MADRASAH IBN RUSYD

MADRASAH MEMBACA, MENGAMALKAN, DAN MENULIS

Undangan

Dear Friends,

Undangan_arif_mulhah_1
Ada banyak kejadian dan momen dalam hidup kita. Dan kami ingin berbagi kabar bahagia denganmu semua. kami mengundang temen-temen untuk hadir pada acara resepsi pernikahan kami yang akan dilaksanakan
pada tanggal 8 Juli 2007.

Sungguh suatu kehormatan dah kebahagiaan bila temen-temen bisa menjadi salah satu dari tamu-tamu kami.

Best Regards,

Arif & Mulhah

NB : Silahkan klik gambar undangannya untuk melihat lebih jelas undangannya :)

Melihat Kasih Sayang Allah Dalam Segala Hal

Ketika Terjadi Badai Tsunami di Aceh saya pernah membaca ungkapan Goenawan Moehammad "Jika bencana ini datang dari Tuhan, maka saya tidak mau Tuhan yang sangat kejam seperti ini" kurang lebih begitulah.

Membaca ungkapan Goenawan Moehammad itu saya kaget. Kok bisa ya ungkapan di atas bisa keluar dari mulut seorang Goenawan Moehammad? Mungkin saja itu ungkapan spontanitas Goenawan menanggapi fenomena bencana tsunami tersebut. Terlalu sedih mungkin dirasakan, ratusan ribu nyawa melayang dan bangunan-bangunan tinggal puing-puing atau bahkan bersih hilang ditelan badai tsunami.

Goenawan Moehammad mungkin bisa sedikit tersenyum betapa Allah dengan bencana tersebut telah menyentuh hati dan nurani manusia. Betapa manusia yang selama ini saling acuh, dari berbagai dunia melakukan kerjasama dan mengulurkan kasih kepada mereka yang membutuhkan. Betapa beribu-ribu orang menerjunkan diri untuk sebisanya membantu para korban. Betapa perasaan kita yang telah kehilangan rasa iba melihat itu menjadi begitu larut dalam rasa belas kasih terhadap sesama. Cara kerja Allah adalah cara yang paling luar biasa. Berburuk sangka kepada Allah sungguh tidak pada tempatnya. Hanya orang-orang celaka saja yang berputus asa dari rahmat dan kasih sayang Allah.

Di mata saya, segala perbuatan Allah adalah wujud kasih sayang Allah yang tak terhingga kepada kita. Bahkan dalam bencana sekalipun, bahkan dalam azab sekalipun, bahkan dalam neraka sekalipun. Azab, bencana, neraka di mata saya adalah wujud kasih sayang Allah kepada kita. Kita senantiasa diperhatikan, kita senantiasa dibersihkan, kita senantiasa terus di undang untuk menghadapnya, seakan-akan Allah butuh kepada kita. Rahmat Allah tidak hanya tercurah kepada mereka yang ‘baik’ tapi kepada mereka yang dianggap ‘jahat’pun kasih sayangnya senantiasa menghampiri.

Kita lahir dalam keadaan suci. Ruh kita berasal dariNya dan akan kembali kepadaNya. Karena asalnya suci, ketika menghadapNya ruh juga harus kembali suci. Ruh mereka yang kotor tidak bisa bertemu denganNya.

Jiwa dan nafsu kita terus mengotori kita. Allah dengan kasih sayangNya menghendaki agar semua ruh bisa kembali kepadaNya dalam keadaan suci. Maka dalam setiap saat penyucian dari Allah selalu menghampiri kita dalam berbagai macam bentuk dan cara. Mulai dari rasa sakit, bencana, kematian, azab kubur bahkan hingga neraka.

Sebagian dari kita cukup dibersihkan di dunia ini dengan rasa sakit, bencana dan sejenisnya (Sungguh barangsiapa yang tidak mengeluh dengan rasa sakit yang di deritanya, Allah akan menggugurkan dosa-dosanya — membersihkan jiwa orang tersebut), begitu juga berbagai macam bencana yang menimpa kita adalah wujud kasih sayang Allah untuk membersihkan jiwa-jiwa kita.

Ada sebagian orang yang tidak bisa dibersihkan selama hidupnya. Maka kasih sayang Allah datang ketika ajal menjemput. Allah memberikan rasa sakit dan kengerian yang luar biasa sebagai penebus atas sebagian dosa-dosanya. Allah kembali membersihkan ruh orang tersebut melalaui sakaratul maut yang mungkin sangat menyiksa. Tapi bagi mereka yang sudah cukup bersih Allah akan memudahkan ajal prosesi kematiannya.

Ada juga orang-orang yang tidak bisa dibersihkan dengan cara sakratul maut yang menyakitkan, maka Allah dengan kasih sayangNya kembali membersihkan ruh-ruh kotor itu dengan azab kubur. Sementara bagi mereka yang telah bersih ketika masuk kubur Allah akan membalas mereka dengan nikmat kubur. Segala amal kita, baik dan buruk akan menjelma menjadi makhluk yang akan menemani kita. Amal baik akan menjelma menjadi teman yang menyenangkan sehingga perjalanan kita menuju Allah seakan terasa sekejap sementara bagi mereka yang lebih banyak amal jeleknya berteman dengan makhluk-makhluk yang menyeramkan dan mengerikan sehingga perjalanan menuju Allah menjadi perjalanan yang sangat menyiksa dan akan terasa sangat lama.

Ada sebagian dari kita yang walaupun sudah dibersihkan di dunia, sudah dibersihkan di dalam kubur tapi masih belum bersih juga. Lalu Allah dengan kasih sayangNya membersihkan kita kembali dengan prosesi pemberangkatan menuju padang Mahsyar yang sangat menyiksa, tapi bagi mereka yang telah bersih Allah dengan kasih sayangNya menaungi mereka dalam keteduhan yang penuh kesejukan dan semilir harum surgawi yang belum pernah mereka rasakan.

Ada juga sebagian dari kita yang masih belum bersih dengan siksaan padang mahsyar, Allah dengan kasih sayangNya kembali membersihkan dengan persidangan yang sulit (hisab yang sulit), dan pada tahap akhir Allah dengan kasih sayangNya membersihkan kita dengan nerakanya. Bagi mereka yang telah bersih, ketika melewati neraka, cahaya mereka meredupkan neraka dan neraka meminta kepada yang berlalu agar segera bergegas melewatinya. Neraka manifestasi kasih sayang Allah yang tak berhingga, di sinilah tempat pembersihan sebagian besar dari kita.

Setelah melewati neraka, ruh kita bersih dan kitapun kembali bisa bercengkrama dengan sumber segala kebersihan dan segala keindahan. Allah Rabbul Izzati, pada akhirnya kita bisa bertemu dan menatapNya. Dalam segala hal yang ada hanyalah kasih sayang Allah yang terus senantiasa menyertai kita, ketika kita hidup, ketika kita sakratul maut, kita kita berada dalam kubur, ketika kita menuju padang Mahsyar, ketika kita berada dalam persidangan yang melelahkan, ketika kita berada dalam neraka semuanya adalah wujud kasih sayang Allah terhadap kita yang terus mengundang kita agar bisa menatap indah WajahNya. Semuanya hal di dunia ini adalah wujud kasih sayangNya semata. Maka kepada siapa kita lebih harus menghadapkan hati kita?

am kaming hoom

Dear…

Lama aku tidak menyapamu. Maafkan aku. Bukan maksudku meninggalkanmu. Tapi inilah aku semenjak Maret lalu tak kuasa bertegur sapa denganmu lagi. Tapi semenjak saat ini, jangan khawatir kata-kataku kembali mampir di halaman rumahmu.

Kau ingin mendengar kabar apa dariku? Hehe…soal kabar-kabar itu itu setengah benar dan setengah lagi aku tidak tahu. Yang jelas aku percaya, Allah selalu memberi yang terbaik untukku. Pun dalam hal itu :)

Selama delapan bulan hidup di Solo aku mengenal banyak wajah. Dari mulai satpam, tukang becak, CEO -CEO suatu perusahaan, para pegawai rumah sakit, berinteraksi dengan turis sekaligus direktur suatu perusahaan dari Australia sampai mungkin mereka yang dianggap ‘cemar masyarakat’. Ya dengan sedikit rasa ingin tau dan keisenganku aku pernah mengunjungi lokasi pelacuran di Solo (bukan pernah ding…sampe dua kali kok), tapi jangan pikir macam-macam aku hanya betul-betul berkunjung, memotret kehidupan mereka dari dekat mungkin bisa membuatku lebih bijak (hehe…aku masih tetep egois –semuanya demi aku).

Semarang, Jogja dan borobudur menjadi tempat main di saat kepenatan menghimpit. Undip mengingatkan nuansa ketika aku masih kuliah dulu. Jogja yang sederhana mempertemukan aku dan teman lamaku sekaligus mempertemukan aku pada sebuah dialog hidup dengan orang yang benar-benar baru. Mereka yang dengan sederhana (tanpa basa basi bahasa Tuhan tapi kulihat tulus memperjuangkan mereka yang terpinggirkan dan terlindas oleh zaman — ah zaman tidak sekejam itu, orang-orang yang hidup di atas zaman itu yang kejam).

