catatan untuk saudaraku yang ahmadi
Senin
sebelum lebaran kemarin aku menelponmu. Aku kangen. Sudah lama kita
tidak bertemu. Seperti biasa awalnya kita hanya berbasa-basi
menanyakan kabar dan kesibukkan masing-masing. Aku bersyukur ketika
kau mengatakan bahwa kau sudah sidang skripsi dan akan memasuki tahap
koas semester depan.
Kau
menanyakan keberadaanku. Dan ketika kujawab bahwa aku sedang berada
di pesantren yang kita dulu sering main bersama, kau ingin bertemu
denganku. Kau akan datang ke pesantren esok pukul sembilan. Itu
janjimu. Tapi menjelang jam sembilan kau mengirim SMS kepadaku. Kau
tidak bisa datang jam sembilan sebab kau sedang menunaikan perintah
orang tuamu. Kau sedang mengantri di bank BNI untuk membayar sesuatu.
Sehabis
dzuhur kau tiba di pesantren. Kau masih gemuk walaupun agak sedikit
kurusan dibandingkan dulu. Mungkin karena kau sedang puasa.
Ditanganmu kau membawa selebaran foto kopian. Entahlah apa. Tapi
setelah kita ngobrol-ngobrol sebentar kau menyerahkan fotokopian itu
dan menyuruhku membacanya. Aku pun membacanya. Setelah ku baca kau
memintaku untuk memberikan tanggapan atas tulisan yang kau bawa itu.
Rupanya
kau begitu terganggu dengan pertanyaan-pertanyaanku saat terakhir
kali kita bertemu. Saat itu kau tiba-tiba saja mengatakan bahwa
engkau sekarang seorang ahmadi. Kau tidak berani menceritakan apa
yang kau yakini kepada keluargamu. Aku bersyukur saat itu kau memberi
kepercayaan kepadaku untuk mengetahui secuil rahasiamu yang sampai
saat ini masih menjadi rahasia bagi keluargamu. Saat terakhir kita
bertemu kau telah kutembak dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan yang
tentu saja berisi kritik terhadap paham ahmadiahmu. Tapi kau
tersenyum ketika ku katakan kau tetap saudaraku dalam islam dan tentu
saja semoga juga dalam iman.
Kau
membawa sedikit oleh-oleh yang mungkin bisa menenangkan sedikit
keragu-raguanmu. Kau membawa sebuah risalah yang membahas tentang
konsep "Khataman Nabiyyin" yang seiring dengan
keyakinanmu. Aku baca dengan seksama apa yang kau bawa itu.
Sebetulnya ingin ku katakan kepadamu bahwa dalam masalah ini aku
telah mengetahuinya semenjak SMU. Kata "khataman" bukan
hanya berarti "yang terakhir" tapi ia juga bisa berarti
"pengabsah" dan juga bisa berarti "cincin" yang dalam
persepsimu diartikan sebagai yang termulia. Tapi tetap saja ketika
aku menggunakan logikaku, ku lihat kau bingung untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaanku. Dari banyak pertanyaan yang kuajukan dulu
itu, hanya satu yang baru kau klarifikasi bro
dan ketika aku
melakukan kritik terhadap klarifikasi yang kau berikan, kau pun
bingung untuk menjelaskan. Tapi sekali lagi aku tegaskan bahwa kau
saudaraku dalam Islam dan semoga saja juga saudaraku dalam iman. Aku
sepenuhnya menghormati apa yang kau yakini dan semoga Allah terus
membimbing kita untuk lebih mengenalNya.
