MADRASAH IBN RUSYD

MADRASAH MEMBACA, MENGAMALKAN, DAN MENULIS

Archive for August, 2006


di suatu sunyi

anakku
kau telah belajar
arti absurditas
arti kefanaan
arti kekosongan

anakku
kau telah mendefinisikan
arti keterasingan
arti kehausan
arti kekeringan

anakku
kau telah mengenal
arti penasaran

dan anakku
kau telah
melalui seribu jalan

mengapa kau masih ragu?
yang kau perlukan
hanyalah mengosongkan
gelas keinginanmu

dan biarkan
ia terisi saripati murni
dalam setiap anugrah ilahi
yang terkirim untukmu
dan kaupun tahu
itu adalah selalu yang terbaik untukmu

anakku
kau telah belajar mengenal
arti kehakikian
arti keindahan
wajah-wajah kedamaian

tapi mengapa kau tetap
memaksakan inginmu?

anakku
masihkah kau ingat
apa yang dulu terucap
dari lidah tulusmu
"harap kepada selainNya
selalu melahirkan kecewa"

anakku
bila cahaya betul
menerangimu
seperti langit biru..
beribu bintang lebur menyatu
kemudian
kosong menjadi keindahan

anakku
kau masih mendengarkan?

26-08-2006

di satu titik waktu

di satu titik waktu
aku berhenti
bingung
meneruskan inginku
atau
menyerah dalam rasa syukur

tapi aku bertanya
betulkah pasrahku adalah syukurku?
aku bertanya
dan terus bertanya

tidak
itu bukan inginku
dan bisakah syukurku muncul dari keterpaksaanku?
tidak

belum pasti memang
tapi aku harus berani
pada jujur hati
dan jangan mundur lagi
nyatanya inginku adalah kamu
"kun fa yakun"
terjadi
maka terjadilah…
amin.

untukmu yang baru saja aku bercerita

Terimakasih selalu mendengarkan. Terimakasih selalu memberikan saran-saran. Terimakasih yang tulus kuusahakan.

Aku jadi tidak enak sering mengganggumu. Sering mengganggu waktu yang seharusnya engkau tidur nyenyak. Aku sendiri sudah berusaha untuk seminimal mungkin menghubungimu. Dan tahukah kau, ketika aku berangkat ke Solo, ada satu tekad yang yang pernah ingin kuusahakan bisa terwujud, dan apakah itu? sederhana "tidak menghubungi (menelpon)mu selama mungkin yang aku bisa". Dan sialnya tekad itu betul-betul menyiksaku. Tahukah kau bahwa hampir setiap pagi ketika aku bangun dari tidurku, hati ini selalu meminta untuk menghubungimu. Tahukah kau bahwa mungkin setiap hari aku merindukan suaramu yang manja dengan tawa khasmu yang ceria itu. Tapi sebulan ini teguhku masih menguasaiku.

hmm..dan malam ini aku tidak kuasa untuk menahan inginku itu. Di saat bingung di kepalaku semakin berkecamuk. Aku menghubungimu lagi, menceritakan cerita-cerita yang tadinya tidak ingin kuceritakan kepadamu, cerita yang sampai saat aku bercerita kepadamu hanya satu teman dekatku yang kuberi tahu.

Entahlah, mengapa bibir ini selalu mudah menceritakan semua yang terjadi kepadamu. Dan ada satu perasaan nyaman yang luar biasa ketika aku bercerita kepadamu. Rasa plong, kejujuran yang tidak dapat (atau sulit) aku ceritakan kepada orang lain begitu saja hadir di saat bincang-bincang kita. Kata-kata seperti mengeluarkan dirinya sendiri saat-saat bincang-bincang denganmu. Dan tahukah kau semakin aku menyadari itu aku semakin kagum kepadamu.

Dan perasaan mengagumimu itu telah ‘terkerangkeng’ oleh pikiranku berdasarkan penghargaanku terhadap apa yang kau ucapkan: "kita hanya teman". Sehingga di saat kau ulang tahun, sebetulnya aku ingin memberikan sebuah kado istimewa untukmu, tapi karena aku takut ada salah tafsir akhirnya aku membatalkan itu. Sederhananya aku ingin menjaga hubungan baik kita.

