MADRASAH IBN RUSYD

MADRASAH MEMBACA, MENGAMALKAN, DAN MENULIS

Archive for October, 2005


8 - 1426 H -untukmu tuhan

sederhana saja
aku hanya ingin curhat
kepadamu tuhan
bukan tentang mimpi
atau rasa hati
tapi tentang
apa yang telah terjadi

maafkan aku tuhan
aku belum berniat
menjadi terang
karena aku tahu
aku adalah gelap
aku adalah alfa
aku adalah dosa

maafkan aku tuhan
aku tidak pernah berbicara tentang jihad
atau pembelaan terhadap saudara-saudaraku
di irak, palestina, kashmir dan lain-lain
karena aku tahu dalam doaku masih egois
jarang sekali mengingat mereka
jadi aku malu untuk berbicara tentang mereka

maafkan aku tuhan
aku selalu mencari alasan
untuk komitmen-komitmen
yang tidak dapat aku laksanakan

tuhan
aku meminta
ketika aku melakukan kesalahan
cegah aku untuk mencari alasan
karena guruku mengajarkan
adalah lebih mulia
mengakui kesalahan dibandingkan
dengan berbuat kebaikan

hanya itu tuhan
terimakasih selalu mendengarkan
terimakasih untuk kasih sayang
yang kau berikan

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Sapardi Djoko Damono

7 - 1426 H

 

Kemarin, malam Rabu aku nginep di kos kang Uqon. Aku langsung berangkat dari kantor. Tidak sempat mampir di kosku dulu. Makan malam sama kang Uqon di gundar sana. Sudah beberapa kali makan bareng di tempat itu. Pertama kali bareng adikku yang dari Fasilkom, tapi kebanyakan aku makan di tempat itu bareng kang Uqon. Menu malam itu nasi goreng dan es capucino. Tumben kita kompak saat itu. Aku mesen makanannya, kang uqon mesen minumannya.Biasa sebelum, sambil dan sesudah makan cerita-ceritapun mengalir. Tapi kali ini aku tidak ingin bercerita tentang pembicaraaan kami saat itu.

Aku ingin bercerita ketika aku pulang dari tempat kang uqon. Mulai dari terminal sampai aku sampai ditempatku. Aku pulang dari tempat kang uqon jam setengah enam pagi. Setelah nonton pertandingan siaran tunda tim kesayanganku, MU. Tidak seperti biasanya, aku langsung menuju terminal. Dulu, ketika aku masih di Depok, aku nunggu bus dari halte gundar. Tapi pagi itu aku langsung menuju terminal. Hehe..biasa, supaya dapat tempat duduk yang nyaman.

Bus yang biasanya aku naiki adalah bis no 102. jurusan Tn.Abang – Depok. Aku nunggu sebentar. Tidak berapa lama kemudian datanglah bus jurusan yang aku nantikan. Tapi…keselnya, bus itu tidak lekas membukakan pintu. Padahal penumpang sudah semakin berkerumun. Ada hampir lima menit, penumpang yang lain pun berdatangan. Dan tetap saja pintu bus itu tidak dibukakan. Penumpangpun terus menunggu. Tapi tetap saja pintu bus itu tidak dibukakan juga. Si sopir malah asik menutup seluruh mukanya dengan kain sarung yang dibawanya. Calon penumpang mulai kesal, dan bertanya pada si sopir. Tapi si sopir tetap cuek saja. Wuh…aku kesel banget ngeliat tingkah sopir ini. “Bulan-bulan ramadhan buat kesel banyak orang” keluhku, hehe..bulan lain juga ga boleh bikin kesel sama orang ding. Setelah beberapa lama kemudian si sopir keluar sambil berkata “tidak bisa!”. Dan ia cuek melangkahkan kakinya menuju suatu tempat yang aku tak tahu. “Aduh Pak, ya toh bilang dari tadi kek kalo memang ga bisa, biar kita bisa nyari alternatif lain” gumamku dan mungkin juga gumam calon penumpang-penumpang lain yang tampak kesal. Ternyata, dalam membawa mobilpun fakor akhlak sangat penting ya…apa jadinya kalo para calon penumpang tersebut berdoa jelek semua. Akhirnya aku pun mencari alternatif lain.

Aku tidak pernah naek jurusan lain saat menuju kantor. Seperti kemarin, aku pun coba-coba. Males nanya-nanya. Kayaknya lebih seru aja mencari pengalaman baru. Sama seperti kemarin, ketika aku janji ketemu dengan teman di Mal Kelapa Gading. Aku juga hanya coba-coba. Hehehe..akhirnya aku harus berputar-putar disebagian terminal besar di Jakarta. Dari thamrin menuju senen, dari senen akhirnya aku bisa ke Mal Kelapa Gading. Jalan pulangnya tidak tahu. Aku naik mobil kecil yang awalnya membawaku ke kelapa gading. Ku kira akan kembali ke senen tapi mobil kecil itu membawaku di terminal Pulo gadung yang katanya serem itu. Dari pulong gadung aku iseng juga. Aku hanya menuruti kakiku naik mobil jurusan blok M, dari Blok M aku baru naik bus way ke kosku. Kali ini pun aku nekad juga. Aku naik jurusan kota. Setidaknya dari kota ada busway lah. Jalan-jalan yang dilalui bener-bener asing. Beda banget sama yang jurusan tanah abang. Tapi untungnya kali ini insting iseng dan nekadku rupanya tepat. Akhirnya mobil itu sampai juga dibunderan HI..hehehe berarti pasti lewat sarinah yang biasa aku turun di sana. Selamat deh.

Nah sekarang mulai masuk ke inti catatan ramadhannya.

Di dalam bus menuju kota inilah aku mendapatkan berbagai hikmah yang dikeluarkan oleh seorang seniman muda. Ia membaca beberapa puisi yang dicampur dengan iringan seruling. Pertama ia membaca sajak yang bercerita seorang kakek yang merenungi segenap perjalanan hidupnya. Dari jaman perjuangan hingga zaman pembangunan ini atau mungkin zaman yang disebut reformasi ini. Masih ingat ketika ia mengangkat senjata mengusir penjajah. Sambil mengisap rokok kreteknya di bawah pohon sang kakek memandang pembangunan yang meriah.”tapi kok aku semakin terasing” renung si kakek. “aku semakin tidak bahagia..!” lanjutnya pula. Perkembangan pembangunan ini tidak memanusiakan manusia begitulah intinya. Aku pun jadi teringat Ali Syari’ati dan Marx. Keduanya sama gelisah, ketika peradaban yang dihasilkan manusia modern justru semakin membuat manusia semakin merasa asing dengan dirinya. Teralenasi, begitulah Syari’ati dan Marx menyebutnya. Marx marah dengan peradaban seperti itu, sementara Syari’ati lebih tenang. Marx marah pada kapitalisme dan menyatakan perang dengannya melalui ideologi baru yang ia cetuskan (komunisme). Sementara Syari’ati mengajak kita untuk menggali kembali ajaran-ajaran agama. Islam adalah agama pembebasan dan revolusi, begitu kata Ali Syari’ati. Pembebasan bagi mereka yang merasa tertindas. Pembebasan bagi mereka yang merasa terasing. Revolusi dari gelap menuju cahaya. Revolusi dari penindasan menuju keadilan. Revolusi dari tuhan-tuhan palsu menuju Tuhan Hakiki. Tapi melihat fenomena keberagaman kita yang lemah, rasanya kita mungkin berislam dengan cara yang salah. Hehehe sok tau banget sih aku. Tuhan-tuhan palsu itu tidak pernah hilang dari diri kita. Kalau dulu mungkin tuhan-tuhan palsu itu adalah real sehingga kita sadar untuk menumpasnya. Sekarang tuhan-tuhan palsu itu maujud dalam penyembahan kita terhadap materi, kedudukan, dan nafsu kita dalam mencari kesengangan. Mungkin secara tanpa sadar kita telah menyembah tuhan palsu yang bernama uang. Segala aktivitas kita ditujukkan untuk uang. Bahkan kita belajar pun kemungkinan besar untuk uang, bukan untuk mencari keberkahan.

