjukan PESTA (karena banyak makan biaya) pilkada di Banten dengan kepercayaan diri luar biasa. Masyarakat butuh perubahan. Masyarakat butuh figur baru. Dan berdasarkan pengalaman, walaupun PKS tidak mayoritas di Banten (masih jauh di bawah PKB dan PPP), tetapi ia berhasil menggolkan calon bupati yang didukungnya pada tahun 2005 lalu. Ya….dengan dukungan PKS dan PNI (kalau tidak salah), Taufik Nuriman yang dijagokan oleh PKS itu berhasil mengalahkan pesaing yang cukup berat yang di dukung oleh semua partai besar di Serang (terutama Golkar dan PDI-P). Benyamin harus kalah dengan perbedaan suara yang sangat tipis.

Menjelang pilkada gubernur Banten, rupanya PKS masih ingin mengulangi cerita yang sama. Dengan kepercayaan diri luar biasa, partai ini menolak pinangan Tryana Syam’un yang tubagus dan keturunan rasul itu. Alasannya sederhana "ingin mengajukan calon dari kalangan sendiri". Ajakan PPP dan PAN untuk bersatu untuk mendukung Tryana ditolak oleh PKS. Padahal dulunya betapa ketiga partai ini (PAN, PPP dan PKS) bisa saling membahu melawan status quo. Tapi setelah pemilu 2004 dimana PKS memperoleh peningkatan suara yang luar biasa signifikan, watak rendah hati partai ini agak sedikit berkurang (kalau tidak boleh dikatakan hilang).

Saya menangkap ada ego yang luar biasa dari para pendukung partai ini. "Calon dari PKS adalah yang terbaik, yang paling pintar, paling bersih, dan mungkin yang paling bertakwa dan Insya Allah kami akan menang" kurang lebih seperti itulah yang mereka yakini. Sah-sah saja kalau tidak sampai merendahkan calon lain. Tapi kenyataannya?

Dan akhirnya pestapun digelar. Minggu 26 November berjuta rakyat Banten berbondong-bondong menuju TPS. Memberikan suara mereka. Tryana, Atut, Zul dan Irsyad dan pasangan mereka deg-degan meliaht perhitungan suara di hari itu. Empat hari telah berjalan dan Atut tetep memimpin perolehan suara untuk sementara. Dan sepertinya Atut akan kembali memimpin Banten (kalau tidak ada keajaiban luar biasa). Prediksi yang tidak saya sukai ketika berbincang dengan saudara Usep itu sekali lagi sepertinya akan menjadi kenyataan.

Keserakahan sungguh mahal harganya. Semua menghendaki perubahan. Tapi ketika orang-orang yang menghendaki perubahan ini berpecah, tidak bersatu, perubahan hanyalah mimpi belaka. Ketika ajakan bersatu itu ditampik dengan alasan bahwa calon kami lebih baik, lebih bersih dll maka yang terjadi terjadilah…(kalah).

Seharusnya temen-temen dari PKS legowo menerima kekalahan ini. Bukan malah menuduh bahwa pihak yang menang telah melakukan kecurangan. Seharusnya mereka lebih berintrospeksi diri. Mereka telah menolak putra Banten asli dan mengirimkan dua makhluk asing (bagi warga banten — termasuk saya) untuk memimpin Banten.

Keserakahan memang sungguh mahal harganya. Dan terus terang saya melihat PKS telah masuk ke dalam jurang keserakahan itu.

Hmmm…Bantenku…betapa hatiku terikat kepadamu…tapi rasa takutku selalu memerintahkanku untuk menjauhimu…iringan doaku saja yang masih menyertaimu…semoga Kau membuka hati pemimpin yang terpilih untuk membawamu menuju yang lebih baik, membawamu pada kelapangan, bukan kesempitan, membawamu pada kesejahteraan bukan kegersangan, membawamu pada keadilan bukan penindasan…airmata…aliran darah yang ngilu…selalu menyertaiku saat melihat dan mengingatmu…Bantenku.

Sedikit Diskusi

Ada seorang sahabat, seorang adik dan seorang teman diskusi menanggapi postingan saya yang berjudul Ralat Atas Beberapa Tulisan melalui emai. Berikut saya petikan tanggapannya dan juga tanggapan saya atas tanggapannya :-)

Jika kita membaca buku Tafsir Ulang Perkawinan Lintas Agama, di situ ada  pemaparan bahwa di lapangan anak dari perkawinan lintas agama lebih banyak yang mengikuti agama ibu. Ini dikarenakan intensitas dan frekuensi pertemuan serta edukasi antara ibu dan anak. Dari dasar dan data lapangan ini, ada ulama yang mengharamkan sebaliknya: LAKI-LAKI MUSLIM MENIKAH DENGAN PEREMPUAN NON-MUSLIM HUKUMNYA HARAM. Bagi saya, sepertinya umat islam (pada umumnya) terlalu "dipusingkan" dengan membedakan tindakan dan peran antara muslim dan muslimah dalam ruang publik (muamalah). Umat islam cenderung bersikap anti persamaan antara keduanya.    Muslim boleh menjadi pemimpin sedangkan muslimah tidak. Muslimah hanya boleh menjadi  pemimpin untuk kaum perempuan saja (begitu juga dengan imam sholat -bila kita memandang Masjid sebagai ruang publik).   Muslim boleh poligini, sedangkan muslimah hanya boleh monogini (bagaimana untuk keadaan yang laki-laki lebih banyak dengan perempuan). Dalam hal menikah, muslim boleh menikahi perempuan non-muslim, sedangkan muslimah tidak boleh menikahi laki-laki non-muslim. Istilah islam dan muslim, tidak (selalu) berarti sebagai "lebel", tetapi lebih kepada nilai dan kualitas (manusia). Sangat disayangkan jika manusia (laki-laki dan perempuan) yang secara nilai dan kualitas adalah baik menikah dengan manusia yang secara nilai dan kualitas buruk. JIka
<!–
D(["mb","> kita akan sama dengan kaum "Yahudi" dan "Nasrani" -saya beri tanda kutip
> karena tidak semua Yahudi dan Nasrani seperti itu, yang berbantah-bantah
> bahwa Nabi Ibrahim adalah dari dari kalangannya masing-masing. Allah
> kemudian "mengkritik" mereka bahwa, Ibrahim itu ada sebelum ("lebel") Yahudi
> dan Nasrani ada. Paham "Yahudi dan Nasrani" seperti inilah yang dinamakan
> paham komunalistik, paham eksklusif. Mereka mengkomunalkan nilai dan ajaran
> luhur dengan "lebel".      Apabila
>  anak Adam meninggal, maka putus lah amalnya. Kecuali tiga, ilmu yang
> bermanfaat, amal jariyah dan anak soleh. (Hadist -mohon maaf jika redaksinya
> salah).      Anak Adam tidak dibatasi oleh "lebel" Isalm, Nasrani, Katolik,
> Protestan, Yahudi, Buddha, Hindu dan lainnya.       Kita hidup di dunia ini,
> bermasyarakat (salah satunya menikah) atas dasar nilai dan ajaran luhur,
> bukan atas dasar "lebel".      Hanya Allah yang tahu kebenarannya
>           Salam      Usep Hasan Sadikin
>
> Arifullah Ibn Rusyd <ibn.rusyd@gmail.com> wrote:  Jika kita membaca buku
> Tafsir Ulang Perkawinan Lintas Agama, di situ ada pemaparan bahwa di
> lapangan anak dari perkawinan lintas agama lebih banyak yang mengikuti agama
> ibu. Ini dikarenakan intensitas dan frekuensi pertemuan dan edukasi ibu dan
> anak. Dari dasar dan data lapangan ini, ada ulama yang mengharamkan
> sebaliknya: MUSLIM MENIKAH DENGAN PEREMPUAN NON-MUSLIM.
>   Bagi saya, sepertinya umat islam pada umumnya terlalu "dipusingkan" dengan
> membedakan tindakan dan peran antara muslim dan muslimah dalam ruang publik
",1]
);