Aku pun akrab dengan Bioskop 21 SGM (Solo Grand Mall), menertawakan diri yang sering kejenuhan. Dan juga melihat berbagai macam warna ekspresi wajah yang sedikit bisa melepaskan ketegangan syarafku (ah teganya aku, ekspresi wajah dijadikan sebagai hiburan).

Malam-malam yang sering di temani para satpam yang mengajariku berbagai kata ‘jorok’ dalam bahasa jawa sambil melempar kelakar-kelakar yang hanya dimengerti oleh orang dewasa. Malam-malam yang penuh dengan keisengan sambil bermain catur dan mengepulkan asap rokok yang setiap hari mereknya selalu berganti (Djarum Super, Gudang Garam Filter, XMild, Amild, Djisamsu, Djisamsu Filter sampai Marlboro). Menemani bapak satpam dan tidur di pos mereka seperti membebaskan jiwaku yang terhimpit oleh ruang tidur yang penuh kenyamanan. Ruang tidur yang membuatku selalu bangun kesiangan, tapi bersama para bapak satpam itu aku selalu menemukan canda, kehangatan dan juga ketenangan (setidaknya sholat subuhku tidak kesiangan).

Jati (tempat pemancingan di daerah Klaten) juga tidak akan kulupakan. Ikan bakarnya yang khas dan kenangan-kenangan saat berkumpul bersama mereka sambil memancing dan bersenda gurau selalu hidup. Arti hidup semakin bermakna di saat kita berbagi rasa bersama.

Dan ketika momen itu datang. Ketika ’sayonara’ harus diucapkan, berat langkah kaki dijalankan. Dan malam minggu yang terang bulan itu…kita melakukan perpisahan…terimakasih bapak semua…kalian telah mengganggap aku sebagai keluarga. Terimakasih untuk semua cerita (baik masalah pribadi dan keluarga), terimakasih untuk semua doa melalui SMS-SMS yang sampai saat ini masih sering aku terima. Terimakasih….sangat-sangat berterimakasih, warna hidup kalianlah warna yang paling alami yang pernah aku saksikan.

Dan aku pulang…selamat datang di jakarta…selamat datang kembali ke serang…1 Maret membawaku kembali. Sebulan….berlalu…dan malam ini aku menulis blog dari ruang kerjaku di kantor yang baru. Esia.

apa ya…?

Wah..lama banget gw ga menyentuh blog gw. Dan ini kayaknya untuk pertama kalinya gw posting ke blog gw pake IE. Komputer yg biasa gw pake lagi di bawa ke tempat client. Download firefox selalu gagal karena koneksi internetnya yang lambat banget. Hehe…akhirnya sejarah baru tercipta, gw browsing dan posting ke blog dengan browser yang selama ini gw hindari.

Well…(ah sok inggris2an banget sih gw), gw terpaksa puasa nulis dan membaca hampir sebulan lebih. Gara-garanya gw harus terpaksa koding ulang program2 yg gw tulis. Ada kesalahan konsepsi. Make hibernate dengan setting lazy="false" di file .hbm-nya. Waktu data kecil seh memang belum kelihatan tapi pas pake data besar baru deh…ternyata settingan itu membunuh aplikasi yang gw buat. Lelet banget jalannya. Problem lazy="false" teratasi dengan menggunakan spring proxy template datang masalah lainnya, gw harus memindahkan logic gw ke service. Kalo gw koding dari awal pake struts pasti beres, konsep MVC struts bersih banget, tapi kali ini gw koding pake ZK, MVC adalah pilihan bukan keharusan. Dan sebelnya solusi yang gw temuin itu (pake proxy template-nya spring) mensaratkan harus MVC, business logic harus di taroh di service sementara koding gw nyatuin antara view, controller dan model (hanya business model - logic, data model terpisah). Akibatnya gw harus mindahin seluruh business model - logic gw ke service. Dan lo tau berapa banyak file yg harus gw edit? hampir 2000 file java. Selama sebulan ini gw hanya ngebenerin kodingan2 itu. Sesek banget…jadi teringat perkataan temen gw "Makanya berilmu dulu sebelum beramal!". Sudah beres ngebenerin kodingan aplikasi langsung dibawa ke client, dan eng…ing…eng, client banyak meminta perubahan. Client katanya kesulitan make…hehehe…utk urusan satu ini gw sebenernya lepas tangan karena gw hanya programmer.. utk urusan desain interface bukan tanggung jawab gw.. karena client adalah raja, kita juga ngebongkar beberapa desain interface nyesuain sama permintaan client. Dan akibatnya banyak juga yang dikoding ulang. Akhirnya utk mendekatkan diri dan mendengar keluh kesah client pengembangan program pun dilakukan di tempat client, dan sedihnya di sana tidak ada koneksi internet. Ya lengkap deh, habis puasa nulis gara-gara ngebetulin kodingan sekarang harus puasa ngenet. Untung membaca masih sempat dilakukan ketika pergi ke tempat client. Habis kerja? lelah banget..ga sempat baca koleksi buku-buku yang gw beli.

Tadi itu berita ga enaknya. Berita bagusnya sekarang program sedang diujicoba sama client, kita hanya ngebetulin sedikit bugs yg ditemuin, sambil ngebuat beberapa laporan pake jasper assistant dan yang paling penting akhir februari ini akhirnya gw bisa balik kerja ke jakarta. Itu artinya gw bakal pulang pergi dari Serang lagi dan mungkin bisa sering bersilaturahmi lagi sama temen-temen kampus. Kangen pengen ketemu dhino, slam, ferdi, baihaki, cecep, azis, mican, komet, eris, zidni dll. I miss u all.

Do’a 3

Ya
Allah, tiga perilaku yang menghalangi aku untuk bermohon kepadaMu dan satu
perilaku yang mendorong aku untuk tetap rindu bermohon kepadaMu.

 

Penghalang
itu adalah perintah yang Engkau Perintahkan namun aku terlalu lamban
menunaikannya. Larangan yang Engkau turunkan namun malah segera aku lakukan. Nikmat
yang Engkau berikan kepadaku namun tidak aku syukuri.

 

Namun,
aku rindu untuk tetap bermohon kepadaMu karena kemurahanMu kepada orang yang
menengadahkan wajah kepadaMu dengan prasangka yang baik.

 

Ya
Allah, inilah aku berdiri di pintu kebesaranMu sebagai orang yang hina dan
pasrah, yang bermohon kepadaMu dengan penuh malu. Permohonan orang yang melarat
yang mengakui kelemahan diri di depanMu, karena aku tahu setiap saat yang
kulalui tidak pernah kosong dari kemurahanMu.

 

Ya
Allah, apakah bermanfaat pengakuanku kepadaMu bila aku tetap berbuat kejahatan?
Ataukah Engkau telah membuka pintu kemurahanMu kepadaku? Atau apakah Engkau
telah mengharuskan aku untuk selalu dimurkai dalam setiap doaku?

 

Maha
Suci Engkau Ya Allah, aku tidak akan pernah putus asa akan pintu ampunanMu,
Engkau telah membukakan kami pintu tobat kepadaMu

 

Sungguh
aku telah mengeluarkan kata-kata hina dan menganiaya diri sendiri, yang
menganggap remeh kebesaran Tuhannya, diri yang penuh dengan dosa besar. Sementara
hari-hari kian berlalu. Umur makin menyusut sampai akhirnya masa beramal telah
usai dan tersadar bahwa tiada lagi tempat berlari. Tiada lagi tempat
bersembunyi dan segera menemuimu dengan rasa menyesal. Segera bersujud untuk
bertobat dengan hati yang suci bersih. Kemudian berdoa kepadaMu dengan suara
lirih terbata-bata, tunduk dan merebahkan diri. Ketakutannya telah menggetarkan
kedua kakinya. Air mata tumpah di pipinya sambil berseru kepadaMu :

 


Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih. Wahai Zat yang paling mengasihi para pencari
kasih sayangNya. Tempat berlari orang yang meminta ampunan. Wahai yang
ampunanNya lebih luas dari siksaNya. Wahai yang keridhoanNya lebih banyak dari
murkaNya. Wahai Yang Maha Terpuji dan dipuji oleh makhluk ciptaanNya karena
kemurahan dan maafNya. Wahai yang membiasakan kepada hamba-hambaNya dengan
menerima taubatnya. Wahai yang memperbaiki orang-orang yang berdosa dengan
ampunanNya. Wahai yang menerima dengan rela segala amal mereka meskipun sedikit.
Wahai yang mencukupkan amal kecil mereka dengan yang lebih banyak. Wahai yang
menjamin pengabulan doa hamba-hambaNya. Wahai yang berjanji kepada diriNya
untuk tetap membalas amalan hamba-hambaNya dengan balasan kebaikan berkat
kemurahanNya.”

Aku
tidaklah lebih durhaka dari orang-orang yang durhaka namun Engkau tetap mengampuni
mereka. Aku tidaklah sehina orang yang menghaturkan permohonan ampunan kepadaMu
namun Engkau tetap mengabulkan mereka. Aku bukanlah orang yang lebih zhalim
dari orang-orang yang bertobat kepadaMu namun Engkau tetap mengampuni mereka.

 

Aku
memohon tobat kepadaMu dengan permintaan orang yang menyesal dan pasrah atas
semua kelakuannya yang melampaui batas dan merasa khwatir dan takut terhadap
dosa-dosa yang terkumpul. Merasa malu atas dosa-dosa yang diperbuatnya namun
dengan sadar dan tahu bahwa ampunanMu atas dosa-dosa besar tidaklah
memberatkanMu, dan ampunanMu atas kejahatan-kejahatan yang keji tidaklah
menyulitkanMu.

