MADRASAH IBN RUSYD

MADRASAH MEMBACA, MENGAMALKAN, DAN MENULIS

Archive for April, 2006


Menggagas Ekonomi Berkah Dengan Tidak Menabung Di Bank

"Kekuatan itu adalah komunitas"

Jumlah
kekayaan di dunia ini meningkat berkali-kali lipat (mungkin jutaan kali
lipat) dibandingkan era sebelum revolusi industri. Tapi jumlah yang
sangat banyak dan berlimpah itu tidak mendatangkan keberkahan bagi
penduduk bumi. Angka kemiskinan di negara-negara berkembang tidak
mengalami penurunan bahkan cenderung mengalami peningkatan. Segelintir
orang hidup dalam kemewahan yang berlebihan sementara setiap hari ada
saja orang yang meninggal karena kelaparan. Di satu sisi negara maju
semakin maju, sementara negara berkembang (mayoritas) semakin miskin.
Negara berkembang yang kaya akan sumber daya alam seperti Indonesia pun
tidak bisa merasakan keberkahan kekayaan alamnya. Negara ini telah
terjebak oleh hutang yang telah diciptakan oleh sistem ekonomi
(kapitalisme) yang tidak adil ini.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, jantung kapitalisme
adalah sistem perbankan. Dari sistem perbankan inilah hak dan
kemerdekaan suatu negara (dan juga tentunya penduduknya) dirampas oleh
mereka (pemodal)  yang mempunyai akses untuk memanfaatkan dana yang
berlimpah dari Bank ini. Segelintir orang dengan sumber daya modal yang
luar biasa mengontrol kebijakan-kebijkan hampir di seluruh negara.
Akibatnya  kapitalisme dengan sistem perbankan sebagai anak emasnya
telah menjadikan keadaan di dunia ini sangat tidak adil.  Sejumlah lima
persen penduduk di dunia menguasai 95% kekayaan seluruh dunia,
sementara 95% penduduk di dunia harus bahu membahu memperebutkan 5%
sisa kekayaan tersebut.  Sebagai akibat yang timpang ini, tingkat
kejahatan meningkat dengan drastis. Banyak orang yang baik-baik ketika
perutnya meminta sesuatu untuk di makan akhirnya terpaksa menjadi orang
jahat. Jangan salahkan semua penjahat, karena mereka kebanyakan adalah
orang yang terpaksa menjadi penjahat. Dalam kondisi "terpaksa"
terkadang yang haram pun bisa jadi boleh. Salahkanlah sistem
(kapitalisme) yang telah membuat mereka menjadi penjahat  ini.
<!–
D(["mb","

Kapitalisme jika tidak dihancurkan maka dunia kemanusiaan akan mengelami kekelaman yang semakin kelam. Akan terjadi banjir darah yang mengerikan jika sistem ini tetap dibiarkan sebagaimana alaminya. Harus ada deklarasi perang terhadap sistem ini. Sistem ini harus di buat sakit bahkan kalau perlu harus di musnahkan dari muka bumi ini. \n

Sistem kapitalisme telah begitu kuat. Begitu mengakar di setiap negara. Serangan terhadap muka, tangan, kaki atau bagian tubuh yang lain dari tubuh kapitalisme hanya akan melahirkan rasa gatal saja bagi jiwa dan tubuh yang bernama kapitalisme ini. Maka diperlukan serangan yang tepat untuk membunuh kapitalisme yaitu pada jantung kapitalisme itu sendiri yakni sistem perbankan. CARANYA ADALAH DENGAN TIDAK MENABUNG DI BANK.\n

Lantas bagaimanakah kita seharusnya menginvestasikan uang atau harta yang kita miliki?

