MADRASAH IBN RUSYD

MADRASAH MEMBACA, MENGAMALKAN, DAN MENULIS

← 4 - 1426 H - catatan untukmu bro..
6 - 1426 H - catatan untukmu dek… →

5 - 1424 H

 

Jum’at yang lalu kang Uqon bertanya padaku. Apakah aku sudah membaca resonansi republika edisi hari itu. Aku pun langsung membacanya. Aku kaget. Banten menjadi sorotan oleh penulis resonansi edisi itu. Hal yang paling utama disoroti adalah masalah kemiskinan dan kebodohan di Banten.

Zaim Ukhrowi sang penulis resonansi katanya awalnya menerima telpon dari seorang Muslimah yang tinggal di Philipina yang memohon agar kang Zaim Ukhrowi lebih memeperhatikan Banten. "Tolonglah Banten!" pinta sang muslimah. Dan pembahasan selanjutnya pun bercerita tentang kegiatan kang Zaim Ukhrowi ini dalam berinteraksi dengan orang-orang miskin di berbagai daerah.

Akhirnya penulisanpun difokuskan pada Banten. Katanya ia mengunjungi Banten untuk terakhir kalinya lima tahun yang lalu. Dari pengalaman yang lima tahun yang lalu itulah ia membuat analisa tentang kebodohan dan kemiskinan masyarakat Banten secara umum. "Saya tidak tega, saya tidak tahan ketika saya bertemu dengan beberapa puluh petani yang kurus itu ketika saya di …(duh lupa Mojokerto atau apa ya, pokoknya daerah jawa), dan kini saya harus dimintai untuk bertemu dengan orang-orang yang keadaannya lebih parah dengan jumlah yang lebih banyak. Bukan hanya puluhan tapi ratusan, ribuan, ratusan ribu atau mungkin jutaan atau bahkan puluhan juta" kurang lebih seperti itu kang Zaim menuliskan.

Banten yang dulunya termasuk salah satu pusat peradaban di jawa bahkan di Indonesia kini kondisinya berbalik. Banten kini menjadi daerah yang paling tertinggal dibandingkan dengan daerah yang lain. Kalau dulu Sultan dan keturunannya menjadi penyebara utama Islam di Jawa Barat, tapi sekarang untuk bertahan hidup saja, keturunan sultan itu harus menjual kopyah nenek moyangnya bagi para penziarah. Kalau dulu Banten menjadi pusat perdagangan yang rakyatnya hidup makmur, tapi kini rakyat Banten menjadi rakyat pengemis. Kurang lebih seperti itulah kang Zaim menggambarkan.

Membaca seluruh tulisan kang Zaim itu, perasaanku antara malu dan marah. Malu karena memang sebagian yang ada dalam tulisan itu adalah ada dan betul adanya. Tapi marah karena saya menilai penulisan itu terlalu berlebihan dan terlalu memandang rendah Banten.

Aku mengakui adalah fakta bahwa di sekitar Masjid Banten banyak penduduk yang mengandalkan mata pencahariannya sebagai pengemis. Tapi aku juga agak sangsi apakah mereka betul-betul warga Banten, bukan orang jauh. Aku pernah kaget ketika aku sedang berada di Balairung UI. Aku bertemu dengan beberapa orang pengemis kecil. Mereka menggunakan bahasa Jawa, logatnya mirip dengan pengemis-pengemis yang berada di masjid Banten. Aku pun melakukan percakapan dengan menggunakan bahasa jawa serang untuk membangun keakraban dengan para pengemis kecil ini. Dan aku kaget, ternyata mereka, anak-anak kecil ini berasal dari suatu daerah yang sangat jauh di sana, bukan Serang tapi Indramayu. Kalau Anda sering mendengar percakapan berbahsa jawa serang, cobalah bandingkan dengan logat para pengemis yang ada di Banten. Kalau Anda jeli, Anda akan menemukan sedikit perbedaan. Intonasi huruf mereka lebih dalam dan berat. Mirip dengan para pengemis yang sering saya temui di sekitar Masjid UI.

Aku pun menerawang. Mengingat saudaraku yang tinggal di sekitar istina Surosowan sana (tepatnya ia tinggal disuatu kampung yang disebut Keroya). Kalau aku melihat kehidupannya, ia termasuk orang yang sangat miskin. Ia tinggal dengan beberapa orang anaknya. Tapi kemiskinan tidak membuat dirinya dan anak-anaknya menjadi pengemis. Ia bertahan, dan sepenuhnya yakin ia bisa makan tanpa mengemis. Dan betul saja ia bisa bertahan dan bisa menikamati kehidupannya walaupun sebagai orang miskin (sekali lagi tanpa mengemis).

Adalah betul orang-orang semacam saudaraku tersebut memang sangat banyak di Banten. Tapi sepengetahuanku juga, mereka yang memang asli orang Banten tidak pernah mengemis. Mereka lebih bisa menahan diri. Mereka lebih senang menjadi kuli daripada menjadi pengemis. Rasa malu mereka tinggi.