Aku pernah membaca kalimat berikut ini "Jika ada dua insan, perempuan dan laki-laki bisa berteman baik, maka salah satunya pasti mencintai temannya tersebut". Pertama kali aku membaca kalimat tersebut aku hanya tersenyum. Aku tidak percaya. Selama di SMP, di SMA dan waktu kuliah aku banyak berteman baik dengan perempuan, dan perasaanku aku betul-betul menganggap mereka sebagai teman, tidak lebih. Begitu juga aku melihat mereka, mereka juga menganggapku hanya sebagai teman. Kalimat tersebut menurutku berlebihan, mungkin tidak mencintai, tapi kalau menyukai itu sangat mungkin. Hehehe..aku seakan-akan bisa membedakan apa itu cinta dan apa itu suka? Jadi ketika membaca itu aku pikir, aku hanya menyukaimu, dan itu sah-sah saja bukan? Tapi ketika seorang temanku menyuruhku membaca blog yang baru saja ditulisnya, aku kaget karena menemukan bait-bait ini :

Difference between the one you like and the one you love

In front of the person you like, your heart beats faster But in front of the person you love, you get happy.

In front of the person you love, winter seems like spring. But in front of the person you like, winter is just beautiful winter.

If you look into the eyes of the one you like, you blush. But if you look into the eyes of the one you love, you smile.

In front of the person you like, you can’t say everything on your mind. But in front of the person you love, you can.

In front of the person you like, you tend to get shy. But in front of the person you love, you can show your own self.

You can’t look straight into the eyes of the one you like. But you can always smile and stare into the eyes of the one you love.

But when the one you like is crying, you end up comforting. When the one you love is crying, you cry with them.

The feeling of like starts from the ear. But the feeling of love starts from the eye.

So if you stop liking a person you used to like, all you need to
do is cover your ears. But if you try to close your eyes, love turns
into a drop of tear and remains in your heart forever

membaca bait-bait di atas aku betul-betul tersentak. Benarkah? Jadi selama ini aku salah tafsir. Aku menyebut cinta pada orang yang selama ini seharusnya aku menyebutnya suka dan aku menyebut suka pada orang yang sebetulnya aku cinta? Dalam banyak hal ketika aku bertemu ‘teteh’ adalah percis seperti yang digambarkan oleh kata ‘like’ dan ketika aku bertemu denganmu yang aku rasakan percis seperti yang digambarkan oleh kata ‘love’.  Temanku sendiri pernah menyindirku, bahwa perasaanku pada si teteh bukan cinta tapi ‘obsesi’ yang belum tertuntaskan. Hehehe..kau mungkin tidak percaya, tapi aku tidak akan pernah memaksamu untuk percaya, tapi satu hal yang pasti aku sangat menghargai perkataanmu "kita hanya teman" dan aku akan tetap berusaha menjaga itu.

Dan seperti yang aku katakan kepadamu, aku bukanlah orang yang menyukai keidealan. Hidup bersama orang yang kita cintai dan mencintai kita adalah keidealan. Dan seperti pesan yang aku kirimkan kepadamu, nyatanya Allah belum (atau mungkinkah akan?) memberikan pilihan keidealan itu saat ini, dan sebagaimana pernah dalam suatu dialog kita, aku pernah bertanya padamu , "Pilih mana hidup bersama orang yang kita cintai atau hidup bersama orang yang mencintai kita?" dan kau memilih "hidup bersama orang yang mencintai kita", dan guyonku saat itu "aku memilih hidup bersama orang yang kita cintai dan mencintai kita", dan saat ini aku ingin guyonku itu menjadi kenyataan, walaupun aku tidak menyukai keidealan, tapi ku pikir sah-sah saja sekali-kali keidealan itu bisa terwujud, dan itu akan menjadi indah.

Dan sebetulnya kebimbangan dan kebingunganku dalam tawaran yang aku terima itu disebabkan karena aku mengenalmu. Karena aku tahu kau memiliki banyak sisi yang aku hargai, yang aku hormati. Seandainya saja peluangku untuk mengubah "kita hanya teman" menjadi kalimat "kita hanya teman, tapi teman hidup untuk selamanya, dunia dan akhirat" mencapai 51%, aku pikir, aku sanggup menunggumu sampai kau siap. Tapi jika aku tidak yakin (mencapai 51% itu), sepertinya aku akan mengambil keputusan besar itu. Mengambil jawabanmu "Aku memilih hidup bersama orang yang mencintaiku", karena di situ aku masih bisa melihat kemungkinan mencapai keidealan yang tidak aku sukai tapi sangat aku harapkan. Dalam kalimat itu tersimpan pesan lain, bahwa aku akan belajar mencintainya sehingga semoga saja suatu saat nanti "aku bisa mencintainya dan dia mencintaiku".

itu saja.
sekali lagi terimakasih, terimakasih yang tulus :-)


Sindu Yang Tulus

Istriku berkata kepada aku yang sedang baca Koran : berapa lama lagi kamu
baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang utk
makan. Aku taruh Koran & melihat anak perempuanku satu2nya, namanya Sindu.
Tampak ketakutan, air matanya banjir didepannya ada semangkuk nasi berisi
nasi susu asam / yogurt (nasi khas India / curd rice).