Dengan tidak menabung di Bank, kita dituntut untuk berpikir kreatif dalam mengelola modal kita. Kita lihat saja banyak sekali orang-orang kecil yang sangat kesulitan mencari sumber pendanaan yang juga kecil. Berkali-kali saya bertemu dengan orang-orang kecil yang hanya membutuhkan uang dalam jumlah ratusan ribu untuk memulai usahanya. Kita bisa bekerjasama (melakukan kemitraan) dengan orang-orang kecil ini. Kita menjadi pemodal dengan pembagian keuntungan yang disepakati bersama. Arifin Ilham misalnya diceritakan memberikan modal bagi orang-orang kecil yang ingin berprofesi sebagai pedagang gorengan (kalau orang Serang menyebutnya cireng) yang biasa kita temukan dipinggir-pinggir jalan, yang biasa keliling dengan menjajakan cireng, pisang goreng, tempe goreng dan lain-lain. Pada waktu yang lain, misalnya saya pernah dimintai untuk memberikan pemodalan tetangga di kampung yang ingin berjualan sayuran yang hanya memerlukan pemodalan yang kurang dari satu juta rupiah. Itu hanya contoh kecil yang mungkin bisa kita lakukan untuk membantu saudara-saudara kita yang memerlukan. Cobalah kita perhatikan kembali lingkungan kita. Saya yakin akan ditemukan orang-orang yang ingin melakukan ini dan ingin melakukan itu (dengan dana yang tidak besar) tapi kesulitan dalam mencari sumber pendanaan. Mungkin saja ada yang ingin berprofesi sebagai tukang jahit pakaian tapi kesulitan mencari dana untuk membeli mesin jahit dan pemodalan untuk membeli bahan-bahan dasar untuk membuat pakaian. Ah kemungkinan-kemungkinan itu saya rasa kalau kita mau mecari sangat banyak ditemukan. Cobalah, maka Anda akan membuktikannya. Atau bisa saja Anda sendiri yang ingin melakukan usaha kecil tersebut :)\n",1]
);

//–>

Kapitalisme
jika tidak dihancurkan maka dunia kemanusiaan akan mengelami kekelaman
yang semakin kelam. Akan terjadi banjir darah yang mengerikan jika
sistem ini tetap dibiarkan sebagaimana alaminya. Harus ada deklarasi
perang terhadap sistem ini. Sistem ini harus di buat sakit bahkan kalau
perlu harus di musnahkan dari muka bumi ini.

Sistem kapitalisme telah begitu kuat. Begitu mengakar di
setiap negara. Serangan terhadap muka, tangan, kaki atau bagian tubuh
yang lain dari tubuh kapitalisme hanya akan melahirkan rasa gatal saja
bagi jiwa dan tubuh yang bernama kapitalisme ini. Maka diperlukan
serangan yang tepat untuk membunuh kapitalisme yaitu pada jantung
kapitalisme itu sendiri yakni sistem perbankan. CARANYA ADALAH DENGAN
TIDAK MENABUNG DI BANK.

Lantas bagaimanakah kita seharusnya menginvestasikan uang atau harta yang kita miliki?

Dengan
tidak menabung di Bank, kita dituntut untuk berpikir kreatif dalam
mengelola modal kita. Kita lihat saja banyak sekali orang-orang kecil
yang sangat kesulitan mencari sumber pendanaan yang juga kecil.
Berkali-kali saya bertemu dengan orang-orang kecil yang hanya
membutuhkan uang dalam jumlah ratusan ribu untuk memulai usahanya. Kita
bisa bekerjasama (melakukan kemitraan) dengan orang-orang kecil ini.
Kita menjadi pemodal dengan pembagian keuntungan yang disepakati
bersama. Arifin Ilham misalnya diceritakan memberikan modal bagi
orang-orang kecil yang ingin berprofesi sebagai pedagang gorengan
(kalau orang Serang menyebutnya cireng) yang biasa kita temukan
dipinggir-pinggir jalan, yang biasa keliling dengan menjajakan cireng,
pisang goreng, tempe goreng dan lain-lain. Pada waktu yang lain,
misalnya saya pernah dimintai untuk memberikan pemodalan tetangga di
kampung yang ingin berjualan sayuran yang hanya memerlukan pemodalan
yang kurang dari satu juta rupiah. Itu hanya contoh kecil yang mungkin
bisa kita lakukan untuk membantu saudara-saudara kita yang memerlukan.
Cobalah kita perhatikan kembali lingkungan kita. Saya yakin akan
ditemukan orang-orang yang ingin melakukan ini dan ingin melakukan itu
(dengan dana yang tidak besar) tapi kesulitan dalam mencari sumber
pendanaan. Mungkin saja ada yang ingin berprofesi sebagai tukang jahit
pakaian tapi kesulitan mencari dana untuk membeli mesin jahit dan
pemodalan untuk membeli bahan-bahan dasar untuk membuat pakaian. Ah
kemungkinan-kemungkinan itu saya rasa kalau kita mau mecari sangat
banyak ditemukan. Cobalah, maka Anda akan membuktikannya. Atau bisa
saja Anda sendiri yang ingin melakukan usaha kecil tersebut :) <!–
D(["mb","