 

Hamba-hamba
yang paling Engkau cintai adalah mereka yang tidak sombong dan menjaga diri
dari ambisi buruk dan senantiasa meminta ampunan kepadaMu

 

Aku
memohon kepadaMu agar aku dijauhkan dari kesombongan. Aku berlindung kepadaMu
dari segala ambisi buruk. Aku memohon ampunanMu dari sifat lalai dan lengah
dalam berbuat. Aku memohon pertolonganMu terhadap yang tak kuasa aku lakukan.

 

Ya
Allah, limpahkan sejahtera kepada Nabi Muhammad dan keluarganya. Karuniakanlah
suatu kewajiban yang aku lakukan demi Engkau dan berilah aku kesehatan dalam
menjalankan kewajibanMu dan lindungilah aku dari segala yang dikhawatirkan kaum
durhaka.

 

TanganMu
penuh rahmat dan ampunan dan yang paling diharapkan ampunanNya. Maha Pemurah
dalam menerima maaf. Aku tidak punya kebutuhan yang lain selain mengharap
kepadaMu. Tiada yang mengampuni dosa-dosaku selain Engkau dan tiada yang aku
takuti kecuali Engkau.

 

Sesungguhnya
Engkau Maha Pemberi ketakwaan dan ampunan, limpahkan sejahtera kepada Nabi
Muhammad dan keluarganya. Penuhilah kebutuhan dan permintaanku, ampunilah
dosaku, dan tenangkanlah kekhawatiran diriku. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa
atas segala sesuatu dan semua itu tidaklah berat bagiMu. Amin Ya Rabbal Alamin.

 

(Imam Ali Zainal Abidin As - Cucu Imam Ali Kw)

 

Manusia Penyeimbang (Terminalis versus Ekuilibrian)

 
Juswan Setyawan

Jarak waktu antara 31 Desember 2006 dan 1 Januari 2007 hanya kurang dari 1 nanodetik. Akibatnya, sebenarnya tidak ada orang yang tahu persis kapan ujung atau awal dari pergantian tahun itu terjadi. Yang jelas keduanya tidak pernah identik walaupun antara keduanya nyaris tidak terasa adanya tenggat  waktu.

Bila saya naik busway dari Kalideres ke Blok M maka biasanya saya akan kembali ke rumah lewat terminal Kalideres juga. Tentunya trip saya tidak mungkin berakhir di terminal Tanjungpriok atau Kelapa Gading. Jadi sebenarnya Kalideres itu terminal awal atau terminal akhir? Ternyata fungsinya bisa kedua-duanya karena kita diikat oleh unsur waktu. Menjadi terminal awal saat saya berangkat dan terminal akhir saat saya pulang.

 

Dalam kehidupan bermasyarakat, tidak selalu mudah bagi saya untuk dapat membedakan mana ‘konsep terminal’, mana awal dan mana terminal akhir. Mungkin lebih jelas dijabarkan begini. Tidak mudah menentukan sikon mana yang menjadi ujung-ujung ideal dari pilihan-pilihan yang ada dalam menyikapi suatu fenomen dan aktivitas sosial. Apakah ujung X yang ideal ataukah ujung Y? Mana yang harus dipilih kalau memang harus memilih? Dalam kenyataan sehari-hari memang orang harus memilih. Hidup itu suatu pilihan!  Entah secara sadar, ataupun secara tidak sengaja, orang telah melakukan pilihannya.

 

Misalnya, ada remaja yang memilih gaya hidup dengan ‘pergaulan bebas’ (sosial) dan ada pula yang lebih menyukai ‘kesendirian’ (soliter). Siapa yang memaksanya memilih?  Tidak ada! Namun pilihan toh telah mereka buat. Mereka memilih ujung-ujung yang berseberangan satu sama lain. Dalam hal apapun kebanyakannya juga berbuat demikian. Ada yang memilih ‘hedonisme’ yang mengejar segala kenikmatan hidup. Ada pula yang memilih ‘asketisme’ yang memantang segala yang serba nikmat. Ada yang memilih setiap pagi ‘jogging’ (duniawi) tetapi ada pula yang memilih misa atau ‘kebaktian pagi’ (rohani). Ada mahasiswa yang ‘kutu buku’ ingin mengejar IP maksimal dan ada ‘mahasiswa abadi’ yang gaul abis yang tidak perduli soal IP.

 

Realitasnya ‘manusia terminal’ atau ‘manusia perifer’ ini merupakan kasus yang jarang. Mereka adalah manusia ‘quartile ujung’ (kuartil itu istilah statistik).  Kebanyakan manusia itu moderat (mayoritas pada ‘normal distribution curve’). Mereka berhimpun di tengah-tengah di antara kedua ujung ekstremitas tersebut. Dalam masyarakat demikian pula terdapat ‘kelompok radikal’ dan ‘kelompok pasifis’. Yang terbanyak ialah ‘kelompok moderat’. Tidak radikal dan tidak full pasifis. Tetapi dalam berpikir maupun beriman jutru – celakanya! - manusia suka memilih posisi pada ujung terminal tersebut.

 

Mengapa mayoritas kelompok moderat jarang memainkan peran yang signifikan dalam masyarakat? Mengapa Partai Komunis bahkan lama berkuasa di Italia yang mayoritas beragama Katolik. Lha dan kok mau-maunya ditindas oleh mereka? Karena Katolik itu telah (salah) memilih ujung terminal sikap ekstrim pasifisme? Tidak punya nyali? Terlalu mengutamakan kasih? Mengapa kelompok Macan Tamil mampu mengharubirukan Sri Lanka, kelompok Moro di Filipina, Bask di Spanyol, IRA di Irlandia, Kurdi di Irak, atau kelompok Nurdin Top di Indonesia?  Biasanya kelompok radikal itulah (apapun) yang vokal.  Demen demo dan suka teriak-teriak vokal. Baik kelompok teroris, kelompok ‘Green Peace’ atau LSM type Ormiskot sama-sama dinamis dan vokalnya.

 

Masalahnya ternyata ada di dalam otak dan pikiran manusia itu sendiri. Hidup itu memilih. Spontan tanpa dipikir atau sengaja dengan dipikir-pikir. Suka atau tidak suka, setiap detik manusia diharuskan memilih. Di pagi hari harus memilih, bangun atau ‘molor’ terus. Pakai hemd biru kotak-kotak atau putih bergaris.  Sarapan atau merokok. Mandi atau ‘pas foto’ saja. Nasi goreng, bubur ayam, indomie atau sandwich. Naik busway atau mikrolet. Memacari Ellen atau Grace. Jatuh ke pelukan Johny Jontor atau Jojon Caplin. Nonton Nativity, Pengkhianatan Gong Li, atau bahkan Happy Feet.

Nah proses berpikir dan memilih itu sendiri bersifat terminal. Mengapa? Karena selalu hanya ada dua pilihan: yang OK dan yang tidak OK untuk saya. Terserah OK itu apa maknanya bagi setiap orang. Enak-hambar, pleasure-pain, carrot-stick, manis-pahit, benar-salah, untung-rugi, sejenak-lamaan, postmo-jayus, benar-salah, indah-jelek, on-off go’no-go dan semua pilihan biner diametral lainnya. Mau bagaimana lagi, karena otak rasional kita selalu berproses secara dialektis. Segala sesuatu hal mulai menjadi tesis untuk diketemukan antitesisnya. Dari keduanya timbul sintesis. Dan sintesis ini harus dianggap tesis baru untuk diketemukan antitesis baru sehingga diketemukan sintesis lebih baru lagi yang dinamakan teori baru. Begitulah perkembangan sains, baik sains murni maupun humaniora di dalam kehidupan manusia.

 

Tetapi untunglah cara berpikir ‘dialektis’ itu bukan satu-satunya cara berpikir yang dimungkinkan bagi manusia. Ada cara berpikir lain seperti umpamanya cara pikir ‘holistik’, ‘integratif’, ’sistemik’. Atau ada pula cara berpikir ‘lateral’. Cara berpikir ’sinektik’. Dan cara berpikir ‘ekuilibrian’. Nah, konsep yang terakhir ini yang ingin saya bahas dalam artikel ini (dan tak usah berpayah-payah mencarinya di Google. Tidak bakalan ada di sana sekalipun backbone Taiwan sudah pulih sekalipun.)

 

Cara berpikir ‘terminal’ sudah pernah dibahas tahun kemarin. Di situ orang berpikir bahwa dia "seakan-akan harus memilih" berada di salah satu kelompok ujung ekstrim yang ada dari setiap pilihan diametral. Anda harus beragama olie top-one, sebab kalau tidak, maka anda semua akan masuk kloter ke neraka. Atau, hanya dengan agama olie top-one itu anda pasti memperoleh keselamatan, sementara semua agama lain hanya secara tidak pasti bakal ke nirwana. Anda harus sukses akademis supaya sukses dalam hidup. Kenyataannya tidak selamanya demikian. Banyak yang gagal akademis tetapi sukses dalam bisnis. Ternyata selain sukses akademis ada pula sukses emosional dan sosial.  Anda harus spiritualis supaya berbahagia dalam hidup, bila anda materialis anda tidak akan bahagia. Kenyataannya, kebahagiaan tidak tergantung pada kepemilikan asset melainkan bagaimana apresiasi dan independensi terhadap asset itu sendiri.

