MADRASAH IBN RUSYD

MADRASAH MEMBACA, MENGAMALKAN, DAN MENULIS

← 2 - 1462 H
4 - 1426 H - catatan untukmu bro.. →

3 - 1426 H - Pemilihan Ketua Forkoma

Sabtu
kemarin aku membatalkan rencanaku bersama Edison untuk pergi ke
Mangga Dua. Karena aku khawatir aku akan telat menghadiri rapat
Pemilihan Ketua FORKOMA. Edison bilang kita sampai jam 12 saja di
Mangga Duanya, terus kamu boleh langsung ke Depok. Tapi saat aku
membaca waktu pelaksanaan rapat di web adalah jam 13.30, aku takut
telat. Akhirnya dalam hitungan pagi aku berangkat menuju Depok. Jam
9.00.

Sampai
di Depok, pukul setengah sebelasan. Aku mampir ke kosan Dhino
sebentar, tapi ternyata orangnya lagi ga ada. Ya sudah aku sekalian
aja mampir ke kos adikku, kebetulan ia memesan buku bacaan kepadaku.
Aku membawanya dan akan menyerahkannya secara langsung. Tapi saat aku
berada di depan kosnya, dia juga sedang tidak ada di kos. Dia sedang
di kampus. Hehe…rajin sekali De, sabtu-sabtu kok ke kampus. Aku pun
berencana untuk ke kos Aip. Soalnya waktu pindahan kemarin aku
meminjam tasnya untuk mengangkut barang-barangku. Tapi lagi-lagi
Aipnya tidak ada. Lagi pulang ke Bogor. Untungnya aku ketemu Adli,
tapi lagi-lagi Adli juga mau pergi, sedang ada janji sama temennya.
Tapi aku dipersilahkan untuk tinggal di kamarnya. “Ya, sudah! Kamu
di sini aja dulu, jam satuan aku kembali. Aku  kangen sama kamu.
Pengen ngobrol-ngobrol banyak, tapi aku harus pergi dulu sekarang”.

Aku
tinggal di kamar Adli dari jam 11-an. Setelah Adli pergi aku dapat
telepon dari Dhino. Katanya sekarang dia berada di depan kos baruku.
Di Kebun Kacang 6 daerah Thamrin sana. Walah bro..aku tadi ke kosmu
sementara rupanya kau juga ke kosku.  Kenapa ga bilang-bilang mau
maen ke kos? Hehe…akhirnya kau pun terpaksa harus pulang ke Depok
lagi.

Jam
12-an Dhino dan Ferdy datang ke Kos Adli. Ngobrol-ngobrol sebentar
kemudian meneruskan perjalanannya kembali. Aku shalat dzuhur di kamar
Adli. Jam setengah satuan Eries kirim SMS untuk janji ketemuan di kos
Mican. Jam satu tepat Adli datang ke kos. Sebenernya aku mau langsung
pamitan untuk ketemu Eries. Soalnya jam setengah dua kan rapat
FORKOMA. Tapi tidak enak juga langsung pamitan. Ngobrol-ngobrol
sebentar dan akhirnya akupun pamitan.

Pas
ketemu Eries dan Mican sudah jam 13.30, hehe sudah waktunya rapat
FORKOMA pikirku. Aku pun tidak bisa berlama-lama. Padahal lagi
seru-serunya. Aku pamitan kepada mereka. Sebenarnya aku tidak enak.
Kesannya sibuk banget gitu. Aku cepet-cepet pamitan karena aku belum
tahu tempatnya. Aku datangi kang uqon, lagi santai-santai. Rapatnya
jam dua kok rif, kata uqon. Jam dua lebih dikit aku dan uqon pergi ke
kos Usep dan teh Kiki. Sampai di sana jam 14.20-an. Kok masuknya jauh
banget ya…pikirku. Eng..ing..eng..nyampe sana belum ada satu orang
pun. Ternyata kita orang yang paling awal datang. Aku pikir aku sudah
telat.