//–>kita cenderung mengartikan islam dan muslim bukan kepada nilai dan kualitas, maka kita akan sama dengan kaum "Yahudi" dan "Nasrani" -saya beri tanda kutip karena tidak semua Yahudi dan Nasrani seperti itu, yang berbantah-bantah bahwa Nabi Ibrahim adalah dari dari kalangannya masing-masing. Allah kemudian "mengkritik" mereka bahwa, Ibrahim itu ada sebelum ("lebel") Yahudi dan Nasrani ada. Paham "Yahudi dan Nasrani" seperti inilah yang dinamakan paham komunalistik, paham eksklusif. Mereka mengkomunalkan nilai dan ajaran  luhur dengan "lebel".  Apabila anak Adam meninggal, maka putus lah amalnya. Kecuali tiga, ilmu yang bermanfaat, amal jariyah dan anak soleh. (Hadist -mohon maaf jika redaksinya salah). Anak Adam tidak dibatasi oleh "lebel" Isalm, Nasrani, Katolik, Protestan, Yahudi, Buddha, Hindu dan lainnya. Kita hidup di dunia ini, bermasyarakat (salah satunya menikah) atas dasar nilai dan ajaran luhur, bukan atas dasar "lebel".  Hanya Allah yang tahu kebenarannya
– (seorang sahabat) –

Tanggapan saya :

Terimakasih kepada Saudara Usep yang telah menanggapi tulisan saya. Semoga diskusi ini tetap mengedepankan kejernihan pikiran dan diiringi oleh rasa ingin belajar untuk selalu menambah ilmu (dalam terminologi Nabi Saw ‘mengambil hikmah’).

Ketika saya menanggapi tulisan saudara Usep ini, koneksi internet di kantor sedang putus. Jadi sebelumnya saya mohon maaf kalau dalam tanggapan ini tidak membahas secara detil poin-perpoin atas apa yang dikemukakan saudara Usep (karena saya tidak bisa membaca ulang tulisan saudara Usep).

Tanggapan saya yang pertama adalah "data statistik" yang dikemukan oleh saudara Usep dari buku Fiqh Lintas Agama bahwa "dalam kasus nikah beda agama, ternyata kebanyakan anak mengikuti agama ibunya" bukan agama bapaknya, sehingga dari data ini kita bisa saja menyimpulkan HARAM HUKUMNYA BAGI SEORANG PRIA MUSLIM UNTUK MENIKAH DENGAN WANITA AHLUL KITAB. Ada dua kritik terhadap data ini. Pertama, dari kalimat "dalam kasus nikah beda agama, ternyata kebanyakan anak mengikuti agama ibunya" mengindikasikan bahwa survei dilakukan pada keluarga-keluarga yang TETAP MEMPERTAHANKAN PERBEDAAN AGAMANYA. Dari kalimat itu mengindikasikan bahwa pada survei ini agama si suami dan si istri adalah beda. Menurut saya survei ini ‘SANGAT MENGABAIKAN’ data penting kasus pernikahan beda agama, yaitu ‘tidak menyertakan
D(["mb","representatif untuk mengambil kesimpulan kasus pernikahan beda agama.
Dalam banyak kasus yang saja jumpai, pernikahan antara laki-laki dan
wanita yg berbeda agama kebanyakan berakhir dengan \'istri mengikuti
agama suaminya\'. Kritik kedua, berkaitan dengan kepentingan si pelaku
survei terhadap data tersebut, sebagaimana dikemukakan oleh saudara
Usep bahwa data tersebut terdapat dalam
buku Fiqh Lintas Agama, suatu buku fiqh yang memang keluar dari
mainstream. Dan ketika kita berbicara tentang \'data statistik\' selalu
saja tidak lepas dari kepentingan. Kemarin kita dihebohkan dengan data
kemiskinan yang dikemukakan oleh presiden SBY, dan pak SBY berargumen
itu dengan menggunakan data statistik. Kita juga pernah dihebohkan
kasus
penelitian yang mengatakan bahwa "perempuan indonesia" sudah 97.5
tidak perawan, itu juga data statistik. Dan saya ketika mendengar dua
kejadian itu (pidato presiden tentang kemiskinan dan pengumuman hasil
survei "perempuan Indonesia" itu) saya hanya tertawa. Statistik dapat
melakukan pembenaran apapun yang ingin kita benarkan. Kalau Usep
pernah baca buku "EHM" John Perkins atau Freakeconomicnya David JC
Levvit disitu terlihat jelas betapa statistik seringkali digunakan
sebagai alat "kebohongan ilmiah" (kita tinggal memanipulasi variabel
bebas dan variabel terikatnya sesuai yang kita inginkan). Untuk
orang-orang yang \'berkepentingan\' terhadap data statistik, statistik
selalu berbicara tentang "realitas buatan" bukan "realitas kenyataan",
selalu mendukung realitas yang ingin dibenarkan. Dari sini akhirnya
saya memandang data tersebut sebagai suatu data yang tidak bebas dari
kepentingan. Kepentingan data tersebut jelas, untuk mendukung paham
temen-temen yang menulis buku tersebut. Dan data tersebut bagi orang
yg tidak kritis akan sangat menggoncang keyakinan mereka, mampu
mendobrak mainstream utama bahkan bertolak belakang (dimana mainstream
",1]
);

//–><!–
D(["mb","mengatakan boleh menikah dengan perempuan ahlul kitab, dengan data
statistik tersebut seharusnya haram). Itu adalah pola yg harus
dilakukan ketika ingin menanamkan suatu keyakinan. Menggoyahkan
keyakinan lama, Mengosongkannya, kemudian baru kita menanamkan apa-apa
yang ingin kita tanamkan. Mungkin kritik saya yang ketiga bukan
berkaitan dengan data, tapi dengan buku Fiqh Lintas Agama itu sendiri,
saya tidak respek dengan bahasa yg digunakan, saya merasakan
keangkuhan dan \'ego\' yg luar biasa dari temen-temen penulis buku
tersebut. Bagaimana dengan angkuhnya menuduh Imam Syafi\'i (dengan
metode Ushul Fiqhnya) sebagai biang kerok yg menghalangi lahirnya
"Fiqh yang membebaskan".

Untuk kasus nikah beda agama saya tidak ingin berpanjang lebar. Usep
dan saya sama-sama mengakui kepakaran Pak Quraish Shihab dalam
menafsirkan Al-Quran. Pesan saya silahkan Usep rujuk buku Tafsir
Al-Misbah jilid 1, ketika beliau menafsiri surat Al-Baqarah ayat 221
(kalau saya boleh menyebutkan hamalannya adalah 472-477), berdasarkan
penjelasan beliau, haram hukumnya bagi seorang muslimah menikah dengan
non-muslim, sementara untuk kasus pria muslim beliau menghukuminya
dengan makruh. Makruh tidak berarti melarang kebolehan spt yg
dikemukakan oleh Al-Quran.