 

Kaum moderat hampir selalu menjadi mayoritas dalam bidang apapun sesuai hukum statistik. Namun kaum moderat itu belum tentu dinamis sifatnya. Di sini juga orang jangan terjebak pada pikiran terminalis, seakan-akan kaum moderat itu pastilah melempem dan tidak mungkin dinamis. Itu falasi berpikir juga. Justru sebaliknya yang harus diusahakan ialah bagaimana membuat mayoritas kaum moderat itu menjadi unsur dinamis sehingga dinamika kaum radikal menjadi tidak signifikan lagi. Contoh konkrit, pada saat masyarakat dihantui oleh kemungkinan teror kaum ekstremis radikal maka dinamika kaum moderat dapat diaktivasikan untuk menjaga keamanan lingkungan secara terpadu.

 

Dalam kehidupan pribadi yang nyata diperlukan kemampuan untuk "memetakan situasi" cara berpikir diri sendiri. Bila berada dalam suatu situasi yang selalu dengan dua ujung ekstrim, di manakah posisi saya saat ini berada? Ke arah mana saya harus agak bergeser balik? Bagaimana pendapat dan sikap saya dalam suatu isyu kontroversial dalam masyarakat? Apakah saya – misalnya - berada pada kelompok penjunjung kebebasan pers mutlak (seperti idaman para kuli tinta atau jurnalis teve)? Ataukah, di ujung ekstrim lain saya termasuk kelompok yang berpendirian bahwa pers mutlak harus dikendalikan oleh pemerintah? Bagaimana sekiranya pers harus dipecut keras, mana kala sudah terlalu dalam mengobok-obok kehidupan intimasi pribadi orang perorangan atau keluarga? Atau telah terlalu mengada-adakan isyu - yang sebenarnya belum jelas – semata-mata supaya rating atau oplag kelompok sendiri dapat meningkat drastis?

 

Pilihan tidak selalu harus pada ujung ekstrim bukan? Via media est via aurea. Jalan tengah adalah jalan emas. Mungkin ini inti sari pemikiran Soekarno tentang ‘demokrasi terpimpin’ karena terbukti demokrasi modern itu bila disalahtafsirkan bisa menjurus kepada keliaran alih-alih sebagai ekspresi kebebasan. Antara ‘keliaran’ dan ‘kebebasan’ memang diperlukan rambu-rambu. Dan rambu-rambu itu selain harus disepakati, dihormati tetapi juga harus ditegakkan. Contoh, pemakai jalan di ibukota, terutama kendaraan beroda dua, sebagian besar sudah mengarah kepada ‘keliaran’ yang membahayakan orang banyak.

 

Dengan kemampuan membaca situasi dan ‘memetakan diri’ maka kita tidak perlu sampai terjebak pada salah satu ujung terminal yang ada. Untuk itulah mutlak diperlukan dibangun nilai empati dan nilai toleransi. Dengan kedua nilai tersebut akan terbentuk nilai harmoni. Untuk memungkinkan hal ini, selain diperlukan kecerdasan rasional juga diperlukan intuisi yang tajam dan dinamika pemetaan yang akurat. Di mana posisi saya sekarang? Condong ke ekstrim yang mana saya sekarang? Ke mana saya harus bergerak untuk mencapai titik ekuilibrium yang dinamis. Tidak terlalu beratkah saya ke sisi ujung terminal yang hitam atau ke sisi yang putih. Walaupun sebenarnya manusia memang dituntut untuk menuju ke ujung yang putih secara rasional. Masalahnya ialah, apa yang "dianggap putih" bagi seseorang belum tentu tafsiran sama putihnya bagi orang-orang lain. Saya hanya bisa merasa kecut dan sedih mendengar polarisasi ‘kelompok merah’ dan ‘kelompok putih’ di daerah konflik horizontal di negeri ini. Merahnya siapa dan putihnya siapa, kecuali menurut pikiran terminalnya masing-masing? Keterjebakan itu telah meminta korban jiwa yang demikian besar dan mengerikan. Semuanya hanyalah akibat dari cara berpikir terminal (yang sektarian) tersebut. 

Marilah di awal tahun 2007 ini kita terus membangun diri menjadi "manusia ekuilibrian" yang mencari dan menjaga harmoni dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Jakarta, 2 Januari 2007. 

JAVA BASIC : Dasar-dasar Java

Pada bagian ini akan dijelaskan tentang dasar-dasar pemrogramman java yang meliputi variabel, tipe data, operator, pengkondisian (if-else condition dan switch-case condition),  dan looping (apa ya bahasa Indonesianya — pengulangankah?)

Variabel

Variabel adalah suatu nama yang digunakan untuk menyimpan suatu nilai dari tipe data tertentu. Nilai dari suatu variabel disebut literal. Sebelum digunakan variabel harus dideklarasikan. Deklarasi disesuaikan dengan tipe data yang ingin direpresentasikan.

Deklarasi variabel mengikut aturan sebagai berikut : tipeData namaVariabel.
Contoh berikut adalah deklarasi variabel dengan menggunakan tipe data int :

int bilangan1;
int bilangan2;

Kata int adalah tipe data, sedangkan bilangan1 dan bilangan2 adalah nama variabel. Dua deklarasi variabel di atas bisa diringkas menjadai : int bilangan1, bilangan2;


Tipe data dari suatu variabel bisa berupa tipe data primitif (seperti : int, byte, char, short, boolean dll) atau tipe data berupa class (misalnya Integer, Byte, Short, Boolean dll - bisa kelas yang anda buat).

Variabel bisa diinisialisasi (diberi nilai awal). Misalnya pada contoh di atas kita melakukan inisialisasi sebagai berikut :

int bilangan1 = 0;
int bilangan2 = 5;

Tanda ; (titik koma) menyatakan satu statemen yang utuh (Dalam bahasa manusia ’satu kalimat yang lengkap - berakhir dengan tanda titik’).

Java memiliki aturan-aturan dalam penamaan suatu variabel. Aturan-aturan itu adalah sebagai berikut :

  • Penamaan variabel tidak boleh menggunakan kata-kata kunci dalam bahasa pemrogramman java. Kata-kata kunci tersebut adalah sebagai berikut (berdasarkan urutan abjad) : abstract, boolean, break, byte, case, catch, char, class, const, continue, default, do, double, else, extends, final, finally, float, for, goto, if, implements, import,instanceof, int, interface, long, native, new, package, private, protected, public, return, short, static, super, switch, synchronized, this, throw, throws, transient, try, void, volatile dan while.
  • Harus dimulai dengan huruf atau garis bawah ( _ ) atau tanda dollar ($), tidak boleh angka. Huruf kedua dan seterusnya bebas (bisa angka) tapi tidak boleh menggunakan operator yang digunakan java (semisal +, ++, * , -, — dll)
  • Panjang nama variabel terserah (dalam artian tidak dibatasi) tapi kata-katanya tidak boleh terpisah.
  • Nama Variabel dalam java adalah case sensitif (membedakan huruf kecil dan huruf besar. Nama variabel bilangan1 dan Bilangan1 dianggap sebagai dua variabel yang berbeda.
  • Penamaan variabel sebaiknya interpretatif, menggambarkan raealita yang diwakilinya. Penamaan variabel String namaMahasiswa adalah lebih interpretatif dibandingkan dengan variabel String x.

Sudah menjadi konvensi (kesepakatan) para programmer java juga, jika penamaan variabel dimulai dengan huruf, maka hurufnya harus huruf kecil.

Berikut contoh penamaan variabel yang valid dan tidak valid :

int bilangan1 –> valid
int bilangan 1 –> tidak valid
int 1bilangan –> tidak valid
int _bilangan1 –> valid
int $bilangan1 –> valid
int b1langan –> valid
int bi-langan –> tidak valid
int bi+langan –> tidak valid

Konstanta

Pada prinsipnya konstanta hampir mirip dengan variabel. Dua-duanya
digunakan untuk menyimpan suatu nilai dari tipe data tertentu. Bedanya
variabel menyimpan suatu nilai yang bisa berubah-ubah (dinamis)
sedangkan konstanta sekali dideklarasikan nilainya tidak akan pernah
berubah. Variabel bisa tidak diinisialisasi, sedangkan konstanta selalu
diinisialisasi dan nilai inisialisasi tersebut tidak akan pernah
berubah.

Deklarasi konstanta mirip dengan deklarasi variabel. Tetapi memiliki kata kunci final  sebelum
tipe datanya. Dan seperti variabel, konstanta juga memiliki aturan
dalam penamaannya. Nama konstanta hanya boleh terdiri dari huruf besar
dan garis bawah (undescore). Berikut contoh penamaan konstanta yang
valid :

final double PI = 3.14;

Tipe Data

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, deklarasi variabel dan konstanta membutuhkan tipe data tertentu. Java memiliki delapan tipe data primitif, sedangkan untuk tipe data kelas jumlahnya tak terhingga (karena bisa kita definisikan sendiri). Delapan tipe data primitif ini sangat fundamental karena ia sebagai dasar untuk membangun tipe data kelas.

Kedelapan tipe data primitif tersebut bisa digolongkan kedalam tipe data numerik (untuk mengolah nilai-nilai yang berupa angka), tipe data boolean (berisi nilai benar dan salah - 0 dan 1), dan tipe data karakter huruf.