Cara pertama (membuat kemitraan) tadi itu bagi Anda yang berani mengambil resiko rugi. Misalnya Anda takut rugi, oleh karena itu Anda hanya ingin menabungkan uang yang Anda miliki. Anda bisa menginvestasikan uang Anda dengan cara membeli emas atau membeli sawah. Percayalah, dengan menginvestasikan uang Anda pada tanah atau emas itu akan membuat ekonomi lebih berkah. Uang Anda akan terus berputar di masyarakat. Akan digunakan oleh si pemilik tanah atau si pedagang emas untuk memenuhi kebutuhan mereka. Kemudian mungkin akan digunakan si pemilik tanah atau si pedagang emas untuk membeli sayuran atau beras yang melibatkan orang yang anda dimodali oleh saudara-saudara Anda yang lain kemudian pedagang beras atau sayuran ingin membeli pakaian dari si pedagang pakaian. Dan seterusnya uang dari Anda terus berputar di masyarakat. Di sini Anda mendapatkan emas atau sawah yang senilai dengan uang Anda (bahkan mungkin lebih dari nilai uang yang anda keluarkan - karena mengalami kenaikan harga misalnya) di sisi lain membantu saudara-saudara Anda yang lain (karena uang terus berputar), bandingkan bila uang tersebut di simpan di Bank : uang tersebut hanya akan dimanfaatkan oleh pengusaha-pengusaha kelas kakap atau bahkan hanya mengendap di Bank). Ketika kita melakukan investasi pada sektor-sektor real kita otomatis juga bergerak pada sistem ekonomi real (bukan hanya kepercayaan terhadap angka-angka yang belum tentu ada nilai realnya). Kita memiliki sesuatu (dalam contoh : emas dan sawah) karena memang sesuatu itu bernilai bukan karena di anggap bahwa sesuatu (uang) itu bernilai. Pada akhirnya uang yang kita belanjakan membawa keberkahan bagi yang lain. Gerakan ekonomi real juga salah satu yang sangat bisa mengancan kapitalisme.\n

Kedua cara yang disebutkan di atas adalah cara yang bisa kita lakukan sebagai individu-individu terpisah. Cara tersebut walaupun bisa mengancam kapitalisme tetapi memerlukan waktu yang lama untuk meruntuhkannya. Dan sebagai individu kadang kita sangat mengalami ketakutan-ketakutan dalam mengambil langkah-langkah tersebut. \n",1]
);

//–>

Cara
pertama (membuat kemitraan) tadi itu bagi Anda yang berani mengambil
resiko rugi. Misalnya Anda takut rugi, oleh karena itu Anda hanya ingin
menabungkan uang yang Anda miliki. Anda bisa menginvestasikan uang Anda
dengan cara membeli emas atau membeli sawah. Percayalah, dengan
menginvestasikan uang Anda pada tanah atau emas itu akan membuat
ekonomi lebih berkah. Uang Anda akan terus berputar di masyarakat. Akan
digunakan oleh si pemilik tanah atau si pedagang emas untuk memenuhi
kebutuhan mereka. Kemudian mungkin akan digunakan si pemilik tanah atau
si pedagang emas untuk membeli sayuran atau beras yang melibatkan orang
yang dimodali oleh saudara-saudara Anda yang lain kemudian
pedagang beras atau sayuran ingin membeli pakaian dari si pedagang
pakaian. Dan seterusnya uang dari Anda terus berputar di masyarakat. Di
sini Anda mendapatkan emas atau sawah yang senilai dengan uang Anda
(bahkan mungkin lebih dari nilai uang yang anda keluarkan - karena
mengalami kenaikan harga misalnya) di sisi lain membantu
saudara-saudara Anda yang lain (karena uang terus berputar), bandingkan
bila uang tersebut di simpan di Bank : uang tersebut hanya akan
dimanfaatkan oleh pengusaha-pengusaha kelas kakap atau bahkan hanya
mengendap di Bank). Ketika kita melakukan investasi pada sektor-sektor
real kita otomatis juga bergerak pada sistem ekonomi real (bukan hanya
kepercayaan terhadap angka-angka yang belum tentu ada nilai realnya).
Kita memiliki sesuatu (dalam contoh : emas dan sawah) karena memang
sesuatu itu bernilai bukan karena di anggap bahwa sesuatu (uang) itu
bernilai. Pada akhirnya uang yang kita belanjakan membawa keberkahan
bagi yang lain. Gerakan ekonomi real juga salah satu yang sangat bisa
mengancan kapitalisme.