Kritik yang kedua masalah konsep \'kafir\'. Kalau saya tidak salah
menangkap, saudara Usep mengatakan bahwa kafir tidak terikat oleh
label muslim, kristen, yahudi, hindu, budha atau apapun lah agamanya.
kafir adalah sesuatu yang berkaitan dengan \'kualitas perbuatan\'
seseorang. Untuk sudut pandang saudara Usep yang ini, saya 50% setuju
dan 50% lagi tidak. Ayat-ayat Al-Quran menurut para ulama (kalau saya
lebih suka menurut Imam Ali Kw - dalam Nahjul Balaghah) terbagi
menjadi dua, yakni ayat-ayat muhkamat dan ayat-ayat mutasyabihat.
Ayat-ayat muhkamat adalah ayat yang jelas, tidak memerlukan penafsiran
yang \'njlimet\', orang awampun sekali membacanya langsung mengerti. dan
",1]
);

//–>pasangan-pasangan yang awalnya beda agama, tapi kemudian keduanya beragama sama’. Di mata saya, pernikahan antara seorang pria dan wanita yg berbeda agama dan si wanita tetap mempertahankan keyakinannya berarti wanita tersebut adalah wanita yang kuat dan mempunyai misi dalam pandangan keagamaannya. Sehingga wanita tersebut bisa memanfaatkan posisi lebihnya dalam hubungannya dengan anak supaya si anak mengikutinya(si ibu tersebut). Jadi data yang dikemukakan oleh temen-temen yang menulis buku Fiqh Lintas Agama tersebut tidak representatif untuk mengambil kesimpulan kasus pernikahan beda agama. Dalam banyak kasus yang saja jumpai, pernikahan antara laki-laki dan wanita yg berbeda agama kebanyakan berakhir dengan ‘istri mengikuti agama suaminya’. Kritik kedua, berkaitan dengan kepentingan si pelaku survei terhadap data tersebut, sebagaimana dikemukakan oleh saudara Usep bahwa data tersebut terdapat dalam buku Fiqh Lintas Agama, suatu buku fiqh yang memang keluar dari mainstream. Dan ketika kita berbicara tentang ‘data statistik’ selalu saja tidak lepas dari kepentingan. Kemarin kita dihebohkan dengan data kemiskinan yang dikemukakan oleh presiden SBY, dan pak SBY berargumen itu dengan menggunakan data statistik. Kita juga pernah dihebohkan kasus penelitian yang mengatakan bahwa "perempuan remaja indonesia" sudah 97.5 tidak perawan, itu juga data statistik. Dan saya ketika mendengar dua kejadian itu (pidato presiden tentang kemiskinan dan pengumuman hasil survei "perempuan remaja Indonesia" itu) saya hanya tertawa. Statistik dapat melakukan pembenaran apapun yang ingin kita benarkan. Kalau Usep pernah baca buku "EHM" John Perkins atau Freakeconomicnya David JC Levvit disitu terlihat jelas betapa statistik seringkali digunakan sebagai alat "kebohongan ilmiah" (kita tinggal memanipulasi variabel bebas dan variabel terikatnya sesuai yang kita inginkan). Untuk orang-orang yang ‘berkepentingan’ terhadap data statistik, statistik selalu berbicara tentang "realitas buatan" bukan "realitas kenyataan", selalu mendukung realitas yang ingin dibenarkan. Dari sini akhirnya saya memandang data tersebut sebagai suatu data yang tidak bebas dari kepentingan. Kepentingan data tersebut jelas, untuk mendukung paham temen-temen yang menulis buku tersebut. Dan data tersebut bagi orang yg tidak kritis akan sangat menggoncang keyakinan mereka, mampu mendobrak mainstream utama bahkan bertolak belakang (dimana mainstream mengatakan boleh menikah dengan perempuan ahlul kitab, dengan data statistik tersebut seharusnya haram). Itu adalah pola yg harus dilakukan ketika ingin menanamkan suatu keyakinan. Menggoyahkan keyakinan lama, Mengosongkannya, kemudian baru kita menanamkan apa-apa yang ingin kita tanamkan. Mungkin kritik saya yang ketiga bukan berkaitan dengan data, tapi dengan buku Fiqh Lintas Agama itu sendiri, saya tidak respek dengan bahasa yg digunakan, saya merasakan keangkuhan dan ‘ego’ yg luar biasa dari temen-temen penulis buku tersebut. Bagaimana dengan angkuhnya menuduh Imam Syafi’i (dengan metode Ushul Fiqhnya) sebagai biang kerok yg menghalangi lahirnya "Fiqh yang membebaskan".

Untuk kasus nikah beda agama saya tidak ingin berpanjang lebar. Usep dan saya sama-sama mengakui kepakaran Pak Quraish Shihab dalam menafsirkan Al-Quran. Pesan saya silahkan Usep rujuk buku Tafsir Al-Misbah jilid 1, ketika beliau menafsiri surat Al-Baqarah ayat 221 (kalau saya boleh menyebutkan hamalannya adalah 472-477), berdasarkan penjelasan beliau, haram hukumnya bagi seorang muslimah menikah dengan non-muslim, sementara untuk kasus pria muslim beliau menghukuminya dengan makruh. Makruh tidak berarti melarang kebolehan spt yg dikemukakan oleh Al-Quran.

<!–
D(["mb","pengertian antara orang awam dan orang yang alimpun sama. Karena
kesederhanaan dan kejelesannya ayat-ayat ini menjadi panduan hukum
bagi seorang muslim dalam hidupnya. Haramnya daging babi, persoalan
tauhid, waris, qishas dan masih banyak yang lainnya adalah termasuk
kategori ayat-ayat muhkamat. Dan dalam ayat-ayat muhkamat seorang
muslim harus \'mengharamkan\' apa yang diharamkan oleh Al-Quran dan
harus \'menghalalkan\' apa yang dihalalkan oleh Al-Quran. Juga harus
\'mengkafirkan\' apa yang dikafirkan oleh Al-Quran dah harus mengimankan
apa yang oleh Al-Quran kita di suruh beriman.

Ayat-ayat yang pernah saya kutipkan dalam email yg bersubjek \'Ralat
Atas Beberapa Tulisan\' adalah ayat-ayat yang muhkamat, "telah kafirlah
orang yang mengatakan bahwa Isa Almasih (Yesus Kristus) adalah Allah"
bagi siapapun sangat jelas. Bahkan dalam banyak buku tafsir, saking
jelasnya ayat ini tidak ditafsiri lagi. Ini bagi saya kandungannya
adalah penegasan dari surat al-iklhas. Begitu jg dengan dua ayat
lainnya yang saya sertakan dalam tulisan tersebut. Dan dalam masalah
ini saya harus berbica \'kita\' dan \'mereka\' adalah beda. Ini adalah
masalah
yang esensial, masalah iman dan tidak iman (bukankah iman adalah lawan
dari kekafiran pun begitu sebaliknya?). Bagi saya nilai keimanan itu
lebih dari segalanya, lebih berharga dari nyawa saya sendiri dan
seluruh isi langit dan bumi. Jika saya disuruh memilih \'membunuh diri
sendiri\' atau mengakui Yesus Kristus sebagai Allah saya lebih memilih
membunuh diri saya sendiri (walaupun bunuh diri itu dilarang :p). Tapi
saya juga tegas, bahwa tidak seluruh ahlul kitab itu kafir, dalam
kristen sendiripun ada banyak yg menganggap Yesus Kristus hanya
seorang hamba dan utusan Tuhan semata. Begitu juga ketika saya
memandang Yahudi, mungkin saja diantara mereka ada yang betul-betul
beriman kepada Allah (walaupun tidak mengakui Muhammad Saw sebagai
utusanNya). Sedangkan dalam masalah \'kafir\' pandangan saya jelas
",1]
);

//–>Kritik yang kedua masalah konsep ‘kafir’. Kalau saya tidak salah menangkap, saudara Usep mengatakan bahwa kafir tidak terikat oleh label muslim, kristen, yahudi, hindu, budha atau apapun lah agamanya. kafir adalah sesuatu yang berkaitan dengan ‘kualitas perbuatan’ seseorang. Untuk sudut pandang saudara Usep yang ini, saya 50% setuju dan 50% lagi tidak. Ayat-ayat Al-Quran menurut para ulama (kalau saya lebih suka menurut Imam Ali Kw - dalam Nahjul Balaghah) terbagi menjadi dua, yakni ayat-ayat muhkamat dan ayat-ayat mutasyabihat. Ayat-ayat muhkamat adalah ayat yang jelas, tidak memerlukan penafsiran yang ‘njlimet’, orang awampun sekali membacanya langsung mengerti. dan pengertian antara orang awam dan orang yang alimpun sama. Karena kesederhanaan dan kejelesannya ayat-ayat ini menjadi panduan hukum bagi seorang muslim dalam hidupnya. Haramnya daging babi, persoalan tauhid, waris, qishas dan masih banyak yang lainnya adalah termasuk kategori ayat-ayat muhkamat. Dan dalam ayat-ayat muhkamat seorang muslim harus ‘mengharamkan’ apa yang diharamkan oleh Al-Quran dan harus ‘menghalalkan’ apa yang dihalalkan oleh Al-Quran. Juga harus ‘mengkafirkan’ apa yang dikafirkan oleh Al-Quran dah harus mengimankan apa yang oleh Al-Quran kita disuruh beriman.

