untukmu yang baru saja aku bercerita
Terimakasih selalu mendengarkan. Terimakasih selalu memberikan saran-saran. Terimakasih yang tulus kuusahakan.
Aku jadi tidak enak sering mengganggumu. Sering mengganggu waktu yang seharusnya engkau tidur nyenyak. Aku sendiri sudah berusaha untuk seminimal mungkin menghubungimu. Dan tahukah kau, ketika aku berangkat ke Solo, ada satu tekad yang yang pernah ingin kuusahakan bisa terwujud, dan apakah itu? sederhana "tidak menghubungi (menelpon)mu selama mungkin yang aku bisa". Dan sialnya tekad itu betul-betul menyiksaku. Tahukah kau bahwa hampir setiap pagi ketika aku bangun dari tidurku, hati ini selalu meminta untuk menghubungimu. Tahukah kau bahwa mungkin setiap hari aku merindukan suaramu yang manja dengan tawa khasmu yang ceria itu. Tapi sebulan ini teguhku masih menguasaiku.
hmm..dan malam ini aku tidak kuasa untuk menahan inginku itu. Di saat bingung di kepalaku semakin berkecamuk. Aku menghubungimu lagi, menceritakan cerita-cerita yang tadinya tidak ingin kuceritakan kepadamu, cerita yang sampai saat aku bercerita kepadamu hanya satu teman dekatku yang kuberi tahu.
Entahlah, mengapa bibir ini selalu mudah menceritakan semua yang terjadi kepadamu. Dan ada satu perasaan nyaman yang luar biasa ketika aku bercerita kepadamu. Rasa plong, kejujuran yang tidak dapat (atau sulit) aku ceritakan kepada orang lain begitu saja hadir di saat bincang-bincang kita. Kata-kata seperti mengeluarkan dirinya sendiri saat-saat bincang-bincang denganmu. Dan tahukah kau semakin aku menyadari itu aku semakin kagum kepadamu.
Dan perasaan mengagumimu itu telah ‘terkerangkeng’ oleh pikiranku berdasarkan penghargaanku terhadap apa yang kau ucapkan: "kita hanya teman". Sehingga di saat kau ulang tahun, sebetulnya aku ingin memberikan sebuah kado istimewa untukmu, tapi karena aku takut ada salah tafsir akhirnya aku membatalkan itu. Sederhananya aku ingin menjaga hubungan baik kita.
Aku pernah membaca kalimat berikut ini "Jika ada dua insan, perempuan dan laki-laki bisa berteman baik, maka salah satunya pasti mencintai temannya tersebut". Pertama kali aku membaca kalimat tersebut aku hanya tersenyum. Aku tidak percaya. Selama di SMP, di SMA dan waktu kuliah aku banyak berteman baik dengan perempuan, dan perasaanku aku betul-betul menganggap mereka sebagai teman, tidak lebih. Begitu juga aku melihat mereka, mereka juga menganggapku hanya sebagai teman. Kalimat tersebut menurutku berlebihan, mungkin tidak mencintai, tapi kalau menyukai itu sangat mungkin. Hehehe..aku seakan-akan bisa membedakan apa itu cinta dan apa itu suka? Jadi ketika membaca itu aku pikir, aku hanya menyukaimu, dan itu sah-sah saja bukan? Tapi ketika seorang temanku menyuruhku membaca blog yang baru saja ditulisnya, aku kaget karena menemukan bait-bait ini :
Difference between the one you like and the one you love…
In front of the person you like, your heart beats faster But in front of the person you love, you get happy.
In front of the person you love, winter seems like spring. But in front of the person you like, winter is just beautiful winter.
If you look into the eyes of the one you like, you blush. But if you look into the eyes of the one you love, you smile.
In front of the person you like, you can’t say everything on your mind. But in front of the person you love, you can.
In front of the person you like, you tend to get shy. But in front of the person you love, you can show your own self.
You can’t look straight into the eyes of the one you like. But you can always smile and stare into the eyes of the one you love.
But when the one you like is crying, you end up comforting. When the one you love is crying, you cry with them.
The feeling of like starts from the ear. But the feeling of love starts from the eye.
