MADRASAH IBN RUSYD

MADRASAH MEMBACA, MENGAMALKAN, DAN MENULIS

← pindah….!
2 - 1462 H →

1 - 1426 H

Malam Ramadhan memasuki
yang kedua. Aku diajak teman baruku untuk shalat Isya plus taraweh.
Oh iya, teman baruku ini namanya Peter. Orangnya kalem habis. Dari
namanya aku kira awalnya noni. Hehehe…tapi alhamdulillah ternyata
termasuk muslim yang taat. Sebenernya aku hanya tertarik shalat Isya
berjamaah. Sejujurnya kalau aku disruruh memilih untuk sholat tarawih
berjamaah atau sendiri, aku akan memilih tarawih sendiri. Tapi untuk
menghormati teman baruku ini, aku pun tarawih berjamaah. Sholatnya
sebelas rakaat. Lucu. Awalnya aku sholat niatnya dua rakaat. Soalnya
tidak ada bilal yang nyebutin jumlah rakaatnya. Hanya bilang
“Sholatakum jami’a rahimakumullah” tanpa menyebutkan
“rakataini” atau “arba’a rakaatan”. Aku memilih
default aja. Aku niat dua rakaat. Tapi setelah rakaat kedua bangun
lagi, aku sadar bahwa aku harus mengubah niatku menjadi empat rakaat.
Percis seperti kejadian yang kau ceritakan kepadaku kemarin, Dik.
Hehehe.. kita mengalami kejadian yang sama :)

Aku juga dulu sering
sholat seperti ini. Tapi setelah ngaji bareng dengan ulama di
kampungku aku pun tidak pernah melakukan shalat tarawih dengan cara 4
4 3 (kok mirip formasi sepak bola ya, tapi tanpa kiper). Imam Bukhori
memang menyebutkan suatu hadits dari Siti Aisyah yang menyebutkan
bahwa cara Nabi Saw sholat sunnah malam adalah sebelas rakaat dan
dengan cara 4 4 3. Tapi tafsiran guruku yang di kampung itu, itu
bukan menyatakan rakaatnya. Tapi menyatakan cara. Sholat Nabi itu
panjang-panjang. Setiap empat rakaaat Nabi Saw berhenti untuk berdoa
dan istirahat. Sedangkan rakaaatnya dijelaskan dalam kitab shahih
muslim yaitu dengan “Matsna Matsna”
dua rakaaat-dua rakaaat. Jadi Nabi Saw shalat dua rakaaat-dua
rakaaat. Setelah empat rakaat Nabi beristirahat sambil berdoa.
Kemudian memulai lagi. Setelah empat rakaat lagi, Nabi istirahat
sambil berdoa lagi.Ternyata untuk memahami hadits perlu juga hadits
yang lain :).

 

Kemeriahan Ramadhan
begitu terasa sekali. Masjidnya penuh. Sampai halaman di luarpun
terpakai untuk sholat. Nuansanya sangat indah. Tapi sejujurnya aku
pun bertanya-tanya akankan kondisi seperti ini terus bertahan sampai
akhir Ramadhan? Aku sangsi.

Ramadhan bagiku adalah
momen yang sangat istimewa. Walaupun mungkin kebanyakan orang
menganggap Ramadhan sebagai ladang untuk melipatgandakan pahala, aku
tidak berpikir seperti itu. Bagiku dalam ibadah tidak menghitung
pahala berapa kali lipat atau apa. Aku memahami kalimat “ibadah
sunnah pada bulan ini sama dengan ibadah wajib
” dalam artian
lain. Insya Allah aku tidak akan menghitung nilai ibadah seperti
pedagang yang ingin mencari untung. Yang ku pahami, karena kasih
sayangMu yang tak terukur kepada manusia yang pernuh dosa seperti aku
ini, Kau menjadikan Ramadhan sebagai momen untuk mengundang hambaMu
untuk lebih mengenal diriMu. “Sesungguhnya, setiap ibadah akan
kembali kepada si hamba saja, tapi tidak dengan puasamu, puasamu juga
untukKu
”. Di sini aku memahami puasa adalah sarana untuk
meneladani sifat dan perbuatanMu.