<!–
D(["mb","seperti ketika saya berdialog dengan seorang sahabat dari milis mifta,
bahwa term \'kafir\' bisa disematkan bukan saja kepada yahudi dan
kristen bahkan kepada mereka yang muslim pun term ini bisa disematkan.
Alasannya seperti yang saya kemukakan pada email tersebut. Unsur iman
itu tiga macam, keyakinan, ucapan dan perbuatan, salah satunya gugur
maka yang lain gugur. Karena harus mensaratkan ketiganya iman itu
sifatnya dinamis, bisa bertambah, berkurang, nol bahkan bisa negatif.
makanya sabda Nabi Suci Saw "Al-Imanu Yazidu Wa-Yanqos" iman itu bisa
bertambah dan berkurang. Seorang yang meninggal dalam keadaan
bermaksiat kepada Allah berarti ia mati dalam kondisi tidak membawa
iman (dg kata lain \'kafir\') dan kasus seperti ini bisa terjadi pada
mereka yg berlabel \'muslim\'. Tapi kalau saya di suruh memilih lebih
suka mana \'muslim yang jahat\' atau \'kristen/yahudi/hindu/budha yang
baik\' dengan terus terang saya lebih suka \'kristen/yahudi/hindu/budha
yang baik\' karena pada \'muslim yg jahat\' saya melihat \'muslim\' itu
hanya label. Dan kalau disuruh memilih membunuh muslim yang korup atau
membunuh orang kafir saya lebih memilih membunuh muslim yang korup.
bahkan orang kafir harus dilindungi kalau ada perjanjian damai
(apalagi terikat satu negara dengan kita).

Dan dalam masalah mu\'mamalah, label-label (muslim, yahudi, kristen
dll) itu tidak penting, tapi profesionalitas yang dikedepankan.
Makanya dalam kekhalifahan islamiah, seperti yang telah dijelaskan
oleh seorang yahudi ateis (dalam blog saya yang berjudul "Pedang
Muhammad (tanggapan atas pidato paus)" banyak sekali pos-pos penting
yg diduduki oleh orang-orang yahudi dan kristen. Sebab disitu ada
kemaslahatan bersama, dalam kemaslahatan bersama yang menentukan
adalah capable dan tidak capable bukan iman dan tidak iman. Jadi
marahi kalau seorang muslim berwatak jahil dan bodoh (berarti dia
tidak mengamalakan ajaran islam) tapi ingin mengurus kepentingan yang
",1]
);

//–>Ayat-ayat yang pernah saya kutipkan dalam email yg bersubjek ‘Ralat Atas Beberapa Tulisan’ adalah ayat-ayat yang muhkamat, "telah kafirlah orang yang mengatakan bahwa Isa Almasih (Yesus Kristus) adalah Allah" bagi siapapun sangat jelas. Bahkan dalam banyak buku tafsir, saking jelasnya ayat ini tidak ditafsiri lagi. Ini bagi saya kandungannya adalah penegasan dari surat al-iklhas. Begitu jg dengan dua ayat lainnya yang saya sertakan dalam tulisan tersebut. Dan dalam masalah ini saya harus berbica ‘kita’ dan ‘mereka’ adalah beda. Ini adalah masalah yang esensial, masalah iman dan tidak iman (bukankah iman adalah lawan dari kekafiran pun begitu sebaliknya?). Bagi saya nilai keimanan itu lebih dari segalanya, lebih berharga dari nyawa saya sendiri dan seluruh isi langit dan bumi. Jika saya disuruh memilih ‘membunuh diri sendiri’ atau mengakui Yesus Kristus sebagai Allah saya lebih memilih membunuh diri saya sendiri (walaupun bunuh diri itu dilarang :p). Tapi saya juga tegas, bahwa tidak seluruh ahlul kitab itu kafir, dalam kristen sendiripun ada banyak yg menganggap Yesus Kristus hanya seorang hamba dan utusan Tuhan semata. Begitu juga ketika saya memandang Yahudi, mungkin saja diantara mereka ada yang betul-betul beriman kepada Allah (walaupun tidak mengakui Muhammad Saw sebagai utusanNya). Sedangkan dalam masalah ‘kafir’ pandangan saya jelas seperti ketika saya berdialog dengan seorang sahabat dari milis mifta, bahwa term ‘kafir’ bisa disematkan bukan saja kepada yahudi dan kristen bahkan kepada mereka yang muslim pun term ini bisa disematkan. Alasannya seperti yang saya kemukakan pada email tersebut. Unsur iman itu tiga macam, keyakinan, ucapan dan perbuatan, perbuatan yg berlawanan dengan keyakinan iman, berarti menandakan keimanan yang negatif. Oleh karena itu iman sifatnya dinamis, bisa bertambah, berkurang, nol bahkan bisa negatif. Makanya sabda Nabi Suci Saw "Al-Imanu Yazidu Wa-Yanqos" iman itu bisa bertambah dan berkurang. Seorang yang meninggal dalam keadaan bermaksiat kepada Allah berarti ia mati dalam kondisi tidak membawa iman (dg kata lain ‘kafir’) dan kasus seperti ini bisa terjadi pada mereka yg berlabel ‘muslim’. Tapi kalau saya di suruh memilih lebih suka mana ‘muslim yang jahat’ atau ‘kristen/yahudi/hindu/budha yang baik’ dengan terus terang saya lebih suka ‘kristen/yahudi/hindu/budha yang baik’ karena pada ‘muslim yg jahat’ saya melihat ‘muslim’ itu hanya label. Dan kalau disuruh memilih membunuh muslim yang korup atau membunuh orang kafir saya lebih memilih membunuh muslim yang korup. bahkan orang kafir harus dilindungi kalau ada perjanjian damai (apalagi terikat satu negara dengan kita).

<!–
D(["mb","ia tidak memiliki kemampuan di dalamnya.

