Manusia Penyeimbang (Terminalis versus Ekuilibrian)
Juswan Setyawan
Jarak waktu antara 31 Desember 2006 dan 1 Januari 2007 hanya kurang dari 1 nanodetik. Akibatnya, sebenarnya tidak ada orang yang tahu persis kapan ujung atau awal dari pergantian tahun itu terjadi. Yang jelas keduanya tidak pernah identik walaupun antara keduanya nyaris tidak terasa adanya tenggat waktu.
Bila saya naik busway dari Kalideres ke Blok M maka biasanya saya akan kembali ke rumah lewat terminal Kalideres juga. Tentunya trip saya tidak mungkin berakhir di terminal Tanjungpriok atau Kelapa Gading. Jadi sebenarnya Kalideres itu terminal awal atau terminal akhir? Ternyata fungsinya bisa kedua-duanya karena kita diikat oleh unsur waktu. Menjadi terminal awal saat saya berangkat dan terminal akhir saat saya pulang.
Dalam kehidupan bermasyarakat, tidak selalu mudah bagi saya untuk dapat membedakan mana ‘konsep terminal’, mana awal dan mana terminal akhir. Mungkin lebih jelas dijabarkan begini. Tidak mudah menentukan sikon mana yang menjadi ujung-ujung ideal dari pilihan-pilihan yang ada dalam menyikapi suatu fenomen dan aktivitas sosial. Apakah ujung X yang ideal ataukah ujung Y? Mana yang harus dipilih kalau memang harus memilih? Dalam kenyataan sehari-hari memang orang harus memilih. Hidup itu suatu pilihan! Entah secara sadar, ataupun secara tidak sengaja, orang telah melakukan pilihannya.
Misalnya, ada remaja yang memilih gaya hidup dengan ‘pergaulan bebas’ (sosial) dan ada pula yang lebih menyukai ‘kesendirian’ (soliter). Siapa yang memaksanya memilih? Tidak ada! Namun pilihan toh telah mereka buat. Mereka memilih ujung-ujung yang berseberangan satu sama lain. Dalam hal apapun kebanyakannya juga berbuat demikian. Ada yang memilih ‘hedonisme’ yang mengejar segala kenikmatan hidup. Ada pula yang memilih ‘asketisme’ yang memantang segala yang serba nikmat. Ada yang memilih setiap pagi ‘jogging’ (duniawi) tetapi ada pula yang memilih misa atau ‘kebaktian pagi’ (rohani). Ada mahasiswa yang ‘kutu buku’ ingin mengejar IP maksimal dan ada ‘mahasiswa abadi’ yang gaul abis yang tidak perduli soal IP.
Realitasnya ‘manusia terminal’ atau ‘manusia perifer’ ini merupakan kasus yang jarang. Mereka adalah manusia ‘quartile ujung’ (kuartil itu istilah statistik). Kebanyakan manusia itu moderat (mayoritas pada ‘normal distribution curve’). Mereka berhimpun di tengah-tengah di antara kedua ujung ekstremitas tersebut. Dalam masyarakat demikian pula terdapat ‘kelompok radikal’ dan ‘kelompok pasifis’. Yang terbanyak ialah ‘kelompok moderat’. Tidak radikal dan tidak full pasifis. Tetapi dalam berpikir maupun beriman jutru – celakanya! - manusia suka memilih posisi pada ujung terminal tersebut.
Mengapa mayoritas kelompok moderat jarang memainkan peran yang signifikan dalam masyarakat? Mengapa Partai Komunis bahkan lama berkuasa di Italia yang mayoritas beragama Katolik. Lha dan kok mau-maunya ditindas oleh mereka? Karena Katolik itu telah (salah) memilih ujung terminal sikap ekstrim pasifisme? Tidak punya nyali? Terlalu mengutamakan kasih? Mengapa kelompok Macan Tamil mampu mengharubirukan Sri Lanka, kelompok Moro di Filipina, Bask di Spanyol, IRA di Irlandia, Kurdi di Irak, atau kelompok Nurdin Top di Indonesia? Biasanya kelompok radikal itulah (apapun) yang vokal. Demen demo dan suka teriak-teriak vokal. Baik kelompok teroris, kelompok ‘Green Peace’ atau LSM type Ormiskot sama-sama dinamis dan vokalnya.
