MADRASAH IBN RUSYD

MADRASAH MEMBACA, MENGAMALKAN, DAN MENULIS

Archive for May, 2007


Melihat Kasih Sayang Allah Dalam Segala Hal

Ketika Terjadi Badai Tsunami di Aceh saya pernah membaca ungkapan Goenawan Moehammad "Jika bencana ini datang dari Tuhan, maka saya tidak mau Tuhan yang sangat kejam seperti ini" kurang lebih begitulah.

Membaca ungkapan Goenawan Moehammad itu saya kaget. Kok bisa ya ungkapan di atas bisa keluar dari mulut seorang Goenawan Moehammad? Mungkin saja itu ungkapan spontanitas Goenawan menanggapi fenomena bencana tsunami tersebut. Terlalu sedih mungkin dirasakan, ratusan ribu nyawa melayang dan bangunan-bangunan tinggal puing-puing atau bahkan bersih hilang ditelan badai tsunami.

Goenawan Moehammad mungkin bisa sedikit tersenyum betapa Allah dengan bencana tersebut telah menyentuh hati dan nurani manusia. Betapa manusia yang selama ini saling acuh, dari berbagai dunia melakukan kerjasama dan mengulurkan kasih kepada mereka yang membutuhkan. Betapa beribu-ribu orang menerjunkan diri untuk sebisanya membantu para korban. Betapa perasaan kita yang telah kehilangan rasa iba melihat itu menjadi begitu larut dalam rasa belas kasih terhadap sesama. Cara kerja Allah adalah cara yang paling luar biasa. Berburuk sangka kepada Allah sungguh tidak pada tempatnya. Hanya orang-orang celaka saja yang berputus asa dari rahmat dan kasih sayang Allah.

Di mata saya, segala perbuatan Allah adalah wujud kasih sayang Allah yang tak terhingga kepada kita. Bahkan dalam bencana sekalipun, bahkan dalam azab sekalipun, bahkan dalam neraka sekalipun. Azab, bencana, neraka di mata saya adalah wujud kasih sayang Allah kepada kita. Kita senantiasa diperhatikan, kita senantiasa dibersihkan, kita senantiasa terus di undang untuk menghadapnya, seakan-akan Allah butuh kepada kita. Rahmat Allah tidak hanya tercurah kepada mereka yang ‘baik’ tapi kepada mereka yang dianggap ‘jahat’pun kasih sayangnya senantiasa menghampiri.

Kita lahir dalam keadaan suci. Ruh kita berasal dariNya dan akan kembali kepadaNya. Karena asalnya suci, ketika menghadapNya ruh juga harus kembali suci. Ruh mereka yang kotor tidak bisa bertemu denganNya.

Jiwa dan nafsu kita terus mengotori kita. Allah dengan kasih sayangNya menghendaki agar semua ruh bisa kembali kepadaNya dalam keadaan suci. Maka dalam setiap saat penyucian dari Allah selalu menghampiri kita dalam berbagai macam bentuk dan cara. Mulai dari rasa sakit, bencana, kematian, azab kubur bahkan hingga neraka.

Sebagian dari kita cukup dibersihkan di dunia ini dengan rasa sakit, bencana dan sejenisnya (Sungguh barangsiapa yang tidak mengeluh dengan rasa sakit yang di deritanya, Allah akan menggugurkan dosa-dosanya — membersihkan jiwa orang tersebut), begitu juga berbagai macam bencana yang menimpa kita adalah wujud kasih sayang Allah untuk membersihkan jiwa-jiwa kita.

Ada sebagian orang yang tidak bisa dibersihkan selama hidupnya. Maka kasih sayang Allah datang ketika ajal menjemput. Allah memberikan rasa sakit dan kengerian yang luar biasa sebagai penebus atas sebagian dosa-dosanya. Allah kembali membersihkan ruh orang tersebut melalaui sakaratul maut yang mungkin sangat menyiksa. Tapi bagi mereka yang sudah cukup bersih Allah akan memudahkan ajal prosesi kematiannya.

Ada juga orang-orang yang tidak bisa dibersihkan dengan cara sakratul maut yang menyakitkan, maka Allah dengan kasih sayangNya kembali membersihkan ruh-ruh kotor itu dengan azab kubur. Sementara bagi mereka yang telah bersih ketika masuk kubur Allah akan membalas mereka dengan nikmat kubur. Segala amal kita, baik dan buruk akan menjelma menjadi makhluk yang akan menemani kita. Amal baik akan menjelma menjadi teman yang menyenangkan sehingga perjalanan kita menuju Allah seakan terasa sekejap sementara bagi mereka yang lebih banyak amal jeleknya berteman dengan makhluk-makhluk yang menyeramkan dan mengerikan sehingga perjalanan menuju Allah menjadi perjalanan yang sangat menyiksa dan akan terasa sangat lama.

Ada sebagian dari kita yang walaupun sudah dibersihkan di dunia, sudah dibersihkan di dalam kubur tapi masih belum bersih juga. Lalu Allah dengan kasih sayangNya membersihkan kita kembali dengan prosesi pemberangkatan menuju padang Mahsyar yang sangat menyiksa, tapi bagi mereka yang telah bersih Allah dengan kasih sayangNya menaungi mereka dalam keteduhan yang penuh kesejukan dan semilir harum surgawi yang belum pernah mereka rasakan.