Kedua cara yang disebutkan di atas adalah cara yang bisa kita
lakukan sebagai individu-individu terpisah. Cara tersebut walaupun bisa
mengancam kapitalisme tetapi memerlukan waktu yang lama untuk
meruntuhkannya. Dan sebagai individu kadang kita sangat mengalami
ketakutan-ketakutan dalam mengambil langkah-langkah tersebut. <!–
D(["mb","

Belajar dari terminologi pengembangan Software, ada satu cara untuk meruntuhkan kapitalisme ini yaitu dengan membentuk komunitas. Teknologi yang mencerminkan watak kapitalis sejati yang diwakili oleh .NET menjadi tidak berdaya ketika berhadapan dengan teknologi yang di dukung oleh komunitas (Java, PHP dan lain-lain). Keunggulan-keunggulan yang ditawarkan teknologi .NET tidak membuat komunitas Java berpaling ke arah teknologi ini, begitu juga (mungkin) komunitas PHP ataupun komunitas-komunitas lainnya. Justru komunitas-komunitas ini terus berkreatifitas dan terus melakukan inovasi-inovasi untuk meningkatkan mutu kualitas produk komunitasnya. Sebagai hasilnya komunitas Java melahirkan struts, hibernate, spring, JSF, dan produk-produk lainnya yang mutunya sangat hebat bahkan boleh dibilang istimewa (tidak kalah dengan .NET)\n

Nah untuk melawan para pemilik modal (vendor) yang rakus ini kita memerlukan komunitas-komunitas ekonomi yang mandiri. Komunitas-komunitas ekonomi yang memiliki komitmen untuk mensejahterakan seluruh anggota komunitasnya dan mencoba terus berjuang melawan kerakusan dan keserakahan para pemilik modal yang menjadi tuan-tuan dalam ranah kapitalisme. Dan satu-satunya sistem ekonomi yang memiliki kekuatan komunitas ini adalah KOPERASI. Mohammad Hatta salah satu proklamir kemerdekaan bangsa dan negara ini telah mengajari kita bagaimana caranya. Kita sebaiknya menggali kembali pemikiran Bapak Guru bangsa ini sambil melakukan penyempurnaan yang masih dirasa kurang. Satu-satunya sistem ekonomi dari, oleh dan untuk komunitas adalah koperasi. Produk-produk koperasi bisa terus dikembangkan. Bahkan segala kelebihan sistem perbankan pun bisa kita adopsi pada koperasi ini yang tentu saja koperasi akan memihak kesejaheraan anggoata-anggotanya bukan para pemilik modal yang rakus dan korup.\n

Sekuat apapun peruasahaan besar (saya menganalogikan vendor dalam dunia software) tidak akan berpengaruh banyak terhadap komunitas-komunitas (anggota koperasi) jika masing-masing diri tetap berkomitmen terhadap komunitasnya, seperti kehebatan .NET tidak mempu memalingkan komunitas Java yang semakin hari semakin terasa kekuatannya. Sampai-sampai Om Bill Gates pun kelimpungan bagaimana cara membendung kekuatan komunitas ini. Satu-satunya kekuatan yang mampu menggulingkan tahta kekuasaan kapitalisme dari kerajaan sistem ekonomi adalah komunitas koperasi. Akhirnyai saya ingin menutup tulisan ini dengan kalimat yang sama ketika saya membukanya. KEKUATAN ITU ADALAH KOMUNITAS.\n",1]
);

