MADRASAH IBN RUSYD

MADRASAH MEMBACA, MENGAMALKAN, DAN MENULIS

Archive for July, 2006


Bajingana dan Bajingani

wah lama banget ga ngeblog neh. gw pengen nulis apa ya? hmm..sebenarnya banyak banget yang pengen gw tulis, tapi itu cuman ngegantung dipikiran aja.

oke deh kali ini gw pengen nyorotin masalah ‘bajingana’ dan ‘bajingani’. yang pertama merujuk pada laki-laki yang sering menjadi bajingan dan sering mempermainkan banyak wanita, sedangkan yang kedua merujuk kepada perempuan yang sering mengorbankan seluruh tubuhnya untuk dipakai oleh banyak laki-laki.

sebelumnya gw memandang secara ansich bahwa orang-orang yang melakukan itu bener-bener gila dan tidak berkeprirasaan. tapi setelah apa yang terjadi pada satu moment dalam hidup gw, sedikitnya mungkin gw ngerti kenapa mereka ngelakuin profesi sebagai bajingana dan bajingani itu. Yang gw perhatikan, dari sampel-sampel yang pernah gw temui dan peristiwa yg terjadi dalam hidup gw, para bajingana adalah awalnya sosok laki-laki yang sangat baik, yang setia, yang mencoba memperhatikan dan mempertahankan cintanya dengan ketulusan yang sungguh, tapi kemudian dikhianati oleh pasangannya. Nidah Kirani misalnya (dalam penuturan Tuhan izinkan aku menjadi pelacur) sangat kecewa dengan kekasih yang dikiranya cerdas dan bertanggungjawab tapi begitu saja meninggalkannya setelah ia mereguk semua sari bunga yang dimiliknya. Karena pengalamannya akhirnya ia berikrar "tunggu pembalasanku lelaki, tunggu kutukku lelaki" dan ia akhirnya begitu mudahnya menjual tubuhnya bahkan mempermainkan lelaki yang seringkali tergila-gila kepadanya. Sementara dari pengalaman temen gw, dia sebelumnya dikenal sebagai lelaki yang pemalu, kelihatan banget wajah solehnya, dan cintanya juga sederhana, hanya cinta pada satu orang yang diyakininya sebagai cinta yang paling indah yang pernah ia rasakan. tapi berubah dengan drastis ketika cinta itu dikhianati. ia menjadi laki-laki yang agresif, punya pacar lebih dari sekedar jamak (dalam bahasa arab jamak berarti ‘minimal tiga’), dan dengan mudahnya memutuskan hubungan terhadap perempuan-perempuan yang ia sudah bosan bermain-main dengannya. Dan berdasarkan pengalamanku sendiri, aku juga hampir (atau mungkin sudah) menjadi  bagian dari bajingana itu. aku mencintai seseorang selama delapan tahun, dan aku serius menyukainya, tidak main-main. kalo aku pernah jatuh cinta yang begitu indah dan dalam rasanya hanya kepada dia. perempuan itu selalu kelihatan indah di mataku, bisa menjaga diri, menjaga hati. sering mengajariku tentang cinta kepada Tuhan, mengajariku untuk menjaga hati, dan lain-lain. tapi ketika aku mengatakan dengan serius bahwa aku ingin melamarnya, tiba-tiba saja ia mengatakan dia sudah punya calon lain…deg..hancur keyakinanku. orang yang ku anggap seperti bidadari itu ternyata…ah..aku tidak ingin meneruskannya…dan jujur..aku shock..kecewa..semalaman aku hampir tidak percaya dengan apa yang dikatakanya..dan tiba-tiba saja dipikiranku berseliweran…’tunggu pembalasanku perempuan’ dan apa yang terjadi kemudian? sehari setelah itu, dengan polos, tanpa rasa apa-apa ku dekati perempuan, ku goda dan ku tembak,, dari jam sepuluh sampai jam setentah dua belas, satu dapat. menjelang sore, dari jam setengah tiga sampai jam setengah empat, ku dekati lagi satu, ku goda dan ku tembak…dor dua kali  dan dua-duanya mengenai sasaran. dengan bahasa tanpa beban rupanya kemampuan bahasa laki-laki begitu meningkat berkali-kali lipat dalam memikat perempuan. setelah kejadian itu aku berpikir ‘ini gila arif’, tapi aku juga melihat wajah mereka berdua bahagia. hmm..dan jujur untuk pertamakalinya gw belajar nakal dengan seorang perempuan pada hari itu. untuk pertamakalinya…saat usiaku hampir 24 tahun..tapi bahagiakah aku? jawabannya tegas : "tidak". Yang aku syukuri, sebelum aku betul-betul menjadi bajingana sejati, Allah mengirimku ke daerah yang jauh, menjauhi dua perempuan itu, menjauhi dunia yang selama ini aku berputar-putar dengannya. Dari Serang aku pindah ke Solo. Aku yakin, kalo aku tetep di Serang aku bisa menjadi bajingana sejati. Terimakasih Ya Allah. Dan telah ku petik satu pelajaran dan aku seperti di awal tulisan ini sedikit mengerti kenapa seseorang menjadi ‘bajingana’ dan ‘bajingani’, so untuk yang membaca tulisan ini, intinya segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik bahkan dalam mencintai sekalipun.