Karena keberkahan tidak kita dapatkan. Uang, materi, kedudukan atau apapunlah atrbiut-atribut yang biasanya kita banggakan tetap tidak membawa kita pada sesuatu yang kita cari, kebahagiaan. Sang seniman jalanpun berkata. “Ternyata masyarakat modern itu sangat membutuhkan nasihat, tapi satu ciri khas masyarakat modern, segala sesuatunya ingin yang cepat dan instan. Waktu hidupnya sulit untuk mengkaji hikmah kehidupan, ia sulit untuk mengkaji filsafat dan yang lainnya. Makanya untuk menasihati dirinya (dalam rangka mencari kebahagiaan) ini buku-buku tulisan Kahlil Gibran laris manis, tempat-tempat meditasi ala Anand Krishna dan yoga banyak di buru orang. Mereka tidak kekurangan materi, tapi kok mereka tidak bahagia. Memang uang tidak menghasilkan kebahagiaan, tapi ketidakbahagiaan justru selalu menghasilkan uang ” katanya bijak.

Aku pun jadi ingat nasihat guruku. “Carilah keberkahan dalam hidupmu, jangan cari yang lainnya. Jika keberkahan bersamamu, disitulah kamu akan menemukan kebahagiaan.” Ya Allah bantu berikan aku keberkahan dalam hidupku. Balas aku dengan Kasih SayangMu, jangan balas aku dengan KeadilanMu. Amin.

16 Ramadhan 1426 H / 20 Oktober 2005

6 - 1426 H - catatan untukmu dek…

 

di batas waktu

kala adzan sebentar lagi menyela

kita mulai berbagi cerita

tentang mimpi-mimpi

tentang diri dan keluarga

juga tentang harapan di hari depan
*****************************************

*****************************************

ceritamu riuh dek

penuh tawa

penuh manja

tapi terkadang serius juga

apalagi ketika kau bercerita

tentang saudaramu yang katamu

kelihatan sudah tua

)))))))))))))))))))))))
(((((((((((((((((((((((

 

kau bercanda

dengan mengatakan

kau akan menikah empat bulan lagi,

ku kira kamu serius dek

hehe…tiba-tiba saja

terdengar tawamu sambil berkata

“empat bulan ramadhan lagi ka arif!”

kau betul-betul cerdas dek…

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
++++++++++++++++++++++++

ceritamu terus mengalir…

tawa-tawamu juga

ah..doaku semoga kamu tetap ceria dek..

dan sekali lagi aku ingin katakan

aku sayang kamu dek…

—————————–
—————————–

oh…iya, kamu minta empat

aku minta dua

bagaimana kalau tiga saja

hahaha…kau pasti tertawa

ah…sudah ah..

$$$$$$$$$$$$$

16 Ramadhan 1426 / 20 Oktober 2005

5 - 1424 H

 

Jum’at yang lalu kang Uqon bertanya padaku. Apakah aku sudah membaca resonansi republika edisi hari itu. Aku pun langsung membacanya. Aku kaget. Banten menjadi sorotan oleh penulis resonansi edisi itu. Hal yang paling utama disoroti adalah masalah kemiskinan dan kebodohan di Banten.

Zaim Ukhrowi sang penulis resonansi katanya awalnya menerima telpon dari seorang Muslimah yang tinggal di Philipina yang memohon agar kang Zaim Ukhrowi lebih memeperhatikan Banten. "Tolonglah Banten!" pinta sang muslimah. Dan pembahasan selanjutnya pun bercerita tentang kegiatan kang Zaim Ukhrowi ini dalam berinteraksi dengan orang-orang miskin di berbagai daerah.

Akhirnya penulisanpun difokuskan pada Banten. Katanya ia mengunjungi Banten untuk terakhir kalinya lima tahun yang lalu. Dari pengalaman yang lima tahun yang lalu itulah ia membuat analisa tentang kebodohan dan kemiskinan masyarakat Banten secara umum. "Saya tidak tega, saya tidak tahan ketika saya bertemu dengan beberapa puluh petani yang kurus itu ketika saya di …(duh lupa Mojokerto atau apa ya, pokoknya daerah jawa), dan kini saya harus dimintai untuk bertemu dengan orang-orang yang keadaannya lebih parah dengan jumlah yang lebih banyak. Bukan hanya puluhan tapi ratusan, ribuan, ratusan ribu atau mungkin jutaan atau bahkan puluhan juta" kurang lebih seperti itu kang Zaim menuliskan.

Banten yang dulunya termasuk salah satu pusat peradaban di jawa bahkan di Indonesia kini kondisinya berbalik. Banten kini menjadi daerah yang paling tertinggal dibandingkan dengan daerah yang lain. Kalau dulu Sultan dan keturunannya menjadi penyebara utama Islam di Jawa Barat, tapi sekarang untuk bertahan hidup saja, keturunan sultan itu harus menjual kopyah nenek moyangnya bagi para penziarah. Kalau dulu Banten menjadi pusat perdagangan yang rakyatnya hidup makmur, tapi kini rakyat Banten menjadi rakyat pengemis. Kurang lebih seperti itulah kang Zaim menggambarkan.

Membaca seluruh tulisan kang Zaim itu, perasaanku antara malu dan marah. Malu karena memang sebagian yang ada dalam tulisan itu adalah ada dan betul adanya. Tapi marah karena saya menilai penulisan itu terlalu berlebihan dan terlalu memandang rendah Banten.

Aku mengakui adalah fakta bahwa di sekitar Masjid Banten banyak penduduk yang mengandalkan mata pencahariannya sebagai pengemis. Tapi aku juga agak sangsi apakah mereka betul-betul warga Banten, bukan orang jauh. Aku pernah kaget ketika aku sedang berada di Balairung UI. Aku bertemu dengan beberapa orang pengemis kecil. Mereka menggunakan bahasa Jawa, logatnya mirip dengan pengemis-pengemis yang berada di masjid Banten. Aku pun melakukan percakapan dengan menggunakan bahasa jawa serang untuk membangun keakraban dengan para pengemis kecil ini. Dan aku kaget, ternyata mereka, anak-anak kecil ini berasal dari suatu daerah yang sangat jauh di sana, bukan Serang tapi Indramayu. Kalau Anda sering mendengar percakapan berbahsa jawa serang, cobalah bandingkan dengan logat para pengemis yang ada di Banten. Kalau Anda jeli, Anda akan menemukan sedikit perbedaan. Intonasi huruf mereka lebih dalam dan berat. Mirip dengan para pengemis yang sering saya temui di sekitar Masjid UI.

Aku pun menerawang. Mengingat saudaraku yang tinggal di sekitar istina Surosowan sana (tepatnya ia tinggal disuatu kampung yang disebut Keroya). Kalau aku melihat kehidupannya, ia termasuk orang yang sangat miskin. Ia tinggal dengan beberapa orang anaknya. Tapi kemiskinan tidak membuat dirinya dan anak-anaknya menjadi pengemis. Ia bertahan, dan sepenuhnya yakin ia bisa makan tanpa mengemis. Dan betul saja ia bisa bertahan dan bisa menikamati kehidupannya walaupun sebagai orang miskin (sekali lagi tanpa mengemis).

Adalah betul orang-orang semacam saudaraku tersebut memang sangat banyak di Banten. Tapi sepengetahuanku juga, mereka yang memang asli orang Banten tidak pernah mengemis. Mereka lebih bisa menahan diri. Mereka lebih senang menjadi kuli daripada menjadi pengemis. Rasa malu mereka tinggi.