//–>

Belajar
dari terminologi pengembangan Software, ada satu cara untuk meruntuhkan
kapitalisme ini yaitu dengan membentuk komunitas. Teknologi yang
mencerminkan watak kapitalis sejati yang diwakili oleh .NET menjadi
tidak berdaya ketika berhadapan dengan teknologi yang di dukung oleh
komunitas (Java, PHP dan lain-lain). Keunggulan-keunggulan yang
ditawarkan teknologi .NET tidak membuat komunitas Java berpaling ke
arah teknologi ini, begitu juga (mungkin) komunitas PHP ataupun
komunitas-komunitas lainnya. Justru komunitas-komunitas ini terus
berkreatifitas dan  terus melakukan inovasi-inovasi untuk meningkatkan
mutu kualitas produk komunitasnya. Sebagai hasilnya komunitas Java
melahirkan struts, hibernate, spring, JSF, dan produk-produk lainnya
yang mutunya sangat hebat bahkan boleh dibilang istimewa (tidak kalah
dengan .NET)

Nah untuk melawan para pemilik modal (vendor) yang rakus ini
kita memerlukan komunitas-komunitas ekonomi yang mandiri.
Komunitas-komunitas ekonomi yang memiliki komitmen untuk
mensejahterakan seluruh anggota komunitasnya dan mencoba terus berjuang
melawan kerakusan dan keserakahan para pemilik modal yang menjadi
tuan-tuan dalam ranah kapitalisme. Dan satu-satunya sistem ekonomi yang
memiliki kekuatan komunitas ini adalah KOPERASI. Mohammad Hatta salah
satu proklamir kemerdekaan bangsa dan negara ini telah mengajari kita
bagaimana caranya. Kita sebaiknya menggali kembali pemikiran Bapak Guru
bangsa ini sambil melakukan penyempurnaan yang masih dirasa kurang.
Satu-satunya sistem ekonomi dari, oleh dan untuk komunitas adalah
koperasi. Produk-produk koperasi bisa terus dikembangkan. Bahkan segala
kelebihan sistem perbankan pun bisa kita adopsi pada koperasi ini yang
tentu saja koperasi akan memihak kesejaheraan anggoata-anggotanya bukan
para pemilik modal yang rakus dan korup.

Sekuat apapun peruasahaan besar (saya menganalogikan vendor
dalam dunia software) tidak akan berpengaruh banyak terhadap
komunitas-komunitas (anggota koperasi) jika masing-masing diri tetap
berkomitmen terhadap komunitasnya, seperti kehebatan .NET tidak mempu
memalingkan komunitas Java yang semakin hari semakin terasa
kekuatannya. Sampai-sampai Om Bill Gates pun kelimpungan bagaimana cara
membendung kekuatan komunitas ini. Satu-satunya kekuatan yang mampu
menggulingkan tahta kekuasaan kapitalisme dari kerajaan sistem ekonomi
adalah komunitas koperasi. Akhirnyai saya ingin menutup tulisan ini
dengan kalimat yang sama ketika saya membukanya. KEKUATAN ITU ADALAH
KOMUNITAS.
<!–
D(["mb","

CATATAN :

",1]
);
D(["mb","

- Show quoted text -

--
Ana Inda Dzonni Abdii Bii - Aku menuruti prasangka hambaKu kepadaKu\n\n

",0]
);
D(["ce"]);

//–>

29-04-2006

Dan Tentang Menabung di Bank…

"Bagi saya menabung di Bank sama saja dengan melestarikan penindasan dan turut  serta dalam melakukan penindasan"

Kalimat
itu pernah terucap ketika saya berdiskusi dengan beberapa teman di
kantor. Spontan saja kalimat tersebut mengundang temen-temen seruangan
untuk menanggapi. Pada kesempatan yang lain saya juga pernah
melontarkan kalimat yang sama di depan kang Uqon dan Nuning. Sampe
Nuning kemarin memberikan testi bahwa saya ‘anti bank’. Hehe..di sini
terjadi kesalahpahaman. Saya tidak mempermasalahkan Bank, yang saya
permasalahkan adalah MENABUNG DI BANK.