Habis
asaran anak-anak yang lain baru pada datang. Tapi masih sedikit juga
seh yang datang. Sambil nunggu yang lain, biasa kalau anak FORKOMA
sudah ngumpul pasti urusannya ga jauh-jauh sama hal yang namanya
ketawa. Ngelucu mulu. Kayaknya anak-anak FORKOMA kalau ikut kontes
API bisa jadi juara deh :). Aku yang biasanya hanya ikut ketawa,
ikut-ikutan nimpalin hal-hal lucu yang dilontarkan. Usep kayaknya
bingung melihatku yang diluar biasanya. “Wah Arif kayaknya habis
kepanasan neh” kata Usep. Aku hanya tertawa.

Acara
pemilihan sendiri baru bisa dimulai jam 17.20-an. Awalnya cuma anak
laki-lakinya aja yang ikutan. Tapi tidak berapa lama kemudian yang
wanita pun berdatangan untuk bergabung. Prosesi pemilihan sendiri
santai dan lucu. Kata “Oplos” yang diikuti gelak tawa mewarnai
seluruh prosesi pemilihan. Awal pemilihan masing-masing kandidit
menyampaikan visi dan misinya. Setelah itu eh…suruh baca Al-Quran.
Tidak terbalik tuh Bro…? lucu juga, setelah menyampaikan visi
misinya sang MC bilang “ya rasanya tidak afdhol, kalau orang Banten
yang dikenal dengan religiusnya kalau tidak membaca quran. Oleh
karena itu masing-masing kandidat dipersilahkan membaca sari
tilawah al-quran
. Hehe…Sari
tilawah?
Ga salah tuh Bro..?
kontan saja yang lain pada ketawa. “Oplos” si Adi yang iseng
berinisiatif memeriahkan suasana. Suasana tawa pun semakin meriah
saja. Tapi ketika masing-masing kandidat membaca Al-Quran. Aku
menangkap salah satu dari mereka ada yang masih salah dalam membaca
al-Qurannya. Aku lupa mereka membaca surat apa. Tapi rekaman yang
salah itu jelas di pikiranku. Salah seorang kandidat membaca salah
satu ayat alquran. Akhir bacaannya berbunyi yauma idzil
masak
. Seharusnya ayat tersebut
dibaca yauma idzinil masak.
Karena huruf dzal
tersebut bertanwin kashrah dan bertemu dengan alim lam. Untuk
hukum-hukum kata seperti ini (kata yang berakir dengan tanwin dan
bertemu dengan alim lam) harus ditambahkan dengan nun yang
dikasrahkan
. Contoh lebih jelas
mungkin saat kita membaca surat Al-Ikhlas. Kalau kita membaca dengan
cara diwakafkan kita cukup membaca qul huwallahu ahad.
Allahusshomad.
Tapi kalau
dibaca dengan cara diwashalkan (disambung) kita membacanya dengan
cara seperti ini qulhuwallahu ahadunillahusshomad. Karena
sekali lagi huruf dal
pada kata ahad
bertanda baca tanwin
dan bertemu dengan alim lam
pada kata Allah. Aku
ingin mengingatkan secara langsung. Tapi tidak etis dalam kondisi
forum seperti itu. Tulisan ini semoga bisa menjadi pelepas bagi
kewajibanku untuk mengingatkan atau memberi tahu akan hal itu. Semoga
saja yang bersangkutan membacanya.

Selanjutnya dilakukan eksplorasi terhadap visi-misi ketiga kandidat
ketua FORKOMA. Tapi sebelum melanjutkan lebih jauh. Adzan maghrib
sudah terdengar. Alhamdulillah akhirnya kami berbuka bersama. Asik
banget ya kalau suasana bukanya rame seperti itu. Kami pun sholat
dulu. Yang laki-laki sholat di musholla sementara yang perempuan
sholat di kos teh Kiki.

Sehabis sholat ekplorasi terhadap kandidat dilanjutkan kembali.
Secara bergantian peserta bertanya dan langsung dijawab oleh
masing-masing calon ketua. Aku hanya memperhatikan jalannya prosesi
itu. Tapi melihat jawaban-jawaban yang diberikan oleh para calon
ketua itu. Aku kecewa. Aku tidak menemukan jawaban-jawaban dari
seorang calon pemimpin. Aku pun mengacungkan tangan. Tapi tidak untuk
bertanya. Hanya untuk menanggapi prosesi yang sedang berlangsung.

