Berbicara Tentang Peradaban Islam
Membaca tulisan Ahmad Syafi’i Ma’arif ini membuat saya gatal untuk menanggapi.
Syafi’i Ma’arif tampak fasih berbicara tentang Peradaban Islam. Menurut beliau peradaban Islam sudah mulai mendunia 100 tahun sepeninggal Nabi Suci Saw dan memimpin peradaban dalam waktu yang cukup lama sampai pada akhirnya umat Islam memasuki suatu masa dimana terjadi perbenturan pendapat keras antara para filosof dan sufi/teolog Muslim.
Syafi’i Ma’arif memberikan contoh perbenturan pendapat yang sangat keras ini ’seakan-akan’ dimulai dari bantahan-bantahan Ibn Rusyd terhadap pemikiran-pemikiran Al-Ghazali yang sebelumnya sangat menyerang para filosof. Dan kemudian dari sinilah terjadi benturan pendapat yang tidak berkesudahan sampai saat ini sehingga sangat menguras energi para cendikiawan muslim dan mengalihkan fokus para cendikiawan tersebut untuk mempertahankan pendapat atau menyanggah pendapat-pendapat dari golongan yang berbeda. Sedangkan tugas pokok pengembangan ilmu pengetahuan menjadi terbengkalai yang menyebabkan umat islam menjadi tertinggal bahkan kalau boleh dikatakan ‘terbelakang’ (tambahan penulis). Kemudian dengan bahasa yang ‘arif’ beliau mengajak kita untuk kembali membangun kembali peradaban tersebut dengan cara mengubah paradigma berpikir dari egosentrisme dan subjektivisme sejarah menjadi Quran-oriented.
Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap beliau, ada beberapa catatan ketidaksetujuan saya terhadap tulisan tersebut. Pertama, saya menangkap kesan seolah-olah kemunduran Peradaban Islam itu diawali oleh perbenturan pendapat dikalangan para cendikiawan muslim semenjak masa Al-Ghazali dan Ibn Rusyd. Padahal, pada kenyataannya perbenturan pendapat dikalangan cendikiawan muslim sudah ada semenjak generasi awal Islam. Lahirnya berbagai macam doktrin teologi Islam menjadi bukti tidak terbantahkan akan kebenaran pernyataan tersebut. Teologi Khawarij dan Syi’ah lahir pada abad pertama hijriah, teologi Mu’tazilah, Qodariah, Jabariah, Maturidiyah, Mujasimah lahir pada abad kedua hijriah, kemudian pada abad ketiga lahirlah teologi Asy’ariyah yang kemudian dikenal menjadi Ahlus Sunnah Waljama’ah sampai pada yang terakhir dengan lahirnya doktrin teologi Ahmadiah. Lahirnya berbagai macam teologi tersebut karena adanya benturan-benturan pendapat yang lebih dari ’sekedar keras’ antara para cendikiawan muslim yang hidup pada saat itu. Seperti Wasil bin Atha pelopor teologi Mu’tazilah yang berbeda pendapat dengan gurunya (Hasan Al-Basri), Al-Asy’ari sendiri juga mendirikan teologi ahlus sunnah waljama’ah karena berbeda pendapat dengan gurunya yang mu’tazilah.