Sindu anak yg manis & termasuk pintar dlm usianya yg baru 8 thn. Dia sangat
tidak suka makan curd rice ini. Ibu & istriku msh kuno, mereka percaya
sekali kalau makan curd rice ada "cooling effect". Aku mengambil mangkok dan
berkata Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice
ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak2 sama ayah. Aku bisa merasakan
istriku cemberut dibelakang punggungku.

Tangis Sindu mereda & ia menghapus air mata dgn tangannya & berkata boleh
ayah akan saya makan curd rice ini tidak hanya bbrp sendok tapi semuanya
akan saya habiskan, tapi saya akan minta .. agak ragu2 sejenak akan minta
sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya.

Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaan saya? Aku menjawab oh pasti
sayang. Sindu tanya sekali lagi betul nih ayah? Yah pasti sambil menggenggam
tangan anakku yang kemerah mudaan dan lembut sbg tanda setuju. Sindu juga
mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk tangan Sindu yang
merengek sambil berkata tanpa emosi, janji kata istriku.

Aku sedikit khawatir dan berkata: Sindu jangan minta komputer atau barang2
lain yg mahal yah, karena ayah saat ini tdk punya uang. Sindu menjawab :
jangan khawatir, Sindu tdk minta barang2 mahal kok. Kemudian Sindu dgn
perlahan2 & kelihatannya sangat menderita, dia bertekad menghabiskan semua
nasi susu asam itu

Dalam hatiku aku marah sama istri & ibuku yang memaksa Sindu utk makan
sesuatu yang tidak disukainya. Setelah Sindu melewati penderitaannya, dia
mendekatiku dgn mata penuh harap. Dan semua perhatian (aku, istriku dan juga
ibuku) tertuju kepadanya. Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin /
dibotakin pada hari Minggu.

Istriku spontan berkata permintaan gila, anak perempuan dibotakin, tidak
mungkin. Juga ibuku menggerutu jgn terjadi dlm keluarga kita, dia terlalu
banyak nonton TV. Dan program2 TV itu sudah merusak kebudayaan kita.

Aku coba membujuk : Sindu kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami semua
akan sedih melihatmu botak. Tapi Sindu tetap dengan pilihannya, tidak ada
‘yah, tak ada keinginan lain kata Sindu.

Aku coba memohon kepada Sindu : tolonglah kenapa kamu tidak mencoba untuk
mengerti perasaan kami. Sindu dgn menangis berkata : ayah sudah melihat bgmn
menderitanya saya menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah sudah berjanji
untuk memenuhi permintaan saya, kenapa ayah sekarang mau menarik / menjilat
ludah sendiri?

Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi
janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi, seperti Raja
Harishchandra (raja India jaman dahulu kala) untuk memenuhi janjinya rela
memberikan tahta, harta / kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri.

Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku : janji kita harus
ditepati. Secara serentak istri dan ibuku berkata : apakah aku sudah gila?
Tidak jawabku kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah
belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri. Sindu permintaanmu akan kami
penuhi.

Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan bagus.
Hari Senin, aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak
berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku. Sambil tersenyum aku
membalas lambaian tangannya. Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari mobil
sambil berteriak, Sindu tolong tunggu saya. Yang mengejutkanku ternyata,
kepala anak laki2 itu botak. Aku berpikir mungkin "botak" model jaman
sekarang.

Tanpa memperkenalkan dirinya seorang wanita keluar dari mobil dan berkata :
anak anda, Sindu, benar2 hebat. Anak laki2 yang jalan bersama-sama dia
sekarang, Harish, adalah anak saya, dia menderita kanker leukemia. Wanita
itu berhenti sejenak, menangis tersedu-sedu, bulan lalu Harish tidak masuk
sekolah, karena pengobatan chemo therapy kepalanya menjadi botak jadi dia
tidak mau pergi kesekolah takut diejek / dihina oleh teman2 sekelasnya.

Nah Minggu lalu Sindu datang kerumah dan berjanji kepada anak saya untuk
mengatasi ejekan yang mungkin terjadi, hanya saya betul2 tidak menyangka
kalau Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish. Tuan
dan istri tuan sungguh diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati
mulia.

Aku berdiri terpaku dan aku menangis. Malaikat kecilku tolong ajarkanku
tentang kasih.