Dan menanggapi masalah perempuan dalam pandangan Islam, masalah
perempuan yg tidak boleh menjadi imam shalat jika makmumnya laki-laki,
masalah perempuan yang tidak bisa poliandri sementara laki-laki bisa
poligami dll seperti yang dikemukakan oleh saudara Usep. Disitu
menurut saya ada hikmah besar yang mungkin belum kita tau. Misalnya,
kasus poliandri dibolehkan, perempuan boleh bersuami banyak, kalau
perempuan itu melahirkan, terus kepada siapa seharusnya bapak si anak
ini diatributkan (hehehe...ini hanya misal lho). Dalam kasus kesaksian
dua orang perempuan sama dengan seorang laki-laki, misalnya setelah
dilakukan penelitian, ternyata otak laki-laki memiliki daya ingat
lebih kuat dibandingkan dengan perempuan. Karena watak otak perempuan
sendiri yang "multitasking" menyebabkan fokus perempuan lebih buruk
jika dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini diakui oleh temen-temen
saya yang perempuan, oleh karena itu untuk menutupi daya ingat yang
lemah ini perempuan adalah makhluk yang paling rajin mencatat. Di
sekolah, dapat dipastikan kalau seorang perempuan juara kelas pasti ia
seorang yang rajin, sementara
untuk laki-laki yg juara kelas belum tentu dia seorang yang rajin,
kalau kita tahu penelitian ini setidaknya kita bisa mengerti kenapa
\'kesaksian dua orang perempuan sama dengan seorang laki-laki\'.
Kemudian perempuan dalam kasus ibadah mahdah disitu telah jelas
tuntunannya. Kalau Usep bertanya "kenapa seorang muslimah tidak boleh
menjadi imam
sholat bagi laki-laki muslim?" seharusnya Usep juga bertanya kepada
Allah "Kenapa semua Nabi dan Rasul adalah laki-laki" (ini ayat
al-quran lho...dan tidaklah Kami mengutus seorang utusan kecuali ia
Kami jadikan sebagai seorang laki-laki). Tapi yang jelas, Islam tidak
melarang seorang muslimah untuk berkecimpung di ranah publik. Dalam
segala hal. Perempuan bisa menjadi pemimpin seperti laki-laki dalam
",1]
);

//–>Dan dalam masalah mu’mamalah, label-label (muslim, yahudi, kristen dll) itu tidak penting, tapi profesionalitas yang dikedepankan. Makanya dalam kekhalifahan islamiah, seperti yang telah dijelaskan oleh seorang yahudi ateis (dalam blog saya yang berjudul "Pedang Muhammad (tanggapan atas pidato paus)" banyak sekali pos-pos penting yg diduduki oleh orang-orang yahudi dan kristen. Sebab disitu ada kemaslahatan bersama, dalam kemaslahatan bersama yang menentukan adalah capable dan tidak capable bukan iman dan tidak iman. Jadi marahi kalau seorang muslim berwatak jahil dan bodoh (berarti dia tidak mengamalakan ajaran islam) tapi ingin mengurus kepentingan yang ia tidak memiliki kemampuan di dalamnya.

<!–
D(["mb","ranah publik. Perempuan bisa dan boleh menjadi direktur suatu
perusahaan sampai bisa menjadi presiden. Megawati, Benazir Butho
adalah figur yang pernah berada di posisi tinggi itu. Bandingkan dg
Amerika (Pernahkah presidennya wanita? bandingkan juga anggota senat
di Amerika dengan DPR RI, bandingkan juga mentri-mentri di Amerika
dengan mentri di Indonesia), sebab Al-Quran sendiri memberikan
informasi bahwa perempuan bisa diposisi tersebut. Contoh nyata adalah
Ratu Balqis dalam cerita Al-Quran. Hak dan kewajiban antara perempuan
dan laki-laki menurut islam selamanya tidak bisa sama, tetapi SETARA.
Ada peran-peran yang menuntut harus hadirnya perempuan di situ, begitu
juga ada peran-peran yg menuntut harus hadirnya laki-laki di situ.
Perempuan bukanlah saingan laki-laki, tapi adalah mitra laki-laki, pun
begitu sebaliknya.

Dan Usep mungkin akan kaget, kewajiban agama perempuan lebih ringan
dibandingkan dengan laki-laki, begitu juga dengan kewajiban
pertanggunjawabannya di hadapan Allah. Dalam suatu hadits Nabi Suci
Saw pernah mengatakan bahwa setiap perempuan ketika akan dimintai
pertanggungjawaban empat orang laki-laki juga akan dimintai
pertanggungjawaban. Yaitu bapaknya, suaminya, saudara laki-lakinya,
dan pamannya. Dan ingat Nabi Suci memerintahkan kita untuk menghormati
ibu kita tiga kali lipat dibandingakan dengan penghormatan kita kepada
bapak kita. Posisi perempuan begitu istimewa di dalam Islam :-)

Kurang lebihnya mohon ma\'af. Punten jadi panjang.
Wallahu\'alam.

",1]
);

//–>Dan menanggapi masalah perempuan dalam pandangan Islam, masalah perempuan yg tidak boleh menjadi imam shalat jika makmumnya laki-laki, masalah perempuan yang tidak bisa poliandri sementara laki-laki bisa poligami dll seperti yang dikemukakan oleh saudara Usep. Disitu menurut saya ada hikmah besar yang mungkin belum kita tau. Misalnya, kasus poliandri dibolehkan, perempuan boleh bersuami banyak, kalau perempuan itu melahirkan, terus kepada siapa seharusnya bapak si anak ini diatributkan (hehehe…ini hanya misal lho). Dalam kasus kesaksian dua orang perempuan sama dengan seorang laki-laki, misalnya setelah dilakukan penelitian, ternyata otak laki-laki memiliki daya ingat lebih kuat dibandingkan dengan perempuan. Karena watak otak perempuan sendiri yang "multitasking" menyebabkan fokus perempuan lebih buruk jika dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini diakui oleh temen-temen saya yang perempuan, oleh karena itu untuk menutupi daya ingat yang lemah ini perempuan adalah makhluk yang paling rajin mencatat. Di sekolah, dapat dipastikan kalau seorang perempuan juara kelas pasti ia seorang yang rajin, sementara untuk laki-laki yg juara kelas belum tentu dia seorang yang rajin, kalau kita tahu penelitian ini setidaknya kita bisa mengerti kenapa ‘kesaksian dua orang perempuan sama dengan seorang laki-laki’ — faktor perempuan lebih cepat lupa. Kemudian perempuan dalam kasus ibadah mahdah disitu telah jelas tuntunannya. Kalau Usep bertanya "kenapa seorang muslimah tidak boleh menjadi imam sholat bagi laki-laki muslim?" seharusnya Usep juga bertanya kepada Allah "Kenapa semua Nabi dan Rasul adalah laki-laki" (ini ayat al-quran lho…dan tidaklah Kami mengutus seorang utusan kecuali ia Kami jadikan sebagai seorang laki-laki). Tapi yang jelas, Islam tidak melarang seorang muslimah untuk berkecimpung di ranah publik. Dalam segala hal. Perempuan bisa menjadi pemimpin seperti laki-laki dalam ranah publik. Perempuan bisa dan boleh menjadi direktur suatu perusahaan sampai bisa menjadi presiden. Megawati, Benazir Butho adalah figur yang pernah berada di posisi tinggi itu. Bandingkan dg Amerika (Pernahkah presidennya wanita? bandingkan juga anggota senat di Amerika dengan DPR RI, bandingkan juga mentri-mentri di Amerika dengan mentri di Indonesia), sebab Al-Quran sendiri memberikan informasi bahwa perempuan bisa diposisi tersebut. Contoh nyata adalah Ratu Balqis dalam cerita Al-Quran. Hak dan kewajiban antara perempuan dan laki-laki menurut islam selamanya tidak bisa sama, tetapi SETARA. Ada peran-peran yang menuntut harus hadirnya perempuan di situ, begitu juga ada peran-peran yg menuntut harus hadirnya laki-laki di situ. Perempuan bukanlah saingan laki-laki, tapi adalah mitra laki-laki, pun begitu sebaliknya.

Dan Usep mungkin akan kaget, kewajiban agama perempuan lebih ringan dibandingkan dengan laki-laki, begitu juga dengan kewajiban pertanggunjawabannya di hadapan Allah. Dalam suatu hadits Nabi Suci Saw pernah mengatakan bahwa setiap perempuan ketika akan dimintai pertanggungjawaban empat orang laki-laki juga akan dimintai pertanggungjawaban. Yaitu bapaknya, suaminya, saudara laki-lakinya, dan pamannya. Dan ingat Nabi Suci memerintahkan kita untuk menghormati ibu kita tiga kali lipat dibandingakan dengan penghormatan kita kepada bapak kita. Posisi perempuan begitu istimewa di dalam Islam :-)

Kurang lebihnya mohon ma’af. Punten jadi panjang.
Wallahu’alam.

