Dan Tentang Menabung di Bank…
Kalimat
itu pernah terucap ketika saya berdiskusi dengan beberapa teman di
kantor. Spontan saja kalimat tersebut mengundang temen-temen seruangan
untuk menanggapi. Pada kesempatan yang lain saya juga pernah
melontarkan kalimat yang sama di depan kang Uqon dan Nuning. Sampe
Nuning kemarin memberikan testi bahwa saya ‘anti bank’. Hehe..di sini
terjadi kesalahpahaman. Saya tidak mempermasalahkan Bank, yang saya
permasalahkan adalah MENABUNG DI BANK.
Kenapa MENABUNG DI BANK sama saja dengan melestarikan
penindasan dan turut serta dalam melakukan penindasan? suatu pertanyaan
yang sama yang diberikan oleh temen-temen seruangan ketika saya pertama
kali melontarkan pernyataan di atas.
Kalimat pembuka dalam tanda petik di awal tulisan ini adalah
sebuah kesimpulan setelah melalui sedikit ‘renungan’. Renungan yang
mungkin dangkal. Tapi sedangkal apapun renungan itu semoga bisa
memberikan
sudut pandang yang berbeda terhadap temen-temen dalam
‘menginvestasikan’ harta atau tepatnya uang di Bank.
Ada beberapa alasan kenapa menabung di Bank sama saja dengan melestarikan penindasan dan turut serta dalam melakukan penindasan.
Pertama
sebagaimana kita ketahui, bahwa sistem ekonomi yang berkuasa saat ini
adalah sistem ekonomi kapitalis. Dalam banyak hal, seperti yang pernah
ditulis oleh banyak ahli bahkan adik kita (Tigor) pernah membahas bahwa
KAPITALISME adalah bentuk ekploitasi (penjajahan) baru terhadap rasa
dan nilai kemanusiaan. Di bawah kapitalisme manusia ditempatkan di
bawah modal. Pada tahun 90-an Cak Nun pernah menulis bahkwa nilai
kemanusiaan tidak lebih dari 300 perak. Anda akan diturunkan dari
angkutan kota ketika Anda tidak mampu membayar uang 300 perak tersebut
(tahun 90-an lho).
bagai JANTUNG DARI KAPITALISME. Padahal kapitalisme tidak bisa hidup tanpa lembaga BANK.
Menabung di Bank dalam pandangan saya akan menyebabkan orang kaya menjadi semakin kaya dan orang miskin akan semakin miskin. Selain itu akan meneybabkan matinya perekonomian pada tingkat skala mikro. Lho kok bisa? Pikirkanlah baik-baik. Ketika Anda menabung di Bank, jumlah uang dari seluruh lapisan rakyat di serap sehingga uang hanya terkonsentrasi pada lembaga-lembaga perbankan (Saya yakin seratus persen\n
bahwa uang yang beredar di masyarakat pasti lebih kecil dibandingkan uang yang beredar antara Bank), dan ketika uang ini sudah terkumpul, kebijakan Bank selalu berpihak pada para pemodal,jarang berpihak pada orang kecil. Hanya orang-orang besar dan kaya saja yang mampu memanfaatkan modal yang sangat berlimpah di Bank ini. Dengan modal yang berlimpah dari Bank ini para pemodal kelas kakap melaksananakan ekspansi bisnisnya, memperluas kekuasaan (finansial dan politiknya) dan turut serta menentukan kebijakan-kebijakan negara. Sedangkan orang-orang miskin semakin di eksploitasi untuk memenuhi tujuan-tujuan jangka pendek atau jangka panjang dari pemilik modal ini. Sementara orang-orang yang kelebihan \’sumber keuangan\’ menjadi tidak kreatif karena hanya mencari posisi aman (menabung). Sumber daya (keuangan) yang sangat besar ini pada akhirnya hanya dimanfaatkan oleh sedikit dan hanya sedikit korporasi. Dengan mengumpulnya uang pada lembaga perbankan ini juga menyebabkan kehidupan ekonomi menjadi sakit. Karena arus kas yang beredar di masyarakat lebih kecil. Bagi yang mafhum ekonomi, semakin banyak kas yang beredar di masyarakat semakin sehat ekonomi masyarakat itu. Di sisi lain, untuk orang-orang miskin, Bank menerapkan standar yang menyulitkan orang-orang miskin untuk mengakses sumber daya keuangan ini. Bank Perkreditan Rakyat (yang sering disebut\n
sebagai Bank keliling) misalnya dalam pandangan saya bukannya menolong orang miskin malah makin menjerumuskan ke dalam kemiskinan yang lebih dalam. Bank ini memberikan pinjaman dalam jumlah kecil (setau saya dimulai dari skala \n”,1]
);
//–>Kebanyakan teori-teori yang menentang kapitalisme selelu
mengaitkan dengan tema keadilan dan penguasaan sumber daya yang tak
berimbang antara pemilik modal dan pemilik sumber daya (alam dan manusia) di mana pemilik modal selalu dalam posisi yang diuntungkan.