– Dapat Dari Milis ‘wongbanten’ –

Aku Lebih Baik Dari Dia

Suatu hari, Allah SWT berfirman
  kepada Nabi Musa as, "Hai Musa, bila nanti kau akan bertemu dengan-Ku
  lagi, bawalah seseorang yang menurutmu kamu lebih baik daripada dia."
  Nabi Musa as lalu pergi ke mana-mana; ke jalanan, pasar, dan tempat-tempat
  ibadat. Ia selalu menemukan dalam diri setiap orang itu suatu kelebihan dari
  dirinya. Mungkin dalam beberapa hal yang lain, orang itu lebih jelek dari
  Nabi Musa, tetapi Nabi Musa selalu menemukan ada hal pada diri orang itu yang
  lebih baik dari dirinya. Nabi Musa tidak mendapatkan seorang pun yang
  terhadapnya Nabi Musa dapat berkata, "Aku lebih baik dari dia."

 

Karena gagal menemukan orang itu,
  Nabi Musa masuk ke tengah-tengah binatang. Dalam diri binatang pun ternyata
  selalu ada hal-hal yang lebih baik daripada Nabi Musa. Seperti kita ketahui,
  burung Merak, misalnya, bulunya jauh lebih bagus dari bulu manusia. Sampai
  akhirnya Nabi Musa melewati seekor anjing kudisan. Nabi Musa berpikir,
  "Mungkin sebaiknya aku pergi membawa dia." Ia pun lalu mengikat
  leher anjing itu dengan tali. Namun ketika sampai ke suatu tempat, Nabi Musa
  melepaskan anjing itu.

 

Ketika Nabi Musa datang untuk
  bermunajat lagi di hadapan Allah SWT, Tuhan bertanya, "Ya Musa, mana
  orang yang Aku perintahkan kepadamu untuk kaubawa?" Nabi Musa menjawab,
  "Tuhanku, aku tidak menemukan seseorang pun yang aku lebih baik
  darinya." Tuhan lalu berfirman, "Demi keagungan-Ku dan
  kebesaran-Ku, sekiranya kamu datang kepadaku dengan membawa seseorang yang
  kamu pikir kamu lebih baik darinya, Aku akan hapuskan namamu dari daftar
  kenabian."

 

Kata ana khairun minhu atau
  "Aku lebih baik dari dia" pertama kali diucapkan oleh Iblis untuk
  menunjukkan ketakaburannya. Tuhan menyuruhnya untuk sujud kepada Adam as tapi
  Iblis tidak mau. Ia beralasan, "Aku lebih baik dari dia. Kau ciptakan
  aku dari api dan Kau ciptakan dia dari tanah." Takabur yang dilakukan
  oleh Iblis pertama kali itu adalah takabur karena nasab, takabur karena
  keturunan. <!–
D(["mb","

\n

Menurut Al-Ghazali, di antara\n beberapa faktor yang menyebabkan orang menjadi takabur dan berfikir,\n "Aku lebih baik dari dia," adalah nasab. Iblis adalah tokoh takabur\n karena nasab yang paling awal. Kebanggaan atau kesombongan karena nasab ini\n pernah menjadi satu sistem dalam masyarakat feodal. Feodalisme adalah sistem\n kemasyarakatan yang membagi masyarakat berdasarkan keturunannya. Sebagian\n masyarakat disebut berdarah biru dan sebagian lagi berdarah merah.

\n

Ada sebuah buku yang dengan secara\n terperinci mengkritik sebagian sayyid atau keturunan Rasulullah saw yang\n merasa bahwa mereka lebih utama dari orang yang bukan sayyid. Sebagian sayyid\n itu berpendapat bahwa jika ada orang bukan sayyid yang beramal saleh\n sebanyak-banyaknya, derajatnya akan tetap lebih rendah dari seorang sayyid\n yang beramal maksiat. Menurut penulis buku tersebut, seorang sayyid yang\n berpendapat seperti itu pastilah seorang sayyid yang ahmaq atau tolol.\n Dalam salah satu buku itu, ia memberikan contoh sayyid yang berpikiran\n seperti itu sebagai orang yang takabur karena nasabnya. Ternyata, penulis\n buku itu pun adalah seorang sayyid. Namanya Al-Sayyid Abdul Husain Asghai.#

\n

Penulis itu mengingatkan saya\n kepada Imam Ali Zainal Abidin as. Ia pernah menangis terisak-isak di hadapan\n Baitullah. Thawus Al-Yamani mendekatinya dan bertanya, "Wahai Imam,\n mengapa engkau harus beribadat seperti ini? Bukankah kakekmu Rasulullah saw\n dan ibumu Fathimah as?" Lalu Imam dengan marah menjawab, "Jangan\n sebut-sebut di hadapanku ibuku dan kakekku, karena Allah SWT akan memberikan\n surga kepada siapa saja yang taat kepada-Nya, walaupun ia adalah seorang\n budak dari Afrika. Dan Allah akan memasukkan ke neraka siapa saja yang\n maksiat kepada-Nya walaupun ia adalah seorang sayyid dari bangsa\n Quraisy."