Selanjutnya
kau bercerita tentang kejadian paska keluarnya fatwa MUI tentang
sesatnya paham ahmadiah. Kau bercerita kepadaku dengan segenap
penjiwaanmu. Saudara-saudaramu yang tenju juga saudara-saudaraku
mengalami berbagai penindasan. Katamu di depan matamu sendiri kau
melihat tindak anarkisme terhadap saudara-saudaramu. Dengan matamu
sendiri kau melihat saudaramu bercucuran darah karena lemparan
benda-benda keras dan tumpul yang dilakukan oleh orang-orang yang
menyerbumu. Tidak hanya itu, bahkan saudara-saudaramu yang di Nusta
Tenggara sampai terbunuh. Mereka yang terbunuh bukan satu dua orang
tapi puluhan. Tapi sedihnya katamu media tidak ada satupun yang
mengungkapkannya. Begitu keras efek fatwa MUI itu terhadap jama’ah
dan saudara-saudaramu yang sekali adalah juga saudara-saudaraku. Kau
bercerita dengan mata berkaca-kaca. Bahkan sudah ku lihat air mata
telah keluar dari matamu yang sejuk itu. Mendengar ceritamu akupun
tak kuasa untuk mengusap mataku yang mulai kebasahan oleh air mata.
Aku hanya bisa bersimpati bro.
Melihat
anarkisme terhadap jama’ahmu itu aku betul-betul menjadi sedih. Umat
ini telah betul terkoyak-koyak oleh simbol-simbol yang mereka buat
sendiri. Semua merasa dirinya dan jama’ahnya yang paling benar.
Sedang yang lain sesat dan salah. Secara tidak langsung mereka
berkata "Kami lah yang benar sedang yang diluar kami salah".
Padahal sebagaimana kau dan aku tahu sedikit sekali perbedaan antara
jama’ahmu dan jama’ah-jama’ah Islam yang lainnya. Toh kita masih
bersepakat bahwa Islam dibangun atas sendi-sendi sholat, zakat, puasa
di bulan Ramadhan, dan Haji ke Baitullah. Sedang iman dibangun atas
sendi-sendi Iman kepada Allah, kepada para malaikat, kepada
kitab-kitab Allah, kepada para Rasul (dan aku tahu dengan sebetulnya
betapa jama’ahmu memuliakan Rasulullah Al-Mustafa di atas semua Nabi
dan Rasul yang lain), kepada Hari Akhir dan kita beriman akan adanya
ketentuan Tuhan dalam Qadha dan QadarNya. Kita bersepakat dalam
konsepsi Islam dan Iman. Dan dalam masalah ini tidak ada sedikitpun
perbedaan antara jama’ahmu dengan jama’ah yang lainnya. Dalam
rangkaian ritual yang lainnya pun sama. Kitab suci kitapun sama. Tapi
memang ada sedikit perbedaan-perbedaan yang aku bisa mafhumi karena
itu menyangkut penafsiran atas sebuah "teks". Setidaknya aku
telah mengikuti argumentasi-argumentasi jama’ahmu dan sepengetahuanku
sangat masuk akal sekali. Tapi satu yang sampai saat ini aku tidak
bisa terima adalah penafsiran jama’ahmu tentang konsep "khataman
nabiyyin" itu. Tapi aku sekali lagi menghormati penafsiran
jama’ahmu tentang konsep "khataman nabiyyin" itu.
Meraka
mungkin akan tercengang-cengah bahwa banyak tokoh dari jama’ahmu yang
mendunia. Aku tahu Abdus Salam yang mendapat nobel dan Ahmad Dedat
yang krsitolog itu adalah bagian dari jama’ahmu. Aku tahu mayoritas
jama’ahmu adalah orang-orang yang terdidik dengan intelegensi yang
sangat baik. Karena aku tahu metode dakwah jama’ahmu adalah
argumentasi yang baik. Kalian memang menyerupai sosok Al Masih dalam
berdakwah. Tidak melawan dengan kekerasan dan pedang. Tapi dengan
argumentasi dan perangai yang baik. Kalian telah menyebar diberbagai
penjuru dan mengenalkan Islam bagi yang belum mengenalnya. Jika ada
suatu jama’ah Islam yang pertumbuhannya paling pesat kalianlah
jama’ah itu. Jumlah kalian telah lebih dari 200 juta orang yang
tersebar di 181 negara. Kalian punya struktur persatuan yang sangat
baik karena terikat dalam suatu kekhalifahan. Sekali lagi aku
bersimpati atas ulah-ulah orang-orang yang merasa menjadi wakil Tuhan
dan menyebarkan aroma kebencian terhadap jama’ahmu. Semoga Allah
mengampuni mereka karena mereka juga adalah saudara-saudara kita.
