2 - 1462 H
Terimakasih
Ya Allah kemarin aku pulang sebelum maghrib. Pertama kali aku
berbuka di kos baruku. Pertama kali juga aku melihat orang-orang di
sekitar masjid dekat kos buka bersama. Wajah-wajah mereka terlihat
senang ketika adzan berkumandang. Apalagi wajah si kecil anak ibu
kosku itu.
Saat
adzan berkumandang. Aku dapat melihat pancaran kebahagiaan di wajah
dan hati setiap mereka yang berpuasa. Pancaran kebahagiaan yang alami
tentu saja. Bukan pancaran kebahagiaan artifisial yang sering aku
saksikan di teve-teve stasiun swasta. Apalagi ekspresi si anak kecil
itu. Aku sangsi dia puasa sehari penuh. Tapi melihat antusiasnya
menyambut saat berbuka aku jadi teringat masa kecilku dulu. Aku
menipu orang tuaku. Hehe..aku memang ikut sahur. Aku juga mencoba
berpuasa. Tapi ketika waktu dzuhur tiba. Aku lirik sana-lirik sini
melihat ada seseorang yang memperhatikan atau tidak. Ketika kulihat
sepi. Aku tenggak air dingin sepuas-puasnya. Juga tentu saja
sisa-sisa makanan sahur keluarga. Tapi ketika adzan maghrib
berkumandang aku pun turut senang. Aku telah merasa berpuasa walaupun
tidak sempurna. Ya setidaknya setengah hari lah. Apakah si kecil itu
seperti aku? Aku tidak tahu. Tapi semoga saja tidak.
Terimakasih
telah memberiku nuansa yang indah ketika aku melihat anak kecil,
remaja dan orang tua berbuka bersama di masjid itu. Wajah mereka
berseri-seri. Begitu jelas ekspresi kebahagiaan mereka. Ketika itu
terjadi, aku tersenyum. Aku teringat ketika kekasihMu
menggambarkan kebahagiaan orang berpuasa. “Ada dua kebahagiaan
yang dimiliki orang yang berpuasa. Kebahagiaan yang pertama ialah
ketika saat ia berbuka dan kebahagiaan yang kedua ialah saat ia
berjumpa dengan Tuhannya”. Jika saat berbuka saja aku melihat
mereka begitu berbahagia. Apalagi saat nanti mereka berjumpa
denganMu. Entah seperti apa kebahagiaan mereka. Aku tidak tahu. Yang
aku tahu pasti mereka lebih bahagia dari saat berbuka itu. Di sinilah
aku merasakan begitu besarnya kasih sayangMu. Akupun jadi teringat
ketika berbuka puasa di kampus dulu. Ada banyak orang yang sebelum
berbuka tersekat-sekat kelompok pengajian atau mungkin pemahaman.
Tapi saat waktu berbuka tiba mereka semua menyatu. Menyapa orang yang
disampingnya walaupun tidak tahu nama. Di sini aku juga merasakan hal
yang sama. Kepadaku yang masih asing inipun mereka melemparkan senyum
dan menawariku untuk makan bersama. Sayangnya aku sudah beli makanan.
Indah betul nuansa itu Ya Allah. Terimakasih sekali lagi telah
membuatku menyaksikan kebahagiaan itu
Ada
satu pelajaran yang kuambil setelah melewati waktu semalam. Kau
membuka pintu rahmat yang sangat luas bagiku. Buka puasa kemarin
terhitung mewah dibandingkan saat berbuka puasa dihari pertama. Hari
pertama aku berbuka hanya dengan air putih. Itu pun dari kantor pula.
Tapi kemarin, Kau memeberiku berbagai makanan. Ada susu, ada kurma,
dan buah apel. Tapi maaf ya Allah, aku mungkin kelewatan. Setelah
berbuka dengan meminum susu dan beberapa biji kurma aku memaksakan
diri makan malam setelah shalat maghrib, padahal aku masih merasa
kenyang. Akibatnya saat shalat isya dan tarawih aku terkantuk-kantuk.
Tubuhku memang mengikuti gerak sang Imam. Tapi aku kok seperti tidur
begitu. Masa pas sholat aku kesulitan membuka mata. Dua puluh tiga
rakaat plus empat rakaat shalat isya pun jadi kurang bermakna
kayaknya. Seharusnya aku tidak terlalu ngantuk seperti itu. Sholat
tarawih yang 23 rakaat semalaman kan bacaannya santai banget. Sampe
kurang lebih satu jam untk sholat tarawihnya saja. Tapi kok, aku
sampe bisa ketiduran sambil sholat ya. Dan sebalnya itu tidak hanya
terjadi pas shalat tarawih. Saat aku kembali ke kos, aku betul-betul
ngantuk. Masih dalam hitungan sore akhirnya aku tertidur. Aku tidak
bisa tadarus. Jam 21an mataku tidak bisa kompromi lagi. Aku tidur.
Aku
berpikir dengan meminum susu, berbuka dengan kurma dan buah apel akan
membuatku lebih segar menyambut malam ketiga Ramadhan ini. Tapi
kenyataannya sangat sebaliknya. Inilah mungkin “apa yang
menurutmu baik belum tentu baik menuru Tuhanmu, dan apa yang
menurutmu buruk belum tentu buruk menurut Tuhanmu”. Dalam
menilai baik dan buruk untuk diri sendiripun nyatanya aku lemah. Dan
disinilah aku sadar betapa diriku begitu lemah, kurang, dan jahil.
Tak ada yang pantas untuk disombongkan. Di sinilah celah kurangku
sebagai manusia itu begitu jelas terlihat. Terimakasih Ya Allah telah
memberikan pengalaman ini.
3
Ramadhan 1426 / 7 Oktober 2005