\n

Berbangga sebagai keturunan\n Rasulullah saw saja adalah suatu perbuatan takabur, apalagi berbangga sebagai\n keturunan bukan Rasulullah saw. Orang yang berbangga karena keturunannya yang\n bukan Rasulullah saw adalah seperti orang miskin yang takabur. Hal itu bukan\n berarti orang kaya boleh takabur. Orang kaya yang takabur pun akan dimasukkan\n ke neraka. ",1]
);

//–>

 

Menurut Al-Ghazali, di antara
  beberapa faktor yang menyebabkan orang menjadi takabur dan berfikir,
  "Aku lebih baik dari dia," adalah nasab. Iblis adalah tokoh takabur
  karena nasab yang paling awal. Kebanggaan atau kesombongan karena nasab ini
  pernah menjadi satu sistem dalam masyarakat feodal. Feodalisme adalah sistem
  kemasyarakatan yang membagi masyarakat berdasarkan keturunannya. Sebagian
  masyarakat disebut berdarah biru dan sebagian lagi berdarah merah.

 

Ada sebuah buku yang dengan secara
  terperinci mengkritik sebagian sayyid atau keturunan Rasulullah saw yang
  merasa bahwa mereka lebih utama dari orang yang bukan sayyid. Sebagian sayyid
  itu berpendapat bahwa jika ada orang bukan sayyid yang beramal saleh
  sebanyak-banyaknya, derajatnya akan tetap lebih rendah dari seorang sayyid
  yang beramal maksiat. Menurut penulis buku tersebut, seorang sayyid yang
  berpendapat seperti itu pastilah seorang sayyid yang ahmaq atau tolol.
  Dalam salah satu buku itu, ia memberikan contoh sayyid yang berpikiran
  seperti itu sebagai orang yang takabur karena nasabnya. Ternyata, penulis
  buku itu pun adalah seorang sayyid. Namanya Al-Sayyid Abdul Husain Asghai.#

 

Penulis itu mengingatkan saya
  kepada Imam Ali Zainal Abidin as. Ia pernah menangis terisak-isak di hadapan
  Baitullah. Thawus Al-Yamani mendekatinya dan bertanya, "Wahai Imam,
  mengapa engkau harus beribadat seperti ini? Bukankah kakekmu Rasulullah saw
  dan ibumu Fathimah as?" Lalu Imam dengan marah menjawab, "Jangan
  sebut-sebut di hadapanku ibuku dan kakekku, karena Allah SWT akan memberikan
  surga kepada siapa saja yang taat kepada-Nya, walaupun ia adalah seorang
  budak dari Afrika. Dan Allah akan memasukkan ke neraka siapa saja yang
  maksiat kepada-Nya walaupun ia adalah seorang sayyid dari bangsa
  Quraisy."

 

Berbangga sebagai keturunan
  Rasulullah saw saja adalah suatu perbuatan takabur, apalagi berbangga sebagai
  keturunan bukan Rasulullah saw. Orang yang berbangga karena keturunannya yang
  bukan Rasulullah saw adalah seperti orang miskin yang takabur. Hal itu bukan
  berarti orang kaya boleh takabur. Orang kaya yang takabur pun akan dimasukkan
  ke neraka. <!–
D(["mb","

\n

Kehormatan dalam Islam tidak\n ditegakkan berdasarkan nasab. Tuhan berfirman, "Innâ akramakum\n \'indallâhi atqâkum. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi\n Allah adalah yang paling takwa." (QS. Al-Hujrat 13 ) Pernah pada suatu\n hari, seseorang datang kepada Rasulullah saw dengan membanggakan nasabnya. Di\n kalangan masyarakat Arab waktu itu, kebanggaan suatu nasab didasarkan pada\n jumlah jasa yang dilakukan nasab itu. Karena itu, mereka sering\n menyebut-nyebut jasa orang tua mereka. Orang itu memperkenalkan dirinya\n dengan menyebut silsilah orang tuanya sampai keturunan kesembilan. Rasulullah\n saw hanya menjawab pendek, "Wa anta \'âsyiruhum fin nâr. Dan\n engkau, keturunan yang kesepuluh, di neraka." Ia masuk neraka karena\n ketakaburannya.

\n

Ketika berhadapan dengan orang yang\n takabur karena nasabnya, yang membanggakan kehebatan orang tuanya, Sayidina\n Ali berkata, "Ucapan kamu benar. Tapi alangkah jeleknya yang dilahirkan\n oleh orang tuamu."