Sebagaimana kita ketahui bersama. Penziarah di Banten tidak pernah sepi. Setiap hari selalu saja ada penziarah yang datang. Aku lebih kurang sebulan yang lalu mengunjungi Masjid Banten, karena setahun lebih aku tidak ke sana. Saat itu juga ramai seperti biasa. Temanku yang dari daerah jawa itu terkaget-kaget. "Rame banget ya Wong!" katanya saat itu. "Kenapa tidak pakai sistem tiket?" tanyanya lanjut. Aku pun menjelaskan. Sebetulnya pemerintah Serang melalui Dinas Pariwisatanya pernah akan menerapkan sistem seperti itu. Tapi pihak keluarga Sultan sebagai pengelola resmi tidak setuju. Keluarga Sultan atau para tubagus itu khawatir jika sistem tiket itu diterapkan maka orang-orang miskin tidak bisa lagi masuk areal daerah wisata Banten. Para tubagus itu juga khawatir kalau sistem tiket itu diterapkan maka para pengemis itu akan diusir. Kan kasian. Iya, kalau pemerintah membuka lapangan pekerjaan buat mereka. Kalau tidak mereka akan bermata pencaharian sebagai apa?. Keluarga Sultan tetap menginginkan Banten sebagai wilayah yang terbuka. Tidak peduli orang miskin atau orang kaya bisa masuk. Sehingga sistem tiket itu ditolak oleh keluarga Sultan. "Lagian kayak lo tidak tahu aja, kalau sistem tiket pemerintah itu kayak gimana?" guyonku saat itu.

Di mataku, keluarga Sultan adalah keluarga yang sangat memperhatikan rakyat kecil dan orang-orang miskin. Makanya aku marah ketika kang Zaim menuliskan kalimat berikut "Kini para keturunan Sultan itu harus menjual kopyah moyangnya untuk dapat sekedar bertahan hidup". Di situ ada nada merendahkan. Ada nada mengecilkan. Ada nada menyepelekan. Aku yang kenal dengan akhlak para keturuanan Sultan ini jelas-jelas tidak terima. Keturunan Sultan Banten setahuku adalah orang yang paling lembut dalam tutur katanya. Paling halus perangainya. Paling malu dalam keramaiannya. Di wajah-wajah mereka aku menemukan cahaya dan ketenangan. Memandang wajah-wajah mereka pun terkadang aku tak sanggup. Mereka adalah kumpulan orang-orang yang zuhud terhadap dunia. Mereka selalu menjadi pilar-pilar cahaya dan teladan orang-orang disekitarnya. Mereka tidak banyak berkata-kata. Mulut mereka dibasahi dengan dzikir kepada Allah Swt. Karena akar mereka berasal dari akar kenabian. Setiap keturunan Sultan Banten berarti keturunan Rasulullah Saw. Sedangkan sang Nabi sendiri berkata "Setiap sebab dan nasab (keturunan) akan putus pada hari kiamat kecuali sebab dan nasabku". Ya Allah aku marah karena kecintaanku pada ahlul bait nabiMu. Menghina mereka berarti menghina NabiMu. Ya Allah aku mencintai mereka dengan segenap tulus hatiku. Ahlul bait nabiMu adalah pelita bagi hidupku. Mereka adalah perahu Nabi Nuh yang barang siapa menaikinya ia akan selamat, dan barang siapa menyombongkan diri (tidak mengambil teladan dari mereka) maka ia akan celaka. Sejujurnya air mataku menetes saat mengingat ahlul baitmu ya Rasul. Pantas saja Imam Syafi’i pernah berkata "Jika dengan mencintai Ahlul Bait Nabi orang-orang menganggapku sebagai Rafidhah, maka saksikanlah akulah orang yang pertama menjadi Rafidhah". Shalawat dan Salam bagimu ya Rasulullah dan juga bagi ahlul baitmu yang disucikan (Al-Ahzab : 33).

13 Ramadhan 1426 H / 17 Oktober 2005

4 - 1426 H - catatan untukmu bro..

Kau menelponku ketika aku sedang mengikuti rapat pemilihan ketua
Forkoma. Katamu kau ingin bertemu denganku. Ingin berbagi cerita. Kau
bilang bahwa kau baru saja pulang dari pandeglang dan masih dalam
perjalanan. Kau sedang menuju Depok. Aku bersedia datang ke kosmu.
Tadinya aku berencana menginap di kos Dhino, tapi karena kau meminta
dan mengundangku untuk bermalam dikosmu, aku pun akan datang ke
kosmu. Tapi setelah rapat selesai kataku. Ya, kau pun setuju dan akan
menungguku.

Setelah rapat itu aku langsung menuju kosmu. Hehe…betul saja. Kau
sedang asik maen PS. Kau berhenti sejenak dan menyambut kedatanganku.
Kau menanyakan kabarku. Dan sebagaimana yang kau lihat. Aku baik-baik
saja.

Seperti biasa, kau mengajakku maen PS. Dan semua ceritamu mengalir
begitu saja ketika kita sedang bermain PS itu.

Bro..aku baru bertemu dengan calon mertuaku. Sudah dua kali aku
ke pandeglang. Dan pertemuan tadi adalah penentuan hari kami akan
menikah
” katamu dengan ekspresi yang sangat tenang. Sementara
tangan kita masih terus memainkan game Juventus vs MU. Tentu saja aku
MU dan kau Juventus.

Kapan kau akan menikah, Bro..?

Insya Allah tanggal 10 Syawal, bertepatan dengan tanggal 12
Oktober 2005
”.

Aku masih ingat terakhir ketika kita bertemu, kira-kira tiga minggu
yang lalu. Saat itu kau bilang bahwa ada seorang perempuan yang lebih
tua darimu yang memintamu untuk menikahinya. Kau bilang, umurnya tiga
tahun lebih tua darimu. Kau 23 tahun, dan dia 26 tahun. Kau bilang
awalnya dia orang yang kau anggap teman. Tapi kau begitu kaget ketika
dia mengungkapkan rasa cintanya kepadamu dan langsung mengajakmu
mendatangi mahligai suci itu.

Aku juga tahu ketika dia mengungkapkan rasanya kepadamu. Kau baru
saja dikecewakan oleh seorang wanita. Dik Fanny mu itu meninggalkanmu
dan dia menikah di Padang sana. Aku tahu kau kecewa berat. Bahkan
sempat terlontar ucapan sinismu pada makhluk yang berjenis hawa itu.
Dasar perempuan!” katamu saat itu. Aku mengerti
sepenuhnya kekesalanmu saat itu. “Cintamu kepada dik Fanny itu
mungkin kelebihan Bro..sehingga Tuhan cemburu kepadamu
” guyonku
saat itu. Dan kau pun tersenyum.

Sekarang aku dengan jelas melihat ekspresimu lebih tenang. Lebih
matang. Setelah berkonsultasi dengan orang tuamu dan mempertemukan
Bunga dengan orang tuamu. Kau mantap. Kau akhirnya berani mengambil
keputusan besar itu. Tapi salutku kepada Bungamu itu. Dia perempuan,
tapi dia berani mengungkapkan rasanya.

Mungkin, selama ini aku buta Bro…, aku mengharapkan cinta dik
Fanny yang jauh di sana, sementara di sini, ada cinta yang dikirimkan
Allah untukku yang tidak aku sadari. Memang dalam banyak hal, aku
terkadang tidak mendapatkan apa yang aku inginkan. Tapi Bro..aku
selalu mendapatkan lebih dari yang aku inginkan
.” kau berkata
mantap dan tenang.

Allah memberi segala kemudahan untuk prosesi pernikahanku.
Biaya perkawinan ini akan ditanggung oleh orang tua perempuan.
Tadinya aku hanya ingin akad saja. Untuk resepsi bisa dilakukan lain
waktu. Karena aku tidak siap dengan keuangan untuk resepsi. Tapi
orang tua pihak perempuan menginginkan resepsi dan katanya aku tidak
usah khawatir masalah biaya. Mereka sepenuhnya mengerti keadaanku.”
Katamu melanjutkan.

Aku senang mendengar semua penuturanmu Bro…, memang dalam banyak
hal semenjak aku mengenalmu, aku tahu, Allah selalu bersamamu.
Tulusmu kepadaNya betul teguh. Aku sering iri melihat tulusmu
kepadaNya. Walau kau sering memintaku untuk mengajarkan Nahwu
dan Sharaf kepadamu, tapi sejujurnya akulah yang banyak
belajar darimu. Banyak belajar dalam merasakan kasih sayang dan
ketulusan Tuhan. Mungkin kedudukanmu di hatiku seperti kedudukan
Syamsudin Tabriz di sisi hati Rumi. Rumi memang mengajarkan ilmu
kepada Syamsudin. Tapi sebenarnya Rumilah yang paling banyak belajar
dari Syamsudin dalam mengenal cinta Allah. Sehingga ketika Syamsudin
menghilang, Rumi sangat menderita. Rumi menuliskan Diwan Syamsudin
Tabriz
untuk menggambarkan segenap rindunya kepada Syamsudin. Dan
tahukah kau Bro.., jika aku pernah begitu rindu pada seorang sahabat,
kaulah orangnya itu.