Memang banyak sekali pengkritik yang mengatakan bahwa lembaga-lembaga
keuangan tingkat dunia (seperti IMF dan World Bank) menjadi penyebab
utama rontoknya kemandirian dan kehidupan perekonmian negara-negara
berkembang. lembaga-lembaga tersebut telah menjerat negara-negara
berkembang dengan utangnya yang tak mungkin terbayar. Tapi jarang
sekali dari para ahli tersebut yang menyerang lembaga PERBANKAN sebagai JANTUNG DARI KAPITALISME. Padahal kapitalisme tidak bisa hidup tanpa lembaga BANK.
<!–
D(["mb","10.000 - itu dulu, sekarang berapa ya?) dan diharuskan mengembalikan selang sehari kemudian dengan cara mencicil yang apabila dikalkulasikan bunganya lebih dari 20% dalam tempo sebulan. Bener-bener gila.
Kaum muslim dengan konsepsi ribanya sangat sulit sekali ditarik untuk turut serta dalam sistem keuangan yang menjerat ini. Oleh karena itu, orang kafir mencari segala cara agar kantong-kantong yang belum dikuasai dari sumber keuangan muslim dapat dikuasai. Maka diciptakanlah suatu labelisasi terhadap produk yang menindas ini (Bank) dengan term-term kata yang sangat familiar di mata mereka. Maka dilakukanlah perkawinan haram (orang Serang menyebutnya \'kawin jaddah\') antara doktrin-doktrin yang diberi label Islam dengan anak emas kapitalisme yang kemudian melahirkan \'Bank Syari\'ah\' yang disebut sebagai Bank Islam. Labelisasi ini telah mampu menarik sebagian muslim yang tadinya enggan menginvestasikan (menabungkan) uangnya pada lembaga perbankan menjadi berbondong-bondong untuk menabungkan uangnya\n
di Bank yang seringkali disebut lembaga \'keuangan islami\' ini. Pasar modal syari\'ah pun diciptakan. Future Trading Syari\'ah pun diciptakan. Segala yang awalnya nampak haram dimata masyarakan Islam dihalalkan dengan sebuah labelisasi "Syari\'ah" pada lembaga-lembaga tersebut. Jangan-jangan kalau diteruskan akan lahir sebuah Perjudian Syari\'ah (hehehe...ini hanya anekdot :P).\n
Sudah ah...segini dulu...waktu istirahat sudah habis :), Kang Uqon mungkin bisa menambahkan dengan isi diskusi kita yang terakhir, bagaimana caranya supaya kita terlepas dari jerat-jerat Bank (bagaimana kita mengelola pemodalan sendiri dan pemberdayaan ekonomi masyarakat bawah ). Dan hal-hal lain yang masih kita setujui tentang pentingnya Bank, tanpa produk tabungan itu :)\n
27-04-2006
Arifullah Ibn Rusyd Al-Bantani
",1]
);
//–>Menabung
di Bank dalam pandangan saya akan menyebabkan orang kaya menjadi
semakin kaya dan orang miskin akan semakin miskin. Selain itu akan
meneybabkan matinya perekonomian pada tingkat skala mikro. Lho kok
bisa? Pikirkanlah baik-baik. Ketika Anda menabung di Bank, jumlah uang
dari seluruh lapisan rakyat di serap sehingga uang hanya terkonsentrasi
pada lembaga-lembaga perbankan (Saya yakin seratus persen bahwa uang yang beredar di masyarakat pasti lebih kecil
dibandingkan uang yang beredar antara Bank), dan ketika uang ini sudah
terkumpul, kebijakan Bank selalu berpihak pada para pemodal,jarang
berpihak pada orang kecil. Hanya orang-orang besar dan kaya saja yang
mampu memanfaatkan modal yang sangat berlimpah di Bank ini. Dengan
modal yang berlimpah dari Bank ini para pemodal kelas kakap
melaksananakan ekspansi bisnisnya, memperluas kekuasaan (finansial dan
politiknya) dan turut serta menentukan kebijakan-kebijakan negara.