 

Tipe data numerik dibagi menjadi dua, yakni tipe data untuk menyimpan bilangan bulat dan tipe data untuk menyimpan bilangan pecahan.

Berikut tipe data primitif (dasar) dalam java :

Numerik Bilangan Bulat :

  • byte (panjangnya 1 byte = 8 bit), menampung nilai dari -128 sd 127. Memiliki nilai default 0 –> artinya jika tidak diinisialisasi (diberi nilai awal) variabel yang menggunakan tipe data ini bernilai 0.
  • short (panjangnya 2 byte = 16 bit), menampung nilai dari -32,768 sd 32,767. Nilai default juga 0.
  • int (panjangnya 4 byte = 32 bit), menampung nilai dari -2,147,483,648 sd 2,147,483,647. Nilai default 0.
  • long (panjangnya 8 byte = 64 bit), menampung nilai dari -9,223,372,036,854,775,808 sd 9,223,372,036,854,775,807. Nilai default 0.

Numerik Bilangan pecahan :

  • float (panjangnya 4 byte), menampung nilai dari -3.4E38 (-3.4 * 10 pangkat 38) sd +3.4E38. Memiliki presisi angka sampai 7 digit (0.xxxxxxx)
  • double (panjangnya 8 byte), menampung nilai dari -1.7E308 (-1.7 * 10 pangkat 308) sd +1.7E308. Memiliki presisi angka sampai 17 digit (0.xxxxxxxxxxxxxxxxx)

Deklarasi untuk tipe data numerik bilangan pecahan secara default menggunakan tipe data double. Jadi  0.24, 1.78, 2000.5034 dll dibaca sebagai double. Dengan eclipse deklarasi variabel float testFloat = 0.24; akan bertanda merah (berarti eclipse mendeteksi kesalahan). Deklarasi pecahan yang bertipe float harus diakhiri dengan huruf f. Deklarasi float yang salah di atas bisa diperbaiki menjadi sebagai berikut float testFloat = 0.24f.

Sudah 6 tipe data primitif yang kita bahas. Dua tipe data primitif yang lain adalah char dan booleanchar adalah  tipe data untuk menampung nilai dari satu karakter (bisa berupa huruf atau angka). Sedangkan boolean adalah tipe data untuk menampung nilai benar (true) atau salah (false). Berikut contoh deklarasi variabel menggunakan tipe data primitif char dan boolean yg sudah dinisialisasi:

char nilaiKuliah = ‘A’;
boolean lulus =  true;

Default tipe data char adalah karakter kosong, sedangkan default tipe data boolean adalah bernilai ‘false’.

Untuk setiap tipe data primitif yang telah dijelaskan, java memiliki tipe data kelas yang bersesuaian, yaitu Byte untuk tipe data primitif byte, Short untuk tipe data primitif short, Integer untuk tipe data primitif int, Long untuk tipe data primitif long, Float untuk tipe data primitif float, Double untuk tipe data primitif double, Boolean untuk tipe data primitif boolean dan Character untuk tipe data primitif char.

Array

Array adalah suatu variabel yang menyimpan kumpulan literal dari suatu tipe data yang sama. Misalnya kita seorang pedagang toko, ingin menyimpan pendapatan tiap bulan kita dalam suatu variabel yang bertipe double. Maka ada dua belas variabel dengan tipe data double yang kita butuhkan. Misalnya deklarasi variabel tersebut adalah sebagai berikut :
    double pendapatanBulan1;
    double pendapatanBulan2;
    double pendapatanBulan3;
                  .
                  .
                  .
   double pendapatanBulan12;

Tentu sangat repot mendeklarasikan variabel sebanyak itu. Bisa-bisa program yang kita buat hanya berisi kumpulan deklarasi variabel.

Array membantu kita mengelompokkan variabel-variabel yang sejenis ke dalam satu variabel array. Dengan array deklarasi variabel yang cukup banyak di atas, bisa diringkas sebagai berikut :

    double[] pendapatanBulanan = new double[12];
atau double pendapatanBulanan[] = new double[12];

Dua contoh deklarasi variabel array di atas sama benarnya (di sini hanya ditunjukkan perbedaan cara deklarasi saja). Angka 12 menyatakan panjang array tersebut.

 

Seperti variabel, array juga bisa diinisialiasi (diberi nilai awal). Berikut contoh deklarasi array yang sudah diinisialisasi :
    double pendapatanBulanan[] = new double{10000, 20000, 30000, 40000,
                                                          50000, 60000, 70000,80000, 90000,
                                                        100000, 110000,120000}

Untuk memanipulasi (mengolah) nilai dari suatu array kita harus mengakses indeks elemen array tersebut. Indeks element array selalu dimulai dari indeks 0, sehingga indeks terakhir suatu array adalah selalau panjang array dikurangi satu. Contoh berikut akan memanipulasi nilai indeks pertama menjadi 15000, dan indeks ke enam menjadi 75000 :

    pendapatanBulanan[0] = 15000;
    pendapatanBulanan[6] = 75000;

Konsep array bukan hanya berlaku pada tipe data primitif saja, ia juga berlaku pada tipe data kelas.

String

Mengolah "kata atau kalimat" di dalam programming java bisa dilakukan dengan menggunakan tipe data primitif char[] (array dari karakter). Contoh jika kita ingin menyimpan kata "hello" bisa dilakukan dengan ekspresi berikut :

    char[] charHello = new char{’h',’e',’l',’l',’o'};

Tapi semakin panjang kata atau kalimat yang kita olah, ekspresi seperti di atas sangat tidak efektif. Karena kekurangan fleksibilitas char[] ini java menyediakan suatu kelas khusus yang bernama String untuk membuat dan memanipulasi kata atau kalimat. Dengan menggunakan kelas String, ekspresi di atas bisa diganti dengan ekspresi berikut :

    String strHello = "hello";

Literal dari suatu objek String selalu diapit oleh tanda kutip ("");

Kelebihan kelas String dibandingkan dengan char[] adalah kelas String lebih dinamis. Kalau kita menggunakan char[], sekali deklarasi pangjang char[] tidak pernah berubah. Sedangkan String bisa kita manipuasi sesuka kita (bisa kita kurangi atau kita tambahkan). Pada variabel charHello, panjang kata yang bisa dimanipulasi selalu 5. Manipulasi pada variabel charHello hanya terbatas pada penggantian literalnya saja (sedangkan panjangnya selalu tetep). Sedangkan variabel strHello selain kita bisa mengganti literalnya, panjangnya juga secara bersamaan berubah sesuai dengan kata atau kalimat yang akan kita manipulasi. Misalnya kita ingin mengganti literal variabel strHello menjadi "halo, Apa Kabar?", kita cukup membuat ekspresi berikut :

    strHello = "halo, Apa Kabar?";

String juga bisa kita tambahkan. Misalnya kita ingin menambahkan "halo, Apa Kabar?" dengan kalimat "Apakah baik-baik saja ", maka kita bisa melakukan operasi penambahan pada strHello sebagai berikut :

    strHello = strHello + " Apkah baik-baik saja?";

Lebih fleksibel bukan?

Dengan eclipse anda bisa mengetahui prilaku (method) apa saja yang dimiliki oleh objek String (dengan menambahkan titik pada akhir objek string nya).

Operator

Operator berfungsi untuk mengoperasikan (memanipulasi, mengolah) satu atau lebih variabel. Variabel yang dioperasikan disebut operand.

Secara garis besar operator dalam java bisa dikelompokkan menjadi operator assignment, operator aritmatika, operator unary, operator equality, operator kondisional, operator komparasi, dan operator bitwise (paling jarang dipakai, di skip - tidak dijelaskan)

Operator assigment adalah tanda = (sama dengan), berguna untuk memberi literal pada suatu variabel tertentu. Berikut contoh operator assigment :

    int testInt = 0;

Operator aritmatika adalah operator yang digunakan untuk melakukan operasi aritmatika (perhitungan). Operator ini ada lima macam yaitu operator penambahan (+), operator penguranan (-), operator perkalian (*), operator pembagian (/) dan operator sisa - mod (%).

Berikut contoh penggunaan operator arimatika :

    int hasil = 1 + 2;    // hasil = 3
    hasil = hasil - 1;    // hasil = 2
    hasil = hasil * 2;    // hasil = 4
    hasil = hasil / 2;   //hasil = 2
    hasil = hasil + 8;   // hasil = 10
    hasil = hasil % 7;   //hasil = 3

Operator penjumlahan (+) bisa juga diterapkan pada objek string (seperti pada contoh penjelasan kelas String).

Operator unary meliputi operator unary positif (+) untuk menandakan suatu bilangan positif (setiap bilangan tanpa tanda negatif, berarti termasuk bilangan positif). Operator unary negatif (-) untuk menandakan suatu bilangan negatif. Operator unary increment (++), berguna menambah menambah literal bilangan dengan literal bilangan satu. Operator unary decrement (–), berguna mengurangi literal bilangan dengan bilangan satu. Dan operator unary komplemen logika (!), berguna untuk mengkomplemenkan suatu logika yang bernilai true atau false.