Melihat wajahmu, aku menemukan pancaranNya. Kau tidak begitu banyak
berkata. Setiap katamu adalah pilihan-pilahan mutiara. Kau tidak
menemukan Tuhan dari berbagai literatur dan kata orang. Kau merasakan
kehadiranNya dalam setiap detik yang kau lalui. “Aku tidak
menemukan Tuhan di Pesantren, di buku-buku, di masjid-masjid dan lain
sebagainya. Aku menemukan Tuhan dalam setiap jalan kehidupanku, di
setiap kesedihanku, di setiap lapar dan dahagaku, direruntuhan dan
kepingan-kepingan bersama mereka yang mungkin tersisihkan.

Masih terekam ucapanmu dengan jelas sampai saat ini Bro…

Sekarang, kau akan hidup dengan “Khadijahmu”. Kau bangga
kepadanya. Katamu, ia perempuan yang mandiri. Bisa mengurus diri
sendiri. Pandai berbisnis. Penghasilannya mungkin lebih besar darimu,
itu sendiri katamu. Doakan aku lekas menusul Bro…Jika kau
mendapatkan “Khadijah”mu. Doakan aku mendapatkan “Fathimah”ku.
Aku sadar, Fathimahku nanti bukanlan Fathimah seperti bunda kita
“Fathimah Az-Zahra” yang suci itu. Yang tidak pernah mengalami
Haid dan Nifas. “Fathimah”ku adalah seseorang dengan segala
kekurangannya tapi mencintaiku dengan apa adanya.

Semoga kau dan “Khadijah”mu menjadi keluarga yang Sakinah
Mawaddah Wa Rahmah. Menjadi keluarga yang tenang, penuh cinta dan
kasih sayang Tuhan. Amin. Insya Allah aku akan datang di hari itu
Bro…:)

6 Ramadhan 1426 H / 10 Oktober 2005

3 - 1426 H - Pemilihan Ketua Forkoma

Sabtu
kemarin aku membatalkan rencanaku bersama Edison untuk pergi ke
Mangga Dua. Karena aku khawatir aku akan telat menghadiri rapat
Pemilihan Ketua FORKOMA. Edison bilang kita sampai jam 12 saja di
Mangga Duanya, terus kamu boleh langsung ke Depok. Tapi saat aku
membaca waktu pelaksanaan rapat di web adalah jam 13.30, aku takut
telat. Akhirnya dalam hitungan pagi aku berangkat menuju Depok. Jam
9.00.

Sampai
di Depok, pukul setengah sebelasan. Aku mampir ke kosan Dhino
sebentar, tapi ternyata orangnya lagi ga ada. Ya sudah aku sekalian
aja mampir ke kos adikku, kebetulan ia memesan buku bacaan kepadaku.
Aku membawanya dan akan menyerahkannya secara langsung. Tapi saat aku
berada di depan kosnya, dia juga sedang tidak ada di kos. Dia sedang
di kampus. Hehe…rajin sekali De, sabtu-sabtu kok ke kampus. Aku pun
berencana untuk ke kos Aip. Soalnya waktu pindahan kemarin aku
meminjam tasnya untuk mengangkut barang-barangku. Tapi lagi-lagi
Aipnya tidak ada. Lagi pulang ke Bogor. Untungnya aku ketemu Adli,
tapi lagi-lagi Adli juga mau pergi, sedang ada janji sama temennya.
Tapi aku dipersilahkan untuk tinggal di kamarnya. “Ya, sudah! Kamu
di sini aja dulu, jam satuan aku kembali. Aku  kangen sama kamu.
Pengen ngobrol-ngobrol banyak, tapi aku harus pergi dulu sekarang”.

Aku
tinggal di kamar Adli dari jam 11-an. Setelah Adli pergi aku dapat
telepon dari Dhino. Katanya sekarang dia berada di depan kos baruku.
Di Kebun Kacang 6 daerah Thamrin sana. Walah bro..aku tadi ke kosmu
sementara rupanya kau juga ke kosku.  Kenapa ga bilang-bilang mau
maen ke kos? Hehe…akhirnya kau pun terpaksa harus pulang ke Depok
lagi.

Jam
12-an Dhino dan Ferdy datang ke Kos Adli. Ngobrol-ngobrol sebentar
kemudian meneruskan perjalanannya kembali. Aku shalat dzuhur di kamar
Adli. Jam setengah satuan Eries kirim SMS untuk janji ketemuan di kos
Mican. Jam satu tepat Adli datang ke kos. Sebenernya aku mau langsung
pamitan untuk ketemu Eries. Soalnya jam setengah dua kan rapat
FORKOMA. Tapi tidak enak juga langsung pamitan. Ngobrol-ngobrol
sebentar dan akhirnya akupun pamitan.

Pas
ketemu Eries dan Mican sudah jam 13.30, hehe sudah waktunya rapat
FORKOMA pikirku. Aku pun tidak bisa berlama-lama. Padahal lagi
seru-serunya. Aku pamitan kepada mereka. Sebenarnya aku tidak enak.
Kesannya sibuk banget gitu. Aku cepet-cepet pamitan karena aku belum
tahu tempatnya. Aku datangi kang uqon, lagi santai-santai. Rapatnya
jam dua kok rif, kata uqon. Jam dua lebih dikit aku dan uqon pergi ke
kos Usep dan teh Kiki. Sampai di sana jam 14.20-an. Kok masuknya jauh
banget ya…pikirku. Eng..ing..eng..nyampe sana belum ada satu orang
pun. Ternyata kita orang yang paling awal datang. Aku pikir aku sudah
telat.

Habis
asaran anak-anak yang lain baru pada datang. Tapi masih sedikit juga
seh yang datang. Sambil nunggu yang lain, biasa kalau anak FORKOMA
sudah ngumpul pasti urusannya ga jauh-jauh sama hal yang namanya
ketawa. Ngelucu mulu. Kayaknya anak-anak FORKOMA kalau ikut kontes
API bisa jadi juara deh :). Aku yang biasanya hanya ikut ketawa,
ikut-ikutan nimpalin hal-hal lucu yang dilontarkan. Usep kayaknya
bingung melihatku yang diluar biasanya. “Wah Arif kayaknya habis
kepanasan neh” kata Usep. Aku hanya tertawa.

Acara
pemilihan sendiri baru bisa dimulai jam 17.20-an. Awalnya cuma anak
laki-lakinya aja yang ikutan. Tapi tidak berapa lama kemudian yang
wanita pun berdatangan untuk bergabung. Prosesi pemilihan sendiri
santai dan lucu. Kata “Oplos” yang diikuti gelak tawa mewarnai
seluruh prosesi pemilihan. Awal pemilihan masing-masing kandidit
menyampaikan visi dan misinya. Setelah itu eh…suruh baca Al-Quran.
Tidak terbalik tuh Bro…? lucu juga, setelah menyampaikan visi
misinya sang MC bilang “ya rasanya tidak afdhol, kalau orang Banten
yang dikenal dengan religiusnya kalau tidak membaca quran. Oleh
karena itu masing-masing kandidat dipersilahkan membaca sari
tilawah al-quran
. Hehe…Sari
tilawah?
Ga salah tuh Bro..?
kontan saja yang lain pada ketawa. “Oplos” si Adi yang iseng
berinisiatif memeriahkan suasana. Suasana tawa pun semakin meriah
saja. Tapi ketika masing-masing kandidat membaca Al-Quran. Aku
menangkap salah satu dari mereka ada yang masih salah dalam membaca
al-Qurannya. Aku lupa mereka membaca surat apa. Tapi rekaman yang
salah itu jelas di pikiranku. Salah seorang kandidat membaca salah
satu ayat alquran. Akhir bacaannya berbunyi yauma idzil
masak
. Seharusnya ayat tersebut
dibaca yauma idzinil masak.
Karena huruf dzal
tersebut bertanwin kashrah dan bertemu dengan alim lam. Untuk
hukum-hukum kata seperti ini (kata yang berakir dengan tanwin dan
bertemu dengan alim lam) harus ditambahkan dengan nun yang
dikasrahkan
. Contoh lebih jelas
mungkin saat kita membaca surat Al-Ikhlas. Kalau kita membaca dengan
cara diwakafkan kita cukup membaca qul huwallahu ahad.
Allahusshomad.
Tapi kalau
dibaca dengan cara diwashalkan (disambung) kita membacanya dengan
cara seperti ini qulhuwallahu ahadunillahusshomad. Karena
sekali lagi huruf dal
pada kata ahad
bertanda baca tanwin
dan bertemu dengan alim lam
pada kata Allah. Aku
ingin mengingatkan secara langsung. Tapi tidak etis dalam kondisi
forum seperti itu. Tulisan ini semoga bisa menjadi pelepas bagi
kewajibanku untuk mengingatkan atau memberi tahu akan hal itu. Semoga
saja yang bersangkutan membacanya.