Baiklah
saya tidak akan memberi pertanyaan. Saya hanya ingin memberi
tanggapan. Tapi sebelumnya assalamu’alaikum wr wb
.

Terdengar tawa dari hadirin. Hehe..mungkin harusnya salam dulu kali
baru membuka kalimat. Tapi aku kan sering seperti itu, dan itu
disengaja. Aku terbiasa membuka dulu baru menyampaikan salam.

Setelah
mendengar jawaban-jawaban Anda bertiga dalam menanggapi setiap
pertanyaan yang dilontarkan oleh temen-temen yang hadir di sini,
terus terang saja, saya sangat kecewa. Saya jauh-jauh datang dari
Thamrin sana ingin melihat sosok pemimpin Forkoma ke depan seperti
apa? Tapi pada malam ini saya tidak melihat sosok calon pemimpin yang
tangguh. Saya menangkap Anda bertiga tidak memiliki kepercayaan diri
sebagai sosok pemimpin. Anda seperti orang yang terpaksa.

Bagi
saya, seorang pemimpin haruslah mengenal dirinya sendiri. Harus
mengenal segala kelebihan dan kekurangannya. Mengenal kelebihan dan
kekurangan lawannya. Mengenal medan yang dihadapinya
(hehe..sebenarnya aku sedang menyampaikan stragegi perang sun tzu).
Dalam bahasa Nabinya man ‘arafa nafsahu fa’arofa rabbahu.Yang
mengenal dirinya, dialah yang mengenal Tuhannya. Saya kecewa ketika
Anda diminta untuk mendeskripsikan kelebihan-kelebihan Anda, Anda
tidak dapat melakukannya
.
Jawaban-jawaban Anda normatif, dan berputar-putar.

Aku menyampaikan kalimat tersebut dengan penuh emosi. Entah karena
kecewa atau karena kesal.

Seorang
pemimpin harus mampu membentuk image-image positif terhadap dirinya
sendiri. Jika Anda menilai diri Anda sendiri rendah, bagaimana
mungkin orang akan menilai diri Anda tinggi. Jika Anda tidak percaya
dengan diri Anda, mana mungkin orang lain percaya kepada Anda. Ingat
Tuhan berfirman melalui nabiNya. Ana inda dzonni abdi bii. Aku
menuruti prasangka hambaKu kepadaKu. Dan saya yakin Anda pasti bisa
menjadi pemimpin. Anda bisa menjadi pemimpin besar jika Anda percaya
dapat melakukannya.

Baiklah
saya akan menyampaikan sebuah cerita. Suatu waktu di laut lepas nun
jauh di sana. Ada dua ombak sedang berjalan di atas lautan. Satu
ombak besar dan satu ombak kecil. Ombak kecil ingin tahu bagaimana
rahasia menjadi ombak besar. Akhirnya terjadi dialog antara ombak
kecil dan ombak besar tersebut.

“Bagaimana
kau bisa menjadi ombak besar, sementara aku sudah berusaha menjadi
besar tapi tetap saja aku menjadi ombak kecil”

“Karena
kau terjebak oleh pandanganmu sendiri. Walaupun kau berusaha menjadi
besar tapi dipikiranmu selalu mengatakan kau kecil. Aku tidak pernah
berpikir tentang besar dan kecil. Aku hanya perlu mengenali
hakikatku. Oleh karena itu jika kau ingin seperti aku kembalilah
kehakikatmu.”

“Apa
yang kau maksudkan kembalilah kehakikatku?”

“Jangan
pernah membatasi dirimu dengan besar dan kecil. Tapi kenalilah
dirimu. Kau dan aku terdiri dari unsur yang sama, yaitu kita
sama-sama tersusun dari air. Itulah hakikatku dan juga hakikatmu.
Kalau aku bisa menjadi besar, kau juga punya potensi yang sama untuk
menjadi besar bahkan mungkin lebih besar dari diriku. Hanya kau harus
lebih menghargai dirimu sendiri sahabat.”