\n

Al-Ghazali membagi takabur kepada\n dua bagian. Pertama, takabur dalam urusan agama dan kedua, takabur\n dalam urusan dunia. Takabur dalam urusan agama dibagi lagi menjadi dua;\n takabur karena ilmu dan takabur karena amal. Menurut Al-Ghazali, yang banyak\n takabur karena ilmu adalah para ilmuwan, filusuf, dan ulama. Apa tanda-tanda\n orang yang takabur karena ilmunya? Ia tidak mau mendengarkan nasihat dari\n orang yang lebih bodoh darinya. Ia merasa dirinya paling pintar dan tidak\n memerlukan bantuan orang lain.

\n

Daniel Goleman, dalam bukunya Emotional\n Intelligence, menceritakan kisah dua orang yang lulus bersamaan dari\n perguruan tinggi. Satu orang di antaranya luar biasa pintar dan lulus dengan\n nilai tertinggi sementara seorang yang lain lulus dengan nilai pas-pasan. Dua\n tahun kemudian, diselidiki nasib kedua orang itu. Orang yang pintar itu\n ternyata menganggur sementara orang yang tidak pintar telah menjadi manajer\n di sebuah perusahaan. Selidik punya selidik, ternyata orang pintar itu tidak\n tahan bekerja di satu tempat, karena dia tidak bisa bekerja sama dengan orang\n lain. Ia merasa dirinya pintar sehingga tidak memerlukan bantuan orang lain. ",1]
);

//–>

 

Kehormatan dalam Islam tidak
  ditegakkan berdasarkan nasab. Tuhan berfirman, "Innâ akramakum
  ‘indallâhi atqâkum
. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi
  Allah adalah yang paling takwa." (QS. Al-Hujrat 13 ) Pernah pada suatu
  hari, seseorang datang kepada Rasulullah saw dengan membanggakan nasabnya. Di
  kalangan masyarakat Arab waktu itu, kebanggaan suatu nasab didasarkan pada
  jumlah jasa yang dilakukan nasab itu. Karena itu, mereka sering
  menyebut-nyebut jasa orang tua mereka. Orang itu memperkenalkan dirinya
  dengan menyebut silsilah orang tuanya sampai keturunan kesembilan. Rasulullah
  saw hanya menjawab pendek, "Wa anta ‘âsyiruhum fin nâr. Dan
  engkau, keturunan yang kesepuluh, di neraka." Ia masuk neraka karena
  ketakaburannya.

 

Ketika berhadapan dengan orang yang
  takabur karena nasabnya, yang membanggakan kehebatan orang tuanya, Sayidina
  Ali berkata, "Ucapan kamu benar. Tapi alangkah jeleknya yang dilahirkan
  oleh orang tuamu."

 

Al-Ghazali membagi takabur kepada
  dua bagian. Pertama, takabur dalam urusan agama dan kedua, takabur
  dalam urusan dunia. Takabur dalam urusan agama dibagi lagi menjadi dua;
  takabur karena ilmu dan takabur karena amal. Menurut Al-Ghazali, yang banyak
  takabur karena ilmu adalah para ilmuwan, filusuf, dan ulama. Apa tanda-tanda
  orang yang takabur karena ilmunya? Ia tidak mau mendengarkan nasihat dari
  orang yang lebih bodoh darinya. Ia merasa dirinya paling pintar dan tidak
  memerlukan bantuan orang lain.

 

Daniel Goleman, dalam bukunya Emotional
  Intelligence,
menceritakan kisah dua orang yang lulus bersamaan dari
  perguruan tinggi. Satu orang di antaranya luar biasa pintar dan lulus dengan
  nilai tertinggi sementara seorang yang lain lulus dengan nilai pas-pasan. Dua
  tahun kemudian, diselidiki nasib kedua orang itu. Orang yang pintar itu
  ternyata menganggur sementara orang yang tidak pintar telah menjadi manajer
  di sebuah perusahaan. Selidik punya selidik, ternyata orang pintar itu tidak
  tahan bekerja di satu tempat, karena dia tidak bisa bekerja sama dengan orang
  lain. Ia merasa dirinya pintar sehingga tidak memerlukan bantuan orang lain. <!–
D(["mb","

\n

Takabur yang kedua di dalam urusan\n agama adalah takabur karena amal. Jika seseorang banyak beramal, ia bisa\n menjadi sombong. Dalam sebuah hadis diriwayatkan seseorang yang datang ke\n majelis Nabi. Orang itu dipuji para sahabat karena kebagusan ibadatnya. Tapi\n Nabi mengatakan, "Aku melihat bekas tamparan setan di wajahnya."\n Nabi kemudian menyuruh sahabat membunuh orang itu. Orang itu merasa amal\n dirinya paling baik di antara orang lain. Di waktu lain, Rasulullah saw\n bersabda, "Jika ada seseorang yang berkata, \'Manusia ini semuanya sudah\n rusak,\'(dan ia merasa bahwa hanya dirinya yang tidak rusak) maka ketahuilah\n bahwa sesungguhnya dia yang paling rusak."