Berikut contoh penggunaan operator unary :

        int hasil = +1; // hasil = 1
        hasil–;  // hasil = 0
        hasil++; // hasil = 1
        hasil = -hasil; // hasil = -1
        boolean success = false; //success = false;
        success = !success;  //success =true;

Operator equality digunakan untuk membandingkan dua variabel, apakah nilainya sama, lebih besar, lebih kecil, lebih besar atau sama dengan, lebih kecil atau sama dengan dan tidak sama dengan. Operator-operator tersebut adalah sebagai berikut :

    ==     sama dengan
    >        lebih besar
    <        lebih kecil
    >=      lebih besar atau sama dengan
    <=      lebih kecil atau sama dengan
    !=      tidak sama dengan

Berikut contoh pemakaian operator equality (contohnya dapat ngambil dari situs java.sun.com)

 

class ComparisonDemo {

     public static void main(String[] args){          int value1 = 1;          int value2 = 2;          if(value1 == value2) System.out.println("value1 == value2");          if(value1 != value2) System.out.println("value1 != value2");          if(value1 > value2) System.out.println("value1 > value2");          if(value1 < value2) System.out.println("value1 < value2");          if(value1 <= value2) System.out.println("value1 <= value2");     }}

Outpun program tersebut sbb:

	value1 != value2      value1 < value2      value1 <= value2

 

Operator kondisional digunakan pada dua atau lebih ekspresi boolean. Operator ini  terdiri dari operator kondisional AND (&&) dan operator kondisional OR (||). Berikut contoh penggunaan operator ini (contohnya ngambil dari situ sun juga) :

 

class ConditionalDemo {

     public static void main(String[] args){          int value1 = 1;          int value2 = 2;          if((value1 == 1) && (value2 == 2)) System.out.println("value1 is 1 AND value2 is 2");          if((value1 == 1) || (value2 == 1)) System.out.println("value1 is 1 OR value2 is 1");

     }}

 

outpun program di atas adalah :

value1 is 1 AND value2 is 2value1 is 1 OR value2 is 1

Operator komparasi digunakan untuk mengecek apakah suatu objek merupakan instrance dari suatu kelas tertentu. Operator komparasi adalah operator instranceof.  Jika suatu objek yang kita tes merupakan instance dari suatu kelas yang kita tentukan, ekspresi ini bernilai true, false jika sebaliknya. Berikut contoh sederhana pemakaian operator komparasi.

    KelasA a = new KelasA();
    KelasB b = new KelasB();

    if(a instanceof KelasA)
       Sytem.out.println("objek adalah instance dari KelasA);


Karena a merupakan instance dari KelasA maka statement System.out.println("objek adalah instance dari KelasA") dieksekusi.

The Muslim Mary

Jennifer Green, The Ottawa Citizen

If you are looking for the religious text with the most references to Mary,
the mother of Jesus, look no further than the Koran, Jennifer Green writes.

Published: Thursday, December 21, 2006

Islam and Christianity revere Mary above all other women, a human divinely
appointed to bear Jesus in a virgin birth. But the Koran mentions Mary 34
times, and names an entire chapter after her — more than she gets in the
Bible, according to Cruden’s Complete Concordance. She is the only woman
mentioned by name in the Koran, and some scholars say Muslims actually
revere her more than Christians do.

"Without a doubt, she is the most spectacular female figure that appears in
the whole of the Koran," says Bruce Lawrence, Islamic scholar and author of
The Qur’an: A Biography. "That’s quite something extra for Christians to
have to deal with."

Robert Moynihan, editor of Inside the Vatican magazine, agrees. In one
sense, "I would say Muslims have more veneration of Mary — those who are <!–
D(["mb","
\nbelieving Muslims -- than most Christians today. That's because of the
\ndecline of Marion veneration in Christianity."
\n
\nPockets of worshippers around the world still pray extensively to Mary,
\nespecially among Catholics, but her influence has waned in the last
\ngeneration. As women struggled to be heard, in church hierarchies and
\nsociety at large, exhortations to follow Mary's example of chastity and
\nacceptance of God's will started sounding like clerical spin designed to
\nkeep the ladies in line.
\n
\n"She is not out of the picture, but she is not woven into the warp and woof
\nof the faith," Mr. Moynihan said from his office in Rome. "That shattered
\nwith the confrontation with the modern world."
\n
\nMuslim women are not as likely to have submitted Mary to this political
\nlitmus test, so they are still comfortable turning to her, he says.
\n
\nAynur Gunenc is a 37-year-old Ottawa native who commutes to Montreal every
\nweek to complete her master's degree in bioresource engineering at McGill
\nUniversity. She is also a practising Muslim and the mother of two sons.
\n
\nLike many Muslim women, she looked to Mary while she was pregnant and when
\nwent into labour, reading Surah 19, the chapter in the Koran named for the
\nvirgin. She also ate dates as Mary did while giving birth to Jesus.
\n
\n"It is supposed to help for an easy delivery." Did it work? "Yes."
\n
\n"For us, Mary is a symbol of purity and patience, honesty and believing 100
\nper cent in God, even when things are difficult. I am full of respect and
\nlove for her. I cannot imagine, myself, keeping your faith when you have
\nhad a baby without a husband, close to people who disapprove. It would not
\nbe bearable.
\n
\n"If there had been a woman prophet, it would have been Mary. She knew this
\nlife is temporary."
\n
\nChristianity and Islam differ on the fundamental nature of Jesus. For ",1]
);

//–>
believing Muslims — than most Christians today. That’s because of the
decline of Marion veneration in Christianity."

Pockets of worshippers around the world still pray extensively to Mary,
especially among Catholics, but her influence has waned in the last
generation. As women struggled to be heard, in church hierarchies and
society at large, exhortations to follow Mary’s example of chastity and
acceptance of God’s will started sounding like clerical spin designed to
keep the ladies in line.

"She is not out of the picture, but she is not woven into the warp and woof
of the faith," Mr. Moynihan said from his office in Rome. "That shattered
with the confrontation with the modern world."

Muslim women are not as likely to have submitted Mary to this political
litmus test, so they are still comfortable turning to her, he says.

Aynur Gunenc is a 37-year-old Ottawa native who commutes to Montreal every
week to complete her master’s degree in bioresource engineering at McGill
University. She is also a practising Muslim and the mother of two sons.

Like many Muslim women, she looked to Mary while she was pregnant and when
went into labour, reading Surah 19, the chapter in the Koran named for the
virgin. She also ate dates as Mary did while giving birth to Jesus.

"It is supposed to help for an easy delivery." Did it work? "Yes."

"For us, Mary is a symbol of purity and patience, honesty and believing 100
per cent in God, even when things are difficult. I am full of respect and
love for her. I cannot imagine, myself, keeping your faith when you have
had a baby without a husband, close to people who disapprove. It would not
be bearable.

"If there had been a woman prophet, it would have been Mary. She knew this
life is temporary."

Christianity and Islam differ on the fundamental nature of Jesus. For <!–
D(["mb","
\nChristians, he is God the Son; for Muslims, he is a prophet who was fully
\nhuman.
\n
\nBut their accounts around his birth are startlingly similar. Both tell of
\nan elderly couple beseeching God for a child.
\n
\nIn the Bible, Elizabeth and her husband, the temple priest Zachary, become
\nparents to John the Baptist.
\n
\nIn the Koran, the elderly Zakariya pleads to God for a son, and his prayer
\nis answered with the birth of "Yahya" -- John.
\n
\nMary's mother, Anna, offers her child-to-be to God, but she is surprised
\nand dismayed to see that she has given birth to a girl, whom she names
\nMary, or Maryam. She offers the child to God anyway and brings her to the
\ntemple, where she comes under the protection of Zakariya.
\n
\nEvery day she has holy visions, and when Zakariya comes with food, he finds
\nangels have already provided for the young girl -- details remarkably
\nsimilar to the Proto Gospel of James, scripture that is not included in the
\nBible, but is considered credible by Roman and Eastern Orthodox Catholics.
\n
\nIn the Koran, the angel Gabriel comes to tell Mary she will bear a child,
\nto which she says: "How shall I have a son, seeing that no man has touched
\nme, and I am not unchaste?"
\n
\nHe said: "So (it will be): Thy Lord saith, 'that is easy for Me: and (We
\nwish) to appoint him as a Sign unto men and a Mercy from Us': It is a
\nmatter (so) decreed.
\n
\n"So she conceived him, and she retired with him to a remote place."
\n
\nIn the Koran, there is no Joseph to protect her reputation. Instead, Mary
\ngoes off to an unspecified location to bear the child. Once there, she
\ncries out in pain and says she wishes she had died before this.
\n
\nIn response, God provides a stream for water, and dates from a tree above.
\n
\nWhen she returns home with the babe in arms, the villagers are horrified.
\nHow could she have a child without a husband? Jesus himself speaks to them ",1]
);

//–>
Christians, he is God the Son; for Muslims, he is a prophet who was fully
human.

But their accounts around his birth are startlingly similar. Both tell of
an elderly couple beseeching God for a child.

In the Bible, Elizabeth and her husband, the temple priest Zachary, become
parents to John the Baptist.

In the Koran, the elderly Zakariya pleads to God for a son, and his prayer
is answered with the birth of "Yahya" — John.

Mary’s mother, Anna, offers her child-to-be to God, but she is surprised
and dismayed to see that she has given birth to a girl, whom she names
Mary, or Maryam. She offers the child to God anyway and brings her to the
temple, where she comes under the protection of Zakariya.