Kemudian kalau kita mau jujur belajar pada sejarah, kegemilangan peradaban islam terjadi pada masa dinasti abasiah dimana pada saat itu para khalifahnya sangat mencintai ilmu pengetahuan dengan teologi resmi Mu’tazilah. Khalifah Harun Ar-Rasyd dan Khalifah Al-Ma’mun merupakan contoh nyata pemimpin yang sangat mencintai ilmu pengetahuan. Pada masa Al-Ma’mun misalnya terjadi penerjemahan secara besar-besaran penyerapan ilmu pengetahuan dari berbagai belahan dunia ke dalam dunia Islam. Pada masa ini terjadi penerjemahan karya-karya dari yunani ke dalam bahasa Arab. Pada masa ini juga lahir ilmuwan-ilmuwan besar dalam dunia Islam, Al-Khawarizmi, Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn Arabi, Ibn Sina dan lain-lain. Ilmuwan-ilmuwan pada masa itu adalah filosof yang pada saat bersamaan juga seorang agamawan atau faqih. Di tangan merekalah peradaban islam begitu bersinar menerangi dunia. Pada masa ini juga lahir gerakan bawah tanah para cendikia yang bernama Ikhwanusofwah untuk menghindari konfrontasi secara langsung dengan ulama-ulama (tekstualis) yang kedudukannya semakin terpinggirkan di kencah percaturan negara. Para cendikia yang faqih, ilmuwan dan filosof ini tidak pernah menyulut pertikaian dengan para ulama tekstualis, tapi karena para ulama tekstualis ini sering menyerang mereka bahkan adakalanya memberikan label ‘kafir’ akhirnya mereka (para cendikia tsb) menuangkan ide-ide yang mencerahkan saat itu dalam gerakan ilmuwan ikhwanusofwah yang bergerak di bawah tanah. Ibn Sina, Al-Farabi, dan Ibn Arabi adalah cendikia-cendikia yang pernah mendapat label ‘kafir’ yang disematkan oleh ulama-ulama yang sangat tekstualis. Pada masa kekhalifahan abasiah perbenturan pendapat merupakan hal-hal yang sudah umum dan lumrah terjadi, tapi pada kenyataannya suatu fakta bahwa masa itu juga merupakan masa yang paling gemilang dalam sejarah peradaban islam. Fakta ini juga membantah statement Pak Syafi’i Ma’arif yang mengatakan bahwa perbenturan pendapat yang keraslah yang telah memundurkan peradaban Islam.
Kemudian yang kedua, saya ingin memberikan sedikit catatan atau tepatnya pertanyaan terhadap imabau ‘arif’ beliau yang mengajak kita kembali membangun kembali peradaban islam dengan cara mengubah paradigma berpikir dari egosentrisme dan subjektivisme sejarah menjadi Quran-oriented. Saya sepakat untuk menghindari egosentrisme dan subjektivisem sejarah, tapi solusi yang beliau tawarkan (Quran-oriented) tidak memberikan kejelasan apa-apa di mata saya. Bagaimana sih solusi yang quran oriented itu? begitulah kira-kira pertanyaan saya. Bukankah dulu ulama-ulama yang mengkafirkan para cendikia itu adalah ulama-ulama yang mengaku paling quran-oriented? Bukankah lahirnya berbagai macam doktrin teologi Islam itu juga karena masing-masing merasa paling quran-oriented? orang bisa membaca Al-Quran dan Al-Hadits yang sama tapi tafsir dikepala setiap orang bisa dan mungkin pasti sangat berwarna banyak. Lalu dimanakah solusi yang quran-oriented itu? Apakah orang-orang yang melakukan kekerasan atas nama agama itu mengaku ‘tidak quran-oriented‘? Apakah fatwa-fatwa ulama yang mengatakan bahwa hizbullah di Libanon hakikatnya adalah hizbusyaiton adalah bukan orang-orang yang mengaku quran-oriented? bukankah fatwa mereka itu diikuti karena orang-orang yang mengikutinya percaya bahwa fatwa tersebut sangat quran-oriented? ah masih banyak pertanyaan saya yang lain kalau saya mau mendaftar pertanyaan tersebut.
Membentuk kembali peradaban islam dengan berbagai fenomena keagamaaan saat ini rasanya sangat sulit, ini bukan pesimis tapi realistis. Jarang yang bisa menampilkan sisi Islam secara utuh. Sebagian sangat garang dan keras karena menonjolkan dimensi syari’at Islam, sebagian sangat liberal karena hanya mementingkan iman, sebagian lagi hanya mementingkan dimensi ihsan. Karena mengambil sebagian kita mudah menyalahkan. Ritual-ritual syari’at yang seharusnya membebaskan malah kering makna dan hanya menjadi tontonan. Sementara kecendikiaan kita bukan membuat kita makin merunduk tapi membuat kita semakin mudah menyalahkan. Akhirnya saya malu ketika berbicara tentang peradaban Islam. Mungkin yang diperlukan, agar dunia Islam ini damai, kita semua perlu menutup mulut dan dalam puasa diam marilah kita beramal menurut yang terbaik yang dapat kita lakukan, berbicara peradaban islam saat ini terlalu muluk.
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang beriman akan melihat buah amal kita. Wallahu’alam
4 Ramadhan 1427 H/27 September 2006