Bantenku
Postingan ini iseng belaka. Pas melihat blog kok kayaknya selama bulan november saya tidak pernah posting tulisan. Ya udah daripada kosong akhirnya nulis postingan ini.
Saya ingin menanggapi prosesi pemilihan gubernur di Banten. Hari Jum’at, tiga hari setelah lebaran (saya lebaran hari selasa), Saya dan temen-temen Forkoma UI kumpul bareng di rumah Tigor. "Memenuhi undangan (kebaikan) itu wajib bagi setiap muslim" dengan keyakinan itu saya berangkat ke rumah Tigor. Hehehe…kang Uqon masih tetep rajin. Masih datang memantau. Fajar, Usep dan Fadli juga datang Ding. 2001 lumayanlah ada 3 orang dan semuanya sudah lulus. 2002 saya hanya melihat Usep sendiri. 2003 sapa ya yang datang? Oh iya saya hanya melihat Dimas (dan mungkin Anita adiknya Usep — kalo ga salah dia angkatan 2003 jg). Sisanya 2004, 2005 dan 2006, banyak wajah-wajah baru euy…Kok ngalor ngidul begini ya..katanya mo ngomongin prosesi pilkada Banten.
Iya..iya..waktu ngumpul-ngumpul itu saya pernah bicara (tepatnya memprediksi) hasil pemilihan yang akan dilaksanakan. Saya berbicara kepada adik saya, Usep.
"Atut akan menang selama Tryana dan Zul maju, kalau ingin Atut kalah, salah satu dari mereka harus mengundurkan diri", kurang lebih seperti itulah kata-kata saya kepada saudara Usep.
Saya ingin prediksi saya itu salah. Tapi dari milis yang saya ikuti, saya kecewa. Prediksi itu benar-benar terjadi. Atut sepertinya akan tetap berkuasa.
Terus apa yang akan saya tanggapi? Ah sok jadi pengamat banget si gw. Padahal ikut memilih saja tidak. Oh maaf, sebetulnya saya sungguh ingin berpartisipasi tapi rentangan tempat yang tidak mengijinkan membuat saya hanya bisa memantau dari jauh. Yups saya masih di Solo.
Begini ya, yang saya ingin tanggapi itu kondisi di milis yang masih rame mengulas pilkada di Banten. Saya merasakan nuansa kecewa luar biasa dari temen-temen PKS. Sepertinya temen-temen dari PKS merasa dicurangi. Ada posting curang#1, postingan curang#2 dan lain-lainnya. Seru, panas, dan nyebelin juga pas baca postingan-postingan itu.
PKS berangkat menuju pertunjukan PESTA (karena banyak makan biaya) pilkada di Banten dengan kepercayaan diri luar biasa. Masyarakat butuh perubahan. Masyarakat butuh figur baru. Dan berdasarkan pengalaman, walaupun PKS tidak mayoritas di Banten (masih jauh di bawah PKB dan PPP), tetapi ia berhasil menggolkan calon bupati yang didukungnya pada tahun 2005 lalu. Ya….dengan dukungan PKS dan PNI (kalau tidak salah), Taufik Nuriman yang dijagokan oleh PKS itu berhasil mengalahkan pesaing yang cukup berat yang di dukung oleh semua partai besar di Serang (terutama Golkar dan PDI-P). Benyamin harus kalah dengan perbedaan suara yang sangat tipis.
Menjelang pilkada gubernur Banten, rupanya PKS masih ingin mengulangi cerita yang sama. Dengan kepercayaan diri luar biasa, partai ini menolak pinangan Tryana Syam’un yang tubagus dan keturunan rasul itu. Alasannya sederhana "ingin mengajukan calon dari kalangan sendiri". Ajakan PPP dan PAN untuk bersatu untuk mendukung Tryana ditolak oleh PKS. Padahal dulunya betapa ketiga partai ini (PAN, PPP dan PKS) bisa saling membahu melawan status quo. Tapi setelah pemilu 2004 dimana PKS memperoleh peningkatan suara yang luar biasa signifikan, watak rendah hati partai ini agak sedikit berkurang (kalau tidak boleh dikatakan hilang).
Saya menangkap ada ego yang luar biasa dari para pendukung partai ini. "Calon dari PKS adalah yang terbaik, yang paling pintar, paling bersih, dan mungkin yang paling bertakwa dan Insya Allah kami akan menang" kurang lebih seperti itulah yang mereka yakini. Sah-sah saja kalau tidak sampai merendahkan calon lain. Tapi kenyataannya?
Dan akhirnya pestapun digelar. Minggu 26 November berjuta rakyat Banten berbondong-bondong menuju TPS. Memberikan suara mereka. Tryana, Atut, Zul dan Irsyad dan pasangan mereka deg-degan meliaht perhitungan suara di hari itu. Empat hari telah berjalan dan Atut tetep memimpin perolehan suara untuk sementara. Dan sepertinya Atut akan kembali memimpin Banten (kalau tidak ada keajaiban luar biasa). Prediksi yang tidak saya sukai ketika berbincang dengan saudara Usep itu sekali lagi sepertinya akan menjadi kenyataan.
Keserakahan sungguh mahal harganya. Semua menghendaki perubahan. Tapi ketika orang-orang yang menghendaki perubahan ini berpecah, tidak bersatu, perubahan hanyalah mimpi belaka. Ketika ajakan bersatu itu ditampik dengan alasan bahwa calon kami lebih baik, lebih bersih dll maka yang terjadi terjadilah…(kalah).
Seharusnya temen-temen dari PKS legowo menerima kekalahan ini. Bukan malah menuduh bahwa pihak yang menang telah melakukan kecurangan. Seharusnya mereka lebih berintrospeksi diri. Mereka telah menolak putra Banten asli dan mengirimkan dua makhluk asing (bagi warga banten — termasuk saya) untuk memimpin Banten.
Keserakahan memang sungguh mahal harganya. Dan terus terang saya melihat PKS telah masuk ke dalam jurang keserakahan itu.
Hmmm…Bantenku…betapa hatiku terikat kepadamu…tapi rasa takutku selalu memerintahkanku untuk menjauhimu…iringan doaku saja yang masih menyertaimu…semoga Kau membuka hati pemimpin yang terpilih untuk membawamu menuju yang lebih baik, membawamu pada kelapangan, bukan kesempitan, membawamu pada kesejahteraan bukan kegersangan, membawamu pada keadilan bukan penindasan…airmata…aliran darah yang ngilu…selalu menyertaiku saat melihat dan mengingatmu…Bantenku.