Masalahnya ternyata ada di dalam otak dan pikiran manusia itu sendiri. Hidup itu memilih. Spontan tanpa dipikir atau sengaja dengan dipikir-pikir. Suka atau tidak suka, setiap detik manusia diharuskan memilih. Di pagi hari harus memilih, bangun atau ‘molor’ terus. Pakai hemd biru kotak-kotak atau putih bergaris. Sarapan atau merokok. Mandi atau ‘pas foto’ saja. Nasi goreng, bubur ayam, indomie atau sandwich. Naik busway atau mikrolet. Memacari Ellen atau Grace. Jatuh ke pelukan Johny Jontor atau Jojon Caplin. Nonton Nativity, Pengkhianatan Gong Li, atau bahkan Happy Feet.
Nah proses berpikir dan memilih itu sendiri bersifat terminal. Mengapa? Karena selalu hanya ada dua pilihan: yang OK dan yang tidak OK untuk saya. Terserah OK itu apa maknanya bagi setiap orang. Enak-hambar, pleasure-pain, carrot-stick, manis-pahit, benar-salah, untung-rugi, sejenak-lamaan, postmo-jayus, benar-salah, indah-jelek, on-off go’no-go dan semua pilihan biner diametral lainnya. Mau bagaimana lagi, karena otak rasional kita selalu berproses secara dialektis. Segala sesuatu hal mulai menjadi tesis untuk diketemukan antitesisnya. Dari keduanya timbul sintesis. Dan sintesis ini harus dianggap tesis baru untuk diketemukan antitesis baru sehingga diketemukan sintesis lebih baru lagi yang dinamakan teori baru. Begitulah perkembangan sains, baik sains murni maupun humaniora di dalam kehidupan manusia.
Tetapi untunglah cara berpikir ‘dialektis’ itu bukan satu-satunya cara berpikir yang dimungkinkan bagi manusia. Ada cara berpikir lain seperti umpamanya cara pikir ‘holistik’, ‘integratif’, ’sistemik’. Atau ada pula cara berpikir ‘lateral’. Cara berpikir ’sinektik’. Dan cara berpikir ‘ekuilibrian’. Nah, konsep yang terakhir ini yang ingin saya bahas dalam artikel ini (dan tak usah berpayah-payah mencarinya di Google. Tidak bakalan ada di sana sekalipun backbone Taiwan sudah pulih sekalipun.)
Cara berpikir ‘terminal’ sudah pernah dibahas tahun kemarin. Di situ orang berpikir bahwa dia "seakan-akan harus memilih" berada di salah satu kelompok ujung ekstrim yang ada dari setiap pilihan diametral. Anda harus beragama olie top-one, sebab kalau tidak, maka anda semua akan masuk kloter ke neraka. Atau, hanya dengan agama olie top-one itu anda pasti memperoleh keselamatan, sementara semua agama lain hanya secara tidak pasti bakal ke nirwana. Anda harus sukses akademis supaya sukses dalam hidup. Kenyataannya tidak selamanya demikian. Banyak yang gagal akademis tetapi sukses dalam bisnis. Ternyata selain sukses akademis ada pula sukses emosional dan sosial. Anda harus spiritualis supaya berbahagia dalam hidup, bila anda materialis anda tidak akan bahagia. Kenyataannya, kebahagiaan tidak tergantung pada kepemilikan asset melainkan bagaimana apresiasi dan independensi terhadap asset itu sendiri.