Selanjutnya dilakukan eksplorasi terhadap visi-misi ketiga kandidat
ketua FORKOMA. Tapi sebelum melanjutkan lebih jauh. Adzan maghrib
sudah terdengar. Alhamdulillah akhirnya kami berbuka bersama. Asik
banget ya kalau suasana bukanya rame seperti itu. Kami pun sholat
dulu. Yang laki-laki sholat di musholla sementara yang perempuan
sholat di kos teh Kiki.

Sehabis sholat ekplorasi terhadap kandidat dilanjutkan kembali.
Secara bergantian peserta bertanya dan langsung dijawab oleh
masing-masing calon ketua. Aku hanya memperhatikan jalannya prosesi
itu. Tapi melihat jawaban-jawaban yang diberikan oleh para calon
ketua itu. Aku kecewa. Aku tidak menemukan jawaban-jawaban dari
seorang calon pemimpin. Aku pun mengacungkan tangan. Tapi tidak untuk
bertanya. Hanya untuk menanggapi prosesi yang sedang berlangsung.

Baiklah
saya tidak akan memberi pertanyaan. Saya hanya ingin memberi
tanggapan. Tapi sebelumnya assalamu’alaikum wr wb
.

Terdengar tawa dari hadirin. Hehe..mungkin harusnya salam dulu kali
baru membuka kalimat. Tapi aku kan sering seperti itu, dan itu
disengaja. Aku terbiasa membuka dulu baru menyampaikan salam.

Setelah
mendengar jawaban-jawaban Anda bertiga dalam menanggapi setiap
pertanyaan yang dilontarkan oleh temen-temen yang hadir di sini,
terus terang saja, saya sangat kecewa. Saya jauh-jauh datang dari
Thamrin sana ingin melihat sosok pemimpin Forkoma ke depan seperti
apa? Tapi pada malam ini saya tidak melihat sosok calon pemimpin yang
tangguh. Saya menangkap Anda bertiga tidak memiliki kepercayaan diri
sebagai sosok pemimpin. Anda seperti orang yang terpaksa.

Bagi
saya, seorang pemimpin haruslah mengenal dirinya sendiri. Harus
mengenal segala kelebihan dan kekurangannya. Mengenal kelebihan dan
kekurangan lawannya. Mengenal medan yang dihadapinya
(hehe..sebenarnya aku sedang menyampaikan stragegi perang sun tzu).
Dalam bahasa Nabinya man ‘arafa nafsahu fa’arofa rabbahu.Yang
mengenal dirinya, dialah yang mengenal Tuhannya. Saya kecewa ketika
Anda diminta untuk mendeskripsikan kelebihan-kelebihan Anda, Anda
tidak dapat melakukannya
.
Jawaban-jawaban Anda normatif, dan berputar-putar.

Aku menyampaikan kalimat tersebut dengan penuh emosi. Entah karena
kecewa atau karena kesal.

Seorang
pemimpin harus mampu membentuk image-image positif terhadap dirinya
sendiri. Jika Anda menilai diri Anda sendiri rendah, bagaimana
mungkin orang akan menilai diri Anda tinggi. Jika Anda tidak percaya
dengan diri Anda, mana mungkin orang lain percaya kepada Anda. Ingat
Tuhan berfirman melalui nabiNya. Ana inda dzonni abdi bii. Aku
menuruti prasangka hambaKu kepadaKu. Dan saya yakin Anda pasti bisa
menjadi pemimpin. Anda bisa menjadi pemimpin besar jika Anda percaya
dapat melakukannya.

Baiklah
saya akan menyampaikan sebuah cerita. Suatu waktu di laut lepas nun
jauh di sana. Ada dua ombak sedang berjalan di atas lautan. Satu
ombak besar dan satu ombak kecil. Ombak kecil ingin tahu bagaimana
rahasia menjadi ombak besar. Akhirnya terjadi dialog antara ombak
kecil dan ombak besar tersebut.

Bagaimana
kau bisa menjadi ombak besar, sementara aku sudah berusaha menjadi
besar tapi tetap saja aku menjadi ombak kecil”

Karena
kau terjebak oleh pandanganmu sendiri. Walaupun kau berusaha menjadi
besar tapi dipikiranmu selalu mengatakan kau kecil. Aku tidak pernah
berpikir tentang besar dan kecil. Aku hanya perlu mengenali
hakikatku. Oleh karena itu jika kau ingin seperti aku kembalilah
kehakikatmu.”

Apa
yang kau maksudkan kembalilah kehakikatku?”

Jangan
pernah membatasi dirimu dengan besar dan kecil. Tapi kenalilah
dirimu. Kau dan aku terdiri dari unsur yang sama, yaitu kita
sama-sama tersusun dari air. Itulah hakikatku dan juga hakikatmu.
Kalau aku bisa menjadi besar, kau juga punya potensi yang sama untuk
menjadi besar bahkan mungkin lebih besar dari diriku. Hanya kau harus
lebih menghargai dirimu sendiri sahabat.”

Dan
betul saja setelah percakapan itu, si ombak kecil mencoba menghargai
dirinya dan lebih mengenal dirinya. Ia merasa ada potensi yang besar
pada dirinya untuk menjadi besar dan akhirnya ia betul-betul bisa
menjadi besar.

Pemimpin
besar manusia. Anda juga manusia. Jika Anda menghargai diri Anda
lebih baik. Saya yakin Anda pun bisa menjadi pemimpin besar.

Mungkin
sifat tidak percaya diri Anda terbentuk oleh lingkungan yang sering
kali menjadi pembatas bagi Anda. Anda mungkin seperti Anak macan
dalam cerita berikut ini:

Pada
suatu hari, seorang anak macan ditinggal mati oleh ibunya. Ia tidak
berdaya dan hampir saja mati. Tapi tiba-tiba lewatlah segerombolan
kambing dekat anak macan tersebut. Ada seekor kambing yang iba
melihat kondisi si anak Macan. Dan si kambing tadipun memberikan air
susunya kepada si anak macan. Akhirnya si anak macan tersebut
mengikuti kemana pun perginya si kambing. Ia sering bermain-main
dengan kambing yang lainnya. Ia merasa dirinya betul-betul seekor
kambing yang lemah.

Pada
suatu hari, ketika sedang merumput di padang rumput tertentu. Seekor
macan datang dan melakukan pemburuan terhadap kambing-kambing
tersebut. Tapi si macan keheranan, diantara kambing-kambing tersebut
ada seekor anak macan yang lari ketakutan. Akhirnya ia mengejar si
anak macan yang kecil tadi. Si anak macan pun tertangkap. Si Macan
menyadarkan si anak macan bahwa ia anak macan. Ia adalah calon si
raja hutan. Tapi si anak macan tidak percaya. Akhirnya si macan
membawa si anak macan pada sungai yang jernih. Dan ketika ia melihat
rupanya mirip dengan sosok yang membawanya. Ia sadar bahwa dirinya
adalah anak macan, calon si raja hutan. Akhirnya ia pun belajar
mengaum seperti layaknya seekor raja hutan.