Ralat Atas Beberapa Tulisan

Dalam tulisan "Beragama Dengan Percaya Diri" ketika menanggapi pertanyaan dari seorang teman menyangkut "menikah beda agama" saya berpendapat seperti berikut :

"Dalam masalah nikah beda agama, aku menjelaskan
bahwa ulama bersepakat tentang bolehnya menikahi wanita Ahlu Al-Kitab dan
mereka juga bersepakat tentang haramnya seorang muslimah menikah dengan yang
non-muslim. Tapi orang-orang JIL mengatakan kesepakatan ulama dalam kasus kedua
(haramnya muslimah untuk menikah dengan non-muslim) bukanlah bersifat final dan
mengikat. Itu hanya kesepakatan ulama zaman dulu. Itu ijtihad manusia yang bisa
saja salah, kata mereka. Kemudian dari segi kebahasaan, ada banyak sekali
hadits-hadits Nabi yang seakan menunjukkan sebagian padahal maksudnya untuk
keseluruhan. Contohnya ketika Nabi bersabda "tholabul ‘ilmi faridatun ‘al kulli muslim" yang artinya mencari
ilmu diwajibkan bagi setiap muslim, itu bukan berarti muslim saja melainkan
juga muslimahnya (untuk masalah ini ada istilah khusus dalam Nahwu – saya lupa
istilahnya). Nah dengan berargumen istilah dalam kaidah bahasa ini, mereka
(JIL) berijtihad bahwa kebolehan muslim (laki-laki) menikah dengan Ahlu
Al-Kitab juga bisa juga diterapkan dalam kebolehan muslimah untuk menikah
dengan Ahlu Al-Kitab karena berdasarkan kaidah Ushul Fiqh bahwa dalam masalah mu’amalah segala sesuatu asal
hukumnya boleh selama tidak ada dalil yang melarangnya
, sedangkan memang
baik dalam Al-Quran maupun Al-Hadits tidak ditemukan larangan wanita muslim
menikah dengan Ahlu Al-Kitab. Tidak ada larangan "Wanita muslim dilarang
menikah dengan Ahlu Al-Kitab" dalam Al-Quran maupun Al-Sunnah
. Yang ada hanya
larangan menikahi yang musyrik, dan itu ditujukkan kepada muslim laki-laki
maupun muslim perempuan."

Ralat :

Setelah
membaca ulang masalah ini,  memang di dalam Al-Quran tidak ada larangan
seorang muslimah menikah dengan Ahlul Kitab, tapi setelah saya menyusun
sedikit konstruksi ayat-ayat yang berkaitan dengan ini, saya memperoleh
kesimpulan baru : MENURUT SAYA KEHARAMAN MUSLIMAH MENIKAH DENGAN PRIA
NON-MUSLIM ADALAH JELAS SEJELAS BULAN PURNAMA.

saya
berkesimpulan seperti itu setelah menghubungkan beberapa ayat di dalam
Al-Qur’an. Dalil yang menunjukkan keharaman wanita muslim menikah
dengan pria non-muslim adalah ayat ke-10 dari surat Al-Mumthahanah
(surat ke 60, yang berbunyi
mereka (wanita-wanita muslim) tiada halal bagi orang-orang kafir dan orang-orang kafir itu tiada halal
pula bagi mereka.

Sedangkan berkaitan dengan ahlul kitab, memang Al-Quran tidak pernah
menyebutkan mereka sebagai golongan musyrik. Al-Quran selalu memisahkan
Ahlul Kitab dengan orang-orang Musyrik tetapi di dalam Al-Quran juga
disebutkan bahwa
Sesungguhnya
telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah itu ialah Al
masih putera Maryam" (Qs. Al-maidah:17)
di
sini merujuk kepada ahlul kitab yang beragama nasrani (kristen) dan
pada ayat yang lain yakni di dalam surat Al-Bayyinah (Surat ke-98:6)
terdapat Sesungguhnya
orang-orang yang kafir dari ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan
masuk) ke neraka Jahannam.
Di sini mencakup seluruh ahlul kitab yang kafir. Berdasarkan ayat-ayat ini saya menyusun konstruksi sebagai berikut :


* muslimah dilarang menikah dengan orang kafir

* ahlul kitab (kristen) yang menganggap Isa Al-Masih sebagai Allah adalah kafir

konklusi
: * muslimah dilarang menikah dengan ahlul kitab (kristen) yang
menganggap Isa Al-Masih sebagai Allah karena mereka adalah orang-orang
kafir. Dan begitu juga dengan ahlul kitab lain yang kafir.

dengan
ini saya meralat apa yang pernah saya tulis, dan saya mengikuti
ulama-ulama salaf bahwa "haram hukumnya bagi seorang muslimah menikah
dengan pria non-muslim".

Dalam tulisan "
Seputar Hadits Tentang Perpecahan Itu…" ada kutipan sebagai berikut :

"Temanku mengotot, katanya bukankah yang selamat itu hanya golongan Ahlussunnah Waljama’ah. Dan ketika aku menjelaskan bahwa
term
Ahlussunnah Waljama’ah adalah term baru yang pertama kali dikenalkan oleh Abu Musa Al Asyarie pada abad ke 3 H. dia pun hanya terbengong-bengong bingung".

Ralat

ada kesalahan tulisan nama tokoh seharusnya adalah Abu Hasan Al Asyarie,
sedangkan Abu Musa Al-Asyarie adalah tokoh sahabat yang pernah menjadi
penengah dalam masalah tahkim ketika perang shiffin antara Imam Ali Kw
dengan Muawiyyah.

Dalam
tulisan saya menanggapi seorang sahabat dari milis mifta (ini tidak
terdapat di blog, hanya diskusi pribadi) menanggapi penafsiran Qs.
2:120 terdapat kutipan sebagai berikut :

"Ada dua kategori kata benda dalam bahasa arab yaitu ISIM NAKIRAH (UMUM
) dan ISIM MA’RIFAT (KHUSUS). kata KITABUN (buku) misalnya adalah isim
NAKIRAH dan kata tersebut bisa merujuk kepada buku apa aja tapi ketika
kata KITABUN di tambahi ALIF dan LAM menjadi AL-KITABU ia sudah khusus
merujuk pada buku tertentu, misalnya buku yang anda pegang, buku yang
ada di depan mata Anda dll. Penambahan pada kata benda dengan ALIF dan
LAM sebenernya memiliki dua arti, pertama jika penambahan tersebut
terletak di awal kalimat maka ia bermakna keumumuan, meliputi segala
sesuatu. ALIF dan LAM seperti ini disebut ALIF LAM maqsurah, contohnya
pada kata AL-HAMDU LILLAHI RABBIL ‘ALAMIN ia diartikan meliputi
(kesempurnaan) segala pujian, sehingga diartikan "segala puji bagi
Allah Tuhan semesta alam". Tapi jika terletak ditengah kalimat, maka ia
bermakna khusus, contohnya misalnya Hadza Al-Kitab, maka buku ini
merujuk kepada buku yang anda pegang (ketika jika anda mengtakannya
sambil memegang buku) atau menunjuk kepada buku yang anda tunjuk yang
lokasinya ada di dekat anda (biasanya di depan). Melihat kata Nasrani
dan Yahudi itu dalam QS. 2:120 tersebut akhirnya lahirlah tafsiran saya
yang memaknai sebagai "kekhususan" dasarnya adalah sedikit pengetahuan
saya tentang bahasa arab yang seperti telah saya jelaskan."


Ralat :
yang digaris tebal seharusnya adalah
ALIF dan LAM seperti ini disebut ALIF LAM istighroq

 

Mohon maaf atas segala
khilaf, semoga kita senantiasa diberikan kekuatan untuk senantiasa
belajar dan terus belajar. Selamat menjalankan ibadah shaum.