Kenapa MENABUNG DI BANK sama saja dengan melestarikan
penindasan dan turut serta dalam melakukan penindasan? suatu pertanyaan
yang sama yang diberikan oleh temen-temen seruangan ketika saya pertama
kali melontarkan pernyataan di atas.

Kalimat pembuka dalam tanda petik di awal tulisan ini adalah
sebuah kesimpulan setelah melalui sedikit ‘renungan’. Renungan yang
mungkin dangkal. Tapi sedangkal apapun renungan itu semoga bisa
memberikan
sudut pandang yang berbeda terhadap temen-temen dalam
‘menginvestasikan’ harta atau tepatnya uang di Bank.

Ada beberapa alasan kenapa menabung di Bank sama saja dengan melestarikan penindasan dan turut serta dalam melakukan penindasan.

Pertama
sebagaimana kita ketahui, bahwa sistem ekonomi yang berkuasa saat ini
adalah sistem ekonomi kapitalis. Dalam banyak hal, seperti yang pernah
ditulis oleh banyak ahli bahkan adik kita (Tigor) pernah membahas bahwa
KAPITALISME adalah bentuk ekploitasi (penjajahan) baru terhadap rasa
dan nilai kemanusiaan. Di bawah kapitalisme manusia ditempatkan di
bawah modal. Pada tahun 90-an Cak Nun pernah menulis bahkwa nilai
kemanusiaan tidak lebih dari 300 perak. Anda akan diturunkan dari
angkutan kota ketika Anda tidak mampu membayar uang 300 perak  tersebut
(tahun 90-an lho).

bagai JANTUNG DARI KAPITALISME. Padahal kapitalisme tidak bisa hidup tanpa lembaga BANK.

Menabung di Bank dalam pandangan saya akan menyebabkan orang kaya menjadi semakin kaya dan orang miskin akan semakin miskin. Selain itu akan meneybabkan matinya perekonomian pada tingkat skala mikro. Lho kok bisa? Pikirkanlah baik-baik. Ketika Anda menabung di Bank, jumlah uang dari seluruh lapisan rakyat di serap sehingga uang hanya terkonsentrasi pada lembaga-lembaga perbankan (Saya yakin seratus persen\n
bahwa uang yang beredar di masyarakat pasti lebih kecil dibandingkan uang yang beredar antara Bank), dan ketika uang ini sudah terkumpul, kebijakan Bank selalu berpihak pada para pemodal,jarang berpihak pada orang kecil. Hanya orang-orang besar dan kaya saja yang mampu memanfaatkan modal yang sangat berlimpah di Bank ini. Dengan modal yang berlimpah dari Bank ini para pemodal kelas kakap melaksananakan ekspansi bisnisnya, memperluas kekuasaan (finansial dan politiknya) dan turut serta menentukan kebijakan-kebijakan negara. Sedangkan orang-orang miskin semakin di eksploitasi untuk memenuhi tujuan-tujuan jangka pendek atau jangka panjang dari pemilik modal ini. Sementara orang-orang yang kelebihan \’sumber keuangan\’ menjadi tidak kreatif karena hanya mencari posisi aman (menabung). Sumber daya (keuangan) yang sangat besar ini pada akhirnya hanya dimanfaatkan oleh sedikit dan hanya sedikit korporasi. Dengan mengumpulnya uang pada lembaga perbankan ini juga menyebabkan kehidupan ekonomi menjadi sakit. Karena arus kas yang beredar di masyarakat lebih kecil. Bagi yang mafhum ekonomi, semakin banyak kas yang beredar di masyarakat semakin sehat ekonomi masyarakat itu. Di sisi lain, untuk orang-orang miskin, Bank menerapkan standar yang menyulitkan orang-orang miskin untuk mengakses sumber daya keuangan ini. Bank Perkreditan Rakyat (yang sering disebut\n
sebagai Bank keliling) misalnya dalam pandangan saya bukannya menolong orang miskin malah makin menjerumuskan ke dalam kemiskinan yang lebih dalam. Bank ini memberikan pinjaman dalam jumlah kecil (setau saya dimulai dari skala \n”,1]
);