Mungkin
Anda tidak percaya, bahwa Anda adalah calon pemimpin. Tapi semoga
forum ini betul-betul menyadarkan Anda bahwa Anda adalah yang kami
nilai layak untuk menjadi pemimpin forkoma berikutnya. Jadi tolong
jawab kepercayaan kami. Sekali lagi Anda adalah anak macan itu. Calon
raja hutan.

Sebagai
calon pemimpin Forkoma, Anda harus dapat melihat segala potensi yang
dimiliki oleh Forkoma. Saya melihat perjalanan Forkoma dari tahun ke
tahun terus mengalami perkembangan ke arah yang lebih baik. Ke arah
yang lebih maju. Link-link Forkoma sekarang sudah terbuka lebar.
Forkoma tidak pernah lagi kekurangan dana untuk melaksanakan
kegiatan. Punya donatur tetap. Tapi cukupkah itu semua? Bagi saya
tidak. Forkoma bisa menjadi lebih dari sekedar itu. Forkoma bisa
menjadi semacam organisai kemahasiswaan yang bersifat korporasi.
Forkoma punya potensi yang sangat besar. Dari segi input Anda sudah
sangat baik. Proses di UI sendiri saya nilai baik dan bagus. Di sini
terhimpun mahasiswa dari berbagai fakultas dengan skill yang
berbeda-beda tapi menurut saya saling melengkapi. Kita bisa
mengerjakan sesuatu yang lebih besar dan lebih bermanfaat. Kalau
selama ini kita hanya sebatas menawarkan proposal untuk mengadakan
kegiatan. Saya ingin suatu saat Forkoma tidak melakukan itu lagi.
Tapi segala kegiatannya dimodali oleh kas Forkoma sendiri. Hubungan
dengan para donatur berubah, bukan sebagai penyumbang dan penyalur.
Tapi bisa bersifat saling menguntungkan. Kita bisa mengerjakan
proyek-proyek pemerintah, swasta, atau apapun lah. Kita bisa
bekerjasama dengan LSM-LSM. Misalkan saja, sekarang sedang dibangun
konsep e-goverment di
Indonesia. Kita bisa membantu pemerintah. Misalkan kita buat website
yang bagus untuk kabupaten pandeglang. Sekali buat website minimal 20
jt lah. Dan kalau itu masuk kas Forkoma, kan sangat lumayan. Dan di
sini tersedia sumber daya yang mampu melakukan itu. Ada kang Uqon,
ada Ical, ada anak-anak baru yang di Fasilkom dll. Itu sudut pandang
saya sebagai orang yang belajar di ilmu komputer. Saya yakin
sudut-sudut pandang lain yang belajar di fakultas lain lebih banyak
bahkan mungkin lebih bagus. Kita melihat potensi besar itu, kenapa
kita tidak manfaatkan. Sehingga kalau selama ini kita bekerja hanya
dengan lillahi ta’ala, suatu saat kita ingin jerih payah
temen-temen juga dihargai dengan imbalan yang memadai. Misalkan
setiap bulan setiap pengurus Forkoma dapat uang saku 200 ribu
perbulannya. Itu kan lumayan. Dan saya yakin itu bisa. Oleh karena
itu, sadarlah sekali lagi bahwa Anda adalah anak macan yang suatu
saat akan menjadi macan betulan. Anda akan menjadi raja hutan.

Huh…panjang juga yang aku sampaikan. Proses eksplorasi terhadap
ide-ide dan gagasan-gagasan calon ketua forkoma terus berlanjut.
Setelah proses eksplorasi, para calon diizinkan untuk meninggalkan
tempat pemilihan. Musyawarah untuk menentukan siapa yang layakpun
dimulai sekitar jam 20.30-an.

Hehe..pas musyawarah ternyata lebih seru. Masing-masing yang hadir
memberikan penilaian terhadap masing-masing calon. Setelah proses
yang panjang. Satu calon dinyatakan gugur. Tinggal dua calon, untuk
menentukan siapa yang terbaik untuk memimpin forkoma satu tahun ke
depan. Masih tetap alot . Tidak ada titik temu. Sampai pukul 22.10
masih belum juga ditentukan siapa calon ketua berikutnya.
Masing-masing peserta masih memberikan pendapat-pendapatnya.
Penilaian didasarkan kepada kebutuhan forkoma ke depan. Tapi tetap
saja masih belum menemukan titik temu. Akhirnya untuk mengakhiri
kondisi yang berlarut-larut, dilakukan kesepakatan  untuk melakukan
pemungutan suara secara terbuka. Pemungutan pertama seri. 10 : 10.
pemungutan kedua pun terjadi. Hasilnya 11:9. hehe..akhirnya selesai
juga. Untung ada yang mengubah pilihannya. Kalau tidak, wah…tidak
selesai-selesai deh. Saudara Hasan FT (Mesin 2003) terpilih sebagai
Ketua, dan saudara Dimas FT(Elektro 2003) terpilih sebagai Sekum.

Selama mengikuti eksplorasi terhadap visi misi calon ketua dan
musyawarah untuk menentukan calon ketua. Aku agak kecewa. Ada
istilah-istilah asing yang muncul. Ada istilah sense of belonging,
segregation of duty, planning, leading dll. Aku sebetulnya
tidak antipati terhadap istilah-istilah tersebut. Tapi bagiku, aku
akan lebih senang menggunakan bahasa keseharian atau bahasa ibuku.
Toh masih ada padanan kata-kata tersebut dalam Bahasa Indonesia yang
aku cintai. Kenapa kita tidak menggunakan “rasa memiliki /
kepemilikan”, “pemisahan tugas / wewenang”, “perencanaan”
dan “kepemimpinan” untuk menggantikan istilah-istilah tersebut.
Apakah kita minder dengan bahasa kita? Saya bener-bener sedih. Saya
teringat perkataan Cak Nur, permasalahan bangsa ini yang paling
utama adalah bagaimana mengobati keminderan atas identitas
keindonesiaan kita.
Bagaimana kita berbicara tentang rasa
memiliki terhadap Indonesia, jika dari segi bahasa saja kita lebih
senang menggunakan bahasa-bahasa atau istilah-istilah asing? Hiks…

Sambil menunggu pasangan ketua dan sekum datang. Kita ngobrol-ngobrol
lagi. Tapi kali ini ada sesuatu yang seru. Tidak lagi ketawa-ketawa.
Tapi obrolannya menyangkut dialektika. Wah..bener-bener seru. Forkoma
bener-bener semakin maju. Kalau dulu hanya bergerak. Sekarang sudah
mulai juga berpikir. Alangka indahnya jika suatu saat Forkoma menjadi
organisasi pergerakan sekaligus sebagai organisasi pemikiran. Bukan
hanya religius tapi juga cendikia. Bukan hanya tahu tapi juga sadar.

Hehe..iseng-iseng aku melontarkan pertanyaan “Lebih tinggi mana,
percaya atau pembuktian?
”. Yang berani jawab cuman kang Uqon,
kang Fadli dan kang Adi. Dan jawaban mereka satu dan seragam. Percaya
lebih tinggi daripada pembuktian
. Dengan syarat dan kondisi yang
mereka tentukan tentunya. Sebenarnya saya ingin jawaban umum. Tanpa
syarat dan kondisi yang ditentukan. Aku hanya tersenyum. Jawaban
mereka terjebak oleh pertanyaannya. Bagiku percaya dan pembuktian
tidak dapat dibandingkan. Keduanya saling melengkapi seperti seorang
suami dan istri. Seperti dua sisi mata uang yang berbeda tapi saling
melengkapi. Dalam percaya, perlu pembuktian. Dalam membuktikan
sesuatu kita perlu pijakan yang jelas (yang berarti memerlukan
kepercayaan). Agama bagi saya adalah keimanan dan akal. La dina
liman la aqlu lah
.
Tidak ada agama bagi orang-orang yang
tidak menggunakan akalnya. Jadi dalam beragamapun, aku terkadang
memerlukan keraguan untuk menuju keimanan yang betul-betul teguh.
Sebab dalam keraguan aku berusaha menemukan bukti. Dalam keraguan ada
pembuktian.

Jam sebelasan Ketua dan Sekum baru Forkoma datang. Diberikan
kesempatan untuk memberikan sambutan dan kamipun memberikan ucapan
selamat. Semoga forkoma ke depan lebih baik lagi. Amin.