So if you stop liking a person you used to like, all you need to
do is cover your ears. But if you try to close your eyes, love turns
into a drop of tear and remains in your heart forever
membaca bait-bait di atas aku betul-betul tersentak. Benarkah? Jadi selama ini aku salah tafsir. Aku menyebut cinta pada orang yang selama ini seharusnya aku menyebutnya suka dan aku menyebut suka pada orang yang sebetulnya aku cinta? Dalam banyak hal ketika aku bertemu ‘teteh’ adalah percis seperti yang digambarkan oleh kata ‘like’ dan ketika aku bertemu denganmu yang aku rasakan percis seperti yang digambarkan oleh kata ‘love’. Temanku sendiri pernah menyindirku, bahwa perasaanku pada si teteh bukan cinta tapi ‘obsesi’ yang belum tertuntaskan. Hehehe..kau mungkin tidak percaya, tapi aku tidak akan pernah memaksamu untuk percaya, tapi satu hal yang pasti aku sangat menghargai perkataanmu "kita hanya teman" dan aku akan tetap berusaha menjaga itu.
Dan seperti yang aku katakan kepadamu, aku bukanlah orang yang menyukai keidealan. Hidup bersama orang yang kita cintai dan mencintai kita adalah keidealan. Dan seperti pesan yang aku kirimkan kepadamu, nyatanya Allah belum (atau mungkinkah akan?) memberikan pilihan keidealan itu saat ini, dan sebagaimana pernah dalam suatu dialog kita, aku pernah bertanya padamu , "Pilih mana hidup bersama orang yang kita cintai atau hidup bersama orang yang mencintai kita?" dan kau memilih "hidup bersama orang yang mencintai kita", dan guyonku saat itu "aku memilih hidup bersama orang yang kita cintai dan mencintai kita", dan saat ini aku ingin guyonku itu menjadi kenyataan, walaupun aku tidak menyukai keidealan, tapi ku pikir sah-sah saja sekali-kali keidealan itu bisa terwujud, dan itu akan menjadi indah.
Dan sebetulnya kebimbangan dan kebingunganku dalam tawaran yang aku terima itu disebabkan karena aku mengenalmu. Karena aku tahu kau memiliki banyak sisi yang aku hargai, yang aku hormati. Seandainya saja peluangku untuk mengubah "kita hanya teman" menjadi kalimat "kita hanya teman, tapi teman hidup untuk selamanya, dunia dan akhirat" mencapai 51%, aku pikir, aku sanggup menunggumu sampai kau siap. Tapi jika aku tidak yakin (mencapai 51% itu), sepertinya aku akan mengambil keputusan besar itu. Mengambil jawabanmu "Aku memilih hidup bersama orang yang mencintaiku", karena di situ aku masih bisa melihat kemungkinan mencapai keidealan yang tidak aku sukai tapi sangat aku harapkan. Dalam kalimat itu tersimpan pesan lain, bahwa aku akan belajar mencintainya sehingga semoga saja suatu saat nanti "aku bisa mencintainya dan dia mencintaiku".
itu saja.
sekali lagi terimakasih, terimakasih yang tulus
August 17th, 2006 at 4:03 pm
Assalamu’alaikum warahmatullaah wabarakaatuh
May 4JJI always with you Bro
Chayoo…
August 30th, 2006 at 8:42 am
Kadang2 kita merasa sangat tahu tentang apa yang akan terjadi di depan kita dengan berbekal rencana dan keyakinan, tetapi kadang2 ketika kita merasa tahu apa yang akan terjadi didepan kita Tuhan membelokannya jauh-jauh sekali dari harapan dan rencana yang sudah kita buat..Tuhan mengajarkan kita untuk selalu bersikap rendah diri dan “sopan” terhadap pencipta,juga tidak lupa selalu menyadarkan kita dari kebutaan kita selama ini..semoga arif selalu dicintai sang pencipta..Amiin.
August 31st, 2006 at 4:15 am
to : MUmUMu, thx banget bro…
October 8th, 2006 at 11:24 pm
Keren…
bahasa-nya bagus
jgn patah hati apalagi patah semangat y ka…
Wish all the best for u aj dehh