MADRASAH IBN RUSYD

MADRASAH MEMBACA, MENGAMALKAN, DAN MENULIS

← 6 - 1426 H - catatan untukmu dek…
Aku Ingin →

7 - 1426 H

 

Kemarin, malam Rabu aku nginep di kos kang Uqon. Aku langsung berangkat dari kantor. Tidak sempat mampir di kosku dulu. Makan malam sama kang Uqon di gundar sana. Sudah beberapa kali makan bareng di tempat itu. Pertama kali bareng adikku yang dari Fasilkom, tapi kebanyakan aku makan di tempat itu bareng kang Uqon. Menu malam itu nasi goreng dan es capucino. Tumben kita kompak saat itu. Aku mesen makanannya, kang uqon mesen minumannya.Biasa sebelum, sambil dan sesudah makan cerita-ceritapun mengalir. Tapi kali ini aku tidak ingin bercerita tentang pembicaraaan kami saat itu.

Aku ingin bercerita ketika aku pulang dari tempat kang uqon. Mulai dari terminal sampai aku sampai ditempatku. Aku pulang dari tempat kang uqon jam setengah enam pagi. Setelah nonton pertandingan siaran tunda tim kesayanganku, MU. Tidak seperti biasanya, aku langsung menuju terminal. Dulu, ketika aku masih di Depok, aku nunggu bus dari halte gundar. Tapi pagi itu aku langsung menuju terminal. Hehe..biasa, supaya dapat tempat duduk yang nyaman.

Bus yang biasanya aku naiki adalah bis no 102. jurusan Tn.Abang – Depok. Aku nunggu sebentar. Tidak berapa lama kemudian datanglah bus jurusan yang aku nantikan. Tapi…keselnya, bus itu tidak lekas membukakan pintu. Padahal penumpang sudah semakin berkerumun. Ada hampir lima menit, penumpang yang lain pun berdatangan. Dan tetap saja pintu bus itu tidak dibukakan. Penumpangpun terus menunggu. Tapi tetap saja pintu bus itu tidak dibukakan juga. Si sopir malah asik menutup seluruh mukanya dengan kain sarung yang dibawanya. Calon penumpang mulai kesal, dan bertanya pada si sopir. Tapi si sopir tetap cuek saja. Wuh…aku kesel banget ngeliat tingkah sopir ini. “Bulan-bulan ramadhan buat kesel banyak orang” keluhku, hehe..bulan lain juga ga boleh bikin kesel sama orang ding. Setelah beberapa lama kemudian si sopir keluar sambil berkata “tidak bisa!”. Dan ia cuek melangkahkan kakinya menuju suatu tempat yang aku tak tahu. “Aduh Pak, ya toh bilang dari tadi kek kalo memang ga bisa, biar kita bisa nyari alternatif lain” gumamku dan mungkin juga gumam calon penumpang-penumpang lain yang tampak kesal. Ternyata, dalam membawa mobilpun fakor akhlak sangat penting ya…apa jadinya kalo para calon penumpang tersebut berdoa jelek semua. Akhirnya aku pun mencari alternatif lain.

Aku tidak pernah naek jurusan lain saat menuju kantor. Seperti kemarin, aku pun coba-coba. Males nanya-nanya. Kayaknya lebih seru aja mencari pengalaman baru. Sama seperti kemarin, ketika aku janji ketemu dengan teman di Mal Kelapa Gading. Aku juga hanya coba-coba. Hehehe..akhirnya aku harus berputar-putar disebagian terminal besar di Jakarta. Dari thamrin menuju senen, dari senen akhirnya aku bisa ke Mal Kelapa Gading. Jalan pulangnya tidak tahu. Aku naik mobil kecil yang awalnya membawaku ke kelapa gading. Ku kira akan kembali ke senen tapi mobil kecil itu membawaku di terminal Pulo gadung yang katanya serem itu. Dari pulong gadung aku iseng juga. Aku hanya menuruti kakiku naik mobil jurusan blok M, dari Blok M aku baru naik bus way ke kosku. Kali ini pun aku nekad juga. Aku naik jurusan kota. Setidaknya dari kota ada busway lah. Jalan-jalan yang dilalui bener-bener asing. Beda banget sama yang jurusan tanah abang. Tapi untungnya kali ini insting iseng dan nekadku rupanya tepat. Akhirnya mobil itu sampai juga dibunderan HI..hehehe berarti pasti lewat sarinah yang biasa aku turun di sana. Selamat deh.

Nah sekarang mulai masuk ke inti catatan ramadhannya.