Acara ditutup dengan do’a. Jam 11.20 an kami pun pulang ke
masing-masing tempat kami.

Ya Allah, sebagaimana perintahmu untuk membaca. Iqra. Aku hari
ini telah membaca. Tapi bukan ayat-ayat kauliyahMu, tapi aku membaca
ayat-ayat kauniyahMu. Dan sebagaimana arti iqra yang bukan
saja berarti perintah untuk membaca, tapi juga perintah untuk
menghimpun dan mengumpulkan. Tulisan ini kumaksudkan untuk menghimpun
dan mengumpulkan makna. Semoga bisa mendatangkan makna bagi siapa
saja yang membacanya. Amin.

5 Ramadhan 1426 H / 9 Oktober 2005

2 - 1462 H

Terimakasih
Ya Allah kemarin aku pulang sebelum maghrib. Pertama kali aku
berbuka di kos baruku. Pertama kali juga aku melihat orang-orang di
sekitar masjid dekat kos buka bersama. Wajah-wajah mereka terlihat
senang ketika adzan berkumandang. Apalagi wajah si kecil anak ibu
kosku itu.


Saat
adzan berkumandang. Aku dapat melihat pancaran kebahagiaan di wajah
dan hati setiap mereka yang berpuasa. Pancaran kebahagiaan yang alami
tentu saja. Bukan pancaran kebahagiaan artifisial yang sering aku
saksikan di teve-teve stasiun swasta. Apalagi ekspresi si anak kecil
itu. Aku sangsi dia puasa sehari penuh. Tapi melihat antusiasnya
menyambut saat berbuka aku jadi teringat masa kecilku dulu. Aku
menipu orang tuaku. Hehe..aku memang ikut sahur. Aku juga mencoba
berpuasa. Tapi ketika waktu dzuhur tiba. Aku lirik sana-lirik sini
melihat ada seseorang yang memperhatikan atau tidak. Ketika kulihat
sepi. Aku tenggak air dingin sepuas-puasnya. Juga tentu saja
sisa-sisa makanan sahur keluarga. Tapi ketika adzan maghrib
berkumandang aku pun turut senang. Aku telah merasa berpuasa walaupun
tidak sempurna. Ya setidaknya setengah hari lah. Apakah si kecil itu
seperti aku? Aku tidak tahu. Tapi semoga saja tidak.


Terimakasih
telah memberiku nuansa yang indah ketika aku melihat anak kecil,
remaja dan orang tua berbuka bersama di masjid itu. Wajah mereka
berseri-seri. Begitu jelas ekspresi kebahagiaan mereka. Ketika itu
terjadi, aku
tersenyum. Aku teringat ketika kekasihMu
menggambarkan kebahagiaan orang berpuasa. “Ada dua kebahagiaan
yang dimiliki orang yang berpuasa. Kebahagiaan yang pertama ialah
ketika saat ia berbuka dan kebahagiaan yang kedua ialah saat ia
berjumpa dengan Tuhannya
”. Jika saat berbuka saja aku melihat
mereka begitu berbahagia. Apalagi saat nanti mereka berjumpa
denganMu. Entah seperti apa kebahagiaan mereka. Aku tidak tahu. Yang
aku tahu pasti mereka lebih bahagia dari saat berbuka itu. Di sinilah
aku merasakan begitu besarnya kasih sayangMu. Akupun jadi teringat
ketika berbuka puasa di kampus dulu. Ada banyak orang yang sebelum
berbuka tersekat-sekat kelompok pengajian atau mungkin pemahaman.
Tapi saat waktu berbuka tiba mereka semua menyatu. Menyapa orang yang
disampingnya walaupun tidak tahu nama. Di sini aku juga merasakan hal
yang sama. Kepadaku yang masih asing inipun mereka melemparkan senyum
dan menawariku untuk makan bersama. Sayangnya aku sudah beli makanan.
Indah betul nuansa itu Ya Allah. Terimakasih sekali lagi telah
membuatku menyaksikan kebahagiaan itu :)


Ada
satu pelajaran yang kuambil setelah melewati waktu semalam. Kau
membuka pintu rahmat yang sangat luas bagiku. Buka puasa kemarin
terhitung mewah dibandingkan saat berbuka puasa dihari pertama. Hari
pertama aku berbuka hanya dengan air putih. Itu pun dari kantor pula.
Tapi kemarin, Kau memeberiku berbagai makanan. Ada susu, ada kurma,
dan buah apel. Tapi maaf ya Allah, aku mungkin kelewatan. Setelah
berbuka dengan meminum susu dan beberapa biji kurma aku memaksakan
diri makan malam setelah shalat maghrib, padahal aku masih merasa
kenyang. Akibatnya saat shalat isya dan tarawih aku terkantuk-kantuk.
Tubuhku memang mengikuti gerak sang Imam. Tapi aku kok seperti tidur
begitu. Masa pas sholat aku kesulitan membuka mata. Dua puluh tiga
rakaat plus empat rakaat shalat isya pun jadi kurang bermakna
kayaknya. Seharusnya aku tidak terlalu ngantuk seperti itu. Sholat
tarawih yang 23 rakaat semalaman kan bacaannya santai banget. Sampe
kurang lebih satu jam untk sholat tarawihnya saja. Tapi kok, aku
sampe bisa ketiduran sambil sholat ya. Dan sebalnya itu tidak hanya
terjadi pas shalat tarawih. Saat aku kembali ke kos, aku betul-betul
ngantuk. Masih dalam hitungan sore akhirnya aku tertidur. Aku tidak
bisa tadarus. Jam 21an mataku tidak bisa kompromi lagi. Aku tidur.


Aku
berpikir dengan meminum susu, berbuka dengan kurma dan buah apel akan
membuatku lebih segar menyambut malam ketiga Ramadhan ini. Tapi
kenyataannya sangat sebaliknya. Inilah mungkin “apa yang
menurutmu baik belum tentu baik menuru Tuhanmu, dan apa yang
menurutmu buruk belum tentu buruk menurut Tuhanmu
”. Dalam
menilai baik dan buruk untuk diri sendiripun nyatanya aku lemah. Dan
disinilah aku sadar betapa diriku begitu lemah, kurang, dan jahil.
Tak ada yang pantas untuk disombongkan. Di sinilah celah kurangku
sebagai manusia itu begitu jelas terlihat. Terimakasih Ya Allah telah
memberikan pengalaman ini.



3
Ramadhan 1426 / 7 Oktober 2005


1 - 1426 H

Malam Ramadhan memasuki
yang kedua. Aku diajak teman baruku untuk shalat Isya plus taraweh.
Oh iya, teman baruku ini namanya Peter. Orangnya kalem habis. Dari
namanya aku kira awalnya noni. Hehehe…tapi alhamdulillah ternyata
termasuk muslim yang taat. Sebenernya aku hanya tertarik shalat Isya
berjamaah. Sejujurnya kalau aku disruruh memilih untuk sholat tarawih
berjamaah atau sendiri, aku akan memilih tarawih sendiri. Tapi untuk
menghormati teman baruku ini, aku pun tarawih berjamaah. Sholatnya
sebelas rakaat. Lucu. Awalnya aku sholat niatnya dua rakaat. Soalnya
tidak ada bilal yang nyebutin jumlah rakaatnya. Hanya bilang
Sholatakum jami’a rahimakumullah” tanpa menyebutkan
rakataini” atau “arba’a rakaatan”. Aku memilih
default aja. Aku niat dua rakaat. Tapi setelah rakaat kedua bangun
lagi, aku sadar bahwa aku harus mengubah niatku menjadi empat rakaat.
Percis seperti kejadian yang kau ceritakan kepadaku kemarin, Dik.
Hehehe.. kita mengalami kejadian yang sama :)

Aku juga dulu sering
sholat seperti ini. Tapi setelah ngaji bareng dengan ulama di
kampungku aku pun tidak pernah melakukan shalat tarawih dengan cara 4
4 3 (kok mirip formasi sepak bola ya, tapi tanpa kiper). Imam Bukhori
memang menyebutkan suatu hadits dari Siti Aisyah yang menyebutkan
bahwa cara Nabi Saw sholat sunnah malam adalah sebelas rakaat dan
dengan cara 4 4 3. Tapi tafsiran guruku yang di kampung itu, itu
bukan menyatakan rakaatnya. Tapi menyatakan cara. Sholat Nabi itu
panjang-panjang. Setiap empat rakaaat Nabi Saw berhenti untuk berdoa
dan istirahat. Sedangkan rakaaatnya dijelaskan dalam kitab shahih
muslim yaitu dengan “Matsna Matsna”
dua rakaaat-dua rakaaat. Jadi Nabi Saw shalat dua rakaaat-dua
rakaaat. Setelah empat rakaat Nabi beristirahat sambil berdoa.
Kemudian memulai lagi. Setelah empat rakaat lagi, Nabi istirahat
sambil berdoa lagi.Ternyata untuk memahami hadits perlu juga hadits
yang lain :).