Sedangkan orang-orang miskin semakin di eksploitasi untuk memenuhi
tujuan-tujuan jangka pendek atau jangka panjang dari pemilik modal ini.
Sementara orang-orang yang kelebihan ’sumber keuangan’ menjadi tidak
kreatif karena hanya mencari posisi aman (menabung). Sumber daya
(keuangan) yang sangat besar ini pada akhirnya hanya dimanfaatkan oleh
sedikit dan hanya sedikit korporasi. Dengan mengumpulnya uang pada
lembaga perbankan ini juga menyebabkan kehidupan ekonomi menjadi sakit.
Karena arus kas yang beredar di masyarakat lebih kecil. Bagi yang
mafhum ekonomi, semakin banyak kas yang beredar di masyarakat semakin
sehat ekonomi masyarakat itu. Di sisi lain, untuk orang-orang miskin,
Bank menerapkan standar yang menyulitkan orang-orang miskin untuk
mengakses sumber daya keuangan ini. Bank Perkreditan Rakyat (yang
sering disebut
sebagai Bank keliling) misalnya dalam pandangan saya bukannya
menolong orang miskin malah makin menjerumuskan ke dalam kemiskinan
yang lebih dalam. Bank ini memberikan pinjaman dalam jumlah kecil
(setau saya dimulai dari skala 10.000
- itu dulu, sekarang berapa ya?) dan diharuskan mengembalikan selang
sehari kemudian dengan cara mencicil yang apabila dikalkulasikan
bunganya lebih dari 20% dalam tempo sebulan. Bener-bener gila.
Kaum
muslim dengan konsepsi ribanya sangat sulit sekali ditarik untuk turut
serta dalam sistem keuangan yang menjerat ini. Oleh karena itu, orang
kafir mencari segala cara agar kantong-kantong yang belum dikuasai dari
sumber keuangan muslim dapat dikuasai. Maka diciptakanlah suatu
labelisasi terhadap produk yang menindas ini (Bank) dengan term-term
kata yang sangat familiar di mata mereka. Maka dilakukanlah perkawinan
haram (orang Serang menyebutnya ‘kawin jaddah’) antara doktrin-doktrin
yang diberi label Islam dengan anak emas kapitalisme yang kemudian
melahirkan ‘Bank Syari’ah’ yang disebut sebagai Bank Islam. Labelisasi
ini telah mampu menarik sebagian muslim yang tadinya enggan
menginvestasikan (menabungkan) uangnya pada lembaga perbankan menjadi
berbondong-bondong untuk menabungkan uangnya
di Bank yang seringkali disebut lembaga ‘keuangan islami’ ini.
Pasar modal syari’ah pun diciptakan. Future Trading Syari’ah pun
diciptakan. Segala yang awalnya nampak haram dimata masyarakan Islam
dihalalkan dengan sebuah labelisasi "Syari’ah" pada lembaga-lembaga
tersebut. Jangan-jangan kalau diteruskan akan lahir sebuah Perjudian
Syari’ah (hehehe…ini hanya anekdot :P).
Sudah ah…segini dulu…waktu istirahat sudah habis :), Kang
Uqon mungkin bisa menambahkan dengan isi diskusi kita yang terakhir,
bagaimana caranya supaya kita terlepas dari jerat-jerat Bank (bagaimana
kita mengelola pemodalan sendiri dan pemberdayaan ekonomi masyarakat
bawah ). Dan hal-hal lain yang masih kita setujui tentang pentingnya
Bank, tanpa produk tabungan itu
27-04-2006
Arifullah Ibn Rusyd Al-Bantani
<!–
D(["mb","
--
Ana Inda Dzonni Abdii Bii - Aku menuruti prasangka hambaKu kepadaKu\n\n
",0]
);
D(["ce"]);
//–>