Di dalam bus menuju kota inilah aku mendapatkan berbagai hikmah yang dikeluarkan oleh seorang seniman muda. Ia membaca beberapa puisi yang dicampur dengan iringan seruling. Pertama ia membaca sajak yang bercerita seorang kakek yang merenungi segenap perjalanan hidupnya. Dari jaman perjuangan hingga zaman pembangunan ini atau mungkin zaman yang disebut reformasi ini. Masih ingat ketika ia mengangkat senjata mengusir penjajah. Sambil mengisap rokok kreteknya di bawah pohon sang kakek memandang pembangunan yang meriah.”tapi kok aku semakin terasing” renung si kakek. “aku semakin tidak bahagia..!” lanjutnya pula. Perkembangan pembangunan ini tidak memanusiakan manusia begitulah intinya. Aku pun jadi teringat Ali Syari’ati dan Marx. Keduanya sama gelisah, ketika peradaban yang dihasilkan manusia modern justru semakin membuat manusia semakin merasa asing dengan dirinya. Teralenasi, begitulah Syari’ati dan Marx menyebutnya. Marx marah dengan peradaban seperti itu, sementara Syari’ati lebih tenang. Marx marah pada kapitalisme dan menyatakan perang dengannya melalui ideologi baru yang ia cetuskan (komunisme). Sementara Syari’ati mengajak kita untuk menggali kembali ajaran-ajaran agama. Islam adalah agama pembebasan dan revolusi, begitu kata Ali Syari’ati. Pembebasan bagi mereka yang merasa tertindas. Pembebasan bagi mereka yang merasa terasing. Revolusi dari gelap menuju cahaya. Revolusi dari penindasan menuju keadilan. Revolusi dari tuhan-tuhan palsu menuju Tuhan Hakiki. Tapi melihat fenomena keberagaman kita yang lemah, rasanya kita mungkin berislam dengan cara yang salah. Hehehe sok tau banget sih aku. Tuhan-tuhan palsu itu tidak pernah hilang dari diri kita. Kalau dulu mungkin tuhan-tuhan palsu itu adalah real sehingga kita sadar untuk menumpasnya. Sekarang tuhan-tuhan palsu itu maujud dalam penyembahan kita terhadap materi, kedudukan, dan nafsu kita dalam mencari kesengangan. Mungkin secara tanpa sadar kita telah menyembah tuhan palsu yang bernama uang. Segala aktivitas kita ditujukkan untuk uang. Bahkan kita belajar pun kemungkinan besar untuk uang, bukan untuk mencari keberkahan.

Karena keberkahan tidak kita dapatkan. Uang, materi, kedudukan atau apapunlah atrbiut-atribut yang biasanya kita banggakan tetap tidak membawa kita pada sesuatu yang kita cari, kebahagiaan. Sang seniman jalanpun berkata. “Ternyata masyarakat modern itu sangat membutuhkan nasihat, tapi satu ciri khas masyarakat modern, segala sesuatunya ingin yang cepat dan instan. Waktu hidupnya sulit untuk mengkaji hikmah kehidupan, ia sulit untuk mengkaji filsafat dan yang lainnya. Makanya untuk menasihati dirinya (dalam rangka mencari kebahagiaan) ini buku-buku tulisan Kahlil Gibran laris manis, tempat-tempat meditasi ala Anand Krishna dan yoga banyak di buru orang. Mereka tidak kekurangan materi, tapi kok mereka tidak bahagia. Memang uang tidak menghasilkan kebahagiaan, tapi ketidakbahagiaan justru selalu menghasilkan uang ” katanya bijak.

Aku pun jadi ingat nasihat guruku. “Carilah keberkahan dalam hidupmu, jangan cari yang lainnya. Jika keberkahan bersamamu, disitulah kamu akan menemukan kebahagiaan.” Ya Allah bantu berikan aku keberkahan dalam hidupku. Balas aku dengan Kasih SayangMu, jangan balas aku dengan KeadilanMu. Amin.

16 Ramadhan 1426 H / 20 Oktober 2005

October 19th, 2005 in catatan ramadhan   |

Comments are closed.

  • Pages

    • About
  • Archives

    • June 2007
    • May 2007
    • February 2007
    • January 2007
    • December 2006
    • November 2006
    • October 2006
    • September 2006
    • August 2006
    • July 2006
    • June 2006
    • April 2006
    • March 2006
    • February 2006
    • January 2006
    • December 2005
    • November 2005
    • October 2005
    • September 2005
    • August 2005
    • July 2005
  • Categories

    • catatan ramadhan (11)
    • cerita menyentuh (1)
    • Do'a (4)
    • event (4)
    • Film (1)
    • filsafat (5)
    • JAVA (6)
    • nyastra (22)
    • PERISTIWA (4)
    • Religion (13)
    • Travel (1)
    • tulisan (19)
  • Search on This Blog

  • Meta:

    • Log in
    • Friendster
    • RSS
    • Comments RSS


MADRASAH IBN RUSYD © 2007 All Rights Reserved.
Entries and comments.

Made by: Nurudin Jauhari.