am kaming hoom
Dear…
Lama aku tidak menyapamu. Maafkan aku. Bukan maksudku meninggalkanmu. Tapi inilah aku semenjak Maret lalu tak kuasa bertegur sapa denganmu lagi. Tapi semenjak saat ini, jangan khawatir kata-kataku kembali mampir di halaman rumahmu.
Kau ingin mendengar kabar apa dariku? Hehe…soal kabar-kabar itu itu setengah benar dan setengah lagi aku tidak tahu. Yang jelas aku percaya, Allah selalu memberi yang terbaik untukku. Pun dalam hal itu
Selama delapan bulan hidup di Solo aku mengenal banyak wajah. Dari mulai satpam, tukang becak, CEO -CEO suatu perusahaan, para pegawai rumah sakit, berinteraksi dengan turis sekaligus direktur suatu perusahaan dari Australia sampai mungkin mereka yang dianggap ‘cemar masyarakat’. Ya dengan sedikit rasa ingin tau dan keisenganku aku pernah mengunjungi lokasi pelacuran di Solo (bukan pernah ding…sampe dua kali kok), tapi jangan pikir macam-macam aku hanya betul-betul berkunjung, memotret kehidupan mereka dari dekat mungkin bisa membuatku lebih bijak (hehe…aku masih tetep egois –semuanya demi aku).
Semarang, Jogja dan borobudur menjadi tempat main di saat kepenatan menghimpit. Undip mengingatkan nuansa ketika aku masih kuliah dulu. Jogja yang sederhana mempertemukan aku dan teman lamaku sekaligus mempertemukan aku pada sebuah dialog hidup dengan orang yang benar-benar baru. Mereka yang dengan sederhana (tanpa basa basi bahasa Tuhan tapi kulihat tulus memperjuangkan mereka yang terpinggirkan dan terlindas oleh zaman — ah zaman tidak sekejam itu, orang-orang yang hidup di atas zaman itu yang kejam).
Aku pun akrab dengan Bioskop 21 SGM (Solo Grand Mall), menertawakan diri yang sering kejenuhan. Dan juga melihat berbagai macam warna ekspresi wajah yang sedikit bisa melepaskan ketegangan syarafku (ah teganya aku, ekspresi wajah dijadikan sebagai hiburan).
Malam-malam yang sering di temani para satpam yang mengajariku berbagai kata ‘jorok’ dalam bahasa jawa sambil melempar kelakar-kelakar yang hanya dimengerti oleh orang dewasa. Malam-malam yang penuh dengan keisengan sambil bermain catur dan mengepulkan asap rokok yang setiap hari mereknya selalu berganti (Djarum Super, Gudang Garam Filter, XMild, Amild, Djisamsu, Djisamsu Filter sampai Marlboro). Menemani bapak satpam dan tidur di pos mereka seperti membebaskan jiwaku yang terhimpit oleh ruang tidur yang penuh kenyamanan. Ruang tidur yang membuatku selalu bangun kesiangan, tapi bersama para bapak satpam itu aku selalu menemukan canda, kehangatan dan juga ketenangan (setidaknya sholat subuhku tidak kesiangan).
Jati (tempat pemancingan di daerah Klaten) juga tidak akan kulupakan. Ikan bakarnya yang khas dan kenangan-kenangan saat berkumpul bersama mereka sambil memancing dan bersenda gurau selalu hidup. Arti hidup semakin bermakna di saat kita berbagi rasa bersama.
Dan ketika momen itu datang. Ketika ’sayonara’ harus diucapkan, berat langkah kaki dijalankan. Dan malam minggu yang terang bulan itu…kita melakukan perpisahan…terimakasih bapak semua…kalian telah mengganggap aku sebagai keluarga. Terimakasih untuk semua cerita (baik masalah pribadi dan keluarga), terimakasih untuk semua doa melalui SMS-SMS yang sampai saat ini masih sering aku terima. Terimakasih….sangat-sangat berterimakasih, warna hidup kalianlah warna yang paling alami yang pernah aku saksikan.
Dan aku pulang…selamat datang di jakarta…selamat datang kembali ke serang…1 Maret membawaku kembali. Sebulan….berlalu…dan malam ini aku menulis blog dari ruang kerjaku di kantor yang baru. Esia.