Dan
betul saja setelah percakapan itu, si ombak kecil mencoba menghargai
dirinya dan lebih mengenal dirinya. Ia merasa ada potensi yang besar
pada dirinya untuk menjadi besar dan akhirnya ia betul-betul bisa
menjadi besar.

Pemimpin
besar manusia. Anda juga manusia. Jika Anda menghargai diri Anda
lebih baik. Saya yakin Anda pun bisa menjadi pemimpin besar.

Mungkin
sifat tidak percaya diri Anda terbentuk oleh lingkungan yang sering
kali menjadi pembatas bagi Anda. Anda mungkin seperti Anak macan
dalam cerita berikut ini:

Pada
suatu hari, seorang anak macan ditinggal mati oleh ibunya. Ia tidak
berdaya dan hampir saja mati. Tapi tiba-tiba lewatlah segerombolan
kambing dekat anak macan tersebut. Ada seekor kambing yang iba
melihat kondisi si anak Macan. Dan si kambing tadipun memberikan air
susunya kepada si anak macan. Akhirnya si anak macan tersebut
mengikuti kemana pun perginya si kambing. Ia sering bermain-main
dengan kambing yang lainnya. Ia merasa dirinya betul-betul seekor
kambing yang lemah.

Pada
suatu hari, ketika sedang merumput di padang rumput tertentu. Seekor
macan datang dan melakukan pemburuan terhadap kambing-kambing
tersebut. Tapi si macan keheranan, diantara kambing-kambing tersebut
ada seekor anak macan yang lari ketakutan. Akhirnya ia mengejar si
anak macan yang kecil tadi. Si anak macan pun tertangkap. Si Macan
menyadarkan si anak macan bahwa ia anak macan. Ia adalah calon si
raja hutan. Tapi si anak macan tidak percaya. Akhirnya si macan
membawa si anak macan pada sungai yang jernih. Dan ketika ia melihat
rupanya mirip dengan sosok yang membawanya. Ia sadar bahwa dirinya
adalah anak macan, calon si raja hutan. Akhirnya ia pun belajar
mengaum seperti layaknya seekor raja hutan.

Mungkin
Anda tidak percaya, bahwa Anda adalah calon pemimpin. Tapi semoga
forum ini betul-betul menyadarkan Anda bahwa Anda adalah yang kami
nilai layak untuk menjadi pemimpin forkoma berikutnya. Jadi tolong
jawab kepercayaan kami. Sekali lagi Anda adalah anak macan itu. Calon
raja hutan.

Sebagai
calon pemimpin Forkoma, Anda harus dapat melihat segala potensi yang
dimiliki oleh Forkoma. Saya melihat perjalanan Forkoma dari tahun ke
tahun terus mengalami perkembangan ke arah yang lebih baik. Ke arah
yang lebih maju. Link-link Forkoma sekarang sudah terbuka lebar.
Forkoma tidak pernah lagi kekurangan dana untuk melaksanakan
kegiatan. Punya donatur tetap. Tapi cukupkah itu semua? Bagi saya
tidak. Forkoma bisa menjadi lebih dari sekedar itu. Forkoma bisa
menjadi semacam organisai kemahasiswaan yang bersifat korporasi.
Forkoma punya potensi yang sangat besar. Dari segi input Anda sudah
sangat baik. Proses di UI sendiri saya nilai baik dan bagus. Di sini
terhimpun mahasiswa dari berbagai fakultas dengan skill yang
berbeda-beda tapi menurut saya saling melengkapi. Kita bisa
mengerjakan sesuatu yang lebih besar dan lebih bermanfaat. Kalau
selama ini kita hanya sebatas menawarkan proposal untuk mengadakan
kegiatan. Saya ingin suatu saat Forkoma tidak melakukan itu lagi.
Tapi segala kegiatannya dimodali oleh kas Forkoma sendiri. Hubungan
dengan para donatur berubah, bukan sebagai penyumbang dan penyalur.
Tapi bisa bersifat saling menguntungkan. Kita bisa mengerjakan
proyek-proyek pemerintah, swasta, atau apapun lah. Kita bisa
bekerjasama dengan LSM-LSM. Misalkan saja, sekarang sedang dibangun
konsep e-goverment di
Indonesia. Kita bisa membantu pemerintah. Misalkan kita buat website
yang bagus untuk kabupaten pandeglang. Sekali buat website minimal 20
jt lah. Dan kalau itu masuk kas Forkoma, kan sangat lumayan. Dan di
sini tersedia sumber daya yang mampu melakukan itu. Ada kang Uqon,
ada Ical, ada anak-anak baru yang di Fasilkom dll. Itu sudut pandang
saya sebagai orang yang belajar di ilmu komputer. Saya yakin
sudut-sudut pandang lain yang belajar di fakultas lain lebih banyak
bahkan mungkin lebih bagus. Kita melihat potensi besar itu, kenapa
kita tidak manfaatkan. Sehingga kalau selama ini kita bekerja hanya
dengan lillahi ta’ala, suatu saat kita ingin jerih payah
temen-temen juga dihargai dengan imbalan yang memadai. Misalkan
setiap bulan setiap pengurus Forkoma dapat uang saku 200 ribu
perbulannya. Itu kan lumayan. Dan saya yakin itu bisa. Oleh karena
itu, sadarlah sekali lagi bahwa Anda adalah anak macan yang suatu
saat akan menjadi macan betulan. Anda akan menjadi raja hutan.