Every day she has holy visions, and when Zakariya comes with food, he finds
angels have already provided for the young girl — details remarkably
similar to the Proto Gospel of James, scripture that is not included in the
Bible, but is considered credible by Roman and Eastern Orthodox Catholics.

In the Koran, the angel Gabriel comes to tell Mary she will bear a child,
to which she says: "How shall I have a son, seeing that no man has touched
me, and I am not unchaste?"

He said: "So (it will be): Thy Lord saith, ‘that is easy for Me: and (We
wish) to appoint him as a Sign unto men and a Mercy from Us’: It is a
matter (so) decreed.

"So she conceived him, and she retired with him to a remote place."

In the Koran, there is no Joseph to protect her reputation. Instead, Mary
goes off to an unspecified location to bear the child. Once there, she
cries out in pain and says she wishes she had died before this.

In response, God provides a stream for water, and dates from a tree above.

When she returns home with the babe in arms, the villagers are horrified.
How could she have a child without a husband? Jesus himself speaks to them <!–
D(["mb","
\nfrom her arms, even though he is only a few days old.
\n
\nMary is also a bridge between Islam and Christianity, something Pope
\nBenedict XVI touched on in his recent trip to Turkey, where he celebrated
\nMass at Ephesus, the western town in which Mary is said to have lived her
\nlast days.
\n
\nThe Pope pointed to her as an explicit link between Islam and Christianity,
\nstressing that a common devotion to Mary can help bind the two faiths.
\n
\nVatican expert and author John Allen also commented on the link: "It is
\ntrue that Mary is actually referred to more often in the Koran than she is
\nin the New Testament," he told reporters during the pope's visit.
\n
\n"She has always been a figure of strong popular devotion for Muslims as
\nwell as Christians. And it would not at all be surprising if Benedict XVI
\nwere to want to build on that in some fashion."
\n
\nsource:
\nhttp://www.canada.com/ottawacitizen/news/story.html?id\u003da3146ea8-5c72-4be2-b9ce-f688c0cf6b49
\n
\n\u003d\u003d\u003d
\n
\n-muslim voice-
\n______________________________________
\nBECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW
\n
\n[Non-text portions of this message have been removed]
\n
\n[Non-text portions of this message have been removed]
\n
\n

\n

\n\n \n __._,_.___\n \n

\n \n \n Messages in this topic (1)\n \n “,1]
);

//–>
from her arms, even though he is only a few days old.

Mary is also a bridge between Islam and Christianity, something Pope
Benedict XVI touched on in his recent trip to Turkey, where he celebrated
Mass at Ephesus, the western town in which Mary is said to have lived her
last days.

The Pope pointed to her as an explicit link between Islam and Christianity,
stressing that a common devotion to Mary can help bind the two faiths.

Vatican expert and author John Allen also commented on the link: "It is
true that Mary is actually referred to more often in the Koran than she is
in the New Testament," he told reporters during the pope’s visit.

"She has always been a figure of strong popular devotion for Muslims as
well as Christians. And it would not at all be surprising if Benedict XVI
were to want to build on that in some fashion."


source

 

Gerakan Syahwat Merdeka Mengepung Indonesia

Seorang
bule bertubuh tinggi besar bergegas ke luar ruangan Teater Kecil Taman
Ismail Marzuki (TIM), Cikini Raya, Jakarta Pusat. Langkahnya acuh saja.
Sembari berjalan lurus, dia kemudian mendekati penyair Taufiq Ismail
yang tengah dirubung banyak orang. Setelah sampai di dekat Taufiq, ia
menyalaminya.

 

”Selamat
ya. Pidato kebudayaan Anda bagus sekali. Tapi ingat, media massa
Indonesia juga banyak sampahnya. Lihat siaran televisi Anda. Bayangkan
kalau di Amerika tayangan itu diputar pada pukul 03.00 pagi, di sini
malah diputar pada prime time,” kata si bule sembari memegang
tangan Taufiq. Yang disalaminya pun membalas dengan senyum simpul.
”Terima kasih Tuchrello. Memang demikian adanya. Maaf, kalau banyak
mengambil contoh negara Anda,” jawab Taufiq.

 

Sesaat
dia lantas menerangkan sahabatnya itu adalah Will Tuchrello, direktur
Perpustakaan Kongres AS Perwakilan Indonesia. ”Bayangkan, mereka saja
resah atas menggejalanya budaya bebas tanpa batas itu. Tapi, kok kita tidak ya?” ujar penulis lirik lagu-lagu hits Bimbo ini.

 

Taufiq,
Rabu (20/12) malam, melalui pidato kebudayaannya di depan kalangan
Akademi Jakarta mengguncangkan kesadaran publik untuk kembali menengok
nurani pada hilangnya rasa malu orang Indonesia. Bahkan, Taufiq lugas
menyebutkan hilangnya rasa malu itu telah mulai meruntuhkan bangunan
bangsa.<!–
D(["mb","

\n \n

Tagihan\nrekening reformasi, menurut Taufiq, ternyata mahal sekali. Indonesia\ndikepung gerakan 'Syahwat Merdeka'! ''Gerakan syahwat merdeka ini tak\nbersosok organisasi resmi, dan jelas tidak berdiri sendiri. Tapi,\nbekerja sama bahu-membahu melalui jaringan mendunia, dengan kapital\nraksasa mendanainya. Ideologi gabungan yang melandasinya, dan banyak\nmedia massa cetak dan eletronik menjadi pengeras suaranya,'' kata\nTaufiq dalam pidatonya.

\n \n

Ketika\nmendengar 'kesaksian' Taufiq, sesaat ruangan Teater Kecil yang penuh\ndipadati puluhan pengunjung mendadak berubah. Ketua Umum PP\nMuhammadiyah, Din Syamsuddin, misalnya, segera membuka buku kecil yang\nmemuat pidato Taufiq Ismail.

\n \n

Dari\narah bangku belakang, kemudian terdengar lenguhan panjang. Seorang ibu\nberguman. Penulis skenario film senior, Misbach Yusa Biran,\nmenggeleng-gelangkan kepala. Pemusik kontemporer Slamet Abdul Syukur\ntepekur di kursinya.

\n \n

Ruangan\nteater pun terus senyap. Suhu udara berpendingin kini mulai terasa\nmerambahi kulit. Taufiq kemudian meneruskan pidatonya dengan\nmenjelaskan mengenai siapa saja yang menjadi komponen 'syahwat merdeka'\nitu.

\n \n

Paling\ntidak ada 13 pihak yang menjadi pendukung fanatik gerakan ini. Pertama\nadalah praktisi sehari-hari kehidupan pribadi dan kelompok seks bebas\nhetero dan homo, terang-terangan dan sembunyi-sembunyi. Kedua, para\npenerbit majalah dan tabloid mesum yang telah menikmati tiada perlunya\nSIUPP. Ketiga, produser, penulis skrip, dan pengiklan televisi.

\n \n

''Semua\norang tahu betapa ekstentifnya pengaruh layar kaca. Setiap tayangan\ntelevisi rata-rata 170 juta pemirsa. Untuk situs porno kini tersedia\n4,2 juta di dunia dan 100 ribu di internet Indonesia. Untuk\nmengaksesnya malah tanpa biaya, sama mudahnya dilakukan baik dari San\nFransisco, maupun Klaten,'' tegasnya.",1]
);

//–>

 

Tagihan
rekening reformasi, menurut Taufiq, ternyata mahal sekali. Indonesia
dikepung gerakan ‘Syahwat Merdeka’! ”Gerakan syahwat merdeka ini tak
bersosok organisasi resmi, dan jelas tidak berdiri sendiri. Tapi,
bekerja sama bahu-membahu melalui jaringan mendunia, dengan kapital
raksasa mendanainya. Ideologi gabungan yang melandasinya, dan banyak
media massa cetak dan eletronik menjadi pengeras suaranya,” kata
Taufiq dalam pidatonya.

 

Ketika
mendengar ‘kesaksian’ Taufiq, sesaat ruangan Teater Kecil yang penuh
dipadati puluhan pengunjung mendadak berubah. Ketua Umum PP
Muhammadiyah, Din Syamsuddin, misalnya, segera membuka buku kecil yang
memuat pidato Taufiq Ismail.

 

Dari
arah bangku belakang, kemudian terdengar lenguhan panjang. Seorang ibu
berguman. Penulis skenario film senior, Misbach Yusa Biran,
menggeleng-gelangkan kepala. Pemusik kontemporer Slamet Abdul Syukur
tepekur di kursinya.

 

Ruangan
teater pun terus senyap. Suhu udara berpendingin kini mulai terasa
merambahi kulit. Taufiq kemudian meneruskan pidatonya dengan
menjelaskan mengenai siapa saja yang menjadi komponen ’syahwat merdeka’
itu.

 

Paling
tidak ada 13 pihak yang menjadi pendukung fanatik gerakan ini. Pertama
adalah praktisi sehari-hari kehidupan pribadi dan kelompok seks bebas
hetero dan homo, terang-terangan dan sembunyi-sembunyi. Kedua, para
penerbit majalah dan tabloid mesum yang telah menikmati tiada perlunya
SIUPP. Ketiga, produser, penulis skrip, dan pengiklan televisi.