Kaum moderat hampir selalu menjadi mayoritas dalam bidang apapun sesuai hukum statistik. Namun kaum moderat itu belum tentu dinamis sifatnya. Di sini juga orang jangan terjebak pada pikiran terminalis, seakan-akan kaum moderat itu pastilah melempem dan tidak mungkin dinamis. Itu falasi berpikir juga. Justru sebaliknya yang harus diusahakan ialah bagaimana membuat mayoritas kaum moderat itu menjadi unsur dinamis sehingga dinamika kaum radikal menjadi tidak signifikan lagi. Contoh konkrit, pada saat masyarakat dihantui oleh kemungkinan teror kaum ekstremis radikal maka dinamika kaum moderat dapat diaktivasikan untuk menjaga keamanan lingkungan secara terpadu.
Dalam kehidupan pribadi yang nyata diperlukan kemampuan untuk "memetakan situasi" cara berpikir diri sendiri. Bila berada dalam suatu situasi yang selalu dengan dua ujung ekstrim, di manakah posisi saya saat ini berada? Ke arah mana saya harus agak bergeser balik? Bagaimana pendapat dan sikap saya dalam suatu isyu kontroversial dalam masyarakat? Apakah saya – misalnya - berada pada kelompok penjunjung kebebasan pers mutlak (seperti idaman para kuli tinta atau jurnalis teve)? Ataukah, di ujung ekstrim lain saya termasuk kelompok yang berpendirian bahwa pers mutlak harus dikendalikan oleh pemerintah? Bagaimana sekiranya pers harus dipecut keras, mana kala sudah terlalu dalam mengobok-obok kehidupan intimasi pribadi orang perorangan atau keluarga? Atau telah terlalu mengada-adakan isyu - yang sebenarnya belum jelas – semata-mata supaya rating atau oplag kelompok sendiri dapat meningkat drastis?
Pilihan tidak selalu harus pada ujung ekstrim bukan? Via media est via aurea. Jalan tengah adalah jalan emas. Mungkin ini inti sari pemikiran Soekarno tentang ‘demokrasi terpimpin’ karena terbukti demokrasi modern itu bila disalahtafsirkan bisa menjurus kepada keliaran alih-alih sebagai ekspresi kebebasan. Antara ‘keliaran’ dan ‘kebebasan’ memang diperlukan rambu-rambu. Dan rambu-rambu itu selain harus disepakati, dihormati tetapi juga harus ditegakkan. Contoh, pemakai jalan di ibukota, terutama kendaraan beroda dua, sebagian besar sudah mengarah kepada ‘keliaran’ yang membahayakan orang banyak.
Dengan kemampuan membaca situasi dan ‘memetakan diri’ maka kita tidak perlu sampai terjebak pada salah satu ujung terminal yang ada. Untuk itulah mutlak diperlukan dibangun nilai empati dan nilai toleransi. Dengan kedua nilai tersebut akan terbentuk nilai harmoni. Untuk memungkinkan hal ini, selain diperlukan kecerdasan rasional juga diperlukan intuisi yang tajam dan dinamika pemetaan yang akurat. Di mana posisi saya sekarang? Condong ke ekstrim yang mana saya sekarang? Ke mana saya harus bergerak untuk mencapai titik ekuilibrium yang dinamis. Tidak terlalu beratkah saya ke sisi ujung terminal yang hitam atau ke sisi yang putih. Walaupun sebenarnya manusia memang dituntut untuk menuju ke ujung yang putih secara rasional. Masalahnya ialah, apa yang "dianggap putih" bagi seseorang belum tentu tafsiran sama putihnya bagi orang-orang lain. Saya hanya bisa merasa kecut dan sedih mendengar polarisasi ‘kelompok merah’ dan ‘kelompok putih’ di daerah konflik horizontal di negeri ini. Merahnya siapa dan putihnya siapa, kecuali menurut pikiran terminalnya masing-masing? Keterjebakan itu telah meminta korban jiwa yang demikian besar dan mengerikan. Semuanya hanyalah akibat dari cara berpikir terminal (yang sektarian) tersebut.
Marilah di awal tahun 2007 ini kita terus membangun diri menjadi "manusia ekuilibrian" yang mencari dan menjaga harmoni dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Jakarta, 2 Januari 2007.