Kau mengundang
hamba-hambaMu untuk mengenal diriMu lebih dalam dalam bulan ini. Kau
istimewakan bulan ini, tapi bukan untukMu tapi untuk manusia yang
percaya kepadaMu. Kau mengundang mereka. Kau menjamu mereka.
Sementara Sang KekasihMu mengajarkan “adalah wajib mendatangi
setiap undangan
”. Jika manusia saja wajib didatangi
undangannya, apalagi diriMu. Dan aku tahu, Kau adalah sebaik-baik
penjamu bagi para tamuMu. Itu saja. Aku tidak akan menghitung untung
rugi dengan diriMu. Sebab bagi siapa saja yang percaya kepadaMu. Maka
kau menjamin mereka semua. Dan siapakah yang melebihi jaminanMu.
Tidak ada. Sebab kau adalah sebaik-baik Penjamin. Tapi toh aku
mengerti mereka semua yang beribadah kepadaMu karena ingin pahala
yang lebih banyak. Toh itu sebuah konsekuensi dari pemahaman
seseorang. Imam Ali Kw sendiri pun membagi manusia yang beridah
kepadaMu menjadi tiga bagian. Pertama, adalah
mereka yang beribadah kepadaMu dengan mengharapkan surgaMu. Mereka
ini adalah tipe pedagang. Dengan ibadahnya yang sedikit, mengharapkan
surgaMu yang tak terukur nilainya.
Kedua, adalah
mereka  yang beribadah kepadaMu karena takut siksa (neraka) Mu.
Mereka inilah hamba tipe hamba sahaya atau budak. Mereka beribadah
kepadaMu karena takut mendapatkan hukumanMu. Seperti budak yang
mengerjakan semua kewajibannya karena takut majikannya akan
memukulnya jika ia tidak mengerjakan pekerjaannya itu.
Ketiga,
adalah mereka yang beribadah
kepadaMu karena ia cinta kepadaMu. Karena melihatMu Maha Indah, Maha
Sempurna, melihatMu hanya satu-satunya yang pantas untuk disembah. Ia
beribadah kepadaMu karena ingin mengeladani sifat-sifatMu dan
mengejewantahkannya di dalam bumiMu. Mereka tidak peduli pada surga
dan nerakaMu. Mereka hanya peduli padaMu karena diriMu lah pencipta
surga dan neraka itu. DiriMu lebih agung dari sekedar surga dan
neraka. Maka Ya Allah, jadikanlah aku termasuk mereka yang beribadah
karena cinta kepadaMu. Amin.

October 5th, 2005 in catatan ramadhan   |

Comments are closed.

  • Pages

    • About
  • Archives

    • June 2007
    • May 2007
    • February 2007
    • January 2007
    • December 2006
    • November 2006
    • October 2006
    • September 2006
    • August 2006
    • July 2006
    • June 2006
    • April 2006
    • March 2006
    • February 2006
    • January 2006
    • December 2005
    • November 2005
    • October 2005
    • September 2005
    • August 2005
    • July 2005
  • Categories

    • catatan ramadhan (11)
    • cerita menyentuh (1)
    • Do'a (4)
    • event (4)
    • Film (1)
    • filsafat (5)
    • JAVA (6)
    • nyastra (22)
    • PERISTIWA (4)
    • Religion (13)
    • Travel (1)
    • tulisan (19)
  • Search on This Blog

  • Meta:

    • Log in
    • Friendster
    • RSS
    • Comments RSS


MADRASAH IBN RUSYD © 2007 All Rights Reserved.
Entries and comments.

Made by: Nurudin Jauhari.