//–>Kebanyakan teori-teori yang menentang kapitalisme selelu
mengaitkan dengan tema keadilan dan penguasaan sumber daya yang tak
berimbang antara pemilik modal dan pemilik sumber daya (alam dan manusia) di mana pemilik modal selalu dalam posisi yang diuntungkan.
Memang banyak sekali pengkritik yang mengatakan bahwa lembaga-lembaga
keuangan tingkat dunia (seperti IMF dan World Bank) menjadi penyebab
utama rontoknya kemandirian dan kehidupan perekonmian negara-negara
berkembang. lembaga-lembaga tersebut telah menjerat negara-negara
berkembang dengan utangnya yang tak mungkin terbayar. Tapi jarang
sekali dari para ahli tersebut yang menyerang lembaga PERBANKAN sebagai JANTUNG DARI KAPITALISME. Padahal kapitalisme tidak bisa hidup tanpa lembaga BANK.

<!–
D(["mb","10.000 - itu dulu, sekarang berapa ya?) dan diharuskan mengembalikan selang sehari kemudian dengan cara mencicil yang apabila dikalkulasikan bunganya lebih dari 20% dalam tempo sebulan. Bener-bener gila.

Kaum muslim dengan konsepsi ribanya sangat sulit sekali ditarik untuk turut serta dalam sistem keuangan yang menjerat ini. Oleh karena itu, orang kafir mencari segala cara agar kantong-kantong yang belum dikuasai dari sumber keuangan muslim dapat dikuasai. Maka diciptakanlah suatu labelisasi terhadap produk yang menindas ini (Bank) dengan term-term kata yang sangat familiar di mata mereka. Maka dilakukanlah perkawinan haram (orang Serang menyebutnya \'kawin jaddah\') antara doktrin-doktrin yang diberi label Islam dengan anak emas kapitalisme yang kemudian melahirkan \'Bank Syari\'ah\' yang disebut sebagai Bank Islam. Labelisasi ini telah mampu menarik sebagian muslim yang tadinya enggan menginvestasikan (menabungkan) uangnya pada lembaga perbankan menjadi berbondong-bondong untuk menabungkan uangnya\n
di Bank yang seringkali disebut lembaga \'keuangan islami\' ini. Pasar modal syari\'ah pun diciptakan. Future Trading Syari\'ah pun diciptakan. Segala yang awalnya nampak haram dimata masyarakan Islam dihalalkan dengan sebuah labelisasi "Syari\'ah" pada lembaga-lembaga tersebut. Jangan-jangan kalau diteruskan akan lahir sebuah Perjudian Syari\'ah (hehehe...ini hanya anekdot :P).\n

Sudah ah...segini dulu...waktu istirahat sudah habis :), Kang Uqon mungkin bisa menambahkan dengan isi diskusi kita yang terakhir, bagaimana caranya supaya kita terlepas dari jerat-jerat Bank (bagaimana kita mengelola pemodalan sendiri dan pemberdayaan ekonomi masyarakat bawah ). Dan hal-hal lain yang masih kita setujui tentang pentingnya Bank, tanpa produk tabungan itu :)\n

27-04-2006
Arifullah Ibn Rusyd Al-Bantani

",1]
);