Huh…panjang juga yang aku sampaikan. Proses eksplorasi terhadap
ide-ide dan gagasan-gagasan calon ketua forkoma terus berlanjut.
Setelah proses eksplorasi, para calon diizinkan untuk meninggalkan
tempat pemilihan. Musyawarah untuk menentukan siapa yang layakpun
dimulai sekitar jam 20.30-an.

Hehe..pas musyawarah ternyata lebih seru. Masing-masing yang hadir
memberikan penilaian terhadap masing-masing calon. Setelah proses
yang panjang. Satu calon dinyatakan gugur. Tinggal dua calon, untuk
menentukan siapa yang terbaik untuk memimpin forkoma satu tahun ke
depan. Masih tetap alot . Tidak ada titik temu. Sampai pukul 22.10
masih belum juga ditentukan siapa calon ketua berikutnya.
Masing-masing peserta masih memberikan pendapat-pendapatnya.
Penilaian didasarkan kepada kebutuhan forkoma ke depan. Tapi tetap
saja masih belum menemukan titik temu. Akhirnya untuk mengakhiri
kondisi yang berlarut-larut, dilakukan kesepakatan  untuk melakukan
pemungutan suara secara terbuka. Pemungutan pertama seri. 10 : 10.
pemungutan kedua pun terjadi. Hasilnya 11:9. hehe..akhirnya selesai
juga. Untung ada yang mengubah pilihannya. Kalau tidak, wah…tidak
selesai-selesai deh. Saudara Hasan FT (Mesin 2003) terpilih sebagai
Ketua, dan saudara Dimas FT(Elektro 2003) terpilih sebagai Sekum.

Selama mengikuti eksplorasi terhadap visi misi calon ketua dan
musyawarah untuk menentukan calon ketua. Aku agak kecewa. Ada
istilah-istilah asing yang muncul. Ada istilah sense of belonging,
segregation of duty, planning, leading dll. Aku sebetulnya
tidak antipati terhadap istilah-istilah tersebut. Tapi bagiku, aku
akan lebih senang menggunakan bahasa keseharian atau bahasa ibuku.
Toh masih ada padanan kata-kata tersebut dalam Bahasa Indonesia yang
aku cintai. Kenapa kita tidak menggunakan “rasa memiliki /
kepemilikan”, “pemisahan tugas / wewenang”, “perencanaan”
dan “kepemimpinan” untuk menggantikan istilah-istilah tersebut.
Apakah kita minder dengan bahasa kita? Saya bener-bener sedih. Saya
teringat perkataan Cak Nur, permasalahan bangsa ini yang paling
utama adalah bagaimana mengobati keminderan atas identitas
keindonesiaan kita.
Bagaimana kita berbicara tentang rasa
memiliki terhadap Indonesia, jika dari segi bahasa saja kita lebih
senang menggunakan bahasa-bahasa atau istilah-istilah asing? Hiks…