Ada juga sebagian dari kita yang masih belum bersih dengan siksaan padang mahsyar, Allah dengan kasih sayangNya kembali membersihkan dengan persidangan yang sulit (hisab yang sulit), dan pada tahap akhir Allah dengan kasih sayangNya membersihkan kita dengan nerakanya. Bagi mereka yang telah bersih, ketika melewati neraka, cahaya mereka meredupkan neraka dan neraka meminta kepada yang berlalu agar segera bergegas melewatinya. Neraka manifestasi kasih sayang Allah yang tak berhingga, di sinilah tempat pembersihan sebagian besar dari kita.

Setelah melewati neraka, ruh kita bersih dan kitapun kembali bisa bercengkrama dengan sumber segala kebersihan dan segala keindahan. Allah Rabbul Izzati, pada akhirnya kita bisa bertemu dan menatapNya. Dalam segala hal yang ada hanyalah kasih sayang Allah yang terus senantiasa menyertai kita, ketika kita hidup, ketika kita sakratul maut, kita kita berada dalam kubur, ketika kita menuju padang Mahsyar, ketika kita berada dalam persidangan yang melelahkan, ketika kita berada dalam neraka semuanya adalah wujud kasih sayang Allah terhadap kita yang terus mengundang kita agar bisa menatap indah WajahNya. Semuanya hal di dunia ini adalah wujud kasih sayangNya semata. Maka kepada siapa kita lebih harus menghadapkan hati kita?

am kaming hoom

Dear…

Lama aku tidak menyapamu. Maafkan aku. Bukan maksudku meninggalkanmu. Tapi inilah aku semenjak Maret lalu tak kuasa bertegur sapa denganmu lagi. Tapi semenjak saat ini, jangan khawatir kata-kataku kembali mampir di halaman rumahmu.

Kau ingin mendengar kabar apa dariku? Hehe…soal kabar-kabar itu itu setengah benar dan setengah lagi aku tidak tahu. Yang jelas aku percaya, Allah selalu memberi yang terbaik untukku. Pun dalam hal itu :)

Selama delapan bulan hidup di Solo aku mengenal banyak wajah. Dari mulai satpam, tukang becak, CEO -CEO suatu perusahaan, para pegawai rumah sakit, berinteraksi dengan turis sekaligus direktur suatu perusahaan dari Australia sampai mungkin mereka yang dianggap ‘cemar masyarakat’. Ya dengan sedikit rasa ingin tau dan keisenganku aku pernah mengunjungi lokasi pelacuran di Solo (bukan pernah ding…sampe dua kali kok), tapi jangan pikir macam-macam aku hanya betul-betul berkunjung, memotret kehidupan mereka dari dekat mungkin bisa membuatku lebih bijak (hehe…aku masih tetep egois –semuanya demi aku).

Semarang, Jogja dan borobudur menjadi tempat main di saat kepenatan menghimpit. Undip mengingatkan nuansa ketika aku masih kuliah dulu. Jogja yang sederhana mempertemukan aku dan teman lamaku sekaligus mempertemukan aku pada sebuah dialog hidup dengan orang yang benar-benar baru. Mereka yang dengan sederhana (tanpa basa basi bahasa Tuhan tapi kulihat tulus memperjuangkan mereka yang terpinggirkan dan terlindas oleh zaman — ah zaman tidak sekejam itu, orang-orang yang hidup di atas zaman itu yang kejam).

Aku pun akrab dengan Bioskop 21 SGM (Solo Grand Mall), menertawakan diri yang sering kejenuhan. Dan juga melihat berbagai macam warna ekspresi wajah yang sedikit bisa melepaskan ketegangan syarafku (ah teganya aku, ekspresi wajah dijadikan sebagai hiburan).

Malam-malam yang sering di temani para satpam yang mengajariku berbagai kata ‘jorok’ dalam bahasa jawa sambil melempar kelakar-kelakar yang hanya dimengerti oleh orang dewasa. Malam-malam yang penuh dengan keisengan sambil bermain catur dan mengepulkan asap rokok yang setiap hari mereknya selalu berganti (Djarum Super, Gudang Garam Filter, XMild, Amild, Djisamsu, Djisamsu Filter sampai Marlboro). Menemani bapak satpam dan tidur di pos mereka seperti membebaskan jiwaku yang terhimpit oleh ruang tidur yang penuh kenyamanan. Ruang tidur yang membuatku selalu bangun kesiangan, tapi bersama para bapak satpam itu aku selalu menemukan canda, kehangatan dan juga ketenangan (setidaknya sholat subuhku tidak kesiangan).

Jati (tempat pemancingan di daerah Klaten) juga tidak akan kulupakan. Ikan bakarnya yang khas dan kenangan-kenangan saat berkumpul bersama mereka sambil memancing dan bersenda gurau selalu hidup. Arti hidup semakin bermakna di saat kita berbagi rasa bersama.

Dan ketika momen itu datang. Ketika ’sayonara’ harus diucapkan, berat langkah kaki dijalankan. Dan malam minggu yang terang bulan itu…kita melakukan perpisahan…terimakasih bapak semua…kalian telah mengganggap aku sebagai keluarga. Terimakasih untuk semua cerita (baik masalah pribadi dan keluarga), terimakasih untuk semua doa melalui SMS-SMS yang sampai saat ini masih sering aku terima. Terimakasih….sangat-sangat berterimakasih, warna hidup kalianlah warna yang paling alami yang pernah aku saksikan.

Dan aku pulang…selamat datang di jakarta…selamat datang kembali ke serang…1 Maret membawaku kembali. Sebulan….berlalu…dan malam ini aku menulis blog dari ruang kerjaku di kantor yang baru. Esia.