Pedang Muhammad (Tanggapan Atas Pidato Paus)

Oleh Uri Avnery *)

Mengapa Paus Benediktus XVI mengutip kata-kata tersebut di depan
umum? Dan mengapa sekarang?

Sejak masa ketika para kaisar Romawi menjadikan orang-orang Kristen
mangsa singa-singa, hubungan para kaisar itu dengan pemimpin-pemimpin
Gereja terus mengalami pasang-surut.

Konstantin yang Agung, yang bertakhta pada 306—pastinya 1700 tahun
yang lalu—mendukung Kristen sebagai agama yang dipraktikkan di imperium
tersebut, yang termasuk di dalamnya wilayah Palestina. Berabad-abad
kemudian, Gereja pun terbelah menjadi Timur (Ortodoks) dan Barat (Katolik).
Di Barat, Uskup Roma, yang mendapat gelar Paus, menuntut sang kaisar
untuk menerima superioritasnya.

Konflik antara para kaisar dan para paus memainkan peranan sentral
dalam sejarah Eropa serta menciptakan polarisasi masyarakat. Konflik
tersebut pun mengalami pasang dan surutnya. Beberapa kaisar menolak
otoritas atau mengucilkan seorang paus sementara beberapa paus juga menolak
otoritas atau mengutuk seorang kaisar.

Salah seorang kaisar, Henry IV, sampai harus “berjalan ke Canossa”
(sebuah desa di pegunungan Apennine, bagian utara Italia—penerj.) dan
berdiri di atas salju dengan bertelanjang kaki selama tiga hari di depan
Kastil sang Paus (yang dimaksud adalah Paus Gregory VII—penerj.) hingga
Paus memutuskan untuk membatalkan kutukannya.

Namun, juga terdapat periode ketika para kaisar dan paus bergandengan
tangan dalam keharmonisan. Dan hari ini, kita menyaksikan sebuah
periode seperti itu. Antara Paus Benediktus XVI dan sang Kaisar George Bush
II, terjadi keharmonisan yang menakjubkan. Kuliah sang Paus beberapa
waktu yang lalu, yang memicu kontroversi di seluruh dunia, tampaknya
seiring jalan dengan “perang salib” ala Bush melawan “Islamofasisme”, dalam
konteks “clash of civilizations”.

Dalam kuliahnya pada sebuah universitas di Jerman, Paus yang ke-265
ini memaparkan apa yang ia lihat sebagai sebuah “perbedaan besar” antara
Kristen dan Islam: Kristen didasarkan atas akal sedangkan Islam menolak
akal; Kristen memahami logika dari tindakan-tindakan Tuhan sementara
Islam mengingkari bahwa terdapat sejenis logika di dalam
tindakan-tindakan Allah.

Sebagai seorang Yahudi ateis, saya tidak bermaksud untuk memasuki
perdebatan ini. Adalah di luar kemampuan saya untuk memahami apa yang
dimaksud dengan logika oleh Paus. Namun, saya tidak dapat melewatkan satu
bagian yang menjadi perhatian saya sebagai seorang Israel yang hidup
dekat dengan inkonsistensi “perang peradaban” ini.

Untuk membuktikan bahwa Islam tidak menghargai akal, Paus menyatakan
bahwa Nabi Muhammad memerintahkan para pengikutnya untuk menyebarkan
agama mereka melalui jalan pedang. Menurut Paus, hal tersebut tidaklah
rasional karena iman lahir dari dalam jiwa, bukan dari tubuh. Bagaimana
pedang dapat mempengaruhi jiwa?

Untuk mendukung pendapatnya ini, Paus mengutip—dari banyak kutipan
yang mungkin—seorang kaisar Byzantium, yang tentu saja merupakan rival
Gereja Timur (Ortodoks). Pada akhir abad ke-14, sang kaisar tersebut,
Manuel II Palaeologus bercerita tentang sebuah perdebatan—peristiwa ini
diragukan pernah terjadi—antara dirinya dengan seorang ulama Muslim asal
Persia yang namanya tidak disebutkan.

Di tengah panasnya perdebatan tersebut, sang kaisar (berdasarkan
ceritanya sendiri) mengucapkan kata-kata berikut kepada lawan debatnya
tersebut.

“Tunjukkan kepadaku ajaran baru yang Muhammad bawa, dan pasti kamu
tidak akan mendapatkan apa pun kecuali hal-hal yang jahat dan
anti-kemanusiaan, seperti perintahnya untuk menyebarkan apa yang dia sampaikan
melalui pedang.”

Perkataan di atas memunculkan tiga pertanyaan: [a] kenapa  sang
kaisar berkata seperti itu; [b] apakah perkataan itu benar adanya; dan [c]
mengapa Paus mengutip perkataan itu.

Ketika menuliskan risalah di atas, Manuel II adalah kaisar dari
sebuah imperium yang sedang sekarat. Dia bertakhta pada 1391, ketika hanya
segelintir propinsi yang tersisa dari imperium sebelumnya.
Propinsi-propinsi yang masih tersisa ini pun pada masanya berada di bawah ancaman
Turki.

Pada masa itu, kekuasaan Turki Utsmani telah mencapai tepi Sungai
Danube. Mereka telah menaklukkan Bulgaria dan bagian utara Yunani, dan
telah dua kali mengalahkan pasukan bantuan yang dikirim Eropa untuk
menyelamatkan Imperium Timur. Pada 29 Mei 1453, hanya beberapa tahun setelah
Manuel mangkat, ibukota imperiumnya, Konstantinopel (kini Istanbul),
jatuh ke tangan orang-orang Turki. Inilah akhir dari sebuah imperium yang
telah berkuasa selama lebih daripada ribuan tahun.

Selama berkuasa, Manuel banyak mengunjungi ibukota-ibukota Eropa
dalam upayanya untuk memobilisasi dukungan. Dia berjanji untuk
mempersatukan kembali gereja. Tidak diragukan lagi bahwa Manuel menuliskan risalah
keagamaannya itu dalam upaya untuk memprovokasi negara-negara Kristen
agar melawan Turki dan meyakinkan mereka untuk memulai kembali sebuah
perang salib yang baru. Tujuannya amatlah pragmatis dan teologi datang
untuk melayani kepentingan politik.

Dalam hal ini, tampaknya kutipan (yang dikutip Paus) tersebut
benar-benar melayani kepentingan sang Kaisar modern, George Bush II. Bukankah
Bush juga hendak mempersatukan kembali dunia Kristen untuk melawan
“Poros Setan” Muslim. Lebih jauh, bukankah Turki lagi-lagi mengetuk pintu
Eropa meski kali ini secara damai. Sudah umum diketahui bahwa Paus
Benedik XVI mendukung kekuatan-kekuatan yang berkeberatan dengan masuknya
Turki ke dalam Uni Eropa.

Lalu, apakah ada kebenaran dalam argumen Manuel?

Paus sendiri menyampaikan sebuah kata yang patut diperhatikan.
Sebagai seorang teolog yang serius dan ternama, dia semestinya tidak berupaya
untuk memfalsifikasi teks-teks tertulis. Karenanya, dia mengakui bahwa
al-Quran secara khusus melarang penyebaran keyakinan dengan kekuatan.
Dia mengutip Surah kedua (al-Baqarah—penerj.) ayat 256 yang berbunyi:
Tidak ada paksaan dalam persoalan keyakinan.

Bagaimana mungkin seseorang dapat mengabaikan sebuah pernyataan yang
sangat eksplisit tersebut? Paus dengan mudahnya berpendapat bahwa
perintah dalam ayat tersebut diabaikan sang Nabi pada permulaan karirnya,
yakni ketika masih lemah, tetapi kemudian sang Nabi memerintahkan
penggunaan pedang untuk menyebarkan keyakinan tersebut (Islam). Namun
demikian, sebuah perintah seperti itu tidaklah pernah ada di dalam al-Quran.