//–>Menabung
di Bank dalam pandangan saya akan menyebabkan orang kaya menjadi
semakin kaya dan orang miskin akan semakin miskin. Selain itu akan
meneybabkan matinya perekonomian pada tingkat skala mikro. Lho kok
bisa? Pikirkanlah baik-baik. Ketika Anda menabung di Bank, jumlah uang
dari seluruh lapisan rakyat di serap sehingga uang hanya terkonsentrasi
pada lembaga-lembaga perbankan (Saya yakin seratus persen bahwa uang yang beredar di masyarakat pasti lebih kecil
dibandingkan uang yang beredar antara Bank), dan ketika uang ini sudah
terkumpul, kebijakan Bank selalu berpihak pada para pemodal,jarang
berpihak pada orang kecil. Hanya orang-orang besar dan kaya saja yang
mampu memanfaatkan modal yang sangat berlimpah di Bank ini. Dengan
modal yang berlimpah dari Bank ini para pemodal kelas kakap
melaksananakan ekspansi bisnisnya, memperluas kekuasaan (finansial dan
politiknya) dan turut serta menentukan kebijakan-kebijakan negara.
Sedangkan orang-orang miskin semakin di eksploitasi untuk memenuhi
tujuan-tujuan jangka pendek atau jangka panjang dari pemilik modal ini.
Sementara orang-orang yang kelebihan ’sumber keuangan’ menjadi tidak
kreatif karena hanya mencari posisi aman (menabung). Sumber daya
(keuangan) yang sangat besar ini pada akhirnya hanya dimanfaatkan oleh
sedikit dan hanya sedikit korporasi. Dengan mengumpulnya uang pada
lembaga perbankan ini juga menyebabkan kehidupan ekonomi menjadi sakit.
Karena arus kas yang beredar di masyarakat lebih kecil. Bagi yang
mafhum ekonomi, semakin banyak kas yang beredar di masyarakat semakin
sehat ekonomi masyarakat itu. Di sisi lain, untuk orang-orang miskin,
Bank menerapkan standar yang menyulitkan orang-orang miskin untuk
mengakses sumber daya keuangan ini. Bank Perkreditan Rakyat (yang
sering disebut
sebagai Bank keliling) misalnya dalam pandangan saya bukannya
menolong orang miskin malah makin menjerumuskan ke dalam kemiskinan
yang lebih dalam. Bank ini memberikan pinjaman dalam jumlah kecil
(setau saya dimulai dari skala 10.000
- itu dulu, sekarang berapa ya?) dan diharuskan mengembalikan selang
sehari kemudian dengan cara mencicil yang apabila dikalkulasikan
bunganya lebih dari 20% dalam tempo sebulan. Bener-bener gila.

Kaum
muslim dengan konsepsi ribanya sangat sulit sekali ditarik untuk turut
serta dalam sistem keuangan yang menjerat ini. Oleh karena itu, orang
kafir mencari segala cara agar kantong-kantong yang belum dikuasai dari
sumber keuangan muslim dapat dikuasai. Maka diciptakanlah suatu
labelisasi terhadap produk yang menindas ini (Bank) dengan term-term
kata yang sangat familiar di mata mereka. Maka dilakukanlah perkawinan
haram (orang Serang menyebutnya ‘kawin jaddah’) antara doktrin-doktrin
yang diberi label Islam dengan anak emas kapitalisme yang kemudian
melahirkan ‘Bank Syari’ah’ yang disebut sebagai Bank Islam. Labelisasi
ini telah mampu menarik sebagian muslim yang tadinya enggan
menginvestasikan (menabungkan) uangnya pada lembaga perbankan menjadi
berbondong-bondong untuk menabungkan uangnya
di Bank yang seringkali disebut lembaga ‘keuangan islami’ ini.
Pasar modal syari’ah pun diciptakan. Future Trading Syari’ah pun
diciptakan. Segala yang awalnya nampak haram dimata masyarakan Islam
dihalalkan dengan sebuah labelisasi "Syari’ah" pada lembaga-lembaga
tersebut. Jangan-jangan kalau diteruskan akan lahir sebuah Perjudian
Syari’ah (hehehe…ini hanya anekdot :P).

Sudah ah…segini dulu…waktu istirahat sudah habis :), Kang
Uqon mungkin bisa menambahkan dengan isi diskusi kita yang terakhir,
bagaimana caranya supaya kita terlepas dari jerat-jerat Bank (bagaimana
kita mengelola pemodalan sendiri dan pemberdayaan ekonomi masyarakat
bawah ). Dan hal-hal lain yang masih kita setujui tentang pentingnya
Bank, tanpa produk tabungan itu :)

27-04-2006
Arifullah Ibn Rusyd Al-Bantani

<!–
D(["mb","

--
Ana Inda Dzonni Abdii Bii - Aku menuruti prasangka hambaKu kepadaKu\n\n

",0]
);
D(["ce"]);

//–>