Sebagaimana kita ketahui bersama. Penziarah di Banten tidak pernah sepi. Setiap hari selalu saja ada penziarah yang datang. Aku lebih kurang sebulan yang lalu mengunjungi Masjid Banten, karena setahun lebih aku tidak ke sana. Saat itu juga ramai seperti biasa. Temanku yang dari daerah jawa itu terkaget-kaget. "Rame banget ya Wong!" katanya saat itu. "Kenapa tidak pakai sistem tiket?" tanyanya lanjut. Aku pun menjelaskan. Sebetulnya pemerintah Serang melalui Dinas Pariwisatanya pernah akan menerapkan sistem seperti itu. Tapi pihak keluarga Sultan sebagai pengelola resmi tidak setuju. Keluarga Sultan atau para tubagus itu khawatir jika sistem tiket itu diterapkan maka orang-orang miskin tidak bisa lagi masuk areal daerah wisata Banten. Para tubagus itu juga khawatir kalau sistem tiket itu diterapkan maka para pengemis itu akan diusir. Kan kasian. Iya, kalau pemerintah membuka lapangan pekerjaan buat mereka. Kalau tidak mereka akan bermata pencaharian sebagai apa?. Keluarga Sultan tetap menginginkan Banten sebagai wilayah yang terbuka. Tidak peduli orang miskin atau orang kaya bisa masuk. Sehingga sistem tiket itu ditolak oleh keluarga Sultan. "Lagian kayak lo tidak tahu aja, kalau sistem tiket pemerintah itu kayak gimana?" guyonku saat itu.

Di mataku, keluarga Sultan adalah keluarga yang sangat memperhatikan rakyat kecil dan orang-orang miskin. Makanya aku marah ketika kang Zaim menuliskan kalimat berikut "Kini para keturunan Sultan itu harus menjual kopyah moyangnya untuk dapat sekedar bertahan hidup". Di situ ada nada merendahkan. Ada nada mengecilkan. Ada nada menyepelekan. Aku yang kenal dengan akhlak para keturuanan Sultan ini jelas-jelas tidak terima. Keturunan Sultan Banten setahuku adalah orang yang paling lembut dalam tutur katanya. Paling halus perangainya. Paling malu dalam keramaiannya. Di wajah-wajah mereka aku menemukan cahaya dan ketenangan. Memandang wajah-wajah mereka pun terkadang aku tak sanggup. Mereka adalah kumpulan orang-orang yang zuhud terhadap dunia. Mereka selalu menjadi pilar-pilar cahaya dan teladan orang-orang disekitarnya. Mereka tidak banyak berkata-kata. Mulut mereka dibasahi dengan dzikir kepada Allah Swt. Karena akar mereka berasal dari akar kenabian. Setiap keturunan Sultan Banten berarti keturunan Rasulullah Saw. Sedangkan sang Nabi sendiri berkata "Setiap sebab dan nasab (keturunan) akan putus pada hari kiamat kecuali sebab dan nasabku". Ya Allah aku marah karena kecintaanku pada ahlul bait nabiMu. Menghina mereka berarti menghina NabiMu. Ya Allah aku mencintai mereka dengan segenap tulus hatiku. Ahlul bait nabiMu adalah pelita bagi hidupku. Mereka adalah perahu Nabi Nuh yang barang siapa menaikinya ia akan selamat, dan barang siapa menyombongkan diri (tidak mengambil teladan dari mereka) maka ia akan celaka. Sejujurnya air mataku menetes saat mengingat ahlul baitmu ya Rasul. Pantas saja Imam Syafi’i pernah berkata "Jika dengan mencintai Ahlul Bait Nabi orang-orang menganggapku sebagai Rafidhah, maka saksikanlah akulah orang yang pertama menjadi Rafidhah". Shalawat dan Salam bagimu ya Rasulullah dan juga bagi ahlul baitmu yang disucikan (Al-Ahzab : 33).

13 Ramadhan 1426 H / 17 Oktober 2005

October 19th, 2005 in catatan ramadhan   |

Comments are closed.

  • Pages

    • About
  • Archives

    • June 2007
    • May 2007
    • February 2007
    • January 2007
    • December 2006
    • November 2006
    • October 2006
    • September 2006
    • August 2006
    • July 2006
    • June 2006
    • April 2006
    • March 2006
    • February 2006
    • January 2006
    • December 2005
    • November 2005
    • October 2005
    • September 2005
    • August 2005
    • July 2005
  • Categories

    • catatan ramadhan (11)
    • cerita menyentuh (1)
    • Do'a (4)
    • event (4)
    • Film (1)
    • filsafat (5)
    • JAVA (6)
    • nyastra (22)
    • PERISTIWA (4)
    • Religion (13)
    • Travel (1)
    • tulisan (19)
  • Search on This Blog

  • Meta:

    • Log in
    • Friendster
    • RSS
    • Comments RSS


MADRASAH IBN RUSYD © 2007 All Rights Reserved.
Entries and comments.

Made by: Nurudin Jauhari.