Aku
lebih sedih ketika seorang Henry Ford memberikan kata-kata singkat
tentang bagaiman kita menuju kesuksesan. Ford bilang "Adalah
suatu awal yang baik bila bisa berkumpul bersama. Adalah suatu
kemajuan jika bisa mengerjakan sesuatu secara bersama-sama. Dan
adalah suatu kesuksesan jika bisa bekerjasama".
Melihat umat Islam dewasa ini, aku pikir kita tidak berada pada level
awal sekalipun dalam menuju kesuksesan (awal yang baik) karena
sebagaimana kau dan aku tahu kita sesama umat Islam sendiripun tidak
bisa berkumpul secara bersama. Selalu ada ego keakuan yang begitu
besar. "Aku benar dan Kau salah". Bagaimana dengan mudahnya
kata-kata "Sesat dan Kafir" terlontarkan. Padahal seorang Imam
Agung sekelas Imam Ali Kw saja tidak pernah mengeluarkan kata "sesat"
atau "kafir" terhadap orang-orang yang diperanginya. Masih jelas
dalam rekamanku ketika Imam Ali Kw memerangi kaum Khawarij yang
memeranginya. "Sesungguhnya adalah beda orang yang mencari
kebenaran kemudian ia menemukannya dan orang yang mencari kebenaran
kemudian ia tidak menemukannya" dan Sang Imam tidak mengatakan
mereka "kafir", "sesat" atau apapun kata-kata keji lainnya.
Mulut mukmin sejati tidak akan pernah dikotori dengan kata-kata yang
keji. Sedang menurut Al-Quran kata-kata "kafir" adalah
seburuk-buruk perkataan. Sang Imam memerangi khawarij karena khawarij
mengkafirkan orang yang berbeda dengan dirinya. Di situ Sang Imam
melihat ada bahaya. Masih jelas juga dalam rekamanku kata-kata sang
Imam dalam peperangan Shiffin "Jangan berlaku keji terhadap
musuhmu, jika ada orang yang melarikan diri maka biarkanlah karena
mereka adalah saudara-saudara kita yang hanya berbeda pemahaman
dengan kita". Seorang mukmin sejati menurut sang Imam adalah
orang yang bukan hanya mencintai kawannya tapi ia juga harus
mencintai musuh-musuhnya. "Jika kamu hanya bisa berbuat baik
terhadap orang yang berbuat baik kepadamu maka kamu masih menjadi
seekor anjing, jika kamu mukmin sejati maka kamu juga harus bisa
berbuat baik terhadap mereka yang memusuhimu". Sang Imam pun
memberikan contoh, ketika pasukannya pada perang Shiffin dilarang
(tidak diperkenankan) untuk mengambil air minuman di oase yang
seharusnya menjadi milik bersama. Maka sang Imam merebutnya dan
memperkenankan orang-orang yang awalnya melarangnya dengan bebas
untuk bisa menikmati secara bersama-sama air dalam oase tersebut.
Itulah akhlak mukmin sejati.
Bagaimana
kita bisa mengerjakan sesuatu secara bersama dan bekerjasama jika
berkumpul bersamapun kita tidak bisa?
Ah
semoga kita termasuk orang yang diciptakan untuk merajut ukhuwah.
Bukan dendam dan permusuhan bro. Semoga kita bisa menjadi bagian dari
suatu solusi. Bukan menambah masalah. Semoga kita tetap menjadi orang
yang kritis tidak asal ikut apa yang orang katakan sebagai sesuatu
yang ‘benar’ dan yang ’salah’. Semoga kita tetap bisa menjernihkan
nurani ditengah ramainya kematian hati nurani. Amin.