Sambil menunggu pasangan ketua dan sekum datang. Kita ngobrol-ngobrol
lagi. Tapi kali ini ada sesuatu yang seru. Tidak lagi ketawa-ketawa.
Tapi obrolannya menyangkut dialektika. Wah..bener-bener seru. Forkoma
bener-bener semakin maju. Kalau dulu hanya bergerak. Sekarang sudah
mulai juga berpikir. Alangka indahnya jika suatu saat Forkoma menjadi
organisasi pergerakan sekaligus sebagai organisasi pemikiran. Bukan
hanya religius tapi juga cendikia. Bukan hanya tahu tapi juga sadar.

Hehe..iseng-iseng aku melontarkan pertanyaan “Lebih tinggi mana,
percaya atau pembuktian?
”. Yang berani jawab cuman kang Uqon,
kang Fadli dan kang Adi. Dan jawaban mereka satu dan seragam. Percaya
lebih tinggi daripada pembuktian
. Dengan syarat dan kondisi yang
mereka tentukan tentunya. Sebenarnya saya ingin jawaban umum. Tanpa
syarat dan kondisi yang ditentukan. Aku hanya tersenyum. Jawaban
mereka terjebak oleh pertanyaannya. Bagiku percaya dan pembuktian
tidak dapat dibandingkan. Keduanya saling melengkapi seperti seorang
suami dan istri. Seperti dua sisi mata uang yang berbeda tapi saling
melengkapi. Dalam percaya, perlu pembuktian. Dalam membuktikan
sesuatu kita perlu pijakan yang jelas (yang berarti memerlukan
kepercayaan). Agama bagi saya adalah keimanan dan akal. La dina
liman la aqlu lah
.
Tidak ada agama bagi orang-orang yang
tidak menggunakan akalnya. Jadi dalam beragamapun, aku terkadang
memerlukan keraguan untuk menuju keimanan yang betul-betul teguh.
Sebab dalam keraguan aku berusaha menemukan bukti. Dalam keraguan ada
pembuktian.

Jam sebelasan Ketua dan Sekum baru Forkoma datang. Diberikan
kesempatan untuk memberikan sambutan dan kamipun memberikan ucapan
selamat. Semoga forkoma ke depan lebih baik lagi. Amin.

Acara ditutup dengan do’a. Jam 11.20 an kami pun pulang ke
masing-masing tempat kami.

Ya Allah, sebagaimana perintahmu untuk membaca. Iqra. Aku hari
ini telah membaca. Tapi bukan ayat-ayat kauliyahMu, tapi aku membaca
ayat-ayat kauniyahMu. Dan sebagaimana arti iqra yang bukan
saja berarti perintah untuk membaca, tapi juga perintah untuk
menghimpun dan mengumpulkan. Tulisan ini kumaksudkan untuk menghimpun
dan mengumpulkan makna. Semoga bisa mendatangkan makna bagi siapa
saja yang membacanya. Amin.

5 Ramadhan 1426 H / 9 Oktober 2005

October 9th, 2005 in catatan ramadhan   |

Comments are closed.

  • Pages

    • About
  • Archives

    • June 2007
    • May 2007
    • February 2007
    • January 2007
    • December 2006
    • November 2006
    • October 2006
    • September 2006
    • August 2006
    • July 2006
    • June 2006
    • April 2006
    • March 2006
    • February 2006
    • January 2006
    • December 2005
    • November 2005
    • October 2005
    • September 2005
    • August 2005
    • July 2005
  • Categories

    • catatan ramadhan (11)
    • cerita menyentuh (1)
    • Do'a (4)
    • event (4)
    • Film (1)
    • filsafat (5)
    • JAVA (6)
    • nyastra (22)
    • PERISTIWA (4)
    • Religion (13)
    • Travel (1)
    • tulisan (19)
  • Search on This Blog

  • Meta:

    • Log in
    • Friendster
    • RSS
    • Comments RSS


MADRASAH IBN RUSYD © 2007 All Rights Reserved.
Entries and comments.

Made by: Nurudin Jauhari.