\n

Ada orang yang merasa amalnya sudah\n bagus sehingga dia merendahkan orang lain. Ada juga orang yang merasa dirinya\n amat saleh dan segera menganggap rendah orang lain yang tidak salat berjemaah\n di masjid seperti dirinya. Ia pun mengecam orang lain yang salatnya dijamak.\n Orang-orang seperti itu termasuk orang yang takabur karena amalnya.

\n

Sayidina Ali mengajarkan kepada\n para pengikutnya, "Kalau kamu berjumpa dengan orang yang lebih muda,\n berpikirlah dalam hatimu: Pasti dosanya lebih sedikit dari dosaku. Kalau kamu\n berjumpa dengan orang yang lebih tua, berpikirlah dalam hatimu: Pasti amalnya\n lebih banyak dari amalku." Setiap orang pasti ada kelebihannya. Kita\n juga punya kelebihan, tetapi hal itu tidak menyebabkan kita menjadi lebih\n mulia daripada orang lain. Begitu kita merasa diri kita lebih mulia dari\n orang lain dan ingin diperlakukan sebagai orang mulia secara diskriminatif,\n kita sudah jatuh kepada takabur. Takaburnya bisa karena ilmu atau karena\n amal.

\n

Takabur bagian kedua menurut\n Al-Ghazali adalah takabur dalam urusan dunia. Takabur dalam urusan dunia\n disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, karena nasab, seperti telah\n dijelaskan di atas. Kedua, karena harta kekayaan. Ketiga,\n karena kekuasaan. Keempat, karena kecantikan. ",1]
);

//–>

 

Takabur yang kedua di dalam urusan
  agama adalah takabur karena amal. Jika seseorang banyak beramal, ia bisa
  menjadi sombong. Dalam sebuah hadis diriwayatkan seseorang yang datang ke
  majelis Nabi. Orang itu dipuji para sahabat karena kebagusan ibadatnya. Tapi
  Nabi mengatakan, "Aku melihat bekas tamparan setan di wajahnya."
  Nabi kemudian menyuruh sahabat membunuh orang itu. Orang itu merasa amal
  dirinya paling baik di antara orang lain. Di waktu lain, Rasulullah saw
  bersabda, "Jika ada seseorang yang berkata, ‘Manusia ini semuanya sudah
  rusak,’(dan ia merasa bahwa hanya dirinya yang tidak rusak) maka ketahuilah
  bahwa sesungguhnya dia yang paling rusak."

 

Ada orang yang merasa amalnya sudah
  bagus sehingga dia merendahkan orang lain. Ada juga orang yang merasa dirinya
  amat saleh dan segera menganggap rendah orang lain yang tidak salat berjemaah
  di masjid seperti dirinya. Ia pun mengecam orang lain yang salatnya dijamak.
  Orang-orang seperti itu termasuk orang yang takabur karena amalnya.

 

Sayidina Ali mengajarkan kepada
  para pengikutnya, "Kalau kamu berjumpa dengan orang yang lebih muda,
  berpikirlah dalam hatimu: Pasti dosanya lebih sedikit dari dosaku. Kalau kamu
  berjumpa dengan orang yang lebih tua, berpikirlah dalam hatimu: Pasti amalnya
  lebih banyak dari amalku." Setiap orang pasti ada kelebihannya. Kita
  juga punya kelebihan, tetapi hal itu tidak menyebabkan kita menjadi lebih
  mulia daripada orang lain. Begitu kita merasa diri kita lebih mulia dari
  orang lain dan ingin diperlakukan sebagai orang mulia secara diskriminatif,
  kita sudah jatuh kepada takabur. Takaburnya bisa karena ilmu atau karena
  amal.

 

Takabur bagian kedua menurut
  Al-Ghazali adalah takabur dalam urusan dunia. Takabur dalam urusan dunia
  disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, karena nasab, seperti telah
  dijelaskan di atas. Kedua, karena harta kekayaan. Ketiga,
  karena kekuasaan. Keempat, karena kecantikan. <!–
D(["mb","Kelima
, karena\n banyaknya anak buah dan pengikut. Penyakit yang terakhir ini biasanya\n diderita oleh para ulama.