 

Kemeriahan Ramadhan
begitu terasa sekali. Masjidnya penuh. Sampai halaman di luarpun
terpakai untuk sholat. Nuansanya sangat indah. Tapi sejujurnya aku
pun bertanya-tanya akankan kondisi seperti ini terus bertahan sampai
akhir Ramadhan? Aku sangsi.

Ramadhan bagiku adalah
momen yang sangat istimewa. Walaupun mungkin kebanyakan orang
menganggap Ramadhan sebagai ladang untuk melipatgandakan pahala, aku
tidak berpikir seperti itu. Bagiku dalam ibadah tidak menghitung
pahala berapa kali lipat atau apa. Aku memahami kalimat “ibadah
sunnah pada bulan ini sama dengan ibadah wajib
” dalam artian
lain. Insya Allah aku tidak akan menghitung nilai ibadah seperti
pedagang yang ingin mencari untung. Yang ku pahami, karena kasih
sayangMu yang tak terukur kepada manusia yang pernuh dosa seperti aku
ini, Kau menjadikan Ramadhan sebagai momen untuk mengundang hambaMu
untuk lebih mengenal diriMu. “Sesungguhnya, setiap ibadah akan
kembali kepada si hamba saja, tapi tidak dengan puasamu, puasamu juga
untukKu
”. Di sini aku memahami puasa adalah sarana untuk
meneladani sifat dan perbuatanMu.

Kau mengundang
hamba-hambaMu untuk mengenal diriMu lebih dalam dalam bulan ini. Kau
istimewakan bulan ini, tapi bukan untukMu tapi untuk manusia yang
percaya kepadaMu. Kau mengundang mereka. Kau menjamu mereka.
Sementara Sang KekasihMu mengajarkan “adalah wajib mendatangi
setiap undangan
”. Jika manusia saja wajib didatangi
undangannya, apalagi diriMu. Dan aku tahu, Kau adalah sebaik-baik
penjamu bagi para tamuMu. Itu saja. Aku tidak akan menghitung untung
rugi dengan diriMu. Sebab bagi siapa saja yang percaya kepadaMu. Maka
kau menjamin mereka semua. Dan siapakah yang melebihi jaminanMu.
Tidak ada. Sebab kau adalah sebaik-baik Penjamin. Tapi toh aku
mengerti mereka semua yang beribadah kepadaMu karena ingin pahala
yang lebih banyak. Toh itu sebuah konsekuensi dari pemahaman
seseorang. Imam Ali Kw sendiri pun membagi manusia yang beridah
kepadaMu menjadi tiga bagian. Pertama, adalah
mereka yang beribadah kepadaMu dengan mengharapkan surgaMu. Mereka
ini adalah tipe pedagang. Dengan ibadahnya yang sedikit, mengharapkan
surgaMu yang tak terukur nilainya.
Kedua, adalah
mereka  yang beribadah kepadaMu karena takut siksa (neraka) Mu.
Mereka inilah hamba tipe hamba sahaya atau budak. Mereka beribadah
kepadaMu karena takut mendapatkan hukumanMu. Seperti budak yang
mengerjakan semua kewajibannya karena takut majikannya akan
memukulnya jika ia tidak mengerjakan pekerjaannya itu.
Ketiga,
adalah mereka yang beribadah
kepadaMu karena ia cinta kepadaMu. Karena melihatMu Maha Indah, Maha
Sempurna, melihatMu hanya satu-satunya yang pantas untuk disembah. Ia
beribadah kepadaMu karena ingin mengeladani sifat-sifatMu dan
mengejewantahkannya di dalam bumiMu. Mereka tidak peduli pada surga
dan nerakaMu. Mereka hanya peduli padaMu karena diriMu lah pencipta
surga dan neraka itu. DiriMu lebih agung dari sekedar surga dan
neraka. Maka Ya Allah, jadikanlah aku termasuk mereka yang beribadah
karena cinta kepadaMu. Amin.

pindah….!

Awal pertama Ramadhan aku
terjebak dalam kemacetan. Sebenarnya aku pulang lebih cepat. Jam
16.00 aku sudah pulang. Iseng aku naik bus way mengambil jurusan
kota. Bener-bener iseng. Dari kota langsung ke Blok M. Nyampe hampir
maghrib. Mobil jurusan ke Depok lumayan jarang. Tapi syukurnya dapat
juga dan alhamdulillah dapat tempat duduk dengan kondisi yang kurang
nyaman.

Di jalanan macet total.
Aku bener-bener kesel. Jika aku pernah kesal di jalan, kayaknya
kesalku yang kemarin itu adalah yang terbesar. Adzan maghrib
berkumandang tapi aku masih di jalanan. “Ya Allah, aku ingin lekas
menghadapMu” keluhku dalam hati. Tapi suasana jalanan semakin tidak
bersahabat. Kemacetan semakin padat. Sementara penumpang terus
bertambah. Aku ingin menunaikan shalat maghrib di mobil, tapi
lagi-lagi kondisinya benar-benar tidak memungkinkan. Penumpangnya
terlalu padat. Tidak ada ruang gerak untuk sholat di dalam mobil.
Tayamumpun aku tidak bisa juga. Tapi aku harus tetap mengingatMu.
Biarlah jiwaku saja yang sholat dulu. Ragaku akan menggantinya ketika
aku sampai di kosan. Tapi aku betul-betul sedih ya Allah, karena awal
Ramadhan yang seperti ini tidak aku kehendaki. Tadinya aku ingin
menyambut bulan Ramadhan dengan kondisi yang lapang dan tenang. Tapi
nyatanya aku menyambutnya dengan kesal. Nyampe di Depok jam 8.30.
Bener-bener melelahkan. Kalau tiap hari seperti ini aku betul-betul
tua di jalanan.

Akhirnya aku putuskan
untuk pindah malam ini juga. Alhamdulillah siang sebelumnya aku sudah
kontak Dhino. Terimakasih Bro, selalu membantuku. Aku putuskan jam 11
malam akan pindah. Tapi pas jam 11, Dhino masih kecapean. Sama-sama
habis pulang kerja sih. Aku juga bukannya tidak capek. Tapi aku tidak
mau mengulangi kondisi kayak kemarin untuk kedua kalinya. Biarlah
asal besok aku berangkat kerja dengan nyaman. Aku pamitan kepada
adik-adikku yang manis-manis dan imut-imut itu. “Pasti aku akan
merindukanmu, De!” pikirku dalam hati. Dhino janji ngejemput jam
satu pagi. Tapi pas jam satu pagi ternyata ga bisa. “Jam 2 aja Rif,
ya!”. Hehehe…jam dua pagi pun akhirnya tidak bisa juga. “habis
subuh aja Rif, Gw hari ini ga kerja”. Setelah sholat shubuh jam
6-an Dhino datang menjemputku. Langsung beres-beres. Punten Bro aku
merepotkanmu. Sudah minta tolong nganterin ke kosan baruku, malah
ngerepotin juga buat ngangkutin barang-barangnya. Pokoknya thanks
banget lah Bro :). Akhirnya hari pertama puasa kemarin aku pindah ke
Jl. Kebun Kacang 6 (tapi sampai saat gw nulis inil, gw belum tahun
nomor kos baru gw ini).

2 Ramadhan 1426 H/6
Oktober 2005