Memang Muhammad menyerukan penggunaan kekuatan dalam perang melawan
suku-suku Arab yang membangkang—Kristen, Yahudi, dan suku-suku
lainnya—ketika tengah membangun negaranya. Namun, hal itu adalah tindakan
politik dan bukan tindakan religius; yang pada dasarnya hanyalah sebuah
perjuangan untuk mempertahankan wilayah, bukan untuk menyebarkan
keyakinan.

Yesus berkata, “Dari buahnyalah (perbuatannya—penerj.) kamu akan
mengenal mereka.” (Matius 7:15) Perlakuan Islam terhadap agama-agama lain
haruslah ditimbang melalui sebuah tes yang sederhana: bagaimanakah
penguasa-penguasa Muslim berperilaku selama lebih daripada seribu tahun
ketika mereka memiliki kuasa untuk “menyebarkan keyakinan dengan jalan
pedang”.

Jelasnya, mereka tidak melakukan hal itu (menyebarkan Islam dengan
kekuatan—penerj.).

Selama beberapa abad, Muslim menguasai Yunani. Apakah orang-orang
Yunani menjadi Muslim? Apakah seseorang ketika itu berusaha mengislamkan
mereka? Sebaliknya, bukankah banyak orang Yunani Kristen, pada saat itu,
menduduki posisi-posisi penting di pemerintahan Utsmani.

Bangsa Bulgaria, Serbia, Rumania, Hungaria, dan bangsa Eropa lainnya
hidup di bawah pemerintahan Utsmani pada satu dan lain waktu dengan
tetap memeluk iman Kristen mereka. Tak ada seorang pun yang memaksa mereka
untuk menjadi Muslim dan mereka semua tetaplah para penganut Kristen
yang taat.

Memang benar bangsa Albania memeluk Islam dan demikian juga bangsa
Bosnia. Namun, tak seorang pun menyatakan bahwa mereka melakukan ini di
bawah tekanan. Mereka mengadopsi Islam agar disukai pemerintahan saat
itu dan kemudian memperoleh keuntungan.

Pada 1099, Pasukan Salib menaklukkan Yerusalem dan membantai warganya
yang Muslim dan Yahudi atas nama kasih Yesus. Pada saat itu, selama 400
tahun di bawah pendudukan Muslim, Kristen di Palestina tetaplah
mayoritas. Sepanjang periode tersebut, tidak pernah ada upaya untuk memaksakan
Islam terhadap mereka.

Terkecuali setelah pengusiran Pasukan Salib dari Palestina, maka
mayoritas penduduk wilayah itu mulai mengadopsi bahasa Arab dan keyakinan
Muslim—dan merekalah leluhur sebagian besar bangsa Palestina sekarang.

Demikian pula, tidak ada bukti yang menunjukkan adanya upaya untuk
memaksakan Islam terhadap Yahudi. Sebagaimana banyak diketahui, di bawah
pemerintahan Muslim, Yahudi Spanyol menikmati suasana kondusif yang
tidak pernah mereka nikmati di tempat mana pun hingga masa kita. Para
penyair Yahudi seperti Yehuda Halevy menulis dalam bahasa Arab, dan
demikian juga sang Maimonides yang agung.

Pada pemerintahan Muslim di Spanyol, Yahudi adalah para menteri,
penyair, dan saintis. Di Toledo, para sarjana Kristen, Yahudi, dan Muslim
bekerja sama dalam menerjemahkan teks-teks filsafat dan sains Yunani
kuno. Inilah yang disebut “Zaman Keemasan”. Bagaimana mungkin hal ini
terjadi sekiranya Nabi memerintahkan “penyebaran keyakinan dengan pedang”?

Apa yang terjadi setelah itu jauh lebih jelas. Ketika merebut kembali
Spanyol dari tangan Muslim, Katolik menciptakan rezim teror keagamaan.
Yahudi dan Muslim dihadapkan pada sebuah pilihan yang kejam: menjadi
Kristen, dibantai, atau pergi. Dan ke manakah ratusan ribu Yahudi, yang
menolak untuk menanggalkan iman mereka, berlindung?

Sebagian besar dari mereka disambut dengan tangan terbuka di
negeri-negeri Muslim. Yahudi Sephardi (Spanyol) hidup di seluruh dunia Muslim,
dari Maroko di Barat hingga Irak di Timur, dari Bulgaria (yang kemudian
menjadi bagian dari Khilafah Utsmani) di utara hingga Sudan di selatan.

Itulah tempat-tempat di mana mereka tidak dibantai. Mereka (yang
hidup di negeri-negeri Muslim) sama sekali tidak mengenal siksaan-siksaan
model Inkuisisi, auto-da-fe, pembantaian massal, dan pengusiran-massal,
yang terjadi di hampir seluruh negeri Kristen, hingga terjadinya
peristiwa Holocaust.

Mengapa? Karena Islam secara jelas melarang setiap penindasan atas
“ahlul kitab”. Dalam masyarakat Islam, sebuah tempat khusus akan
disiapkan bagi Yahudi dan Kristen. Mereka menikmati hak-hak yang hampir sama
dengan penduduk Muslim. Mereka harus membayar pajak khusus
(jizyah—penerj.) tetapi dikecualikan dari wajib militer—suatu perjanjian yang
disambut hangat warga Yahudi.

Dikabarkan bahwa para penguasa Muslim enggan mengajak Yahudi untuk
menjadi Muslim bahkan dengan bujukan yang paling lembut sekalipun karena
hal itu akan berbuntut pada hilangnya pemasukan negara dari pajak.

Setiap Yahudi jujur yang mengetahui sejarah bangsanya pasti akan
merasakan apresiasi yang dalam kepada Islam, yang telah melindungi Yahudi
selama lima puluh generasi sedangkan dunia Kristen justru membantai Yahudi
dan berusaha berkali-kali memaksa mereka menanggalkan iman mereka
dengan “jalan pedang”.

  Kisah tentang “penyebaran iman dengan pedang” adalah sebuah legenda
jahat, salah satu mitos yang tumbuh di Eropa selama perang-perang besar
melawan Muslim—penaklukan Spanyol oleh Kristen, Perang-perang Salib,
dan pengusiran orang-orang Turki, yang hampir menguasai Wina. Saya
mencurigai bahwa sang Paus dari Jerman ini pun begitu jujur sehingga percaya
kepada omong kosong ini. Ini berarti bahwa pemimpin dunia Katolik, yang
merupakan seorang teolog Kristen, tampaknya tidak berupaya untuk
mengkaji sejarah agama-agama lain.

Mengapa dia melontarkan kata-kata tersebut di depan umum? Dan mengapa
sekarang?

Tampaknya kita tidak memiliki pilihan lain kecuali memandangnya dari
sudut pandang “Perang Salib Baru” ala Bush dan para pendukung
evangelisnya, dengan slogan-slogan “Islamofasisme” dan “perang global melawan
teror”—ketika “terorisme” telah menjadi sebuah sinonim bagi Muslim. Bagi
para pendukung Bush, inilah upaya sinis guna menjustifikasi dominasi
atas sumber-sumber minyak dunia.

Bukan untuk pertama kalinya dalam sejarah, sebuah jubah agama
dibentangkan untuk menutupi ketelanjangan kepentingan-kepentingan ekonomi dan
bukan untuk pertama kalinya, sebuah ekspedisi para pencoleng menjadi
sebuah Perang Salib.

Pidato Paus  termasuk ke dalam upaya ini. Lalu, siapakah yang dapat
meramalkan akibat-akibatnya yang menyedihkan?

==============================================================
*)Uri Avnery adalah seorang esais dan aktivis perdamaian Israel. Dia
merupakan pemimpin gerakan perdamaian Israel, “Gush Shalom”.
http://zope.gush-shalom.org/home/en diterjemahkan oleh Jemala Gembala