 

”Semua
orang tahu betapa ekstentifnya pengaruh layar kaca. Setiap tayangan
televisi rata-rata 170 juta pemirsa. Untuk situs porno kini tersedia
4,2 juta di dunia dan 100 ribu di internet Indonesia. Untuk
mengaksesnya malah tanpa biaya, sama mudahnya dilakukan baik dari San
Fransisco, maupun Klaten,” tegasnya.<!–
D(["mb","

\n \n

Pendukung\nkeempat adalah penulis, penerbit, dan propagandanis buku-buku sastra\ndan bukan sastra. Di Malaysia, penulis yang mencabul-cabulkan karyanya\nadalah penulis pria. Di Indonesia sebaliknya. Penulis yang asyik\nmenulis wilayah 'selangkangan dan sekitarnya' mayoritas perempuan.\n''Dalam hal ini ada kritikus Malaysia berkata, 'Wah Pak Taufiq,\npengarang Indonesia berani-berani. Kok mereka tidak malu?'' ungkap Taufiq Ismail.

\n \n

Kelima,\npenerbit dan pengedar komik cabul. Keenam, produsen VCD/DVD porno.\nKetujuh, pabrikan alkohol. Kedelapan, produsen, pengedar, dan pengguna\nnarkoba. Kesembilan, pabrikan, pengiklan, dan pengisap rokok. Hal ini\ndilatarbelakangi kenyataan dalam masyarakat permisif, interaksi antara\nseks, narkoba, dan nikotin akrab sekali. Sukar dipisahkan.

\n \n

Selanjutnya,\nkomponen ke-10 adalah para pengiklan perempuan dan laki-laki panggilan.\nKe-11, germo dan pelanggan prostitusi. Ke-12 adalah dukun dan dokter\npraktisi aborsi.

\n \n

''Bayangkan\ndata menunjukan angka aborsi di Indonesia mencapai 2,2 juta setahun.\nMaknanya, setiap 15 detik seorang calon bayi di suatu tempat di negeri\nkita meninggal di suatu tempat akibat dari salah satu atau gabungan\nfaktor-faktor di atas,'' tandas Taufiq Ismail.

\n \n

Menurut\nTaufiq, kehancuran hilangnya rasa malu itu kemudian tecermin dalam\ngemuruh gelombang penolakan RUU Pronografi dan Pornoaksi. Ini adalah\npihak ke-13. Pada satu sisi memang ada kekurangan. Dan salah satu\nkekurangan RUU ini, yang perlu ditambah dan disempurnakan adalah\nperlindungan terhadap anak-anak yang jumlahnya 60 juta.

\n \n

Perbandingannya,\nkalau di Indonesia masih nihil perundangan perlindungan anak, di AS\nanak-anak di sana paling tidak kini dilindungi enam undang-undang.

\n \n

Sastra ganjil
\nMengomentari keresahan Taufiq, pengarang perempuan NH Dini menyatakan,\nsaat ini memang ada yang ganjil dalam dunia sastra. Entah mengapa\ntiba-tiba ada sekelompok penulis perempuan yang giat menulis cerita\nbergaya pornografi. Mereka memang tidak merasa risi atau malu. Entah\nsengaja atau tidak, mereka sudah menyalahartikan erotisme menjadi sama\nsaja dengan pronografi.",1]
);

//–>

 

Pendukung
keempat adalah penulis, penerbit, dan propagandanis buku-buku sastra
dan bukan sastra. Di Malaysia, penulis yang mencabul-cabulkan karyanya
adalah penulis pria. Di Indonesia sebaliknya. Penulis yang asyik
menulis wilayah ’selangkangan dan sekitarnya’ mayoritas perempuan.
”Dalam hal ini ada kritikus Malaysia berkata, ‘Wah Pak Taufiq,
pengarang Indonesia berani-berani. Kok mereka tidak malu?” ungkap Taufiq Ismail.

 

Kelima,
penerbit dan pengedar komik cabul. Keenam, produsen VCD/DVD porno.
Ketujuh, pabrikan alkohol. Kedelapan, produsen, pengedar, dan pengguna
narkoba. Kesembilan, pabrikan, pengiklan, dan pengisap rokok. Hal ini
dilatarbelakangi kenyataan dalam masyarakat permisif, interaksi antara
seks, narkoba, dan nikotin akrab sekali. Sukar dipisahkan.

 

Selanjutnya,
komponen ke-10 adalah para pengiklan perempuan dan laki-laki panggilan.
Ke-11, germo dan pelanggan prostitusi. Ke-12 adalah dukun dan dokter
praktisi aborsi.

 

”Bayangkan
data menunjukan angka aborsi di Indonesia mencapai 2,2 juta setahun.
Maknanya, setiap 15 detik seorang calon bayi di suatu tempat di negeri
kita meninggal di suatu tempat akibat dari salah satu atau gabungan
faktor-faktor di atas,” tandas Taufiq Ismail.

 

Menurut
Taufiq, kehancuran hilangnya rasa malu itu kemudian tecermin dalam
gemuruh gelombang penolakan RUU Pronografi dan Pornoaksi. Ini adalah
pihak ke-13. Pada satu sisi memang ada kekurangan. Dan salah satu
kekurangan RUU ini, yang perlu ditambah dan disempurnakan adalah
perlindungan terhadap anak-anak yang jumlahnya 60 juta.

 

Perbandingannya,
kalau di Indonesia masih nihil perundangan perlindungan anak, di AS
anak-anak di sana paling tidak kini dilindungi enam undang-undang.

 

Sastra ganjil
Mengomentari keresahan Taufiq, pengarang perempuan NH Dini menyatakan,
saat ini memang ada yang ganjil dalam dunia sastra. Entah mengapa
tiba-tiba ada sekelompok penulis perempuan yang giat menulis cerita
bergaya pornografi. Mereka memang tidak merasa risi atau malu. Entah
sengaja atau tidak, mereka sudah menyalahartikan erotisme menjadi sama
saja dengan pronografi.<!–
D(["mb","

\n \n

''Beberapa\nwaktu lalu, ketika tinggal di Prancis, saya dikirimi mendiang Ramadhan\nKH sebuah novel Indonesia yang mendapat penghargaan karya sastra.\nRamadhan, karena tidak 'kuat' membaca, meminta saya membaca novel\ntersebut. Dan benar, saya hanya kuat baca beberapa lembar saja.''\n''Saya kemudian berpikir, apa bagusnya novel ini, kok sampai\nmendapat penghargaan? Malah lebih terkejut lagi, ketika bertemu dengan\nseorang rohaniwan, dia malah memuji novel itu. Akhirnya, saya semakin\ntidak mengerti,'' tutur NH Dini.

\n \n

Budayawan\nRiau, Al Azhar, menyatakan, apa yang dikatakan Taufiq itu memang\nkenyataan yang kini terjadi. Beberapa penulis memang menghasilkan karya\nyang 'tidak masuk akal' karena hanya membahas soal selangkangan.\nDominasi ide hanya memaparkan idealisme hedonis. Realitas kehidupan\nrakyat yang berbudi diabaikan.

\n \n

''Entah\napa yang dipikirkan generasi hedonis itu. Mutunya sangat jauh bila\ndibanding karya Pramudya Ananta Toer atau Ahmad Tohari. Terjadi\npenurunan mutu karya yang serius. Generasi syahwat merdeka memang kini\nmengepung kita,'' tandas Al Azhar.

\n\n\t\t\t\t\t ( muhammad subarkah )\t\t\n\t\t\t\t\t \n\n\t\t\t\t \n\t\t\t\n\t\t\n\t\t\n

--
jadilah bermanfaat !\n

\n

\n\n \n __._,_.___\n \n

\n \n \n Messages in this topic (1)\n \n ",1]
);

//–>

 

”Beberapa
waktu lalu, ketika tinggal di Prancis, saya dikirimi mendiang Ramadhan
KH sebuah novel Indonesia yang mendapat penghargaan karya sastra.
Ramadhan, karena tidak ‘kuat’ membaca, meminta saya membaca novel
tersebut. Dan benar, saya hanya kuat baca beberapa lembar saja.”
”Saya kemudian berpikir, apa bagusnya novel ini, kok sampai
mendapat penghargaan? Malah lebih terkejut lagi, ketika bertemu dengan
seorang rohaniwan, dia malah memuji novel itu. Akhirnya, saya semakin
tidak mengerti,” tutur NH Dini.

 

Budayawan
Riau, Al Azhar, menyatakan, apa yang dikatakan Taufiq itu memang
kenyataan yang kini terjadi. Beberapa penulis memang menghasilkan karya
yang ‘tidak masuk akal’ karena hanya membahas soal selangkangan.
Dominasi ide hanya memaparkan idealisme hedonis. Realitas kehidupan
rakyat yang berbudi diabaikan.

 

”Entah
apa yang dipikirkan generasi hedonis itu. Mutunya sangat jauh bila
dibanding karya Pramudya Ananta Toer atau Ahmad Tohari. Terjadi
penurunan mutu karya yang serius. Generasi syahwat merdeka memang kini
mengepung kita,” tandas Al Azhar.

  ( muhammad subarkah )

– sumber dari milis –

sesek banget

Sesek banget gw pas baca berita ini , pendidikan tidak terurusi malah uang sebegitu banyak di buang ke luar negeri. NEGARA INI MEMANG SANGAT KAYA…..! Singapura, Korea Selatan dan Cina yang sudah maju saja kayaknya akan mikir berulangkali!

Hmm…