\n

Rasulullah saw bersabda,\n "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat takabur\n walaupun hanya sebesar biji sawi." Kita dapat mengukur hati kita, apakah\n terdapat sebutir takabur atau tidak, dengan menjawab beberapa pertanyaan.\n Pertanyaan-pertanyaan itu sebagai berikut: Ketika Anda masuk ke dalam sebuah\n majelis dan melihat kawan Anda yang setara dengan Anda duduk di tempat yang\n lebih mulia, sementara Anda duduk di tempat yang lebih rendah, apakah ada\n perasaan berat dalam diri Anda? Ketika Anda akan memilih menantu dan\n memperhatikan keturunan calon menantu itu, lalu ternyata keturunannya tidak\n sebanding dengan Anda, apakah Anda merasa berat menerimanya? Apakah Anda\n merasa berat menerima nasihat dari orang yang lebih rendah daripada Anda?\n Apakah Anda merasa berat untuk memakai pakaian yang jelek ketika menghadiri\n pengajian? Jika Anda menjawab "ya" untuk salah satu dari pertanyaan\n di atas, ketahuilah, Anda sudah jatuh ke dalam takabur.

\n

Saya akhiri tulisan ini dengan\n sebuah hadis. Rasulullah saw bersabda, "Pastilah orang yang takabur itu\n punya cacat dalam dirinya yang ia sembunyikan." Hadis itu saya kira\n sangat modern. Menurut Psikologi mutakhir, orang-orang yang arogan atau\n sombong di dunia ini sebetulnya adalah orang yang menderita cacat tertentu\n yang tidak kita ketahui dan mereka berusaha menutupinya.

\n

Kita dapat mengobati perasaan\n takabur dengan istighfar dan bersikap tawadhu. Tidak ada obat bagi takabur\n selain bersikap rendah hati. Rasulullah saw bersabda, "Jika kamu temukan\n di antara umatku orang yang bersikap tawadhu, maka hendaklah kamu bersikap\n lebih tawadhu lagi kepada mereka. Dan apabila kamu temukan di antara umatku\n orang yang bersikap takabur, maka hendaklah kamu bersikap lebih takabur lagi\n kepada mereka."

-- dari ceramahnya kang Jalal --

",1]
);

//–>Kelima, karena
  banyaknya anak buah dan pengikut. Penyakit yang terakhir ini biasanya
  diderita oleh para ulama.

 

Rasulullah saw bersabda,
  "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat takabur
  walaupun hanya sebesar biji sawi." Kita dapat mengukur hati kita, apakah
  terdapat sebutir takabur atau tidak, dengan menjawab beberapa pertanyaan.
  Pertanyaan-pertanyaan itu sebagai berikut: Ketika Anda masuk ke dalam sebuah
  majelis dan melihat kawan Anda yang setara dengan Anda duduk di tempat yang
  lebih mulia, sementara Anda duduk di tempat yang lebih rendah, apakah ada
  perasaan berat dalam diri Anda? Ketika Anda akan memilih menantu dan
  memperhatikan keturunan calon menantu itu, lalu ternyata keturunannya tidak
  sebanding dengan Anda, apakah Anda merasa berat menerimanya? Apakah Anda
  merasa berat menerima nasihat dari orang yang lebih rendah daripada Anda?
  Apakah Anda merasa berat untuk memakai pakaian yang jelek ketika menghadiri
  pengajian? Jika Anda menjawab "ya" untuk salah satu dari pertanyaan
  di atas, ketahuilah, Anda sudah jatuh ke dalam takabur.

 

Saya akhiri tulisan ini dengan
  sebuah hadis. Rasulullah saw bersabda, "Pastilah orang yang takabur itu
  punya cacat dalam dirinya yang ia sembunyikan." Hadis itu saya kira
  sangat modern. Menurut Psikologi mutakhir, orang-orang yang arogan atau
  sombong di dunia ini sebetulnya adalah orang yang menderita cacat tertentu
  yang tidak kita ketahui dan mereka berusaha menutupinya.

 

Kita dapat mengobati perasaan
  takabur dengan istighfar dan bersikap tawadhu. Tidak ada obat bagi takabur
  selain bersikap rendah hati. Rasulullah saw bersabda, "Jika kamu temukan
  di antara umatku orang yang bersikap tawadhu, maka hendaklah kamu bersikap
  lebih tawadhu lagi kepada mereka. Dan apabila kamu temukan di antara umatku
  orang yang bersikap takabur, maka hendaklah kamu bersikap lebih takabur lagi
  kepada mereka."

– dari ceramahnya kang Jalal –